Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 10 - Ke Dalam Api


__ADS_3

Suatu hari nanti, jika aku menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (yeah, right), ada satu hal yang akan kutambahkan sebagai instrumen penilaian seorang guru.


Karena bagiku, ada hal penting yang harus dikuasai seseorang untuk bisa menjadi guru selain kemampuan manajemen kelas dan kompetensi mengajar.


Apakah itu?


Tidak lain dan tidak bukan, kemampuan mendorong emosi pribadi jauh ke belakang jiwa.


Ya, seperti apa yang sedang kulakukan saat ini.


I mean, look at me.


Berpenampilan modis dengan knot front blouse kuning pucat ditimpali dengan blazer dan celana panjang putih baruku. Rambut yang kubiarkan tergerai rapi membingkai wajah Jawa sempurnaku. Senyum dan tawa yang kukenakan saat mengajar anak-anak dan berinteraksi dengan kolega-kolegaku.


Padahal baru beberapa jam sebelumnya aku hancur sehancur-hancurnya dalam rasa dan hati.


...


My God, Dra.


Aku salah apa padamu?


Apa yang kulakukan sampai kamu tega pergi dariku demi wanita itu?


Apa kamu memang membenci dan menyalahkanku atas apa yang menimpa Tia?


Sebegitu dalamnya kah dosaku bagimu, Dra?


...


Andra


online


Surprised? 17.52


 


 


Duniaku seakan runtuh.


Air mata mengalir tanpa perlu disuruh dan hatiku hancur luruh saat aku membalas pesan itu.


Kau dapat foto itu dari mana? 17.53


 


 


Tak perlu waktu lama, jawaban Andra pun datang.


Andra


online


Itu Windra sendiri kok yang kirim. Let me forward his messages to you. 17.54


 


 


Gemetar ketakutan namun ingin menuntaskan sakit ini secepatnya, aku membiarkan layar terbuka.


Menguatkan hati akan kata-kata Windra yang ia kirim pada sahabatnya.


Kata-kata pengkhianatannya.


Andra


online


(Forwarded) There she is. Cantik, ‘kan? 17.54


(Forwarded) Makanya nanti datang main lah ke sini. I’ll introduce you to her. You’ll like her as I do. 17.55


...


 


 


“Wi, mau main ke rumah? Kalyha kangen berat sama kamu, tuh. Dasar itu anak, disogok pakai es krim juga langsung dapat hatinya.”


Aku membereskan kertas-kertas analisis SWOT dari meja tempat aku dan Nadien berdiskusi sambil tertawa.


“Bukan sogokan itu, Dien. Itu namanya affection. Jangan pelit-pelit sama anak sendiri makanya.”


Nadien balas tertawa.


“Iya, iya. Nanti aku belikan dia crepes deh. Jadi kamu mau datang? Sekalian nanti kita teruskan bahas soal promosi guru tetap.”


Aku menggeleng.


“Maaf ya, Dien. Tapi aku belum jadi workaholic. Jam kerja ku masih normal, kita lanjut bahas besok saja ya. And say my sorry to Kalyha, aku hari ini ada urusan, Dien.”


Nadien tampak kecewa.


“Yah, sombong nih sekarang ada urusan segala. Urusan apa sih? Toko?”


Aku tersenyum.


“Yah, begitulah, Dien. Next time deh ya.”


Dengan perkataan itu, aku meninggalkan sahabatku di ruangannya.


Berjalan melewati pintu, aku mengeluarkan handphone dari saku blazer dan membuka Whatsapp.


Satu pesan sudah menungguku di sana.


Andra


online


Hi, Beautiful. Jadi meet-up hari ini? 14.15


 

__ADS_1


 


Darahku berdesir kencang, terpompa bergemuruh di kepala.


Jari sedikit gemetar, nekat aku menjawab.


Jadi. See you there, Dra. 14.15


 


 


You think only you can hurt us, dr. Rawindra?


Guess what?


I can hurt us even more.


 


 


***


Abalone Cafe.


Salah satu cafe elegan yang booming luar biasa di kota Bandung.


One of our favorite restaurants yang tidak sengaja kami temukan dua tahun lalu.


Aku ingat saat itu Windra sedang merayakan kelulusan pendidikan spesialisnya, jadi si dokter bahagia itu mengajak keluarganya, aku dan Tia, berkendara mencari rumah makan yang mewah.


“Pa, kita mau ke mana, cih?”, tanya Tia polos.


Windra melepaskan tangannya sejenak dari persneling dan mengelus pipi Tia.


“Kita mau makan, Sayang. Papa mau traktir Tia dan Mama hari ini.”


Aku melongokkan wajah dari antara dua jok depan (Tia berkeras ingin duduk sendiri di depan katanya) dan menimpali.


“Papa baru dapat hadiah dari Tuhan, Sayang. Jadi Papa mau berbagi dengan kita.”


Tanpa jeda Windra menambahkan.


“Iya, jadi sekarang Tia mau apapun bilang saja, ya? Papa yang traktir.”


Tia kami yang manis itu berpikir sejenak, lalu dengan berbinar-binar menjawab.


“Ikan, Pa!”


Windra menoleh dan melongo sekejap.


“Ikan? Maksudnya, Tia mau beli ikan?”


Aku tertawa dari jok belakang.


“Bukan, Dra. Ini Tia lagi suka banget sama ikan. Kemarin Mbok Jem masak nila bakar habis satu ekor sendirian. Hebat ‘kan?”


Paham, Windra ikut tertawa.


“Ya ampun, pantas anak Papa yang cantik ini jadi makin chubby. Ya sudah, ayo kita makan ikan!”


“Eh, Dra. Kita ini arahnya ke Jalan Suci, lho. Memang ada restoran seafood di daerah sini?”


Windra tersadar.


“Eh, iya ya. Duh kalau putar balik jauh lagi, Babe. Aku sudah lapar ini. Coba tolong kamu periksa Google Maps dong. Ada restoran seafood yang enak di arah sini tidak?”


Aku mendengus geli.


“Makanya kalau jalan itu dipikir dulu, Babe. Ini main setir saja, jadi bingung ‘kan.”


Setelah memasukkan kata kunci ‘restoran seafood daerah Suci Bandung’, nama Abalone lah yang melompat paling atas.


Restoran keren bergaya rustic dengan cita rasa internasional bintang lima yang berlokasi di pegunungan Padasuka, sedikit di bawah daerah Caringin Tilu.


Restoran tempat Tia berlari ke sana kemari kegirangan setelah menghabiskan satu porsi tuna sambal matah (penyuka pedas, keturunan Papanya).


Restoran tempat aku memberikan ciuman bangga pada Windra (tentunya saat Tia sedang asyik memandang keluar jendela).


Restoran tempat Windra membalas ciumanku dengan godaan khasnya, “Terima kasih ciumannya ya, Babe. Cepat pulang yuk. Aku jadi ingin lebih nih.”


...


Restoran yang kupilih untuk bertemu Andra sore ini.


Karena bagiku, langkah pertama balas dendam terbaikku pada Windra adalah dengan menemui laki-laki lain di tempat kenangan kami berdua dulu.


Maka begitulah.


Saat mobilku memasuki lapangan parkir Abalone, Andra sudah ada di sana.


Tersenyum dan sigap membukakan pintu bagiku.


Aku membiarkan ia membantuku turun dan tidak melepaskan tanganku saat kami berjalan masuk.


Revenge misson to dr. Rawindra starts now.


 


 


***


“So, how’s work?”, tanya Andra.


Aku mengangkat bahu.


“Work’s still the same as always. Nothing interesting.”


Andra tersenyum.


“Kamu tahu, Wi? Dari sejak pertama aku bertemu denganmu di sekolah itu, cuma satu yang jadi pertanyaanku.”


Aku bertanya dengan mengangkat alis.


Andra mengulurkan tangan dan membelai tanganku. Aku tidak menariknya.

__ADS_1


“Kira-kira para siswa bisa konsentrasi tidak ya, punya guru secantik kamu?”


Aku tersenyum tipis.


Hati ini mati rasa dalam segalanya, atau mungkin lebih tepat jika kukatakan tidak ada rasa lain selain dendam di sini.


“Ah, gombal.”


Andra tertawa.


“Itu jujur kok, Wi.”


Aku melihat ke arah lain dan mengutuk kesalahanku saat itu juga.


Karena aku melihat meja di samping jendela. Meja tempat kami makan dahulu.


Dehem, aku bertanya. Berusaha menyamarkan keingin tahuan dengan nada cuek.


“Jadi, sudah kontak-kontak dengan Windra sejak kapan?”


Tawa di wajah Andra luntur sedikit.


Melepaskan tanganku, ia menjawab pelan.


“Beberapa hari yang lalu.”


Aku mengangguk dan masih berusaha terlihat tidak peduli.


“Bagaimana awalnya? Karena setahuku kalian sudah lama terpisah, ‘kan? Kau bertugas di Sumatera kalau tidak salah, ya?”


Andra menghela nafas.


“Look, bisa kita bicarakan hal lain, Wi? Kita bicarakan hal-hal yang menyenang...”


“Tidak”, potongku. “Hanya ini yang ingin kubicarakan denganmu. Tidak ada hal lain. Jadi sebaiknya kau jawab saja pertanyaan-pertanyaanku.”


Aku menatapnya lurus dan bertanya lagi.


“Jadi bagaimana awalnya bisa kontak kembali dengan Windra?”


Andra membalas tatapanku sekian lama, lalu menjawab.


“Saat Tia pertama kali masuk rumah sakit, aku selesai masa praktik di Riau dan pulang ke Bandung. Saat itulah Windra memintaku untuk menggantikan posisinya di Rumah Sakit Hasan Sadikin.”


Aku lupa berpura-pura cuek dan mulai memperhatikan setiap kata-katanya.


Andra melanjutkan.


“Aku sempat mengira itu hanya gurauan atau luapan emosi karena dia sedang kalut. Tapi di hari pemakaman Tia, dia benar-benar meneleponku, memastikan kesanggupanku bekerja menggantikannya.”


Andra berhenti sejenak, meneguk kopi pesanannya, lalu meneruskan.


“Dan percayalah, Wi. Aku sama sekali tidak tahu dia pergi sehari setelahnya. Aku hanya mengambil pos-nya di rumah sakit. Bahkan orang-orang rumah sakit pun tidak ada yang tahu kalau dia pergi.”


Aku bertanya pelan.


“Lalu?”


Andra mengangkat bahu.


“Nothing. Tidak ada kontak sama sekali darinya selama satu tahun penuh, sampai beberapa hari yang lalu. Aku ingat itu adalah satu hari setelah peringatan satu tahunnya Tia.”


Jantungku berdegup kencang.


Itu adalah hari di saat Windra meneleponku.


Andra melanjutkan ceritanya.


“Dia meneleponku. Dia menceritakan apa yang terjadi di antara kalian selama satu tahun ini, lalu memberiku nomormu, dan meminta tolong padaku untuk mengecek keadaanmu. Saat itu juga dia bercerita bahwa dia sedang ada di Dallas, Abby Grace Foundation.”


Rasa dingin menjalari seluruh tubuhku.


Andra bercerita terus.


“Dia bilang dia ingin pulang ke Indonesia setelah satu tahun, sesuai janji. Tapi ada satu dan lain hal yang harus dia urus sehingga dia akan pulang terlambat. Waktu aku tanya hal apa yang harus dia urusi, dia mengirim foto dan pesan yang ku-forward padamu kemarin.”


Andra tersenyum.


“Maka begitulah, aku tadinya ingin meneleponmu, tapi kupikir kurang dramatis untuk pertemuan kita kembali, ya. Jadi aku mengikuti Instagram-mu dan tahu bahwa hari Sabtu kemarin kamu sedang ada di coffee shop. Maka aku datang dan terjadilah apa yang terjadi.”


Aku tak tahu harus berkata apa.


Jadi Windra pergi setelah memastikan tidak ada orang yang tahu tentang tujuan atau rencananya.


Lalu setelah aku marah luar biasa padanya, sekarang ia ingin pulang, tapi terhalang oleh sesuatu hal.


Wait, who am I kidding?


Ia ingin pulang, tapi ternyata ia bertemu dengan SEORANG wanita.


Lalu si pengecut itu merelakanku pada sahabatnya sendiri?


This is insane.


Ini terlalu gila.


 


 


Andra kembali mengulurkan tangan dan menggenggamku.


Aku kembali tidak menariknya.


Ia tersenyum.


“The way I see it, dan tentunya kamu juga setuju, Wi. Windra sudah menyerah denganmu dan memutuskan untuk memulai kehidupan baru di sana. Dia juga ingin supaya kamu meniti kehidupan barumu di sini. Denganku. So I say, let’s get on with it, shall we?”


 


 


Baru pertama kali ini dalam hidupku, aku merasa demikian tidak berharganya.


Demikian tidak diinginkannya.


...

__ADS_1


So that’s what you want, dr. Rawindra?


So be it.


__ADS_2