
Setelah dokter tiba, maka dokter langsung memeriksa Sania terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya kepala pelayan yang harus memastikan Sania berada dalam kondisi sehat sebelum diizinkan memasuki kediaman utama keluarga Akasia.
Sebab bagaimanapun, sedikit saja dia lengah dan mengabaikan sesuatu, maka akan terjadi hal besar yang membuatnya terancam dipecat, bahkan bisa masuk penjara atau mendapatkan hukuman khusus dari keluarga Akasia sesuai yang tertera dalam kontrak yang ia tanda tangani sebelum bekerja untuk keluarga Akasia.
Ini bukan hanya tentang nyawa anggota keluarga Akasia, tetapi nyawanya dan nyawa keluarganya juga dipertaruhkan untuk Setiap keputusan yang akan ia ambil.
"Dia sehat," jawab dokter membuat kepala pelayan merasa lega.
"Kau masuk lagi kediaman utama, dan buatkan sarapan untuk semua penghuni rumah," ucap kepala pelayan pada Sania membuat Sania dengan cepat menenteng barang-barangnya ke dalam kediaman utama lalu diletakkan di dalam sebuah gunung di kediaman keluarga Akasia sebelum dia pergi ke dapur.
Saat tiba di dapur, Sania langsung menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah sampai akhirnya Gita dan putrinya kini tiba di meja makan untuk makan.
Sebelum makan, Gita memperhatikan Sania yang berdiri di sudut ruangan selayaknya pelayan yang harus menjaga jarak dari tuannya kecuali ketika ia dipanggil untuk diperintahkan melakukan sesuatu.
__ADS_1
Gita memperhatikan perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya, dan dia merasa lega karena tidak mendapati satu pun bintik merah di tubuh Sania.
"Apakah kau merasa gatal-gatal?" Tanya Gita yang merasa dia bahwa dia harus tetap waspada pada perempuan di depannya meski perempuan itu terlihat baik-baik saja.
"Tidak Bu," jawab Sania dengan suara polosnya.
Saat itu juga, kepala pelayan memasuki dapur lalu dia langsung berkata, "dokter sudah memeriksanya, dan dokter mengatakan bahwa dia sehat dan baik-baik saja."
Gita menyipitkan matanya, ia berpikir selama beberapa saat sebelum perempuan itu menatap kepala pelayan, "Apakah dia tak pernah bersentuhan dengan para pelayan yang telah tertular penyakit?" Tanya Gita yang masih merasa cemas kalau Sania mungkin didiagnosa dengan salah, karena masalah kesehatan adalah masalah yang sangat penting.
"Tidak Nyonya, dia hanya dikurung sendirian di bangunan khusus, jadi dia tak pernah bersentuhan dengan para pelayan, tetapi para pelayan yang melakukan pekerjaan di malam hari tadinya telah bersama-sama dengan para pelayan yang memiliki penyakit, sehingga saya cemas untuk memasukkan mereka ke dalam rumah," kata kepala pelayan membuat Gita mengangguk puas dengan keputusan dan kinerja kepala pelayan.
"Baik nyonya," ucap kepala pelayan sebelum dia pergi meninggalkan meja makan untuk segera melaksanakan perintah dari Gita.
Sementara Vanya yang tinggal bersama dengan ibunya, ia menatap ibunya sambil bertanya, "para pelayan terkena penyakit menular?"
__ADS_1
Gita menatap putrinya, dan dia bisa melihat bahwa putrinya tampak ketakutan sehingga Gita menghela nafas, "belum di tahu apakah itu menular atau tidak, tetapi mereka terkena penyakit kulit yang membuat mereka gatal-gatal. Tapi kau tenang saja, tidak ada pelayan sakit yang memasuki rumah ini," ucap Gita sambil menikmati makanannya.
"Lalu siapa yang akan membersihkan kamarku kalau para pelayan tidak masuk ke rumah?" Tanya Reva.
"Biar dia saja yang membersihkan kamar mu," jawab Gita membuat Vanya menghela nafas dengan kasar.
Dia merasa jijik ketika mengingat Bagaimana perempuan itu telah disiram menggunakan air kotor, namun dia juga tidak punya pilihan lain selain membiarkan pertanian yang membereskan kamarnya karena jauh lebih menjijikan Kalau dia sampai tertular penyakit dari para pelayan.
Oleh sebab itu, Vanya menatap Sania dengan tatapan kesalnya, "pergi bersihkan kamarku, Lalu setelah itu bersihkan juga area lain!" Perintah Reva.
"Baik," jawab Sania sebelum dia pergi meninggalkan dua perempuan itu untuk membersihkan kamar milik Vanya.
Ketika Sania tiba di kamar Vanya, perempuan itu menyurutkan keinginannya melihat kamar yang sangat berantakan, namun dia tidak mengatakan apapun dan hanya memasuki kamar itu selalu melakukan tugasnya.
Sambil membersihkan kamar Vanya, Sania memperhatikan segala sesuatu yang ada di sana, Dan Dia merasa bahwa tidak ada yang aneh dengan kamar itu dan tidak ada sesuatu yang menguntungkan baginya di dalam kamar itu.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Sania mempercepat pekerjaannya sebelum dia keluar dari kamar Vanya bertepatan dengan kepala pelayan yang lewat di depan kamar Vanya.
Kepala pelayan menatap Sania, "ikuti aku untuk membersihkan di lantai 3," ucap kepala pelayan membuat Sania menganggukkan kepalanya dengan perasaan yang begitu bersemangat karena selama ia berada di rumah itu, dia belum pernah naik ke lantai 3 dan dia penasaran jika Mungkin saja dia bisa mendapat sesuatu di lantai 3.