Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 5 - Pedang Di Dalam Hati


__ADS_3

I hate meetings (so sorry, Dien). Aku bukan tipe orang yang suka duduk dan menghabiskan waktu membicarakan detil-detil kecil sebuah proyek.


Dan kebetulan, ketiga staf Kesiswaan-ku juga setipe denganku.


Josh si guru IT yang serba bisa? Wah dia sih setelah gilirannya bicara pasti langsung pura-pura mencatat notes di handphone, padahal sebetulnya sedang chatting dengan tunangannya. Indri si guru Biologi yang ceriwis? Dari awal meeting juga sudah menyembunyikan kuap di balik proposal kegiatan. Cindy si guru Bahasa Inggris yang aktif? Setelah gilirannya bicara, langsung izin ke toilet dan kembali 10 menit sebelum meeting selesai.


Nasib punya anak buah orang kreatif. Susah fokus semua. Untung hasil akhirnya tidak pernah mengecewakan.


Dahulu, aku pun sama. Sebelum dan sesudah giliranku presentasi, aku selalu mengambil handphone dan membuka notes bersamaan dengan Whatsapp contact Windra dengan proporsi 20-80 (20 notes dan 80 Whatsapp).


Aku tahu bahwa ia jarang membalas, namun aku tak bisa menahan diri untuk iseng mengirim pesan seperti, “Hi, Babe. Sedang apa kamu? Pusing sekali nih meeting-nya.”


Dan terkadang saat ia sedang senggang, ia membalas dengan pesan seperti, “Kasihan Sayangku, nanti di rumah kita main dokter-dokteran deh biar kamu sembuh pusingnya, ya.”


Tapi sekarang...


...


Kenapa ingatanku jadi bermunculan tanpa kontrol begini sejak kemarin sih?


“Okay, Teachers. Thank you for your presentations. Nanti laporan prosesnya jangan lupa di-submit di Google Form ya. Good day to you all.”


Tersadar dari lamunan, aku sempat bingung sesaat melihat para staf Kurikulum dan Kesiswaan bangkit dari tempat duduk mereka masing-masing.


Aku pun bergegas membereskan buku catatan dan ikut beranjak meninggalkan ruangan sebelum panggilan Nadien menghentikanku.


“Ma’am Dewi, could you wait for a second, please?”


Aku menoleh kebingungan.


Setelah semua staf meninggalkan ruangan, ia bangkit berdiri dan menutup pintu.


“Wi, nanti sore kosong? Kita minum kopi yuk?”


Aku tertawa sebelum menjawab.


“Owalah, aku kira mau bicara soal apa. Sore ini tidak bisa, Dien. Aku mau ke toko sama Andhara.”


Nadien tidak menyerah.


“Kalau begitu besok pagi kita cycling, bagaimana? Aku sendiri nih di rumah. Suamiku sedang pelatihan ke Jakarta, anakku sedang di rumah Oma-nya. Temani aku mau ya, Wi?”


Aku berpikir sejenak.


“Besok itu Sabtu, ya? Ayo deh. Sudah lama juga tidak cycling.”


Nadien ikut tersenyum.


“Sip. Nanti aku jemput, ya.”


Aku meninggalkan ruangan dengan hati sedikit ringan.


Great, cycling with my bestie on Saturday morning.


Satu lagi agenda untuk membantuku bertahan dari hari ke hari.


Satu lagi kegiatan untuk mencegahku mengingat hal-hal tentang Windra di masa lalu.


***


“Hai, Mbak. How’s your day?”


Aku menutup pintu dan segera bersandar lemas di kursi penumpang.


“Yah begitulah, Dhar. Kamu melakukan apa saja hari ini?”


Dhara memasukkan gigi dan menyetir mobil maju.


“Tadi ke bengkel, Mbak. Servis rutin mobilmu. Ganti oli, segala macam deh.”


Aku terbangun tegak dari dudukku dan segera mengambil dompet.


“Duh, kok jadi merepotkan sih? Habis berapa, Dhar? Mbak ganti, ya?”


Andhara berdecak kesal.


“Apa sih, Mbak? Memangnya tampangku seperti sopir yang harus dibayar? Sudah santai sajalah.”


Aku memasukkan kembali dompetku dan tersenyum.


“Kalau begitu sekalian renovasi rumah Mbak dong, Dhar. Mbak ingin mengganti lantai balkon menjadi motif kayu begitu.”

__ADS_1


Andhara tertawa terbahak-bahak.


“Itu sih namanya eksploitasi!”


Kami tertawa sepanjang jalan menuju Motherheart, toko pakaian bayi dan balita milikku di Jalan Setiabudi.


Sebenarnya, sejarah toko ini lucu sekali.


Aku sama sekali tidak ada niat berbisnis sejak dulu, Windra juga tidak.


Namun suatu saat, saat aku dan Windra masih bertunangan, kami mengendarai mobil melintasi kota sambil berbincang-bincang tentang segala hal.


Dari topik-topik ringan seperti makanan dan film hingga topik berat seperti rencana berkeluarga.


“Kamu ingin punya berapa anak, Babe?”


Tanpa ragu aku menjawab.


“Satu saja lah, Babe.”


Windra tertawa.


“Lho, katanya kamu suka anak-anak? Berarti punya banyak anak tidak apa-apa dong mestinya?”


Aku bersikukuh pada pendapatku.


“Aku suka anak-anak, Win, bukan suka mengandung dan melahirkan anak-anak. Kamu sih enak tinggal buat. Aku yang hamil dan melahirkan nanti.”


Windra semakin tertawa.


“Padahal aku sudah rencana mau buat kesebelasan denganmu. WiWi Football Club.”


Aku ikut tertawa dan memukul lengannya.


“Gila! Itu sih nafsu, Win! Memangnya aku ini kelinci apa?”


Windra menjawab dengan wajah sok serius.


“Bukan nafsu, Wi. Aku cuma suka membayangkan saja. Ada banyak anak-anak keluar masuk di tempat kita, tertawa dan berlarian ke sana kemari. Beautiful, isn’t it?”


Aku menggelengkan kepala.


“Kalau mau ada banyak anak-anak keluar masuk di tempat kita, tidak perlu punya banyak anak, Win. Buka toko pakaian bayi dan balita saja.”


Aku terkejut dan spontan mencengkeram jantungku.


“Windra! Apa-apaan sih? Ada apa di depan?”


Windra tidak menjawab selama beberapa saat, lalu perlahan-lahan menoleh menatapku.


Aku jadi ketakutan.


“Win? Apaan sih? Kamu kenapa?”


Windra berkata pelan.


“Kamu ingat ‘kan bulan kemarin Eyang-ku meninggal dan membagikan warisan pada kami semua? Ratusan juta per cucu lho, Wi. Aku sendiri bingung mau dipakai apa. Modal menikah sudah cukup. Buka klinik? Bukan passion-ku. Ide kamu bagus juga. Bagaimana kalau kita buka toko pakaian untuk bayi dan balita?”


Aku ternganga keheranan. Ini orang gila atau apa?


Kami sama sekali tidak ada niat berbisnis karena waktu kami sudah habis di bidang pekerjaan kami masing-masing.


Lagipula jika ingin ‘berjudi’ dengan membuka bisnis, kenapa harus pakaian bayi? Kenapa tidak membuka cafe dan membayar chef?


Tapi entah kemasukan apa, hari itu kami betul-betul menjelajah Bandung mencari gedung yang disewakan.


Setelah menemukan satu gedung di Jalan Setiabudi, kami betul-betul menelepon dan dealing harga dengan agen propertinya.


Lalu tanpa disangka-sangka, Motherheart berdiri.


Dengan supplier yang diperkenalkan oleh Ayah dan Ibu, dengan karyawan yang direkomendasikan oleh Ayah dan Ibunya Windra, dan dengan dukungan penuh dari kedua keluarga kami.


Hari ini, 8 tahun sudah toko kami berdiri dan menjadi sukses tanpa kami duga.


Dan memang ternyata toko ini berperan penting dalam ekonomi keluarga kami.


Saat Windra mengambil spesialis, saat aku ingin mengambil S-2, Motherheart-lah yang mewujudkan semua itu.


Aku masih ingat saat Tia masih berusia 8 bulan, kami sekeluarga berdiri di depan toko dan tertawa.


“Who would’ve thought, Wi? Who would’ve thought?”, kata Windra saat itu.

__ADS_1


...


Yeah. Who would’ve thought?


Siapa yang mengira?


Siapa yang mengira dengan semua usahaku menghilangkannya dalam kenanganku, ia justru semakin sering muncul dalam kilasan seperti ini?


Damn. Aku harus melakukan apa untuk menghentikan perjalanan memori mendadak seperti ini?


***


Sepulang dari Motherheart, Andhara marah-marah sendiri.


“Mbak, itu karyawan toko harus dilatih di bidang IT dong. Zaman sekarang kalau jual offline saja tidak akan untung, Mbak.”


Aku menghela nafas.


“Iya, Dhar. Iya.”


Ternyata penyebab turunnya keuntungan toko adalah ketiadaan inovasi. Kami tergilas oleh para reseller kecil yang meraup pasar ibu-ibu muda milenial dan jika kami tidak melakukan sesuatu tentangnya, kami bisa terus mengalami penurunan keuntungan dan (amit-amit) bangkrut di masa depan.


Jadi solusinya menurut Andhara adalah pembuatan Instagram dan business Whatsapp contact untuk Motherheart (dia kaget dan marah sekali waktu mendapati kami bahkan tidak punya Instagram).


“Mbak harus berani investasi dong. Stagnation is decline, Mbak. Lagipula membuat akun begitu ‘kan gratis. Aku sudah membuatkan akunnya. Dirawat lho. Di-update.”


Aku hanya bisa mengiyakan semua saran Andhara, secara dia ini bekerja sebagai risk management analyst di Golden Petrol America, yang berarti setiap sarannya itu bernilai ribuan US Dollar jika harus dibayar.


Andhara menghela nafas dalam.


“Mbak, this has to stop. Aku tahu kenapa Mbak mengabaikan diri dan usaha Mbak. You have to move on, Mbak. Kalau Mas Windra tidak mau kembali, untuk apa ditunggu-tunggu terus? Mbak mau sampai kapan begini terus?”


...


“Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Dhar.”


Andhara masih terus berkata-kata.


“Aku mungkin memang belum berpengalaman dalam hubungan, Mbak. Tapi satu hal yang aku tahu, tidak ada hubungan di mana salah satu pihak menanggung semua kesakitan sendirian, Mbak!”


...


“Stop it.”


Andhara semakin kesal dari kata ke kata.


“Aku kesal sekali melihat Mbak. Menyiksa diri, membiarkan usahanya menurun, semuanya karena menunggu laki-laki kurang ajar yang...”


“Stop it!”


...


Andhara terdiam.


Aku menyesal.


“Dhar, maaf Mbak membentakmu tadi... Mbak... Terima kasih atas saranmu, ya. Tapi Mbak mau pulang sekarang.”


Tidak ada kata-kata tertukar di antara kami sepanjang perjalanan hingga Andhara bersiap pulang dari rumahku.


Aku berdiri bersandar di ambang pintu. Merasa terkuras habis.


Di depan pintu mobilnya, Andhara berbalik dan menatapku.


Prihatin dalam setiap serat tatapannya.


“I love you, Mbak. And I want you to love yourself, that’s all.”


Aku berusaha keras untuk memberi senyum.


“Thank you, Dhar.”


...


Mbak-mu ini tidak bisa mencintai dirinya sendiri, Dhar.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa aku mencintai diriku sendiri saat tahu bahwa San Filippo Syndrome yang mengambil Tia-ku adalah penyakit genetik?


Bagaimana bisa aku mencintai diriku jika ada kemungkinan akulah yang menyebabkan ini semua?

__ADS_1


...


Bagaimana aku bisa mencintai diriku sendiri jika hatiku yang paling dalam selalu mengingatkan bahwa suamiku pergi karena tidak tahan hidup bersama seorang wanita cacat genetik yang telah membunuh putrinya?


__ADS_2