
Rawindra
“Babe! Babe!”
Guncangan yang makin lama makin kencang itu membangunkanku di tengah malam buta.
Gelagapan dan setengah panik, buru-buru aku bangun dan berbalik menghadapnya.
“Ya Babe? Ada apa? Kamu mual? Kram?”
Wanita cantik di sisiku itu menatapku khawatir.
“Ini perutku kok seperti kontraksi ya, Babe? Kata dokter masih bulan depan ‘kan?”
Mendengarnya, aku menghela nafas lega.
Beranjak bangun, aku mengambil segelas air putih dan menyodorkannya.
“Tidak apa-apa, Babe. Kalau hamil 8 bulan memang sering kontraksi palsu seperti itu kok. Mungkin kamu kelelahan atau dehidrasi. Nih, minum dulu.”
Dewi, istriku yang cantik itu bangun dengan susah payah dan langsung meneguk air dari tanganku.
Ia pun meminum air seperti orang kehausan.
Aku berdecak.
“Kamu pasti kurang minum lagi. Sudah berapa kali aku bilang, harus banyak minum. Minum air putih, Wi, bukan kopi atau jus.”
Mengembalikan gelas ke tanganku, ia merengut.
“Istrinya sedang hamil besar kok dimarah-marahi sih.”
Hela nafas dalam, aku meletakkan gelas ke nakas samping dan beringsut mendekatinya.
Seperti insting, otomatis aku mengulurkan tangan, menyelipkan poninya ke belakang telinga, lalu memijat kakinya yang membengkak.
“Bukan marah, Sayang. Khawatir. Untung besok sudah mulai cuti. Aku tahu kok kalau kamu di sekolah, kamu jarang sekali minum. Ampun deh.”
Aku terus memijat kakinya dan menunggu jawaban, namun yang datang malahan, “Ahh, that’s the spot, Babe. Enak banget.”
Aku memutar bola mata malas.
“Punya istri kok susah sekali diberi tahu yang baik. Pasien-pasienku saja tidak begini-begini amat.”
Ia lalu tersenyum dan membelai punggungku lembut.
Menatapku dengan penuh cinta.
“Iya, iya. Aku janji aku akan banyak minum. Jangan marah ya, Pak Dokter ganteng.”
Duduk di sofa ruang keluarga, pandangku berkeliling dibarengi senyum yang lebar.
It has been a year and a month since I left this house dan tidak pernah ada satu hari pun kulewati tanpa merindukannya.
Aku rindu sofa empuk dengan tumpuan kaki yang melesak ke bawah ini, tempatku meluruskan kaki sambil menonton BeIn Sports setiap pulang dari rumah sakit.
Aku rindu melihat foto-foto keluarga kami yang berjejer tepat di atas TV, tempatku me-recharge kembali fisik dan mental yang terkuras habis di rumah sakit.
Namun melebihi semuanya, aku rindu Dewi, istriku.
Aku rindu aromanya, aku rindu rasa tubuhnya, dan yang terutama, aku merindukan tatapannya yang penuh cinta.
I miss that look in her eyes.
Tatapan yang selalu kudapatkan saat aku pulang dan memeluknya.
Tatapan yang selalu kudapatkan saat aku melayaninya barang sejenak di penghujung hari.
Sebetulnya, aku sangat berharap dia ada di rumah siang tadi, saat aku mengetuk pagar rumah.
Namun sial, yang menyambutku malah Mbok Jem dengan daster batik khasnya itu.
Menurut Mbok Jem, Dewi sudah pergi dari pagi dan tidak bilang mau ke mana.
Yah, aku memang seharusnya tidak berharap banyak.
Aku tahu aku ini terlihat seperti apa baginya sekarang.
A jerk.
A jerk of a husband yang pergi meninggalkannya tepat satu hari setelah putri kami dipanggil Yang Maha Kuasa.
A jerk of a husband yang pergi satu tahun lebih tanpa penjelasan dan berita.
Telepon-telepon dan chats-nya yang penuh kemarahan itu sudah cukup menggambarkan apa yang ia rasakan tentangku sekarang.
...
If only you know, Wi.
__ADS_1
Maafkan aku, ya.
Maafkan suamimu yang payah ini.
Maafkan suamimu yang tidak punya kekuatan untuk mengatakan yang sebenarnya.
But I’m here now, Wi.
I’m back, sesuai janjiku padamu.
Aku tidak dapat menjelaskan mengapa aku pergi sesaat.
Tapi aku berjanji aku akan selalu ada untukmu mulai hari ini sampai selamanya.
Let me fix this.
Let me fix us.
Derum lembut mobil yang sangat kukenal menyapa ruang dengarku dari arah halaman.
Disusul dengan kemunculan Mbok Jem yang tergopoh-gopoh hendak membuka pintu.
Hela nafas dalam dan menyiapkan diri, aku segera mencegahnya.
“Biar saya saja yang buka, Mbok.”
Mbok Jem terhenti dalam gerak, kunci menggantung di tangannya.
Aku melangkah mendekat dan menadahkan tangan, meminta kunci.
Tatapan Mbok Jem adalah campuran sempurna antara takut dan gugup.
Aku mencoba tersenyum.
“Saya saja yang buka, Mbok. Boleh saya minta kuncinya?”
Klakson mobil menyentak Mbok Jem dari lamunan, sehingga ia perlahan meletakkan kunci di telapak tanganku yang terbuka.
Aku menggenggam kunci dan melangkah.
Because I will love you that much, even greater.
Always have, always will.
Meskipun dengan cara yang mungkin tidak akan kamu mengerti atau sukai.
Dewi
“Hei, are you okay? Tadi telepon dari siapa, Wi?”
Andra membelai rambutku lembut.
Belaian yang menyentakku mundur dan membuatku menatapnya seakan ia adalah seorang pelaku pelecehan di bus kota.
Ia semakin keheranan.
“Kamu kenapa, Wi?”
Hati berkecamuk, aku hanya menggeleng cepat dan berkata gemetar.
“Saya harus pulang sekarang.”
Mendengar perkataanku, wajah Andra langsung berubah.
“Ada apa, Wi? Kok tiba-tiba...”
Aku enggan menatapnya lagi dan langsung pergi secepat-cepatnya.
Berjalan cepat hampir berlari, memukul tombol lift hingga tanganku sakit, dan mengumpat menunggu lift yang berhenti di setiap lantai.
Sesampainya di mobil pun aku segera membanting pintu mobil, menyalakan, dan mengemudi secepat-cepatnya.
Darahku sudah lama naik hingga ke ubun-ubun.
__ADS_1
Sudah lama amarahku tidak memuncak seperti ini.
So he’s back.
Rawindra is back in Bandung, in our home, in my life.
Setelah meninggalkan, mencampakkan, dan menelantarkanku, dia masih punya nyali (atau muka) untuk melangkah masuk ke dalam rumahku.
That coward, that jerk of a husband.
Berani-beraninya dia memasuki rumah seakan dia masih tuan rumah di sana!
...
“Apa itu alasannya kamu mengemudi pulang seperti orang gila, Wi?”, bisik hati kecilku.
“Kalau kamu marah padanya, bukankah mestinya kamu tidak menghiraukan kepulangannya dan menghabiskan waktu dengan Andra? Menonton film midnight barangkali, lalu pulang bersamanya dan...”
Shut up!
Don’t even think about it.
Aku memang sakit hati sesakit-sakitnya pada Windra.
Aku benci dan ingin membalas dendam sedalam-dalamnya padanya.
Tapi aku tidak akan menjadi serendah itu.
Aku tidak akan berselingkuh dengan siapapun.
Karena...
Karena...
Berbalut Polo Shirt merah dan celana pendek chino putih, ia beranjak melewati ambang pintu.
As handsome as ever, as manly as ever.
Rambutnya kini sudah tumbuh lebat, rapi dan segar dengan pomade-nya.
Tersenyum, ia menghampiri pagar dan membukanya lebar untukku masuk.
Binar matanya, tangannya yang terbuka, dan suara riangnya.
“Hi, Babe. Masuk yuk.”
...
I am messed up. So messed up.
Kecamuk dalam dada ini bukan hanya diamuk amarah pada Windra atas apa yang sudah ia lakukan padaku selama ini.
Namun juga amarah pada diriku sendiri.
Yang tidak bisa menahan haru dan rindu melihat pria yang masih kucintai setelah semua yang sudah ia lakukan padaku selama ini.
Amarah pada diriku sendiri.
Yang nyaris tidak bisa menahan diri untuk membuka pintu dan berlari menghampirinya, menjatuhkan diri dalam pelukannya, dan mencium bibirnya mesra.
Dan kamu, Win?
Mengapa kamu tersenyum seperti itu?
Mengapa kamu menatapku penuh cinta seperti itu?
Mengapa kamu menghampiri mobil dan berkata lembut.
“Sayang, kamu istirahat saja ke dalam. Biar aku yang parkir mobilnya, ya.”
...
Damn it, Win.
Kenapa kamu tidak bersikap selayaknya seorang suami yang berselingkuh di luar negeri saja agar aku bisa membencimu sepenuh hati?
Kenapa kamu malah bersikap seperti Rawindra kesayanganku, suami yang membuatku jatuh cinta bertahun-tahun ini?
__ADS_1
Apa yang harus kulakukan sekarang?