
Pada keesokan harinya, semua pelayan yang bertugas untuk bekerja di siang hari kini mulai gatal-gatal, mereka semua memiliki bentol-bentol kecil kemarahan di tubuh mereka hingga membuat mereka semua menjadi panik.
Kepala pelayan yang memiliki tempat tinggal khusus di dalam kediaman utama begitu terkejut ketika beberapa pelayan datang menghampirinya dengan kulit yang kemerah-merahan.
"Apa yang terjadi pada kalian?!!" Bentak sang kepala pelayan.
Salah satu pelayan menjawab, "Kami juga tidak tahu, pagi ini kami semua terbangun dan kulit kami sudah bentol-bentol seperti ini. Sangat gatal dan panas dan ketika digaruk akan keluar air yang--"
"Cepat kembali ke tempat tinggal kalian, tidak boleh ada pelayan yang memasuki kediaman utama!!!" Tegas kepala pelayan yang tidak mau sampai orang-orang di dalam rumah tertular penyakit tersebut.
Dia akan terkena marah jika sampai dia gagal mengatur para pelayan yang sedang sakit untuk tidak memasuki rumah. Apalagi anggota keluarga Akasia sangat sensitif terhadap hal-hal yang menyangkut kesehatan.
Para pelayan yang ada di depan kepala pelayan hanya bisa mengganggukan kepala mereka lalu pergi kembali ke tempat mereka hingga membuat kepala pelayan menggertakkan gigi mereka.
Kepala pelayan pun memakai masker dan APD lengkap Lalu dia pergi ke kediaman para pelayan dan melihat para pelayan di sana tampak kesakitan sehingga membuat kepala pelayan menjadi cemas bahwa mungkin saja itu penyakit menular.
"Apakah semua pelayan terkena penyakit ini?" Tanya kepala pelayan.
"Tidak semua, hanya yang masuk bekerja di siang hari lah yang terkena penyakit, sementara yang masuk malam hari tidak terkena sama sekali." Ucap salah seorang pelayan yang bekerja malam sambil menikmati kue yang diberikan oleh salah satu pelayan.
__ADS_1
"Ini aneh, kalau begitu semua pelayan yang bekerja di malam hari dan yang bekerja di siang hari akan dipisahkan," kata Sang kepala pelayan membuat semua pelayan terkejut.
"Penyakit ini menular?" ucap salah seorang pelayan yang bekerja di malam hari kini langsung menjauh dari teman-temannya.
Para pelayan yang lain pun segera menjauh, dan beberapa saat kemudian para pelayan yang bekerja di malam hari langsung pergi mengambil barang-barang mereka lalu keluar dari bangunan bersama dengan kepala pelayan.
"Kami harus tinggal di mana?" Tanya para pelayan.
"Bangunan khusus di sana masih bagus, cukup untuk menampung kalian semua, kalian bisa pergi ke sana," kata sang pelayan menunjuk bangunan tempat Sania berada.
"Tapi, di sana tidak ada makanan dan listrik serta air juga dimatikan!" Ucap salah seorang pelayan membuat kepala pelayan mengerutkan keningnya.
Pelayan yang baru saja berbicara langsung menutup mulutnya dengan satu tangan karena tak menyangka ia akan keceplosan seperti itu.
Melihat para pelayan terdiam dan keterkejutan para pelayan, maka kepala pelayan langsung menduga apa yang sedang terjadi sehingga perempuan itu berkata, "kalian tetaplah ke sana, aku akan menyuruh seseorang untuk memperbaiki semuanya."
Setelah berbicara, kepala pelayan meninggalkan para pelayan tersebut, namun ketika ia tiba di dalam rumah, dia mendapati bahwa tidak ada satupun pelayan yang bertugas di sana sehingga saat ini Gita datang menghampirinya.
"Kenapa tidak ada satupun pelayan di rumah ini?!" Tanya Gita pada kepala pelayan dengan nada suara yang ketus.
__ADS_1
"Para pelayan entah bagaimana tiba-tiba saja semuanya menderita penyakit gatal-gatal, saya sudah memanggil dokter untuk memeriksa mereka semua, tetapi saya tidak membiarkan mereka masuk ke sini karena takut akan menulari penghuni rumah." Jawab kepala pelayan dengan wajah yang cemasnya.
"A,,, apa?!!" Gita terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh kepala pelayan, yang artinya bahwa mereka akan terancam karena wabah yang menyebar di antara para pelayan.
"Nyonya jangan khawatir, saat ini dokter sudah dalam perjalanan menuju kemari dan dokter akan memberikannya untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau begitu, kau harus memastikan tidak ada pelayan yang masuk ke tempat ini. Tapi kalau seperti itu, lalu siapa yang akan melayani orang-orang di rumah?!" Tanya Gita yang mana dia tidak bisa hidup tanpa seorang pelayan.
Sebab, mengisi bak berendamnya saja dengan air harus ia tugaskan kepada seorang pelayan karena dia malas melakukannya.
"Masih ada saya yang bisa menyelayani Nyonya, namun untuk anggota keluarga yang lain, saya cemas saya tidak akan mampu melayani semua orang." Ucap kepala pelayan membuat Gita menggertakan giginya sebab rumah akan menjadi sangat kotor kalau sampai tidak ada pelayan yang bersih-bersih.
Gita berpikir selama beberapa saat sebelum dia berkata, "menantu yang ada di bangunan khusus itu, panggil dia kemari untuk membantu!!" Tegas Gita yang tidak memiliki pilihan lain selain memanggil perempuan itu memasuki rumah.
"Baik Nyonya," jawab kepala pelayan sebelum dia pergi dari sana untuk memanggil Sania kembali memasuki kediaman utama.
Sambil berjalan ke bangunan khusus, kepala pelayan terus berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga para pelayan tiba-tiba saja mengalami gejala gatal-gatal.
'Sepertinya aku juga harus menyuruh seseorang memeriksa semua makanan yang mereka konsumsi. Tapi,, air juga diputuskan, dan air yang tersambung dengan bangunan khusus dan bangunan para pelayan itu sama, lalu Sania tidak mendapatkan air selama 1 hari karena diputuskan oleh seseorang, kalau begitu jangan-jangan Ini masalah air?' ucap kepala pelayan dalam hati yang merasa begitu aneh.
__ADS_1
Kepala pemain berpikir bahwa penyebabnya ialah salah satu diantara para pelayan, karena reaksi para pelayan yang membicarakan air dan listrik yang diputus di kediaman yang ditempati oleh Sania begitu memberinya sebuah keyakinan bahwa para pelayan terlibat dalam masalah tersebut.