
Rawindra
Entah sudah berapa ‘terima kasih’ yang terucap dari bibirku ini.
Entah sudah berapa air mata yang tertumpah.
Entah sudah berapa banyak tangan yang kujabat di rumah duka hari ini.
“Windra, turut berduka cita, ya”, tangis Nadien.
“Kalau butuh apa-apa, hubungi saja ya, jangan ragu-ragu”, tepuk lembut dr. Rahmadi.
“Pak Windra, turut berduka cita. Tuhan yang memberi penghiburan ya, Pak”, jabat Josh.
“Mas Windra, stay strong, ya”, isak Laut.
...
Wow, Wi.
Kalau saja kamu bisa melihat ini.
Barisan murid dan alumni yang dari pagi sudah mengantre ingin memberi penghormatan terakhir padamu.
Deretan rekan-rekan kerja yang menangis hancur melihatmu tertidur dalam tempat tidur terakhirmu.
Gelombang keluarga yang berdatangan dalam kehilangan, berebut ingin mempersembahkan lagu terakhir untukmu.
You are one hell of a woman, Wi.
Cahayamu demikian terangnya hingga semua orang ini merasa tersesat begitu kamu pergi.
Kamu yang memberi mereka kehangatan dan keceriaan, kini meninggalkan mereka dalam dingin dan sepi.
...
Bahkan sampai...
“Win”, suara pelan memanggil.
Aku menoleh. Andra di sana.
Wajah tertunduk takut, ia mengulurkan jabat ragu-ragu.
“A... Aku minta maaf untuk semuanya... Aku...”
Aku menjabatnya dan tersenyum tipis.
“All is forgiven, Dra.”
Ia terkejut, lalu tersenyum lega.
Segera ia menambahkan.
“Win, if you need anything. Anything at all. Call me.”
Aku mengangguk.
“Thanks, Dra.”
...
Setelah gelombang demi gelombang kedatangan berakhir, aku berdiri sendiri di tengah ruangan.
Berjalan menghampiri peti putih berornamen yang menutupi tubuhmu, Wi.
Menghela nafas, aku menyentuhnya.
Now what, Wi?
Sekarang apa yang harus kulakukan setelah kamu pergi?
Setelah kamu dan Tia pergi, apa lagi arti hidupku?
***
Hampir-hampir aku memutuskan untuk menginap di rumah duka malam ini.
Tenagaku habis, emosiku terkuras.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.55 saat aku membuka pintu rumah.
Rumah yang dulu hangat dan akrab, kini tampak gelap dan asing.
Sebelah tanganku menggenggam barang-barang Dewi dari rumah sakit, sebelah lagi melemparkan kunci rumah dan mobil asal ke sofa.
Tanpa daya berjalan jauh, aku pun ikut menjatuhkan diri ke sofa.
Mengurut dahi kuat-kuat.
Kosong.
Upacara penguburan akan dilaksanakan pukul 08.00 esok hari.
Di samping Tia, Dewi-ku akan dibaringkan selama-lamanya.
...
Dan aku tergoda sekali untuk ikut masuk dan membenamkan diri di sana.
Dering telepon bergetar memanggil dari dalam saku.
Merogoh dan mengambil, terheran-heran melihat nama yang berkedip di layar.
“Halo, Bu?”
Dari seberang, suara hangat itu seakan memeluk.
“Windra, sudah pulang kamu, Nak?”
Aku menegakkan posisi duduk dan menjawab.
“Sudah, Bu. Ibu belum tidur?”
Ibu menjawab ringan.
“Sebentar lagi lah, Ibu mau memeriksa keadaanmu dulu. Kamu baik-baik, Nak? Ibu sudah bilang lho tadi supaya kamu menginap di rumah Ibu malam ini.”
Aku tersenyum lelah.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak bawa pakaian juga.”
Hening sesaat, lalu Ibu berkata lagi.
“Kalau kamu mau bicara, Ibu siap ya, Nak. Kamu anakku. Sampai kapanpun kamu anakku.”
Hela nafas. Mataku terasa panas.
“Iya Bu, saya istirahat dulu ya, Bu. Ibu juga jangan tidur terlalu malam.”
Ibu menjawab.
“Iya. Sampai bertemu besok, Nak. Oh... Nak?”
“Ya, Bu?”, tanyaku.
Beberapa detik berlalu dalam diam, lalu Ibu tiba-tiba berkata.
“Ibu iri pada cinta kalian berdua. Ibu yakin banyak yang merasa demikian juga. Cinta antara kamu dan Dewi itu sangat kuat dan dalam. Tidak banyak orang yang cukup beruntung untuk merasakannya. Syukuri itu ya, Nak.”
__ADS_1
...
“Iya Bu. Terima kasih.”
Merebahkan punggung bersandar ke sofa, aku memandang kosong langit-langit.
...
Aku tahu, Bu.
Aku tahu cintaku dan Dewi sangat patut disyukuri.
Karena itulah semua ini terasa lebih berat.
Karena aku berharap aku punya lebih banyak waktu untuk mensyukurinya.
...
Mengerjapkan mata untuk mengusir air mata, aku mengatur nafas.
Mungkin sudah waktunya aku tidur.
Mungkin dengan tidur aku bisa bertemu Dewi lagi seperti waktu itu.
Mungkin aku bisa mendengar suaranya lagi, menyentuhnya lagi.
Tepat saat aku memutuskan, saat itu juga pandangku jatuh ke sebuah amplop putih yang mencuat di saku depan tas barang-barang Dewi.
Penasaran, aku mengulurkan tangan dan membawa amplop tersebut ke depan mataku.
“To my dearest husband, dr. Rawindra”
Aku membukanya.
Dewi
Hai, Sayang.
Uhm, jujur, aku bingung harus membuka tulisan ini dengan apa.
Aku bukan penulis yang handal, bukan juga story teller yang keren seperti kamu.
Jadi aku langsung mulai saja, ya.
...
Aku ingin meminta maaf, Win.
Meminta maaf untuk semuanya.
Mungkin dosaku karena sudah berselingkuh tidak akan pernah bisa diampuni sampai kapanpun.
Mungkin dosaku karena sudah menguburmu sebagai suamiku dalam satu tahun terakhir ini tidak akan bisa dimaafkan sampai kapanpun.
Tapi terutama, aku ingin minta maaf karena aku sudah tidak jujur padamu.
...
Aku sudah punya feeling kalau ini waktunya.
This is it.
Tidak akan lama sebelum aku harus meninggalkanmu.
And that sucks, huh?
Baru saja kamu pulang dan kita berbaikan.
Baru saja kita bermesraan seperti dulu lagi.
That sucks. Big time. Tapi mau bagaimana lagi?
Yang Di Atas pasti punya timeline-nya sendiri.
Aku tidak tahu apakah itu besok, lusa, atau bahkan detik berikutnya.
Karena itu aku memutuskan untuk menulis surat ini.
Sebelum keadaanku makin parah dan aku melupakan semuanya.
Selagi aku masih ingat siapa namaku, siapa yang kucintai, dan siapa yang mencintai aku.
Aku ingin menuliskan ini.
...
Damn, Win.
Why is this so hard?
Aku tidak siap sama sekali.
Aku tidak siap pergi, aku tidak siap meninggalkanmu.
Aku ingin selamanya ada di sini, Win.
Duduk dalam temaram lampu kamar, menonton kamu yang terlelap di sampingku.
8 tahun kita menikah, tidak pernah ada satu malampun yang kulewatkan tanpa terbangun karena kamu.
Langkahmu waktu kamu baru masuk ke kamar lah, rasa bibirmu saat kamu menciumku di dini hari lah, atau dengkurmu yang luar biasa itu.
Tapi aku suka, Win.
I love that so much.
Dan sakit sekali rasanya membayangkan kalau aku tidak akan pernah dibangunkan seperti itu lagi.
...
Duh maaf ya, Win.
Aku jadi curhat begini.
Maaf juga untuk titik-titik air mata di surat ini.
...
Well, look at me.
Bicara melantur-lantur setelah berjanji akan langsung ke poin utama.
Yah, intinya ini, Win.
Aku mengerti kenapa kamu harus pergi setelah Tia kita pergi.
Aku masih sulit menerimanya memang, tapi perlahan-lahan aku bisa terima.
Memang khas-mu sekali, Win.
Melakukan sesuatu dengan perencanaan yang penuh rahasia.
__ADS_1
Tapi aku percaya bahwa yang kamu lakukan adalah yang terbaik.
Jadi kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri ya, Sayang.
Mungkin nanti akan ada orang-orang yang mempersalahkanmu, tapi jangan didengarkan.
Aku sudah memaafkanmu.
Cintaku padamu sama sekali tidak berkurang karena itu.
...
Tapi kalau aku jujur, Win...
Kalau kita diperbolehkan untuk kembali dan memilih di hari itu...
Aku ingin memilih jalan yang berbeda.
Aku lebih memilih menjalani satu tahun tanpa harapan sembuh bersamamu daripada memiliki harapan sembuh tanpamu.
Karena apa artinya aku hidup kalau tidak bersamamu, Win?
You are my whole world.
Dari pertama bertemu sampai hari ini, kamu satu-satunya bagiku.
Tapi sekali lagi, aku tidak marah.
Mungkin ini memang harus terjadi, supaya kita belajar.
Aku belajar untuk bertahan dalam cinta dan kamu belajar untuk terbuka dalam cinta.
Maybe we failed here and there, namanya juga belajar.
Tapi yang terpenting, we are here now.
Saling mencintai seperti dahulu. Tanpa kemarahan atau kebencian di antara kita.
Ini lebih dari cukup buatku di hari-hari terakhir ini.
...
Win, sampai hari ini saja aku sudah banyak lupa.
Aku lupa nama beberapa rekan kerja yang menjengukku.
Aku lupa caranya tidur.
Aku lupa kalau aku benci selai strawberry.
Tapi satu hal yang aku syukuri, aku masih ingat hal yang terpenting.
Kamu ingat ‘kan, Win?
Entah suratan takdir atau apa...
Nama kita berdua berarti sama.
Adhisti-ku berarti cahaya, Rawindra-mu berarti matahari.
Karena itulah kita memberikan nama Jyotika pada Tia-nya kita, cahaya kita.
Inilah yang ingin kukatakan padamu, Sayang.
Kamu mataharinya kami.
Kamu sumber kekuatan kami.
Aku dan Tia, kami bisa menjadi pribadi yang baik sampai saat ini karena kamu.
Kamu selalu menjadi idola kami, Sayang.
Pelayananmu, pengabdianmu pada sesama.
I’m not gonna lie, it’s so sexy for me.
Jangan pernah kehilangan itu ya, Sayang.
Mungkin setelah ini jalanmu akan gelap.
Kamu akan berjalan sendirian.
Tapi ingat ini, Sayang.
Matahari tidak bisa kehilangan cahayanya.
Cahayamu selalu melekat di dalam dirimu.
Aku dan Tia, selamanya kami ada di dalam kamu.
Karena kamu adalah rumah kami.
Tempat kami pulang.
Tempat kami berteduh.
Tempat kami merasa aman.
...
Crap, aku menangis lagi.
Baiklah, Win. Aku tidak akan meneruskan tulisanku lagi.
Aku takut tidak bisa menahan tangis dan membangunkanmu malam ini.
...
Akhir kata, Sayang.
Tetaplah kuat.
Kami akan selalu bersamamu.
Love,
Your hot and lovely wife.
Dewi.
Rawindra
Surat terbuka, terdekap dekat di dada.
Aku bersimpuh.
Aku menangis.
__ADS_1