Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Menjelang


__ADS_3

Dewi


“How do you feel now, Dear?”


Nada khawatir, seiras dengan sorot mata dan belaiannya pada wajahku.


Nadiena bolak-balik menatap infus, mesin-mesin, dan selang yang terpasang di tubuhku.


Aku tersenyum.


“Much better, thank you. Apalagi kalau kamu datang bawa Baskin, Dien.”


Nadiena tersenyum samar.


“Well, kalau sudah bisa minta makanan, berarti sudah better ini anak.”


Sekuat tenaga, aku berusaha mengangkat tubuhku ke posisi duduk.


Usaha yang segera ditahan oleh Nadiena dengan panik.


“Eh, mau apa kamu? Sudah, Wi. Jangan macam-macam ah. Kalau kamu kenapa-kenapa aku harus apa?”


Berkeras, aku akhirnya berhasil memperbaiki posisiku.


Tidak 100% upright sih, tapi lumayan. Dengan begini aku tidak perlu pegal melihat Nadiena.


Nadiena sendiri merepet.


“Ah ngeyel. Susah banget mengurus kamu itu, Wi, asli. Disuruh tiduran tidak mau, disuruh istirahat susah.”


Aku mengatur nafas, lalu menjawab dengan senyum.


“Sudah, Dien, tidak apa-apa. I’m okay. Jangan memperlakukan aku seperti aku ini pasien gawat ah.”


Nadiena menatapku dalam selama beberapa saat, sebelum menghela nafas dalam.


Belaiannya lembut pada pipiku, begitu juga kata-katanya.


“I’m so glad you’re okay, Wi. Sungguh.”


Aku menggenggam tangannya dan menggoda.


“Soalnya kalau aku sakit tidak ada teman ghibah di sekolah ya, Dien?”


Nadiena tertawa terbahak-bahak.


“Asli! Aku sekarat mencari teman curhat, Wi. Kamu tahu tidak kalau si Andrew kemarin izin tidak masuk kerja. Katanya sih urusan keluarga. Tapi Pak Yadi (sopir sekolah) melihat dia sedang di Starbucks, dengan wanita lain, Wi! Could you believe it?”


Aku ikut terkejut.


“Serius? Pak Yadi yakin itu Andrew? Soalnya di Bandung banyak laki-laki muka sok ganteng seperti dia.”


Nadiena semakin seru.


“Iya, serius! Dia sampai mengirim foto padaku. It was not his wife, Wi! Gila ya...”


Mataku terus menatap Nadiena lekat-lekat.


Berusaha merekam setiap micro expressions dan nada ucapan dari sahabat kesayanganku ini.


Karena aku akan merindukannya.


Merindukan ini semua.


 


 


...


Kemarin malam, Rawindra berjalan masuk ke ruang rawatku.


Pakaiannya agak kusut, wajahnya juga.


Ia mendekat dan duduk di sisi ranjang.


Aku yang sudah cukup kuat berusaha mengangkat tubuhku, namun ia segera menahan bahuku lembut.


Senyum, ia berkata.


“Sayang, jangan memaksakan diri, ya. Berbaring saja.”


Aku tidak menjawab, hanya menyerah dan mengikuti dorongan tangannya.


Masih tersenyum, ia membelai rambutku.


“Aku sudah hubungi keluargamu. Nanti Andhara akan datang sekitar pukul 21.00, membawa makanan dan buku-bukumu. Supaya kamu tidak bosan.”


Aku masih tidak menjawab.


Hanya tersenyum lemah.


Rawindra melanjutkan.


“Aku juga sudah menghubungi Nadiena. Titip salam cepat sembuh dia. Nanti besok siang dia akan datang menjenguk.”


Aku masih diam.


Senyumku mulai gemetar.


Rawindra meneruskan sambil memeriksa arlojinya.


“Sebentar lagi mestinya kiriman bajuku datang. Kata Mbok Jem ojek online-nya sudah berangkat dari setengah jam yang lalu. Panas nih, Wi. Nanti aku mandi dulu ya...”


“Kenapa kamu tidak marah?”


Hening.


Rawindra terdiam demi mendengar pertanyaanku.


Bibirku bergetar, mataku mulai memanas lagi.


Menarik nafas dalam-dalam, aku memejamkan mata. Membiarkannya mengalir.


“Aku berkhianat darimu, Win. Aku selingkuh. Kenapa... Kenapa kamu tidak marah...? Aku... Aku pantas...”

__ADS_1


Lembut, bibirnya memotong ucapku dengan ciuman.


Teduh, ia menatap dan menghapus air mataku.


“Mana bisa aku marah, Wi. Harusnya kamu yang marah padaku.”


Aku menatapnya tak percaya.


“A... Aku salah, Win! Semarah-marahnya aku, tidak seharusnya aku melanggar janji nikah kita! Kamu... Kamu seharusnya marah padaku, Win. Kamu harus marah.”


Rawindra tertawa.


“Kamu terlalu banyak marah-marah di kelas jadi ingin dimarahi, ya? Sudahlah, Wi. Aku tidak marah padamu. Kalaupun aku marah, aku marah pada Andra yang sudah membohongi dan memanfaatkan kondisimu sedemikian rupa. Dan lebih lagi, aku marah pada diriku sendiri.”


Aku mengernyit tidak mengerti.


Menghela nafas dalam dan membelai wajahku, ia berkata lagi.


“Aku seorang suami yang buruk. Bisa-bisanya aku tidak menyadari orang seperti apa Andra itu. Dan yang lebih buruk, bisa-bisanya aku meninggalkan istriku... Di saat ia membutuhkanku lebih dari apapun.”


Seakan terhipnotis, pandangku melekat pada wajahnya.


Terhenti sejenak dalam belaian, matanya berkaca-kaca saat ia berkata.


“Maafkan aku ya, Wi. Maafkan aku yang tidak berguna ini.”


Dan untuk pertama kali dalam 10 tahun aku bersamanya...


Rawindra menangis.


Tak tahan, aku pun menangis.


 


 


...


“Wi? Are you still here?”


Tanya Nadiena membawaku kembali ke masa kini.


Gelagapan, aku berusaha menutupi melayangnya pikiranku.


“Eh, so... Sorry, Dien. Tadi aku...”


Untungnya Nadiena tidak menganggap ini sesuatu yang aneh.


“Ya sudah, sepertinya kamu masih lemas, Wi. Kamu istirahat ya, Dear. Aku pamit dulu. Oh ya, soal sekolah biar aku yang urus. Or rather, biar Josh yang urus. Jadi jangan khawatir ya.”


Tanyaku mengejar saat Nadiena bangkit berdiri.


“Maksudnya, Dien?”


Nadiena mengambil tas tangannya dan tersenyum.


“Aku sudah dengar dari Windra kalau kamu harus beristirahat dalam waktu yang cukup lama. Aku sudah sampaikan ini ke Yayasan. Untuk semua pekerjaanmu sebagai Head of Student Affairs, sudah kuhibahkan ke Josh dan Yayasan sudah setuju. That’s fine with you, right?”


Aku mengangkat bahu.


Nadiena tertawa.


“Nope, thanks, Wi. Aku masih sayang nyawa. Nanti Windra tahu terus marah dan menyuntik aku bagaimana?”


Aku balas tertawa, dan dalam tawa pula Nadien berpamit pulang.


Meninggalkanku dalam kebebasan.


Kebebasan untuk kembali mengingat apa yang terjadi kemarin malam.


 


 


...


Entah berapa lama menit yang sudah berlalu saat akhirnya aku dan Rawindra berhenti menangis.


Berusaha mengatur nafas, ia tertawa terbata-bata.


“Maaf ya, Wi. Duh, jadi suami kok cengeng begini aku ya.”


Aku menggenggam tangannya dengan seluruh tenaga yang kupunya.


Genggaman yang rasanya sudah tertahan terlalu lama.


Lahir dari rindu yang meluap dalam hati.


Damn, I miss you so much, Win.


Sebelah tangan membalas genggamku dan sebelah lagi menghapus air mata dirinya dan aku.


Rawindra mencium keningku lembut, dan tersenyum menatapku.


“Ini saatnya, Wi. Akan kuceritakan semuanya. Maaf sudah menunggu begitu lama, ya.”


 


 


...


“Hei, Sayang. Feeling better?”


Aku tersenyum demi mendengarnya.


Sapaannya datang bersamaan dengan kecupan di kedua pipiku.


“Nadiena sudah pulang, ya?”, tanya Rawindra.


Aku mengangguk.


Menatapnya lekat saat ia duduk dan mengulurkan tangan.


Tangan yang segera kugenggam dan kupegang erat-erat.

__ADS_1


“Jadi aku sudah bicara dengan dr. Lauryn-Anne dan dr. Rahmadi. Mereka sudah setuju dan semua persiapan sedang dilakukan, Wi. Paling lambat minggu depan terapinya sudah bisa dimulai.”


Aku tidak menjawab dengan kata.


Hanya tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat lagi.


Rawindra balas tersenyum.


“Syukurlah ya, Wi.”


 


 


...


So I was right, or partially right.


Setelah serangkaian kejadian yang kualami (kejang-kejang saat masih balita, pergi bersekolah tanpa sadar bahwa aku masih mengenakan piyama, berkendara berjam-jam tanpa sadar bahwa Tia belum kujemput, dan insiden salah toko yang paling baru), suamiku menyampaikan diagnosisnya.


Aku menderita San Filippo syndrome Type C.


Penyakit yang sama dengan Tia.


Penyakit yang kuturunkan pada Tia.


Namun meskipun begitu, menurut Windra aku adalah kasus yang unik.


“Hampir 99% penderita San Filippo tidak dapat bertahan hingga dewasa, Wi. Namun kamu bisa bertahan, bahkan hidup produktif hingga sekarang. Aku percaya ini secercah harapan yang kita miliki.”


Dan karena secercah harapan itulah suamiku pergi.


Ia pergi ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan tim peneliti dari Abby’s Grace Foundation.


Kumpulan dokter-dokter berbakat dari seluruh dunia yang mendedikasikan diri untuk mencari penyembuhan bagi penyakit otak langka ini.


Satu tahun ia bekerja bersama dr. Lauryn-Anne (wanita yang berfoto bersamanya dalam jebakan Andra) dan melatih diri untuk mendampingi pasien San Filippo di sana (salah satu pasiennya adalah seorang gadis kecil yang berusaha ia gambarkan lewat chat pada Andra. Chat yang dijadikan Andra jebakan untuk menipuku).


Lalu setelah satu tahun, akhirnya penelitian mereka mulai membuahkan hasil.


“Enzyme Replacement Therapy, Wi. Aku yakin ini bisa memulihkan kamu”, ceritanya dengan penuh semangat.


Aku sendiri tidak terlalu paham penjelasannya tentang metode atau dasar teori terapi tersebut.


Aku bahkan tidak berusaha untuk memahaminya.


Karena sejak aku mendengar penjelasannya mengenai penyakitku, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku tahu.


 


 


...


“Enak, Wi?”, tanyanya di masa kini.


Aku mendesah puas.


“Enak, Sayang. Thanks ya.”


Rawindra menutupi kembali kakiku dengan selimut sambil terkekeh.


“Sudah lama tidak bertemu istri, pulang-pulang bukannya dapat jatah malah disuruh memijat”, godanya.


Aku menepuk bahunya lembut.


“Yang penting ‘kan bisa menyentuh istri, Sayang.”


Rawindra mencium keningku dalam-dalam.


“Iya, iya. Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya.”


Aku mengangguk dan tersenyum melihatnya.


Melihat ia beranjak dari sisi ranjang ke sofa di sudut ruangan.


Melihatnya menyalakan TV dan mencari channel olahraga kesukaannya.


Melihatnya tertawa puas saat menemukan siaran ulang Liga Inggris favoritnya.


Melihatnya duduk bersandar dan menonton sambil menggenggam tanganku.


 


 


...


Di penghujung malam percakapan kami kemarin, Rawindra menggenggam erat tanganku dan berkata.


“Mulai dari sekarang, aku tidak akan ke mana-mana, Wi. I will be with you all the way until the end. Dari terapi sampai nanti kamu belanja lagi di mall-mall Bandung setelah sembuh, aku akan selalu ada. Aku janji.”


Aku membalas genggamnya dengan cinta yang sama.


Tepat setelah itu, telepon genggamnya berdering dan ia pamit untuk mengambil pakaiannya di lobby.


Aku mengawasi langkah-langkah tegapnya hingga ia menghilang di balik pintu dan aku bersyukur.


 


 


...


Jauh di dalam lubuk hatiku, entah mengapa aku tahu bahwa ceritaku sudah hampir berakhir.


Dan kemungkinan besar, cerita ini tidak akan berakhir seperti prediksi Rawindra.


Namun aku tidak akan menangis.


Aku akan bersyukur.


Karena di saat-saat terakhir ini, ia sudah kembali. Ia sudah pulang.


Rawindra Santosa Wibowo, suami dan cahaya hidupku sudah pulang.

__ADS_1


Dan tidak akan pergi lagi.


__ADS_2