Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
26


__ADS_3

Sania yang telah mendapatkan buku besar dari kamar tuan besar Akasia kini kembali ke kamarnya dan perempuan itu cepat-cepat mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi pihak luar agar segera Mengambil buku yang telah ada di tangannya.


*Bukunya sudah ada di tanganku, cepat lakukan rencana nomor 5!* Tulis Sania pada isi pesannya sebelum dia mengirimkan pesan itu pada rekan kerjanya.


Hanya dalam beberapa detik saja, sebuah pesan langsung masuk, *ok!*


Setelah melihat isi pesan itu, maka Sania dengan cepat mengambil mantelnya dan sebuah ponsel lain yang ia siapkan menangani singa yang ada di kandang singa. Sania kemudian menyembunyikan buku yang ia dapatkan di belakangnya di dalam mantelnya sebelum dia keluar dari kamar dan pergi meninggalkan kediaman utama.


Seorang pria yang mengawasi CCTV di ruang keamanan langsung melihat Sania yang berjalan menuju bangunan khusus yang mana bangunan itu merupakan bangunan tempat Sania ketika dia dikurung beberapa waktu yang lalu.


"Nyonya mudah bergerak ke gedung khusus," ucap pria tersebut membuat fokus tuan besar Akasia dan juga arah monitor yang memperlihatkan Sania yang sedang berjalan dengan begitu santainya.


Sementara seorang yang lain, dia baru saja mendapatkan sebuah informasi dalam komputernya, "ada sebuah ponsel yang menggunakan jaringan tersembunyi di rumah ini. Ponsel itu berasal dari kediaman utama!!! Di sisi timur!" Ucap sang pria membuat semua orang kembali fokus pada komputer.


George Kemudian berkata, "kamarku berada di sisi timur bersama dengan kamar Vanya dan ruangan GYM serta,,,, kapan ponsel itu aktif?"


Sang pria yang mendengarkan ucapan George langsung menggerakkan jarinya di atas komputer dengan begitu cepatnya sampai data-data kemudian terbuka.


Itu adalah semua waktu ponsel tersebut diaktifkan, di bangunan khusus, di bawah pohon besar dan di bagian timur kediaman utama keluarga Akasia.


Salah seorang pria yang berjaga langsung berkata, "Itu,, Apakah ada seorang pelayan yang yang menyusup?"


"Ah benar, waktu saya sama dengan waktu ketika beberapa orang pelayan disuruh bersama dengan Nyonya muda di bangunan khusus," kata Sang pria segera menggerakkan jarinya di atas komputer untuk memeriksa lebih detail tetapi saat itu juga komputer dia telah mati.


"Apa yang terjadi?" Tanya george langsung membuat semua orang menjadi sangat panik, namun ternyata serangan cyber merupakan dalang dari matinya komputer itu.


"Kita masuk ke dalam jebakan mereka, mereka sengaja memancing kita untuk mencari tahu penyerang cyber itu,!!" Tegas seorang pria kini berusaha melakukan sesuatu namun semuanya sia-sia saja sebab komputernya sudah tidak dapat lagi ia kendalikan.

__ADS_1


"Sial!! Cepat perintahkan semua orang untuk menutup gerbang, juga ikuti Sania yang pergi ke gedung khusus!!" Ucap George yang menyadari sesuatu bahwa semua pelayan yang dihukum di kediaman khusus Bukan Pelayan yang bertugas di bagian timur kediaman keluarga mereka, namun semuanya bertugas di bagian barat.


"Baik!" Jawab salah seorang pria langsung menghubungi seorang penjaga.


Sementara Pian besar Asia yang mendengarkan itu, dia menatap George sambil berkata, "apa yang baru saja kau katakan?"


George menghela nafas, "perempuan itu bukan perempuan seperti yang kakek lihat!! Dia hanya bersandiwara!!" Tegas George sebelum pria itu berlari keluar dari ruangan tempat ia berada untuk memantau langsung bawahan bawahannya yang sedang mengejar Sania.


Sementara saat itu, Sania yang bergerak pergi kini mendapatkan sebuah telepon di ponsel mini yang ada di tangannya lalu dia pun segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Apakah semuanya sudah aman?" Tanya Sania pada orang di seberang telepon, sebab Sania jelas tahu bahwa dia tidak boleh menggunakan ponselnya untuk melakukan panggilan telepon atau jaringannya akan mudah dikenali oleh orang-orang di kediaman keluarga Akasia.


"Koneksi mereka telah dimatikan, sekarang berlarilah lebih cepat!!" Perintah pria dari seberang telepon langsung membuat Sania kini tidak lagi berjalan seperti biasanya, namun perempuan itu berlari sangat kencang sambil melepaskan mantelnya agar tidak menghalanginya.


Saat ia berlari kencang, seorang penjaga melihat Sania, sehingga dia dengan cepat mengejar Sania namun Sania masih berlari cepat ke arah samping kandang singa.


Sebelum melewati kandang singa, stania terlebih dahulu mengangkat besi penahan pintu kandang singa tersebut sehingga singa pun keluar dan para penjaga kini tidak berani untuk mendekat.


Maka singa-singa langsung keluar dari sana dan berhamburan untuk mencari mangsa yang hendak mereka makan termasuk salah satu singa juga mengejar Sania hingga Sania berlari sangat cepat.


Untungnya, sebelum singa tersebut menangkap Sania, Sania sudah lebih dulu memanjat pagar setinggi 3 m yang bagian atasnya diberi kawat penghantar listrik.


Tetapi saat itu karena pembajakan yang dilakukan orang luar terhadap kediaman keluarga Akasia, maka listrik di rumah mereka pun juga ikut mati sehingga kawat tersebut tak lagi dialiri oleh listrik.


Sania berdiri sambil mengatur nafasnya menatap ke arah singa yang mengaung di bawahnya, sementara tak jauh dari Sania, seorang pria berlari sangat kencang namun dia masih terlalu lambat sehingga diterkam oleh seekor singa.


Sania pun tidak terlalu memperdulikannya, ia langsung berbalik untuk memanjat kawat itu, namun ketika ia hendak melompat, tali pengikat pada pinggang Sania yang menjaga buku terus berada di punggungnya kini tersangkut pada salah satu besi hingga membuat tubuh Sania tergantung.

__ADS_1


Dor dor dor!!!


Tiba-tiba suara tembakan diarahkan ke arapa rasinga yang sedang berlari hingga membuat Sania dengan cepat mengulurkan tangannya untuk melepaskan tali pengaitnya yang tersangkut di besi.


Tetapi belum sempat Sania berhasil melepaskannya, tembakan malah mendarat di sekitarnya hingga membuat Sania menjadi panik lalu dia pun segera berpegangan pada tiang besi dan tersembunyi di sana sambil mengulurkan tangannya melepaskan talinya yang tersangkut pada besi.


"Tembak perempuan jallang itu!!!" Teriak george pada seluruh bawahannya membuat banyak sekali peluru mengarah ke arah Sania hingga membuat tangan Sania terkena tembakan.


Tskkk..!!


"Akhh!!" Sania langsung menarik tangannya yang terkena peluru dan saat itu tangannya terlalu menjadi kesemutan karena peluru tepat mengenai bagian sarafnya.


Tetapi, tali yang tersangkut pada besi belum juga terlepas sehingga Sania mempertaruhkan tangan yang satunya lagi sambil menggunakan tangan yang satunya lagi melepaskan tali tersebut dengan kakinya digunakan untuk menahan tubuhnya supaya tetap berada di belakang besi.


Dor dor dor...


tetapi ketika dia mengulurkan tangannya, Sania malah terkejut ketika ia terjatuh karena ternyata tali yang tersangkut itu terkena peluru sehingga membuat talinya putus dan Sania terjatuh ke semak-semak.


Buk!!


Sania tidak peduli lagi pada tangannya yang terluka, perempuan itu dengan cepat menarik buku dari belakangnya lalu berlari memasuki hutan.


Saat itu, ponsel yang ada di saku Sania kembali lagi berbunyi dan Sania menggunakan tangannya yang terluka menjepit buku diantara lengan dan tubuhnya, sementara tangan yang tidak terluka mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan telepon itu.


"Cepatlah!! Musuh bergerak dari area barat menggunakan kendaraan beroda dua, kita akan terlambat kalau kau tidak segera sampai!!!" Teriak pria dari seberang telepon.


"Aku baru melihat tanda merah yang Kau letakkan pada pohon," jawab sania sebelum dia terus berlari ke dalam hutan Yang membentengi kediaman utama keluarga Akasia.

__ADS_1


Tetapi ketika Sania sudah melihat temannya yang mengendarai motor sedang menunggunya, Sania mengggertakkan giginya saat dari arah kanannya seekor singa berlari sangat cepat ke arahnya.


"Sial!!!" Gerutu Sania karena ia mengenali singa tersebut ialah singa yang mirip dengan singa-singa yang dipelihara oleh keluarga Akasia sehingga Sania jelas membuka bahwa singa-singa telah dilepaskan ke hutan untuk memburu mereka.


__ADS_2