
Sania yang tinggal di bangunan khusus setiap hari tidak melakukan apapun, dia hanya berdiam diri dalam kamarnya menunggu jawaban dari temannya tentang kode-kode angka yang ia kirimkan.
Mereka juga memasak sendiri di rumah itu hingga saat ini, Sania yang merasa lapar kini turun ke lantai bawah untuk memasak makanan.
Saat Sania tiba di dapur, ia melihat para pelayan lain sementara makan bersama-sama di meja yang terletak di tengah-tengah dapur.
Begitu Sania memasuki dapur, para pelayan langsung menatap Sania lalu salah satu diantara para pelayan itu dengan cepat berkata, "hah,, kasihan sekali kau, masuk ke dalam keluarga Akasia menjadi menantu Yang Tidak dianggap. Bagaimana perasaanmu selama tinggal di tempat ini?"
Pertanyaan pelayan itu membuat Sania menatap ke arah pelayan, namun dia tidak mengatakan apapun dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kulkas untuk melihat bahan makanan yang tersedia di kulkas.
Sania pun mengambil satu butir telur dan juga beberapa bahan lainnya untuk membuat telur dadar sebelum dia mengambil sebuah mangkok.
Melihat Sania yang tidak menjawabnya, maka pelayan yang tadi berbicara pada Sania kini menjadi sangat kesal sehingga dia pun berdiri lalu menghampiri Sania.
__ADS_1
Pelayan itu berdiri di samping Shania sambil menatap Sania dengan tatapan tidak sukanya, "statusmu di sini jauh lebih rendah daripada pelayan, karena meskipun Putra terbaik keluarga Akasia menikah dengan mu, namun dia memili tidur bersama dengan sekretarisnya dibanding tidur denganmu. Mana ada juga menantu yang kemudian disiram menggunakan air telur busuk lalu dikurung di gedung khusus ini.
"Dua minggu lagi kami sudah bisa meninggalkan tempat ini, tetapi untuk mu, tidak mungkin begitu? Karena aku yakin mertuamu tidak akan secepat itu memaafkanmu dan memanggilmu kembali ke kediaman utama." Ucap sang pelayan dengan nada suara yang begitu mencibir.
Pelayan lain yang juga duduk di kursinya kemudian ikut berkata, "hah,, kalau aku jadi kau, lebih baik aku meninggalkan keluarga Akasia dan hidup bebas di luar sana. Sebab di sini kau tidak memiliki keuntungan apapun. Berbeda dengan kami, sesaat ini kami dikurung di ruangan ini, Namun kami masih mendapatkan gaji sebab kami menandatangani kontrak langsung dengan pengawasan tuan besar Akasia dan dia cukup adil memberikan kontrak pada kami."
Sania yang mendengarkan ocehan para pelayan tidak mengatakan apapun, dia hanya terus mengocok telur yang sudah Ia bumbui sebelum dia mengambil sebuah teflon dan memanaskannya di kompor elektrik.
"Akhh!" Jerit Kania dengan raut wajah terkejutnya sembari tangannya langsung terulur ke belakang memegang tangan sang pelayan yang menarik rambutnya.
Para pelayan tersenyum melihat kejadian itu, sementara pelayan yang memegang rambut Shania, ia berkata, "kau harus menurut pada kami selama kau tinggal di sini, karena kalau kau tidak menurut maka kami akan melakukan sesuatu yang menyenangkan untukmu!!! Kau mengerti?!!"
Bentakan dari sang pelayan langsung membuat Sania menganggukkan kepalanya hingga membuat pelayan yang memegang rambut Sania kini menjadi puas lalu dia pun melepaskan rambut saniah.
__ADS_1
Pelayan itu pun kembali ke tempat duduknya lalu lanjut menikmati makanannya.
Sania yang selesai mendadar telur kini meletakkan telur itu di atas piring dan hendak mengambil nasi untuk makan ketika tiba-tiba saja salah seorang berkata, "berikan telur dadar itu padaku, dan kau buat yang baru untuk dirimu sendiri!"
Ucapan pelayan itu membuat Sania menghentikan langkahnya lalu dia menatap ke arah pelayan yang baru saja berbicara.
2 detik kemudian Sania pun menghampiri pelayan itu lalu meletakkan telur dadarnya di depan sang pelayan hingga membuat para pelayan di sana merasa sangat senang karena Sania takut pada mereka.
"Bagus sekali, dan setelah kami makan kau harus memijat kami satu persatu!" Ucap sang pelayan membuat Sania menganggukkan kepalanya sebelum Sania kembali mengambil telur untuk membuat makanannya.
'Para pelayan-pelayan bodoh, tunggu saja giliran kalian, aku juga tidak akan melepaskan kalian!!' ucap Sania dalam hati sambil terus membuat makanannya.
Tania yang berada di dapur terlihat begitu tenang, tetapi sesungguhnya pikirannya berjalan begitu panjang memikirkan segala sesuatu yang akan ia lakukan dan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya.
__ADS_1