Menunggu Cahaya Pulang

Menunggu Cahaya Pulang
Bab 11 - Kedatangan dan Kepulangan


__ADS_3

Dari dahulu, ada banyak orang yang mengernyit heran jika aku menyatakan kecintaanku pada matematika.


Aku paham sih, karena imej matematika sebagai killer subject itu sudah mendarah daging turun temurun dari zaman Majapahit (lebay, Wi).


Matematika itu katanya lebih sulit dipahami dibandingkan bahasa.


Matematika itu katanya lebih sulit dikerjakan dibandingkan bahasa.


Tapi meskipun begitu, aku tetap menyukai matematika dibandingkan mata pelajaran lain seperti bahasa misalnya.


Why? Karena satu alasan yang sederhana.


Words can lie, but numbers do not.


Bingung, ya? Biar kuberi beberapa contoh.


 


 


Contoh pertama, Indri. Anak buahku di Student Affairs.


Bertengkar dengan pacarnya karena laki-laki bodoh itu merasa Indri terlalu mementingkan pekerjaannya.


Menurutku sih logis sekali Indri mementingkan pekerjaannya.


Tidak percaya? Let’s check the numbers.


Main, makan, dan ke bioskop di Sabtu malam bersama itu menghabiskan Rp 500.000,-  (karena pacarnya Indri masih pengangguran). Sementara dengan bekerja fokus di sekolah, ia bisa mendapatkan tambahan uang Rp 500.000,- dari vakasi proyek.


Kalau tahu begitu, kesimpulannya mudah.


Putuskan saja pacarnya, selesai ‘kan?


Tapi si Indri mau-maunya tunduk meminta maaf karena kata-kata seperti, “Kamu tidak cinta padaku, ya?”


Aku sampai bingung siapa yang bodoh dalam kasus ini.


 


 


Contoh kedua, Cindy. Anak buahku yang lain lagi.


Berharap sampai galau pada laki-laki buaya tukang gombal, padahal sudah jelas terlihat dari data-data angkanya.


Dari 24 jam dikurangi 8 jam tidur, laki-laki itu hanya menghubunginya selama 20 menit per hari dan setelah itu hilang.


Kalau aku jadi dia, sudah kulupakan jauh-jauh orang seperti itu.


Tapi sayang, dia mau-mau saja terbujuk kata rayuannya yang manis.


 


 


Atau seperti murid-murid yang mencoba meyakinkanku bahwa mereka sudah mempersiapkan diri untuk ulangan, padahal nilainya jelas tertera di bawah standar.


 


 


See?


In this deceitful world, words can’t be trusted.


Only numbers give you assurance and certainty.


 


 


...


Lalu apa artinya angka-angka ini?


30.


Jumlah hari yang kulewati sejak aku tahu tentang pengkhianatan Rawindra.


30.


Jumlah malam yang kujalani dengan tangis dan hancur karena Rawindra.


5.


Jumlah janji pertemuan yang kuciptakan bersama Andra sejak kami bertemu di Abalone.


5.


Jumlah date yang sudah kulewati bersamanya sejak pertemuan di Abalone.


1.


Jumlah kata dari jawaban yang akhirnya kuberikan atas pertanyaan Andra yang ia ajukan berulang-ulang.


“Shall we do it, Wi?”


“Ya.”


 


 


...


Apa yang kupikirkan saat aku menjawab? Entahlah.


Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.


Aku tidak tahu apa yang kuharapkan saat aku menerima genggaman tangan Andra di dalam bioskop.


Aku tidak tahu apa yang kuinginkan saat aku membiarkannya mengulurkan tangan dan menyelipkan poniku ke belakang telinga.


Aku tidak tahu apa-apa.


Hingga saat ini aku berjalan berdampingan dengannya di Cihampelas Walk, dalam sebuah edisi weekend yang lain lagi.


Menyusuri gerai demi gerai. Bergandengan tangan.


Aku masih tidak tahu.


Hati ini rasanya masih terlalu pedih hingga tak mampu merasa lagi.


It’s just like living someone else’s life.


Seperti melayang tanpa kendali dan tanpa tujuan.


 

__ADS_1


 


“Wi, sambil menunggu film, kita makan dulu yuk. Kamu mau makan apa?”


Aku menoleh dan menatapnya.


Menatap pria yang sedang tersenyum dengan ramah kepadaku ini.


Aku berusaha membalas senyumnya.


“Terserah.”


Andra berpikir sejenak.


“Kamu suka masakan Thailand? Aku kok tiba-tiba ingin Raa Cha ya?”


Aku mengangkat bahu.


“Boleh.”


Ia pun menggamit tanganku dan menarikku lembut ke arah restoran yang ia ingin tuju.


 


 


Oh iya, omong-omong soal angka, ada satu angka lagi yang harus kuberi arti.


0.


Jumlah orang terdekatku yang tahu apa yang sedang kulakukan selama satu bulan terakhir ini.


 


 


***


“Mau tambah crab ball lagi, Wi?”


Aku mendongak dan tersenyum tipis.


“Tidak, Dra. Sudah kenyang.”


Ia tersenyum jahil dan mencelupkan dua crab balls tanpa izin ke dalam kuali kecil bagianku.


“Biar gemukan sedikit, Wi.”


Aku tertawa singkat tanpa rasa.


Dan tanpa sadar aku berkata.


“Apa karena aku terlalu kurus ya, jadi Windra lebih memilih wanita itu?”


Keheningan jatuh bagai selimut di atmosfer meja kami.


Andra meletakkan sumpit dan mencondongkan badannya dekat.


“Kenapa kamu bertanya begitu?”


Aku tersadar dan menggeleng lemah.


“Bukan apa-apa. Maaf aku sudah berkata tanpa berpikir. Yuk lanjut makan saja.”


Sial.


Andra menghela nafas.


“Wi, stop bicara begitu. Kalau ada yang membebani pikiranmu, ya diceritakan saja.”


Aku menatapnya dari balik mata yang berkaca-kaca.


Menggigit bibir, aku berusaha mengendalikan pertahanan diri.


Andra diam beberapa saat, lalu mengulurkan tangan.


Menghapus air mata di sudut mataku.


“Aku tahu kamu pasti terluka, Wi. Tapi ini semua bukan salahmu. Bukan kekuranganmu yang membuat Windra begitu. Justru kekurangan Windra lah yang menjadi penyebabnya.”


Aku tertegun dan diam.


Andra tersenyum.


“Kekurangannya untuk melihat betapa cantik dan luar biasanya istri yang ia punya. Itulah yang membuatnya begitu.”


...


Aku tak tahan lagi.


 


 


***


“Dra, maaf ya.”


Andra tertawa dari sampingku.


“Maaf kenapa, Wi?”


Aku menjawab pelan.


“Ya karena kita tidak jadi menonton film. Padahal kamu sudah menunggu-nunggu film ini ‘kan?”


Tawa Andra semakin kencang.


“Halah, Wi. Film sih nanti juga keluar versi blu-ray nya. Aku tinggal isi hard disk saja nanti. Aku senang kok malam ini.”


Aku mengernyit heran.


“Senang kenapa?”


Andra mengencangkan genggamannya padaku.


Menoleh, ia memberikan tatapan penuh cinta padaku.


“Karena akhirnya kamu mau juga menggunakan ‘aku-kamu’ padaku. Setelah date keenam akhirnya aku berhasil juga.”


Aku semakin bingung.


“Memang sebelumnya aku pakai apa?”


Andra memutar bola mata tak percaya.


“Masak tidak sadar sih? Kamu tidak pernah menggunakan ‘aku’, selalu melewat subjek. Dan kalau memanggilku, selalu pakainya ‘kau’.”


Aku tersipu malu.

__ADS_1


“Maaf ya, Dra. Habis...”


Andra melepaskan genggam dan memeluk pinggangku.


“Tidak apa-apa, Wi. Yang penting sekarang ‘kan sudah tidak begitu.”


...


Sudah lama aku tidak mendapatkan ini dari seorang pria.


Ditenangkan, diinginkan, disayangi.


Cara Andra menggenggam tanganku dan menatapku saat bicara, semuanya sama dengan cara Windra dahulu.


Saat kami masih Windra dan Dewi yang bahagia.


Windra dan Dewi yang menjadi cita-cita semua pasangan.


 


 


“Eh, Wi. Itu handphone kamu bergetar terus dari tadi. Ada telepon sepertinya.”


Aku tersadar dari lamunan.


Handphone-ku memang sengaja kutaruh di saku dalam tas tangan alih-alih di saku pakaian saat sedang bersama dengan Andra.


Aku tidak mau ada orang yang tahu dan tidak mau tergoda memberi tahu siapapun.


Andra melepaskan peluknya dan tersenyum.


“Diangkat, Wi. Siapa tahu Istana Negara mau minta kamu jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.”


Aku tertawa seraya mengambil handphone.


“Apa sih, Dra.”


Tawa yang segera lenyap sedikit melihat nama yang berkedip memanggilku lewat jaringan.


Andhara.


Ada apa, ya?


Apa ia curiga karena aku menolak semua ajakan mainnya akhir-akhir ini?


Apa ia sedang ada di mall dan melihatku bersama Andra?


Apa... Apa aku yang terlalu paranoid, ya?


 


 


“Halo, Dhar?”


Suara kesalnya segera menyapa telinga.


“Lama sekali sih angkat teleponnya, Mbak. Adiknya sedang di Indonesia kok ditolak dan didiamkan.”


Aku tertawa.


“Iya, iya. Maaf, Dhar. Mbak tadi sedang di jalan.”


Aku memberi sinyal mata dan gerak bibir tanpa suara pada Andra.


Meminta izin untuk menyingkir dan menjawab telepon dari adikku ini.


Sementara itu Andhara terus berkata-kata.


“Sibuk sekali sih, Mbak. Saking sibuknya sampai tidak ada waktu untukku nih. Padahal minggu depan aku sudah mau kembali ke US. Mbak tidak kangen padaku apa? Kalau sedang butuh saja, baru meneleponku.”


Aku memotong.


“Duh, Dhara, to the point saja langsung, ya. Jangan seperti perempuan yang berbelit-belit. Ada apa, Sayang?”


Andhara menghela nafas.


“Iya, iya. Ini, Mbak. Aku ketinggalan buku di rumahmu. Kira-kira kapan aku bisa ambil? Luangkan waktu sebentar saja untukku lah, Mbak.”


Aku tertawa.


“Ya ampun, cuma itu? Besok saja datang, Dhar. Pagi-pagi tapi ya, siangnya Mbak mau ke toko.”


Andhara menjawab dari seberang jaringan.


“Iya siap, Mbak. Oh iya, omong-omong Mbak baru beli mobil baru, ya? Kok tidak bilang-bilang, sih?”


Alisku terpaut dalam keheranan yang besar.


“Hah? Mobil baru? Maksud kamu?”


Andhara menjawab ringan.


“Iya, jadi tadi sore aku sempat lewat di depan rumahmu. Potong jalan ke Trans Studio. Ada mobil Jeep hitam di halamanmu, Mbak. Cakep itu mobil. Selera Mbak sekarang jadi manly-manly begitu ya?”


Jantungku serasa berhenti berdetak.


Keringat dingin membanjir.


“Tadi sore? Tadi sore jam berapa, Dhar? Kamu sempat lihat plat mobilnya?”


Andhara mengingat sejenak.


“Sore kira-kira jam 5 lah. Plat mobil sih tidak tahu, ya. Terhalang pagar, ‘kan.”


Diam sesaat, lalu ia melanjutkan.


“Oh, tapi aku lihat ada gantungan Manchester United di spion tengahnya, Mbak.”


...


0.


Kata-kata yang terucap dari bibirku sementara Andhara terus bertanya di telepon.


 


 


Lemas, tanganku lunglai di sisi tubuh.


...


Jeep hitam dengan gantungan Manchester United di spion tengahnya?


Milik siapa lagi mobil itu selain dokter gagah penyuka sepak bola dan warna gelap itu?


Milik siapa lagi mobil itu kalau bukan milik Rawindra?

__ADS_1


__ADS_2