Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Tidak Berubah


__ADS_3

Dewi


Kata-kata itu bergaung dalam ruangan, di antara kami berdua.


Sepanjang perjalanan ke sini, aku sudah mempersiapkan segala jenis susunan kata.


Mental notes-ku sudah terisi penuh daftar kalimat seperti :


“Win, this is too much for me.”


“Sebaiknya kita pisah saja mulai sekarang.”


“Aku tidak bisa, Win. Aku tidak bisa melihatmu dulu. Mungkin selamanya tidak akan pernah bisa.”


Tapi menerima pesan WhatsApp darinya (“Wi, kamu di mana, Sayang? Aku jemput ya?”).


Melihat mobil, sandal, dan semua jejak keberadaannya di rumah.


Mencium aroma tubuhnya dan merasakan kehadirannya.


Semua itu menekanku sedemikian rupa sehingga yang bisa kukatakan padanya hanya chat “Tidak


perlu. Aku sudah di jalan pulang.” dan kata-kata...


“Aku selingkuh dengan Andra.”


...


Rawindra menatapku tak percaya.


Sorot mata tajamnya menelitiku seakan aku ini jenis virus baru yang ditemukannya di mikroskop.


Kedua lenganku saling memeluk satu sama lain, berusaha melindungi diri dari apapun yang akan ia lakukan.


Tangan Rawindra masih tergantung janggal di tengah udara saat ia berkata.


“Maksud kamu apa, Wi?”


Takut, namun ingin segera menuntaskan.


Aku menjawab.


“Kamu pergi, Win. Kamu pergi tepat setelah Tia pergi. Tanpa penjelasan. Aku berkali-kali meminta jawaban selama satu tahun lebih, Win. Dan kamu...”


Ia memotong.


“I know, Wi. Maka dari itu ayo kita duduk. Aku akan jelaskan semuanya sekarang.”


Hela nafas dalam-dalam, nadi di pelipisku berdenyut kencang.


Aku menjawab dalam kertak gigi.


“Aku belum selesai bicara, Win. Bisa hormati aku sedikit?”


Alis Rawindra bertaut. Bibirnya terbuka, siap melancarkan sanggahan lagi.


Namun dengan sekuat tenaga ia mengatupkan mulut dan mengangguk.


Aku mengumpulkan tenaga sebelum berkata lagi.


“Dan kamu tidak pernah cukup peduli untuk sekedar memberitahuku apa yang kamu lakukan, sedang di mana kamu, dan kapan kamu pulang. Kamu kira istri mana yang tahan diperlakukan begitu oleh suaminya, Win? Kamu kira aku ini apa? Sampah yang tidak layak ada dalam kehidupanmu? Karena caramu memperlakukanku, Win. Lebih dari sampah!”


...


Kepingan-kepingan pertahanan diriku runtuh.


Aku bisa merasakan air mata mengalir turun dari sudut pandangku.


Refleks, Rawindra mengulurkan tangan hendak menghapusnya.


Gerakan yang kubalas dengan tepisan tangan.


Aku menatap matanya langsung.


“Kamu tahu apa yang kupikirkan selama itu, Win? Pernah terlintas dalam otak cemerlangmu apa yang berlangsung dalam hatiku selama periode itu? I feel worthless, Win! Aku tahu aku bukan orang normal. I know I’m sick and I gave that sickness to Tia. I know that I killed our daughter!”


 


Rawindra


Setiap penggalan katanya susul menyusul dalam amarah dan jeritan.


Wajahnya memerah, air matanya berderai, dan sorot pandangnya...


Aku belum pernah melihat Dewi sebenci ini pada seseorang.


Lemah, aku berusaha menyentuh dan menenangkannya.


“Wi, duduk dulu...”


“Tidak!”, bentaknya.


Ia maju dan menunjuk dadaku dengan keras.


“Tanpa kamu ingatkan pun aku sudah merasa bersalah sampai mau mati, Win! Apa maksud kamu meninggalkanku begitu? Apa maksud kamu lari ke Dallas dengan wanita lain? Apa maksud kamu ‘menyerahkan’ aku pada sahabatmu sendiri? Bisakah kamu salahkan aku kalau aku selingkuh dengan Andra?”


Deru nafasnya membakar wajahku.


Sedetik dua detik ia menyipit menatapku jijik.

__ADS_1


Lalu ia tertawa.


“Apa kamu dendam padaku, Win? Karena aku maka putri semata wayangmu kehilangan nyawa, begitu? Ini caramu balas dendam? Wow, memang mastermind sekali Anda, Win. Bravo!”


Aku menatapnya tanpa daya.


Seluruh sendiku rasanya kosong ditinggalkan. Hampa.


Dewi menggeleng dan berjalan menjauh.


Menjatuhkan diri di atas sofa dan bersandar.


Menatap langit-langit.


“Tadi aku baru saja diusir dari toko ‘Moms and Us’. Aku duduk berjam-jam di sana dan kukira aku sedang ada di ‘Motherheart’.”


Dewi


Rawindra langsung bergerak cepat dan mendarat di sampingku.


“Apa? Bagaimana kejadiannya? Kenapa kamu baru cerita?”


Aku meliriknya dan mendengus dalam hati.


Ekspresi pura-pura khawatirmu bagus sekali, Win.


Aku mengangkat bahuku gemetaran.


“Aku tidak mau merepotkanmu dengan urusan sekecil itu. Mungkin kamu sedang video call-an dengan selingkuhanmu di Dallas, ‘kan.”


Tegas, Rawindra menggenggam lenganku dan menghadapkan tubuhku padanya.


Aku terlalu lelah untuk meronta lagi.


Kerutan dalam di antara kedua alis terbentuk di wajahnya saat ia berkata.


“Wi, aku paham kamu marah karena aku pergi begitu saja dalam banyak kerahasiaan. Tapi apa maksud kamu, Wi? Apa maksud kamu selingkuh dengan Andra? Apa maksud kamu dengan ‘wanita di Dallas’? Apa yang


kamu bicarakan?”


Aku menyeringai dingin dan pedih.


“You should ask yourself that, Win. Kamu yang meminta Andra memeriksa keadaanku saat kamu menunda rencana kepulanganmu. Tadinya kukira kamu menunda karena masih benci padaku, eh tahunya karena ada wanita lain. Cantik lho di fotonya. Siapa namanya? Kapan aku dikenalkan padanya?”


Rawindra menatapku sungguh-sungguh.


“Wi, wanita apa maksudmu?”


Aku membalas tatapannya.


Kata-kata sindiran perihku sudah terbentuk di ujung lidah.


***


Buram. Terdistorsi.


Pandanganku rabun dan kepalaku berat berputar-putar.


Cahaya-cahaya berjalan lalu lalang tanpa benakku memberi arti.


Kesadaranku lambat sekali menyapa seluruh inderaku.


Kucoba menggerakkan ujung-ujung jari dan lidahku tanpa berhasil.


Berat. Seolah gravitasi memelukku dengan kekuatan posesif.


Ini...


Rasanya seperti...


“Mama!”


Aku terbatuk-batuk parah.


Telingaku berdenging, hidungku perih luar biasa.


Beberapa reaksi batuk dan muntah kemudian, barulah aku dapat membuka mata.


“Mama!”


Pelukan mungil itulah yang pertama kali kurasakan.


Dada berdegup tak karuan, nafas menggapai-gapai seakan tenggelam, aku berusaha merangkai kata.


“You okay, Babe?”


Mata bergerak ke atas, aku menemukan Rawindra.


Telanjang dada, basah kuyup, khawatir.


“Mama, Mama, you’re okay, right?”


Indera dan pengertian mulai kembali, aku menemukan Tia.


Memelukku erat-erat dan menangis tersedu sedan.


Rawindra menghela nafas lega.


“Thank God kamu sudah sadar. Tia, Sayang. Yuk kita bantu Mama bangun. Wi, kamu tiduran di kursi sana dulu, ya.”

__ADS_1


Tanpa mengerti apa-apa, aku merasakan diriku diangkat dan dipapah suamiku.


Didudukkan di kursi yang sudah dibaluti handuk-handuk kering.


Rawindra mengangkat kakiku lembut dan mengeringkannya dengan handuk hangat.


Aku baru sadar bahwa aku juga basah kuyup.


“A... Aku kenapa, Win?”, bisikku sekuat tenaga.


Rawindra tersenyum.


“Tadi kamu sempat tenggelam di kolam renang, Wi. Untung Tia cepat menyadari kalau kamu tidak kelihatan di mana-mana. Dasar. Makanya aku bilang juga, sebelum berenang harus sarapan dulu, Wi.”


Tia datang menghampiri dan menyodorkan gelas air jeruk hangat ke tanganku.


“Ma, Mama minum dulu ya.”


Sigap, Rawindra mengambil gelas dari tangan Tia dan membantuku minum.


Gelas diletakkan di meja samping, aku menatap Rawindra dan Tia lekat-lekat.


Malaikat-malaikat penjagaku.


Senyum serupa mereka membalasku dan mereka berkata bersamaan.


“Tekanan darahnya bagaimana, Dok?”


Kelopak mataku terbuka dengan kekuatan yang lebih dari sebelumnya.


Bernafas, bernafas, aku berusaha mendapatkan sense akan apa yang terjadi di sekitarku.


Namun yang berulang datang dalam ingatku hanyalah kejadian itu.


Dua tahun yang lalu, di kolam renang resort di Bali.


Aku, Rawindra, dan Tia.


Datang dengan intensi berlibur, pulang dengan pengalaman bersentuhan dengan kematian.


Dan air mataku mengalir.


Aku melepaskan upaya untuk memahami apa yang terjadi sekarang dan memusatkan diri hanya untuk mengenang mereka di masa lampau.


Tia-ku yang manis. Empat tahun umurnya, tapi sudah pintar sekali berenang.


Nyalinya untuk mencoba kolam dewasa betul-betul tidak tertahankan.


Hatinya yang cemerlang dalam perhatiannya padaku.


Oh, Tuhan...


Rawindra-ku yang dulu.


Rawindra-ku yang masih menganggapku mahkota kehidupannya.


Rawindra-ku yang masih mencintai dan mengasihiku dengan segenap keberadaannya.


“Wi?”


Aku menoleh.


Pandang dan rasaku yang buram perlahan kembali.


Dan bersamaan dengan itu, mereka pun datang.


Sensasi dingin di kulitku, cahaya terang di atas kepalaku, berat tubuhku, dan wajah Rawindra di sampingku.


Ia tersenyum dan membelai rambutku.


Senyum yang sama dengan yang ia kenakan saat ia menyelamatkanku di kolam renang dahulu.


Teduh pandangnya turut berkata seiring dengan lembut tuturnya.


“Thank God kamu sudah sadar, Sayang. Kamu kolaps di rumah tadi. Untung aku ada di sana. Sekarang kamu istirahat dulu ya, Wi.”


Aku tak menjawab.


Tak bisa karena daya lidahku masih belum kembali.


Dan juga tak bisa karena aku tak tahu harus berkata apa.


Masih tersenyum, Rawindra bangkit berdiri.


Menggenggam tanganku hangat, ia berkata lagi.


“Aku janji akan menjelaskan semuanya, Wi. Tapi sekarang yang terpenting adalah supaya kamu sehat dulu, ya.”


Ia membungkukkan badan dan mengecup keningku dalam-dalam.


Aksi yang refleks kusambut dengan menghela nafas damai dan memejamkan mata.


“Aku mau bicara dulu dengan dokter. Tapi nanti aku segera kembali kok. Jangan khawatir ya, Sayang.”


Langkah tegapnya berlalu ke balik pintu ruang rawat.


Aku memejamkan mata kembali.


Aku menangis.

__ADS_1


Aku menyesal.


__ADS_2