Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
25


__ADS_3

Setelah pintu kamar tertutup, Sania pun langsung berdiri memperhatikan semua ruangan itu, dan dia sudah tahu bahwa di ruangan itu tak ada CCTV sebab pastinya Tuan besar Akasia tidak mau diawasi oleh seseorang, apalagi bawahannya sendiri.


Oleh sebab itu, Sania dengan leluasa bergerak dan dia mulai memeriksa satu persatu tempat di dalam kamar tersebut, namun dia sama sekali tidak mendapatkan apa yang ia cari.


Bahkan ketika Sania membuka satu persatu pajangan di dinding, dia tidak menemukan satupun ruangan rahasia ataupun tombol rahasia atau apapun itu yang membuatnya bisa menemukan kotak yang berisi surat-surat berharga keluarga Akasia.


'Sial!!' Gerutu Sania dalam hati yang kini berada di dalam kamar mandi memeriksa satu persatu tempat yang ada di sana tanpa meninggalkan satupun tempat atau satupun barang untuk ia sentuh.


Itu adalah ruangan terakhir dalam kamar Tuan besar Akasia yang ia periksa, namun dia tidak mendapatkan apapun hingga membuat Sania menjadi sangat cemas bahwa Tuan besar Akasia akan segera kembali dan memergoki apa yang sedang ia lakukan.


'Dimana dia?' ucap Sania sambil terus berjalan-jalan sampai ia melihat karpet berwarna merah yang digerai di bawah lantai.


Maka Sania mengerutkan keningnya sebelum dia membongkar karper tersebut, dan benar saja di sana dia menemukan sebuah pintu menuju sebuah ruangan di bawah lantai.


Maka tanpa berlama-lama, Sania pun langsung membuka pintu tersebut dan dia segera masuk ke sana untuk memeriksa tempat itu.


Tetapi langkah Sania berhenti di sebuah tempat ketika ia melihat ada sinar laser berwarna biru yang diaktifkan untuk menghalangi orang yang tidak berkepentingan terus masuk ke ruangan itu.


'Sial!!!' Gerutu Sania dalam hati yang kini menggertakkan giginya karena di sana tidak ada satupun tombol untuk mematikannya.


Namun Sania tidak tinggal diam, dia dengan cepat mencari sesuatu yang ada di sana yang mungkin bisa membuat sinar laser biru itu menghilang, Namun karena dia tidak mendapatkannya, maka Sania kembali naik ke atas.

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan?" Kata Sania sambil melihat ke arah jam dinding yang terletak di kabar tersebut Coba sekarang sudah 20 menit semenjak tuan besar Akasia meninggalkannya di dalam kamar.


Sania menjadi semakin cemas bahwa kotak itu mungkin akan hilang, sehingga Sania menggigit bibir bawahnya dan Sania memutuskan untuk menerobos laser berwarna biru.


Maka sania dengan cepat turun ke lantai bawah, namun ketika dia berpegangan pada pintu yang menutupi lantai menuju lantai bawah, Sania tak sengaja menutup pintu tersebut hingga membuat Sania terkejut.


Tetapi Sania tidak terlalu memperdulikannya, dan dia hanya menoleh ke arah jalan yang akan ia lalui dan Sania mengerutkan keningnya Karena rasa berwarna biru telah menghilang.


'jangan-jangan cara menghilangkan lasernya ialah dengan pintu yang tertutup?' ucap Sania dalam hati terus berlari melalui laser tersebut dan dia akhirnya berbelok ke arah kiri lalu melihat sebuah kotak yang pernah diceritakan oleh pemimpinnya.


'Itu dia kotaknya,' ucap Sania dalam hati sambil mendekati kotak tersebut, tetapi saat ini ia kembali melihat bahwa kotak tersebut juga diberikan pengaman ganda yang membuat Sania menggertakan giginya.


'Pria tua itu benar-benar hati-hati,' ucap Sania dalam hati sambil berdiri menatap kotak tersebut dan menggigit bibir bawahnya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan.


Tetapi saat ini, foto tersebut dibuat terpisah, di mana tidak disatukan sama seperti foto yang dicetak oleh tuan besar Akasia dan diberikan padanya.


Maka Sania memiliki sebuah ide untuk ia coba sehingga ia mendekati foto tersebut dan mendorong foto-foto itu ke dalam tengah sehingga ujung-ujungnya sampai bertemu.


Bip!


Sebuah suara langsung terdengar oleh Sania dan dia melihat bahwa semua pengaman pada kotak tersebut telah terlepas sehingga Sania dengan cepat menghampiri kotaknya lalu membukanya.

__ADS_1


Tetapi Sania Mengerutkan keningnya ketika ia membuka kotak tersebut dan hanya ada sebuah buku tebal yang mana ketika Sania membukanya, buku tebal itu hanya berisi seluruh foto Tuan dasar Akasia dengan nyonya marsita.


'Apa yang sebenarnya terjadi?' kata Sania dalam hati sambil meraba buku tersebut, Ia memperhatikannya menggunakan bantuan lampu yang terletak di ruangan tersebut hingga ia mengerutkan keningnya.


"Jangan jangan," Sania menjepitkan matanya lalu dia pun mengambil air liurnya dan mengoleskannya pada buku.


Benar saja, bagian kertas yang terkena oleh air langsung memperlihatkan sebuah tulisan.


Sania akhirnya tersenyum lalu dia pun segera membawa buku tersebut meninggalkan tempat itu tanpa lupa memasang kembali semua alat pengaman yang sebelumnya telah dibuka oleh Sania.


Setelah Sania menutup karpet, Sania pun mengambil buku-bukunya yang terletak di sana Lalu dia segera pergi dari sana dengan menyelipkan buku besar di antara buku-buku yang ia bawa ketika memasuki kamar tuan besar Akasia.


Sania berjalan dengan langkah yang biasa saja, terlihat tersenyum-senyum senang karena baru saja mendapatkan ilmu dari Tuhan besar Akasia.


Saat itu di ruang kontrol, tuan besar Akasia melihat Sania yang keluar dari kamarnya, dan dia hanya tersenyum melihat kelakuan Sania yang terlihat sangat polos dan lugu serta sangat ceria.


George yang melihat itu hanya bisa memalingkan wajahnya dari kakeknya, lalu dia kembali menatap petugas-tugas mereka yang sedang berusaha memperbaiki kerusakan sistem yang disebabkan oleh serangan cyber.


"Kami hampir memulihkannya, tapi apakah kita akan menyerang balik orang yang telah melakukan pembobolan?" Tanya salah satu pria yang bertugas di ruangan tersebut yang mana ia menjadi pemimpin pengendali semua perangkat yang ada di sana.


Tuan besar Akasia menganggukkan kepalanya, "lakukan yang terbaik, Aku ingin melihat siapa yang berani membuat masalah dengan kita!" Ucap tuan besar Akasia sambil memperhatikan komputer yang dioperasikan oleh pria yang baru saja berbicara.

__ADS_1


Maka, semua orang berada dalam situasi tegang karena mereka ingin melihat siapa yang berani melawan keluarga Akasia.


George maupun Tuan besar Akasia tapi sekalipun memalingkan pandangan mereka dari komputer, keduanya ingin melihat dengan mata kepala sendiri siapa orang yang mencari mati dengan keluarga mereka!


__ADS_2