Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
8


__ADS_3

Setelah Tuan besar Akasia meninggalkannya, maka Sania langsung meneguk habis air minumnya sebelum perempuan itu berdiri lalu melepaskan selimutnya.


Ia langsung pergi ke meja rias dan mengambil sebuah buku dan segera menulis rentetan angka di buku tersebut.


Setelah selesai menulisnya, Sania pun memperhatikan sederetan angka itu, 'aku harus mencari tahu arti angka-angka ini, karena angka-angka ini tercetak di dasar kolam,' ucap Sania dalam hati mengambil ponsel seukuran jari kelingking miliknya lalu dia pun segera menyalakannya.


Dia pun memasukkan sederetan angka-angka tersebut ke dalam ponselnya sebelum mengirimkannya pada seseorang.


Setelah selesai, Sania mematikan ponselnya lalu menyimpan ponsel tersebut di bagian tersembunyi dalam tasnya sebelum dia kembali membaca angka-angka di kertas.


Perempuan itu memperhatikannya cukup lama sampai dia mendengar suara pintu kamar yang dibuka hingga Sania dengan cepat meramas kertas tersebut lalu melemparkannya ke tong sampah.

__ADS_1


"Perempuan sialan!!" Bentak pria yang masuk ke dalam kamar langsung membuat Sania terdiam di tempatnya sambil meramas pakaiannya.


Sementara George, dia menghampiri Sania lalu dengan cepat melayangkan sebuah tamparan ke pipi Sania.


Plak!!


Sania langsung tersungkur di lantai karena tamparan yang sangat keras itu, dia langsung memegang pipinya yang terasa begitu panas dan perih, air mata Sania langsung berderai membasahi pipinya.


"Sial!" Geram George akhirnya berbalik menatap perempuan yang bersama-sama dengannya lalu dia pun segera memeluk perempuan itu dan menciumnya.


Sania yang melihat kedua orang itu sudah berpindah ke kasur akhirnya dengan cepat berdiri, lalu dia meliriki arah tong sampah tempat Ia membuang sampah, dia cemas bahwa tulisan yang ia buat akan dilihat oleh pria itu sehingga Sania dengan cepat mengambil tempat sampahnya lalu keluar dari kamar.

__ADS_1


Begitu tiba di ambang pintu, Sania menyekah air matanya bersamaan dengan Vanya yang datang menghampirinya.


Vanya bisa melihat bekas cetakan tangan di pipi Sania yang menandakan bahwa perempuan itu baru saja mendapatkan sebuah tamparan sehingga dia tersenyum menghina, "makanya, jadi perempuan jangan kegenitan, bisa-bisanya kau merasa pantas untuk masuk ke keluarga ini sebagai menantu?


"Oh ya, aku harus memberitahumu kalau perempuan yang baru saja datang bersama kakak aku itu adalah sekretarisnya, dan mereka sudah lama berpacaran. Jari tidak usah berpikir bahwa suatu saat kau akan menjadi menantu yang dianggap di keluarga ini, karena tempatmu bukanlah di sini, melainkan di pinggir jalan sebagai seorang gelandangan!!!


"Ah,, kau mau buang sampah ya, tolong ini juga dibuang," ucap Vanya menyerahkan sebuah bungkusan cemilan pada Sania sebelum perempuan itu pergi meninggalkan Sania.


Sania yang melihat kepergian perempuan itu hanya bisa meneteskan air matanya sebelum dia berjalan pergi meninggalkan lantai tersebut, ia harus tetap berakting karena di tempat itu ada banyak CCTV.


Sampai Sania tiba di tempat pembuangan sampah barulah Sania mengeluarkan satu persatu sampah dari tempat sampah dan merobek kertas yang ia tempati menulis angka-angka.

__ADS_1


'Aku harus mencari waktu yang tepat untuk kembali ke kolam itu memeriksa kolam tersebut. Aku pikir waktu yang terbaik ialah pada malam hari, Tetapi di sana ada sebuah CCTV yang terpasang, jadi aku harus hati-hati. Selain itu, cuaca di malam hari sangat dingin dan aku tidak punya pakaian renang,' ucap Sania dalam hati sambil berpikir bagaimana caranya dia bisa mendapatkan pakaian renang, sementara dia harus berpura-pura menjadi menantu yang bodoh dan tidak memiliki sepesar pun uang untuk berbelanja.


__ADS_2