Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
20


__ADS_3

Sania tidak mau membuat kecerobohan dengan melihat isi ruangan rahasia itu ketika suaminya berada di rumah.


Oleh sebab itu, Sania memilih menghabiskan waktu berjam-jam di dalam ruang ganti sampai ketika ia tidak mendengarkan suara dari luar, barulah perempuan itu keluar dari ruang ganti dengan perlahan-lahan membuka pintu supaya tidak menimbulkan suara.


Saat membuka pintu, Sania memang melihat kamar itu telah kosong, namun kini Sania mendengar suara shower dari dalam kamar mandi hingga Sania menebak dengan jelas bahwa 2 orang itu telah berpindah ke kamar mandi.


Maka, Sania langsung memanfaatkan hal tersebut dengan berjalan ke arah meja di mana 2 gelas anggur diletakkan di sana Lalu dia pun menaruh sesuatu ke dalam gelas anggur tersebut.


Setelah selesai, Sania meletakkan alat penyadap di bagian bawah meja dan juga di dekat tempat tidur Sebelum Sania keluar dari kamar untuk meninggalkan tempat tersebut.


Setelah tiba di luar, Sania melihat ibu mertuanya sedang berjalan dari lantai bawah sehingga Sania dengan cepat berlari menuju balkon untuk menghindari perempuan itu, sebab Sania takut bahwa perempuan itu mungkin akan melakukan sesuatu yang buruk padanya Jika Gita melihatnya.


Begitu berada di balkon, Sania memandang ke lantai bawah di mana dia bisa langsung melihat kolam tempat ia tenggelam.


'Mereka sedang menguras air kolam,' ucap Sania dalam hati terus memperhatikan orang-orang yang sedang memompa air kolam lalu dibuang menuju saluran pembuangan bawah tanah.


Cukup lama Sania berada di balkon sampai akhirnya dia meninggalkan tempat itu untuk pergi mendapatkan minuman di dapur.


Tepat ketika Sania turun ke lantai bawah, saat itu juga tuan besar Akasia memasuki kediaman dengan asistennya yang mengikutinya.


Maka Sania langsung menghentikan langkahnya lalu dia pun melemparkan senyumannya pada tuan besar Akasia.


"kemarilah ikuti aku," ucap Tuan besar Akasia langsung membuat Sania menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu dengan cepat mengikuti tuan besar Akasia.


Setelah tiba di samping tuan besar Akasia, keduanya berjalan memasuki lift dengan Sania yang masih memperlihatkan wajah malu-malunya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja selama kakek tidak ada kan? George memperlakukanmu dengan baik kan?" tanya Tuan besar Akasia sambil mengulurkan tangannya memencet lantai 3.


Sania masih mengukir senyuman di wajahnya sambil menganggukkan kepalanya, "iya Kek, semuanya baik-baik saja, George juga memperlakukan aku dengan sangat baik. kakek sendiri bagaimana? pengobatan kakek berjalan dengan lancar kan?" tanya Sania.


"Ya, semuanya berjalan dengan lancar, karena kau mendukung kakek maka saat ini kakek merasa lebih segar setelah menjalani pengobatan. Oya, tadi ketika Kau turun ke lantai 1 mau buat apa?" tanya tuan besar Akasia yang baru sadar bahwa dia telah menyuruh perempuan itu untuk mengikutinya, padahal mungkin saja tadi Sania ingin melakukan sesuatu yang penting.


"Bukan apa-apa, aku hanya mau pergi ke taman belakang rumah untuk berjalan-jalan," ucap Sania.


"Baiklah. Kalau begitu Kau bisa mengikuti kakek, kakek ingin perlihatkan sesuatu padamu," ucapkan besar Akasia bersamaan dengan lift yang telah sampai di lantai 3 hingga kedua orang itu segera keluar dari lift.


Sania mengikuti tuan besar Romania dengan harapan di hatinya bahwa mereka akan pergi ke kamar pria itu, dan benar saja mereka memasuki kamar tuan besar Akasia hingga membuat Sania langsung memperhatikan kamar itu dengan seksama.


'Katanya tidak ada orang yang diizinkan masuk ke ruangan ini selain asisten pria ini, tetapi dia malah mengajakku kemari, Sepertinya dia memang merasa bahwa aku bukanlah sebuah ancaman,' pikir Sania dalam hati sembari melangkahkan kakinya hingga Mereka pun duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan tersebut.


Tuan besar Akasia pun mengambil paper bag tersebut dari tangan asistennya lalu dia pun menatap tap cucu menantunya sambil berkata, "Kakek membawakanmu oleh-oleh."


Sania yang melihat kabar baik itu merasa malu-malu sambil mengambil kabar baik tersebut, "Terima kasih kakek," ucap Sania dengan suara yang begitu polos.


"Sama-sama, kakek harap kau akan menyukainya." kata Tuan besar Akasia langsung membuat Sania menganggukkan kepalanya dengan begitu antusias.


"Aku pasti menyukainya, sekali lagi terima kasih kakek," ucap Sania.


Tuan besar Akasia menganggukkan kepalanya, dan dia merasa senang melihat perempuan di depannya karena sangat polos dan menyejukkan hati dengan tingkahnya yang begitu lugu, "kakek memanggilmu ke kamar bukan hanya untuk memberikanmu oleh-oleh, tetapi ada hal lain juga yang ingin kakek perlihatkan padamu," ucap Tuan besar Akasia sambil melirik ke arah asistennya.


Sang asisten langsung mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Tuan besar Akasia sehingga dia dengan cepat menyerahkan sebuah iPad yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Sania menjadi penasaran apa yang ingin diperlihatkan oleh tuan besar Akasia padanya, sehingga dia menatap seksama pria di depannya yang tampak memainkan jari-jarinya di atas layar iPad tersebut.


Setelah beberapa saat, tuan besar Akasia kemudian menyerahkan iPad pada Sania dengan Sania yang mengambil iPad tersebut secara hati-hati.


Melihat tingkah Sania yang begitu hati-hati mendapatkan barang darinya, maka tuan besar Akasia tersenyum dengan tingkah perempuan di depannya, 'tingkahnya memang sangat mirip dengan neneknya,' ucap Tuan besar Akasia dalam hati kembali mengingat Bagaimana masa mudanya ketika bersama-sama dengan perempuan yang pernah mengisi hatinya.


Sementara Sania yang mengambil iPad dari tangan tuan besar Akasia, ia langsung memeriksa isi iPad tersebut dan dia sangat terkejut ketika dia melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki yang ada di foto itu.


Sania pun langsung mengenali keduanya, itu adalah neneknya Sarah dan juga pria yang ada di depannya, karena sebelum Shania masuk ke keluarga Akasia, dia terlebih dahulu telah mencari tahu berbagai hal tentang keluarga Akasia bahkan masa lalu dari pemimpin keluarga Akasia.


Meski begitu, Sania tampak bingung sambil menatap pria yang ada di hadapannya, "Siapa mereka?" tanya Sania yang tentunya hal wajar jika Sania mempertanyakannya sebab tahun ketiga foto itu diambil, iyalah tahun yang masih kuno dengan perkembangan teknologi yang masih terbatas sehingga keluarga Sania yang berasal dari keluarga miskin pasti tidak memiliki foto tersebut untuk dilihat.


Sementara Tuan besar Akasia yang duduk di depan Shania, dia tersenyum sambil berkata, "itu adalah foto nenekmu denganku ketika kami masih muda."


Sania memperlihatkan wajah terkejutnya sebelum dia kembali menunduk memperhatikan foto yang ada di iPad tersebut.


Tetapi Sania memfokuskan pandangannya pada sebuah tanggal yang ditulis pada foto itu, 'jumlah angka yang tertulis di sini sebanyak 12, jangan-jangan ini adalah kode rahasia untuk,,,' Sania merasa begitu bersemangat, ia mengangkat wajahnya menatap pria yang ada di depannya, "ternyata waktu masih muda Kakek sangat tampan, nenekku juga sangat cantik di sini." ucap Sania.


Tuan besar Akasia tersenyum, "nenekmu waktu masih muda memang sangat cantik, dan kakek juga telah mencetak foto tersebut untuk diberikan padamu sebagai kenang-kenangan," ucap Tuan besar Akasia bersamaan dengan asistennya yang langsung datang membawakan sebuah figura berisi foto yang telah dicetak.


Tuan besar Akasia langsung menyerahkan foto tersebut pada perempuan yang ada di hadapannya sehingga membuat Sania begitu bersemangat mengambil pigura yang masih dibungkus dengan kartonnya.


"terima kasih kakek," ucap Sania dengan raut wajah penuh bahagia.


"sama-sama," jawab tuan besar Akasia.

__ADS_1


__ADS_2