
Dewi
Wow, tahukah kalian bahwa The Great Barrier Reef di Australia adalah satu-satunya makhluk hidup yang bisa dilihat dari luar angkasa?
Aku sendiri malah baru tahu kalau The Great Barrier Reef itu adalah makhluk hidup, tadinya kukira itu adalah kumpulan batu karang.
Pasti aku tertukar dengan The Twelve Apostles, ‘kan sama-sama di Australia, ya.
Oh ya, omong-omong soal Australia, tahukah kalian bahwa 80% satwa di Australia adalah satwa endemik yang tidak ada lagi di tempat lain?
Keren, ya?
Dan yang lebih luar biasa lagi, tahukah kalian bahwa aku mendapatkan semua fakta ini pada pukul 3 dini hari?
Duduk dengan lutut menyentuh dagu dan selimut sebagai selubungku di sudut sofa ruang tengah.
Dengan jam dinding terus berdetak tanpa henti, hawa ruangan semakin dingin, dan deru nafas teratur Rawindra di kamar kami.
...
Damn, Win.
Kamu datang, duduk, tersenyum, dan menyiapkan handuk serta pakaianku.
Sekarang kamu tidur pulas lelap di tempat tidur kita, dengan pose memeluk guling yang selalu kamu lakukan.
How could you do all these to me and act like nothing has changed between us?
Bagaimana mungkin kamu bisa bersikap biasa setelah semua yang terjadi di antara kita?
Tidak ada kata-kata seperti, “Hai, Babe. Maaf aku pergi selama ini ya. Sebenarnya selama ini aku pergi ke Dallas. Maaf aku tidak memberitahumu selama ini karena...”
Atau, “Hai, Sayang. Apa kabar? Astaga, kamu tampak makin cantik saja. Maafkan aku pergi tanpa kabar selama ini ya. Yuk duduk sini. Akan kujelaskan semuanya.”
But instead, setelah memarkirkan mobilku tepat di samping Jeep-nya, ia turun dan tersenyum.
Membelai rambut dan mengecup dahiku sebelum berkata, “Kamu sudah makan belum, Wi? Atau mau langsung mandi? Aku siapkan pakaian dan handukmu, ya.”
Lalu bagai terhipnotis, aku mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Menontonnya masuk ke kamar mandi, memeriksa air, lalu mengambil dan menggantungkan handukku siap sedia.
Berbalik dan masih tersenyum.
“Airnya hangat kok. Mandi sebelum terlalu malam ya, Wi.”
Aku masuk ke kamar mandi dan mendapati piama-ku sudah tersampir rapi di atas towel holder, seperti dahulu.
Setelah mandi dan berpakaian, aku keluar dan berjalan ke depan kamar kami.
Melongok, aku mendapati Windra sedang duduk di tepi tempat tidur. Menungguku.
“Sudah mandinya? Sudah siap untuk tidur, Wi?”
Terpana dan hilang kata-kata, aku menelan ludah dan menyadarkan diri.
Tersenyum tipis, aku berkata.
“Duluan saja. Masih ada kerjaan.”
Ia mengangguk.
“Aku tidur duluan ya. Kamu jangan tidur malam-malam.”
Begitu punggungnya menyentuh tempat tidur, ia merenggangkan tubuh dan terlelap seketika.
Persis seperti dulu.
Dan sejak itu hingga saat ini, aku ada di sini.
Masih tidak tahu harus merasa dan berpikir apa.
Masih tidak tahu harus bagaimana.
Rawindra
Sebagai seorang dokter, aku terlatih untuk tidak tidur terlalu lelap.
Well, bukan terlatih sih, lebih tepatnya terpaksa dan kemudian terbiasa.
Karena entah mengapa, kasus darurat di rumah sakit itu hampir 75% terjadi di jam-jam dini hari seperti ini.
Ada hubungan apa di antara jam-jam larut dengan penyakit darurat, aku tidak tahu. Mungkin ini bisa jadi judul tesis untuk calon dokter di masa depan.
Tapi saat ini, aku tidak dapat terlelap karena alasan lain.
Alasan yang kudengar dari Mbok Jem saat Dewi sedang mandi.
“Mbok?”
Masih takut-takut, Mbok Jem menjawab pelan.
“Ya, Pak?”
__ADS_1
Aku berdeham, berusaha membuat pertanyaan ini se-kasual mungkin.
“Keadaan Ibu selama saya pergi bagaimana ya? Apa makan teratur? Tidur teratur?”
Mbok Jem tidak berani menatapku. Wajah tertunduk dan jari bertaut, lama ia tidak menjawab.
Aku mendekat dan mengulangi pertanyaanku.
“Mbok, bagaimana keadaan istri saya waktu saya pergi? Apa baik-baik saja?”
Meneguk ludah, ia akhirnya berkata pelan.
“Ibu... Ibu sehat, Pak.”
Aku menyentuh bahu Mbok Jem sehati-hati mungkin.
“Mbok, tolong Mbok jujur pada saya. Saya tahu saya pasti sudah mengecewakan semua orang dengan apa yang saya lakukan, tapi...”
Aku menghela nafas dalam dan meneruskan.
“Tapi saya ingin memperbaiki semuanya mulai hari ini. Tolong saya ya, Mbok. Mau ‘kan?”
Bergumul sekian detik, akhirnya ia mengutarakan isi hatinya.
Mata berkaca-kaca, Mbok Jem bercerita.
“Ibu jarang tidur, Pak. Ibu jarang sekali tidur. Ibu juga tidak mau tidur di kamarnya Ibu dan Bapak. Selama ini... Selama ini Ibu tidur di kamarnya Dik Tia.”
Sebuah bagian besar dari hatiku rasanya jatuh ke lobang tak berdasar.
Mbok Jem belum selesai.
“Ibu juga makan sedikit sekali, Pak. Dan seringkali Ibu pergi berjam-jam hingga larut malam. Tidak pernah bilang pergi ke mana atau dengan siapa. Dan... Dan...”
Air mata benar-benar mengalir di wajahnya.
“Setiap malam Ibu menangis, Pak.”
Sekujur tubuhku rasanya lemas.
Ya Tuhan, bagaimana caranya?
Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki ini semua?
...
Take a look at her, Win.
Just take a look at her.
Istrimu, Win.
Sekarang duduk meringkuk sendirian di jauh malam seperti ini.
Menangis tiap malam, satu tahun satu bulan penuh.
Tolong beritahu aku apa yang harus kulakukan, Tuhan.
Karena aku sama sekali tidak tahu.
Sama sekali tidak tahu.
Dewi
“Pagi, Babe.”
Ciuman hangatnya mendarat di ubun-ubunku.
Mengulurkan tangan, aku menemukan pipinya dan kuelus singkat.
“Pagi, Sayang. Kok sudah bangun?”
Suara berat setengah sadarnya menjawab seraya ia berjalan menuju coffee maker.
“Iya nih, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba terbangun.”
Refleks, aku meletakkan buku di tangan dengan tujuan hendak menggantikan posisinya di balik pembuat kopi.
I mean, Windra ini baru pulang pukul 2 pagi dari rumah sakit dan ini baru pukul 6.20 pagi.
Masak sekarang ia harus membuat kopi sendiri? Istri macam apa aku ini?
Namun baru saja aku bangkit dari sofa, buru-buru ia mencegahku.
“Duduk saja, Babe.”
Aku berkeras tak mendengar dan berdiri.
“Kamu yang harusnya duduk saja, Sayang. Kamu baru tidur 4 jam.”
__ADS_1
Ia mengangkat wajah sambil tersenyum.
“Aku tidak apa-apa, Babe. Nanti habis kamu berangkat juga aku tidur lagi.”
Aku mengernyit heran.
“Lha, terus kamu buat kopi itu untuk siapa?”
Aku terus memperhatikan dan menyadari jawabannya bahkan tanpa ia menjawab.
Tiga bagian kopi yang terdiri dari espresso, susu, dan foam?
Segera aku menghampiri dan memegang tangannya.
“Sayang, kenapa kamu buat kopi untukku? Aku ‘kan gampang nanti bisa beli di jalan. Kamu itu lho yang butuh.”
Masih tersenyum, ia mendiamkanku dengan sebuah ciuman mesra.
“Selama aku masih bisa, aku akan melakukan yang terbaik untukmu. Including these little things like this.”
Masih menatap penuh cinta, ia menyodorkan cappuccino buatannya.
Aku menerima kopi dari tangannya dan berbisik.
“You do realize that you’re getting lucky tonight, don’t you?”
Ia balas berbisik.
“Kok tonight? Sekarang saja, Babe. Terlambat sebentar tidak apa-apa, ‘kan?”
Dan memang gila juga kami itu.
Cappuccino terlupakan, sementara kami terus berpaut dan bercinta di atas sofa.
Aku bahkan tidak peduli aku sudah terlambat berapa menit.
I love this guy. I love him.
Pria yang selalu berusaha memperhatikan dan melayaniku tidak peduli selelah atau sesibuk apapun dia.
...
Karena itu terbangun dengan melihat cangkir putih mengepulkan aroma kopi di samping buku bacaanku, aku semakin tidak karuan.
Sebagian diriku ingin menghirup cappuccino itu dan lalu memeluk Windra yang sedang sibuk work out di halaman belakang.
Mencium pipinya dan membisikkan godaan seperti waktu itu.
Tapi sebagian diriku yang lain ingin melempar cangkir itu hancur berkeping-keping, sekalian dengan si pembuatnya.
Membunuh kenangan dan bagian diriku yang masih mencintainya sampai tuntas.
Tak tahan dengan dua kutub berseberangan seperti itu, akhirnya aku melakukan hal yang paling bijaksana.
Tidak menghiraukannya sama sekali dan mengambil handphone dari dekat kepalaku.
Nadien
online
Dien, hari ini aku mengungsi ke rumahmu seharian tidak apa-apa? 07.13
...
...
Nadien
online
Mengungsi kenapa? Guntur kebanjiran, Neng? 07.14
Nadien
online
I’ll tell you when I get there. 07.14
Nadien
online
Okay, Wi. Jam berapa kamu mau ke sini? 07.14
Aku beranjak bangun, membereskan selimut, dan berjalan ke kamar mandi seraya membalas.
__ADS_1
Sekarang, Dien. 07.15