
Ketika Sania kembali dari tempat pembuangan sampah, perempuan itu melewati beberapa pelayan yang sedang disiram air oleh ibu mertua Sania.
Byur...!! Byur...!! Byur...!!
"Dasar pelayan-pelayan tak berguna! Kalian pikir kalian Siapa sehingga berani beraninya melanggar aturan kecil di rumah ini?! Kalian pikir karena itu hanya pada aturan kecil sehingga kalian tidak perlu menaatinya?! Atau kalian pikir kalian bagian dari keluarga Akasia sehingga kalian bisa melakukan apa saja sesuka hati kalian?!" Bentak Perempuan bernama Gita yang merasa kesal pada pelayan-pelayannya.
Para pelayan tidak menyatakan apapun, mereka hanya diam saja ketika pelayan senior kembali lagi menghampiri mereka sambil membawa air yang telah dicampur dengan telur busuk.
"Ini air yang Nyonya maksud," ucap sang pelayan senior memperlihatkan air tersebut pada Nyonya rumah.
Gita menatap ember tersebut, dan dia merasa jijik melihat beberapa ulat kecil yang melayang di sana serta bau busuknya sangat menyengat.
"Kau sirami mereka satu persatu! Aku akan pergi dari sini!!" Kata Gita berjalan meninggalkan para pelayan itu.
"Baik Nyonya," jawab pelayan senior sambil mengambil gayung bekas pakai Gita.
Sementara kita yang meninggalkan tempat itu, ia Baru beberapa langkah pergi saat ia langsung menghentikan langkahnya karena melihat menantunya sedang menatap ke arah para pelayan.
"Kemari kau!" Perintah Gita pada Sania membuat Sania langsung tersadar lalu dia pun menatap Ibu mertuanya.
Sania menghampiri perempuan itu, "Ada apa Bu?" Tanya Sania.
__ADS_1
"Kau bergabung di antara para pelayan itu!" Tegas Gita membuat Sania sangat terkejut.
Dia menatap ke arah pelayan sebelum kembali melihat ibu mertuanya, "tapi Bu, Memangnya Apa salahku?" Tanya Sania dengan nada suara takut dan cemas.
"Salahmu?! Kau tidak tahu apa salahmu?! Kuberitahu padamu, kesalahanmu adalah karena kau berani menjadi menantu keluarga ini!! Perempuan sampah sepertimu itu tidak cocok untuk masuk ke keluarga ini, bahkan hanya sebagai perayaan saja!! Jadi cepat bergabung dengan para pelayan itu!!" Bentak Gita sambil memberi kode pada kepala pelayan agar menyeret Sania bergabung dengan para pelayan yang ada di sana.
Kepala pelayan menganggukkan kepalanya lalu memberi kode pada beberapa pelayan yang tidak dihukum sebelum mereka kemudian menyeret Sania bergabung dengan para pelayan lalu menyirami mereka dengan air yang telah dicampur dengan telur busuk.
Sania merasa biasa-biasa saja dengan hal itu karena di pelatihannya sebelum dia masuk menjadi agen rahasia, dia sudah pernah disiram menggunakan air yang lebih menjijikan dari yang saat ini, tetapi dia harus tetap berpura-pura geli dan jijik agar semua orang percaya bahwa dia bukanlah orang yang menjadi ancaman di keluarga itu.
Dari tempat yang agak jauh, Dita memperhatikan menantunya, dan dia tersenyum mengejek pada perempuan itu.
Saat itu juga Vanya datang menghampiri ibunya untuk memberitahukan sesuatu, namun raut wajahnya langsung berubah jijik ketika ia melihat Sania dan beberapa pelayan sedang disiram menggunakan air yang menjijikkan.
"Tentu saja, mulai sekarang dia tidak akan bisa lagi masuk ke rumah ini! Kebetulan sekali mulai besok Kakekmu akan pergi menjalani perawatan kesehatannya selama 1 bulan di pulau, jadi tidak akan ada orang yang membelanya!" Ucap Gita membuat Vanya merasa sangat senang.
"Bagus sekali Bu, kalau begitu aku menjadi lega," ucap Vanya.
Setelah puas melihat Sania disiram menggunakan air yang kotor, maka Gita dan putrinya masuk kembali ke dalam rumah lalu menyuruh salah seorang pelayan untuk kembali menghampiri orang-orang yang ada di belakang rumah.
"Pergi ke sana dan katakan bahwa semua orang yang telah disiram air menjijikkan itu tidak boleh lagi masuk ke dalam rumah termasuk Sania!!!" Perintah Gita pada salah seorang pelayan.
__ADS_1
"Baik Nyonya," ucap pelayan tersebut sebelum dia pergi menemui kepala pelayan.
"Ada apa?" Tanya kepala pelayan saat melihat seorang pelayan datang menghampirinya.
"Nyonya berpesan bahwa mereka semua yang telah disiram dengan air menjijikan, termasuk menantu keluarga Akasia tidak boleh diizinkan lagi untuk masuk ke dalam rumah dan akan tinggal terpisah!!" Ucap pelayan tersebut membuat kepala pelayan menganggukkan kepalanya.
"Aku mengerti, sekarang Kau pergi layani Nyonya, sementara aku membereskan mereka semua!" Perintah kepala pelayan.
Maka setelah selesai menyirami para pelayan dan juga Sania, kepala pelayan pun memerintahkan mereka semua untuk pergi dari sana dan membersihkan tubuh mereka di sebuah bangunan khusus yang memang selalu dikhususkan untuk menjadi tempat tinggal pada perayaan saat mereka menjalani sebuah hukuman.
Sania juga tidak tinggal diam, ia langsung pergi ke arah bangunan tersebut dan mereka semua langsung berdiri di bawah pancuran shower dalam kamar mandi luas yang terletak di bangunan tersebut.
"Ih,, jijiknya!!"
"Sial!!"
"Hiks,, hiks,."
Para pelayan yang bersama-sama dengan Sania merasa jijik terhadap diri mereka sendiri, tetapi Sania dia hanya dengan santai membasuh tubuhnya lalu menggunakan sabun.
'Dasar keluarga Akasia, tunggu saja, aku tidak akan berlama-lama dan akan mempercepat gerakanku! Aku akan melihat kalian membayar semua yang telah kalian lakukan padaku!!' ucap Sania dalam hati sembari mengingat kembali apa yang telah Ia alami pada 5 tahun yang lalu saat keluarga Akasia mengambilnya secara paksa dari kedua orang tuanya lalu dia pun dijual ke kelompok mafia yang menjadikannya sebagai budak di lahan ganja.
__ADS_1
Malam yang dingin ketika ia diambil dari orang tuanya juga tak bisa ia lupakan Karena pada hari itu juga kedua orang tuanya dibunuh tepat di depan matanya.
Selain dirinya, masih ada beberapa anak lain yang juga diambil, namun mereka semua tak selamat karena kerasnya hidup yang harus mereka jalani menjadi budak, bahkan beberapa di antara mereka mati kelaparan karena mereka tak diberikan makanan, tapi terus dipaksa untuk bekerja.