Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
21


__ADS_3

Setelah Sania meninggalkan kamar tuan besar Akasia, dia bingung harus pergi ke mana Karena dia pikir saat ini suaminya masih menghabiskan waktu dengan sekretarisnya.


Oleh sebab itu, Sania memperlambat langkahnya menuju lift sambil memperhatikan tempat di lantai 3.


Tetapi ketika dia tiba di depan lift, Sania akhirnya mendapat sebuah ide bahwa dia tetap akan pergi ke kamar namun diam-diam masuk ke ruang ganti.


Oleh sebab itu, Sania hanya kembali ke lantai 2 dan ketika dia tiba di kamarnya, perempuan itu pelan-pelan membuka pintu kamar dan melihat dua orang yang sedang duduk membelakangi Sania sambil bercumbu.


Sania memanfaatkan kesempatan itu, ia langsung berjalan dengan begitu senyap menuju ruang ganti lalu dia pun menutup pintu ruangan dan tak lupa pula mengunci pintu.


Setelah selesai mengunci pintu, Sania langsung membongkar figura yang diberikan tuan besar Akasia padanya, dan ketika ia melihatnya, Sania mengerutkan keningnya sebab tanggal yang tertera di iPad milik Tuan besar Akasia tidak dicetak pada foto tersebut.


'Dia menghapus tanggal tersebut Lalu diberikan padaku, itu artinya tidak ada orang yang boleh mengetahuinya.' ucap Sania dalam hati sambil mengerutkan keningnya hingga saat ini dia sangat yakin bahwa tanggal itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi Tuan besar Akasia sehingga hanya diperlihatkan padanya yang sama sekali tak dianggap sebagai ancaman di keluarga tersebut.


Oleh sebab itu, Sania dengan cepat mengambil tasnya lalu dia pun segera mengeluarkan komputernya dan menggerakkan jari-jarinya di atas komputer tersebut.


Tetapi ketika ia menggunakan komputernya untuk mendeteksi alat elektronik di sekitarnya, Sania mengerutkan keningnya menatap ke Arah paper bag berisi hadiah yang diberikan tuhan besar Akasia padanya.

__ADS_1


'jangan-jangan di dalam sini,,' Sania mematikan komputernya lalu dia menyimpan komputer tersebut ke dalam tasnya sebelum dia membongkar paper bag berisi hadiah dari tuan besar Akasia.


Benar saja, saat dia membongkar hadiah tersebut, Ternyata isinya adalah sebuah pakaian yang membuat Sania dengan cepat memeriksa pakaian tersebut dan pada salah satu sisinya, Sania mendapati ada sebuah benda yang ditanam di dalam lipatan pakaian tersebut.


'Apakah ini benda yang digunakan untuk menyadap suara? Jangan-jangan Tuan besar Akasia melakukan ini untuk mengetahui bagaimana perlakuan cucunya terhadapku?' ucap Sania dalam hati terus menggeledah pakaian itu sampai dia akhirnya bernafas lega karena tidak ada kamera yang terletak di sana.


Meski begitu, Sania dengan cepat berpura-pura menyukai hadiah tersebut, "wah,, hadiah yang diberikan Kakek sangat bagus. Tapi ini terlihat sangat mahal, aku jadi cemas kalau kakek menghabiskan banyak uang untuk membeli hadiah ini." Ucap Sania sambil membuka pakaiannya lalu dia pun cepat-cepat mencoba pakaian tersebut.


Sania berdiri di depan cermin memperhatikan dirinya yang memakai pakaian dari kakeknya dan Dia merasa bahwa pakaian itu memang cocok untuknya.


Setelah selesai, Sania hendak memeriksa laptopnya ketika dia menatap ke arah lemari yang ditempati oleh sebuah ruangan rahasia di belakangnya.


Maka Sania mengurungkan niatnya untuk membuka komputernya dan perempuan itu malah bergerak perlahan ke arah lemari dana sembari menyentuh sebuah pajangan yang merupakan kunci untuk membuka ruang rahasia tersebut.


Pintu di rahasia di ruangan tersebut akhirnya terbuka, lalu Sania memasuki ruangan itu dan terkejut melihat bahwa ternyata di belakang ruangan itu ada tumpukan emas yang begitu banyak.


'Kenapa pria itu menyimpan begitu banyak emas di sini?' ucap Sania dalam hati melihat emas berkilauan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Meski begitu, sania tidak terlalu memperdulikan emas-emas tersebut, ia malah melihat sekitar ruangan dan mencari Jika dia bisa menemukan sesuatu yang berguna di tempat tersebut.


Tapi ternyata Dia tidak mendapatkan apapun, Hanya ada emas di ruangan itu dan beberapa surat berharga yang lainnya yang menyangkut tentang kepemilikan properti George


'Ini semua tidak berguna untukku!' ucap Sania dalam hati sebelum dia keluar dari ruangan tersebut dan kembali menyalakan laptopnya.


Sania kemudian menyusup lewat jaringan wi-fi di tempat itu sampai dia kemudian menggigit bibir bawahnya menatap layar laptopnya.


'Apakah benar sandinya adalah tanggal yang ada di foto itu?' Sania menyipitkan matanya menatap layar laptop, Sania masih mempertimbangkan untuk mencoba peruntungannya membuka 12 lapis kode keamanan sebuah akses menuju sebuah halaman yang sangat penting yang dimiliki oleh keluarga Akasia.


'Mari lakukan saja,' ucap Sania dalam hati mulai menginput kode menggunakan jari-jarinya yang bergerak dengan lincah di atas komputer.


Hanya beberapa detik saja, semua kode telah terinput dan sekarang hanya perlu menekan enter untuk memastikan Apakah kode tersebut telah benar atau tidak.


Sania menahan nafas selama beberapa detik sebelum dia menggerakkan jari telunjuknya menekan tombol enter.


Tak!

__ADS_1


__ADS_2