
Sania yang telah mendapatkan berkas-berkas penting yang disimpan di sistem keamanan keluarga Akasia kini merasa cemas bahwa cepat atau lambat perbuatannya akan diketahui oleh seseorang dan akan membuat keluarga Akasia semakin waspada dan mencari tahu siapa yang telah membobol keamanan mereka.
Boleh sebab itu Sania berpikir bahwa dia harus bergerak cepat, paling tidak dalam 3 hari dia sudah harus mendapatkan kotak itu atau dia akan berakhir sama seperti ayah dan ibunya yang meninggal di tangan keluarga Akasia.
Maka mau tidak mau, Sania menghubungi rekan kerjanya untuk segera membantunya karena ini sudah hari kedua setelah dia mencuri berkas-berkas penting keluarga Romania.
Sania menggunakan ponsel pintarnya mengirim pesan keluar dari kediaman keluarga Akasia, *Aku sudah mengetahui di mana kotak itu berada, kotaknya ada di dalam kamar tuan besar Akasia, sampaikan ini pada pemimpin dan berikan aku bantuan!* Ketik Sania sebelum dia mengirim pesan itu lalu menyimpan ponselnya.
Awalnya Sania hendak menyimpan ponsel tersebut di dalam kamar suaminya, namun Sania berubah pikiran dan kembali mengambil ponselnya lalu kembali mengirim pesan pada orang yang tadi ia hubungi, *20.01* sebagai kode bahwa dia baru akan melihat ponselnya lagi pada jam 8 malam nanti.
Setelah selesai, Sania pun pergi menyimpan ponsel tersebut di pohon besar tempat dia terakhir kali menaruh sesuatu di bawah tanah.
Sesudah itu, barulah Sania kembali melanjutkan langkahnya menuju kediaman utama keluarga Romania dan saat itu ia melihat suaminya telah kembali dari kantor namun kali ini tidak membawa sekretarisnya.
Hal itu membuat Sania mengerutkan keningnya, 'Kenapa dia tidak membawa sekretarisnya lagi?' ucap Sania dalam hati yang merasa begitu ane, tetapi Sania tidak terlalu memikirkannya dan dia hanya pergi ke lantai 3.
Saat tiba di lantai 3, Sania berniat memasuki ruang baca keluarga Akasia dan memeriksa sesuatu yang berada di belakang lukisan, namun ketika ia masuk ke ruang baca, Sania melihat tuan besar Akasia berada di sana sedang membaca buku.
__ADS_1
"Kakek," ucap Sania.
"Sania, kemarilah," kata Tuan besar Akasia yang merasa senang melihat kedatangan Shania.
Sania pun menuruti perintah pria itu, dia langsung mendekati tuan besar Akasia dan duduk di sofa yang diletakkan di depan Tuan besar Akasia.
"Apa kau kemari untuk membaca?" Tanya tuan besar Akasia membuat Sania tersenyum malu-malu menatap tuan besar akasia.
"Kakek,, Aku tinggal di hutan, tidak tahu caranya membaca," ucap Sania mengejutkan Tuan besar Akasia.
"Jadi kau tidak tahu caranya membaca? Tapi maukah kau belajar?" Tanya Tuan besar Akasia membuat Sania menganggukkan kepalanya.
"Ah,,, tentu saja, kemarilah, duduk di samping kakek biar kakek mengajarimu membaca!" Kata tuan besar Akasia langsung membuat Sania menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Maka Sania mendekati Tuan besar Akasia dan duduk di samping pria itu sambil melihat tuan besar Akasia mengambil penanya lalu menggoreskan penanya pada sebuah kertas kosong, ia menulis huruf a sampai z.
'ini benar-benar mengerikan, bisa-bisanya aku begitu dekat dengan pria yang telah membunuh kedua orang tuaku dan semua orang tua temanku serta menjual teman-temanku!' ucap Sania dalam hati yang merasa emosional. Tetapi dia berusaha menahan diri dan bersikap selayaknya perempuan lugu di hadapan tuan besar Akasia.
__ADS_1
"Semua ini disebut sebagai huruf, merekalah yang digabungkan untuk membuat sebuah tulisan supaya bisa dibaca." Ucap Tuan besar Akasia memperlihatkan huruf-huruf yang telah Ia tulis pada Sania.
Sania pun dengan antusias melihat huruf-huruf tersebut, "woh,, ada banyak sekali," ucap Sania dengan kekagumannya.
"Benar sekali, semuanya berjumlah 26 huruf," kata Tuan besar Akasia membuat Sania menatap tuan besar Akasia dengan tatapan bingungnya.
"26? Apakah angka 26 sama dengan dua atau satu?" Tanya Sania.
"Ya," kata Tuan besar Akasia kemudian menulis angka 0 sampai 9.
"Semua ini disebut sebagai angka, mulai dari angka 0 1 2 3 4 5 6 7 8 dan 9." Kata Tuan besar Romania kemudian menunjukkan jarinya.
"Kau lihat jari yang ku angkat ini? Jari ini berjumlah 1, lalu yang ini berjumlah 2 ini berjumlah 3 ini berjumlah 4 ini berjumlah 5," ucap tuan besar Akasia sembari tangan yang satunya menunjuk satu persatu angka yang telah Ia tulis.
"Ah,,, begitu," ucap Sania mempraktekkannya pada tangannya juga.
Melihat Sania yang belajar dengan sangat antusias, maka Tuan besar Akasia menjadi sangat senang.
__ADS_1
'Dntah bagaimana gadis ini tumbuh sampai dia tidak mendapatkan sedikitpun pelajaran tentang cara membaca dan menghitung,' ucap Tuan besar Akasia dalam hati yang merasa begitu sedih dengan apa yang terjadi pada Sania.
Seandainya sudah dari dulu dia membawa Sania keluar dari hutan, maka mungkin Nyonya marsita tidak akan meninggal secepat itu dan Sania akan menjadi gadis yang pintar.