Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 16 - Janji


__ADS_3

Rawindra


Sore di dua tahun yang lalu itu adalah sore yang langka.


Pulang lebih awal dari tugas jaga di rumah sakit, aku mensyukuri kebaikan Andra yang bersedia mengambil alih posisiku untuk shift berikutnya.


Well, bukan kebaikan sih.


Itu hanya satu tindakan ‘membayar hutang’ yang dia lakukan, setelah berkali-kali I covered his *** di rumah sakit.


Termasuk saat dia terlambat karena meniduri anak koas di... Ah sudahlah.


Bukan dia inti ceritanya.


Inti ceritanya adalah aku memacu mobilku sedikit lebih kencang dari biasanya.


Jam menunjukkan pukul tiga sore, dan aku tahu di jam-jam seperti ini biasanya Dewi dan Tia-ku sedang bermain di taman belakang. I just couldn’t wait to join them.


Speaking of couldn’t wait, aku juga sudah dua minggu tidak bertemu Dewi yang sedang terjaga. Selalu aku pulang mendapati ia sudah tidur dan aku bangun mendapati ia sudah berangkat.


I really couldn’t wait to be with her again, completely.


Pikiran-pikiran itulah yang memenuhi benakku saat aku memasuki jalanan rumah kami.


Semakin memuncak saat pagar rumah kian mendekat.


Dan runtuh berkeping-keping melihat halaman yang kosong.


Kecewa bukan main, aku menekan klakson untuk memastikan dan benar saja.


Mbok Jem lah yang tergopoh-gopoh menyeberangi halaman dan membukakan pintu, tanpa ada tanda-tanda Dewi atau Tia di ambang pintu.


Berusaha membuat nadaku biasa, aku bertanya pada Mbok Jem.


“Mbok, Ibu belum pulang?”


Sopan, Mbok Jem menjawab.


“Belum, Pak.”


Mengangguk sekilas, aku bertanya lagi.


“Kok tumben belum pulang, ya? Apa Ibu ada keperluan? Ke mana?”


Mbok Jem menjawab lagi.


“Kurang tahu, Pak. Tadi pagi sih Ibu tidak bicara apa-apa.”


Mengangguk lagi, aku mengakhiri interogasi percuma ini.


“Baik, Mbok. Saya masuk dulu, ya.”


Selagi kaki melangkah, entah mengapa aku merasa ada yang aneh.


Dewi memang wanita karier yang luar biasa sibuk, tapi sesibuk-sibuknya ia, Dewi selalu terencana.


Dari bangun pagi hingga tidur lagi, ia selalu mengikuti jadwal mental yang ia buat untuk dirinya sendiri dan kami.


Kalaupun ada interupsi atau perubahan, biasanya ia selalu mengabari terlebih dahulu.


Karena itu, melenceng dari rutinitas tanpa kabar ini sama sekali bukan dirinya.


...


Apakah...


...


Hela nafas, aku mengebaskan kecurigaan berlebih itu.


Paling Dewi dan Tia sedang bermain ke mall atau makan di restoran. Keasyikan hingga lupa mengabari orang rumah.


Lagipula wajar saja jika dalam satu hari Dewi membuat pengecualian untuk jadwal dan rencananya. It doesn’t hurt anybody to let loose a little, right?


Dering telepon rumah membahana memenuhi ruang tengah.


Melemparkan tas kerja ke sofa, aku berjalan menghampiri seraya berkata pada Mbok Jem.


“Saya saja yang angkat, Mbok.”


Mbok Jem mengangguk dan kembali ke dapur, sementara aku menempelkan gagang telepon ke indera dengarku.


“Halo?”, panggil suara dari seberang. Suara wanita yang tidak kukenal.


“Ya, halo. Dengan siapa ini?”, jawabku.


“Apa betul ini rumahnya Judistia, Pak?”, jawab si penelepon.


Dahi berkerut, aku menjawabnya.


“Iya betul. Ini dengan siapa, ya?”


Suara wanita itu terdengar lega.

__ADS_1


“Ini dengan Ibu Yuni, Pak. Wali kelasnya Tia di sekolah. Dengan Pak Rawindra, ya?”


Masih tidak mengerti, aku mengiyakan pertanyaannya.


Suara itu berkata lagi.


“Ini Pak, sudah satu jam dari jam pulang sekolah tapi Tia belum ada yang jemput. Saya telepon ke nomornya Ibu Dewi tidak diangkat dari tadi. Apa mungkin Bapak bisa...?”


Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab.


“Saya jemput sekarang.”


Bergegas dan tidak menghiraukan tatap heran Mbok Jem, aku berlari dan menyalakan mobil.


Kembali ke jalanan, menyetir dengan pikiran melayang ke mana-mana.


Selagi mengarungi lalu lintas Bandung yang kurang ajar macetnya, aku berulang kali menelepon ponsel Dewi.


Nada sambung, nada sambung, lalu “Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan”.


Kalut, aku berkendara dengan liar dan ganas.


Setelah beberapa kali nyaris menabrak sepeda motor dan penyeberang jalan, akhirnya aku tiba di sekolah Tia.


Masih tanpa jawaban atau kabar dari Dewi.


Tanpa peduli soal parkir, aku berlari menghampiri putriku yang sedang menangis di lobby sekolah.


Terengah, aku menyapanya.


“Hai, Sayang.”


Masih terisak, Tia mengangkat wajahnya dan memelukku erat-erat.


“Pa... Papa...”


Membelai dan menggendongnya, aku tersenyum kilat dan berterima kasih pada guru yang menemani, lalu segera kembali ke mobil yang masih menyala.


Mendudukkan Tia di kursi penumpang, aku berusaha menenangkannya dengan setengah perhatian.


“Tia, Sayang. Duduk manis, ya. Pakai sabuk pengaman. Papa mau telepon Mama dulu.”


Dalam isak, Tia berusaha menyampaikan sesuatu.


“Pa... Pa... Mama... Mama, Pa...”


Menjawab dan membelai sekenanya, aku masih terus menelepon istriku.


“Pa, Mama... Mama nggak sayang Tia lagi...”


Jantung berdegup kencang dan keringat dingin di mana-mana, aku membelai Tia sedikit lebih cepat.


“Nggak kok, Sayang. Mungkin Mama sedang sibuk dan lupa mengabari. Mama sayang Tia, kok.”


Tangisnya pecah semakin kencang.


“Nggak, Pa. Mama nggak cibuk (baca : sibuk). Mama ada di sekolah Tia tadi. Tapi waktu Tia panggil, Mama pelgi (baca : pergi).”


Sekejap, seluruh pacu jantungku berhenti.


Belalak tak percaya, aku menatap putriku yang terus bercerita.


“Tia panggil. Tapi Mama nggak lihat. Waktu Tia sampai di tempat Mama, Mama nggak ada.”


Ternganga tak mengerti, aku mencari kebohongan di dalam mata putriku.


Mungkin Tia salah lihat.


Mungkin Tia salah memanggil.


Tidak mungkin Dewi bersikap begitu pada putri semata wayangnya.


Tidak mungkin istriku bersikap demikian pada putri tunggal kami.


Dan tepat saat itu, sebuah mobil memasuki lapangan parkir.


Jazz abu, dengan nomor polisi sesuai tanggal ulang tahun istriku.


Terhipnotis, aku dan Tia memandang ikut saat mobil itu melewati kami dan berhenti kasar di depan pintu lobby.


Turun dengan cepat dari sana, wanita cantik berambut panjang hitam berlari menyeberangi ambang.


Panik dan tidak menyadari keberadaan kami sama sekali.


Dewi. Istriku.


 


 


***


“Win, Sayang. Maaf ya, maaf. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.”

__ADS_1


Kami sudah di rumah dan ini sudah malam hari.


Tia sudah tidur nyenyak di kamarnya.


Dewi terduduk di tepi tempat tidur kami dan aku berjalan ke sana kemari.


Mencari ketenangan yang sudah menguap entah ke mana sejak tadi.


Berusaha menjelaskan, Dewi terus memohon.


“Sayang, maafkan aku. Maafkan aku. Aku betul-betul tidak tahu. Aku tidak... Aku ingat aku sudah ada di sekolah Tia, tapi apa yang terjadi setelah itu aku sungguh...”


Aku memotong.


Marah, tak percaya, takut, dan ngeri bercampur aduk menjadi satu.


“Jadi kamu bermaksud mengatakan padaku bahwa kamu sama sekali tidak sadar sudah berputar-putar mengelilingi Bandung selama satu jam tanpa putri semata wayangmu, Wi?”


Dewi tampak nyaris menangis.


“Aku tidak tahu, Win. Aku tidak mengerti. Maafkan aku, Win. Maafkan aku.”


Tidak tahu harus berkata apa, aku terduduk lemas di tempat tidur.


Bermenit-menit berlalu dalam keheningan, sementara aku berusaha mencari penjelasan logis untuk semua ini.


Aku mengenal Dewi luar dan dalam. Kami berpacaran lama sebelum akhirnya menikah.


Aku tahu ia bukan pembohong.


Tapi kalau ia tidak berbohong, lantas...


Menarik nafas dalam-dalam, aku menoleh dan menggenggam tangannya.


Berusaha membuat pertanyaanku ini selembut mungkin.


“Wi. Tolong jujur padaku. Apa kamu pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya?”


Dewi menatapku tak mengerti.


“Ma... Maksud kamu, Win?”


Aku menggeser diri mendekat dan menatapnya lebih dalam.


“Apa kamu pernah mengalami periode-periode kosong di mana kamu lupa apa yang kamu lakukan sebelum itu? Apa kamu kesulitan mengingat sesuatu?”


Alisnya bertaut saat menjawab.


“Kamu... Kamu sedang mendiagnosis aku?”


Semakin erat aku menggenggam tangannya.


“Wi, please jawab aku.”


Dahinya semakin dalam berkerut. Ia menggeleng tidak percaya dan melepaskan tangannya dariku.


“Aku tidak apa-apa, Win. Mungkin aku hanya kelelahan. Aku minta maaf karena sudah lalai menjemput Tia hari ini. Tapi aku tidak apa-apa.”


Menjauh, ia menarik selimut menutupi dirinya.


Aku masih berusaha mengejar.


“Wi.”


Punggungnya lah yang ia tunjukkan saat menjawab.


“Good night, Win.”


...


Putus asa, aku hanya bisa melihatnya berbaring berlawanan arah.


Tahu bahwa usahaku sia-sia, aku membaringkan diri terlentang di sampingnya.


Jantungku masih memompa ketakutan ke sekujur sel tubuhku.


Namun apa gunanya aku sebagai seorang suami dan seorang dokter jika tidak bisa menuntaskan masalah ini?


Menoleh sekali lagi, aku mengulurkan tangan ingin membelainya.


Terhenti dan bergantung di udara saat merasakan tangis yang ia suarakan dalam diam.


Mengurungkan tangan, aku menghela nafas dan berbisik dalam hati.


“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluargaku, Tuhan. But I promise I will do my best to protect them. Both of them.”


Merasakan sedikit beban terangkat dalam doa, sekali lagi aku menoleh.


Ia masih menangis.


Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku membelainya selembut mungkin.


Dan aku tertidur.

__ADS_1


__ADS_2