
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan menghujani dua orang yang berada di atas sepeda motor yang melaju di padang rumput.
Pria yang membawa motor mengendarai motornya dengan pola zig zag, namun ia langsung menoleh ke belakang ketika ia merasakan tubuh perempuan yang ia bonceng tampak tersentak beberapa kali sebelum tubuh itu menjadi lemas.
Sang pria bisa merasakan salah satu tangan Sania yang melingkar di perutnya kini kehilangan kekuatan memeluknya hingga membuat sang pria melepaskan satu tangannya pada stang motor dan menahan tangan Sania.
"Kau baik-baik saja?" Tanya sang pria dengan perasaan cemasnya bahwa Sania mungkin terkena peluru hingga melenyapkan nyawa perempuan itu.
Benar saja, tidak ada jawaban dari belakang, dan pria itu merasakan tubuh Sania semakin berat karena perempuan itu sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Sial, kau tidak boleh mati!!!" Teriak pria yang membonceng Sania sambil menarik gas motornya lebih kencang sampai mereka akhirnya melihat 4 helikopter yang sudah menunggu mereka.
__ADS_1
Seharusnya saat itu sang pria membunyikan klaksonnya agar memberi tanda bahwa mereka telah tiba, tetapi karena tangan kirinya telah memegangi tubuh Sania, maka dia tidak bisa lagi menekan klaksonnya sehingga dia hanya bisa terus menancap gasnya.
Untung saja seorang pria yang berada di helikopter yang menunggu mereka melihat motor mereka yang semakin mendekat sehingga helikopter itu kemudian terbang ke arah ke motor-motor yang ada di padang rumput lalu menghujani mereka dengan tembakan beruntun.
Dor dor dor!!!
Tembakan-tembakan itu satu persatu mengenai pengendara sepeda motor hingga mereka satu persatu telah mati.
Sementara mobil terakhir yang ada di belakang sepeda motor itu, mereka dengan cepat berputar balik kembali memasuki hutan karena tahu bahwa helikopter tidak mungkin bisa mereka lawan tetapi helikopter itu tak bisa masuk ke kawasan hutan sebab kawasan tersebut ialah kawasan milik keluarga Akasia dan dijaga dengan sangat ketat sehingga jarak puluhan meter ke atas langit diletakkan pendeteksi, jika ada helikopter yang masuk secara sembarangan Ke kawasan itu maka secara otomatis akan ada rudal yang meluncur untuk menembak mati.
"Sial, kubilang kau tidak boleh mati!! Cepat buka matamu!!!" teriak sang pria berusaha melepaskan pakaian Sania, tetapi pakaian perempuan itu terlalu sulit dilepaskan karena ditutup dengan begitu rapat dan dia juga tidak tahu di mana resleting pakaian tersebut.
Namun saat itu, sebuah helikopter telah menurunkan tangga dari atas helikopter.
__ADS_1
"Cepatlah!!!" Teriak salah seorang pria yang cemas bahwa helikopter keluarga Akasia mungkin akan datang sebentar lagi sehingga mereka harus bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Sang pria yang ada di sana tidak peduli lagi jika Sania sudah mati, dia tidak memberikan pertolongan pertama pada perempuan itu, namun dia tetap membawa Sania ke punggungnya lalu mengikat tangan pria itu dengan tali yang ia siapkan, serta tak lupa juga membawa buku besar milik keluarga Akasia sebelum dia naik ke atas tangga tali.
Maka helikopter pun melaju meninggalkan tempat itu dengan sang pria yang menggendong Sania di punggungnya masih berusaha menaiki tangga hingga ia akhirnya tiba di helikopter.
Rekan-rekan Sania langsung menarik tubuh Sania ke dalam helikopter, dan sang pria yang menggendong Sania dengan cepat mengambil sebuah pisau yang terletak di atas helikopter lalu menyayat baju perempuan itu.
"Perempuan sial! Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai mati!!!" Teriak sang pria dengan perasaan cemasnya.
Namun ketika dia selesai merobek pakaian Sania dan melihat Sania menggunakan rompi anti peluru, pria itu langsung terduduk dengan lemas dan seluruh chat aku tanya kini menguap seperti embun pagi yang terkena cahaya matahari, begitu cepat menghilang di udara.
"Mengagetkan saja!!" Ucap salah seorang perempuan yang juga berada dalam helikopter kini langsung memeriksa rompi anti peluru sania, dan mereka merasa legal bahwa rompi itu tidak tertembus peluru dan Sania tampaknya hanya pingsan biasa.
__ADS_1
Maka, mereka hanya mengobati tangan Sania yang terkena peluru sebelum mereka membiarkan Sania terus terbaring menunggu helikopter tiba di tempat yang aman.