
Hari ini adalah hari ke-21 Sania berada di bangunan khusus, perempuan itu baru saja bangun pagi dan pergi ke dapur untuk membuat minuman.
Tetapi Sania mengerutkan keningnya ketika ia memasuki dapur dan melihat ada banyak benda yang hilang di dapur.
"Apakah di rumah ini ada maling?" Ucap Sania dalam hati sambil memperhatikan dapur lalu dia pun membuka kulkas yang ada di sana dan mendapati kulkas itu telah kosong, Bahkan makanan sisa miliknya yang kemarin ia taruh di dalam kulkas juga telah menghilang.
Selain itu, saat Sania memeriksa lemari-lemari dapur, ia mendapati bahwa semua makanan yang tak diletakkan di dalam kulkas kini telah menghilang dari tempatnya, bahkan sebutir nasi pun tak ada di tempat itu.
Karena Sania merasa haus, Ia memutuskan untuk meminum air keran saja tetapi ketika ia menyalakan keran air di wastafel, ternyata tak ada air yang mengalir.
"Sial!" Gerutu Sania menggertakkan giginya sambil cepat-cepat memeriksa segala sesuatu yang ada di rumah itu.
Tetapi ternyata, selain air dan makanan yang tidak ada lagi, listrik juga tidak jalan lagi sehingga Sania menjadi sangat kesal.
'Orang-orang itu mencari gara-gara?' Gerutu Sania dalam hati sambil membuka salah sebuah lemari dalam kamarnya Yang mana Di sana ia menyimpan cemilan yang sering ia nikmati di kamar.
Untungnya cemilan itu masih ada di tempatnya, juga ada botol air mineral yang membuat Sania merasa lega dan langsung meminum minuman tersebut.
Gluk gluk gluk..
Selama satu hari itu, Sania hanya bisa meminum 2 botol air mineral dan juga dua toples kecil cemilan.
__ADS_1
Lalu pada malam harinya, Sania berpikir bahwa dia tidak bisa tinggal diam saja sehingga Sania kembali memakai peralatannya, lalu di waktu yang tepat, Sania kemudian keluar dari bangunan tersebut dengan melewati titik buta CCTV.
Setelah beberapa saat terus berjalan dalam kegelapan malam, Sania akhirnya tiba di bagian dapur pelayan.
Sania mengintip lewat jendela ventilasi lalu melihat ada seorang pelayan yang tengah memasak kue.
Sania juga mengerutkan keningnya ketika ia melihat cemilan-cemilan yang diletakkan di atas meja di dapur pelayan ialah cemilan yang sama dengan yang berada di bangunan khusus.
'Ahh,, dasar para pencuri ini, lihat saja bagaimana aku membalas kalian semua,' ucap Sania dalam hati sambil menggertakkan giginya lalu dia menunggu pelayan itu meninggalkan kue yang dimasukkan ke dalam oven barulah dia masuk ke dalam dapur lewat jendela kecil yang terletak di bagian belakang dapur.
Dengan langkah yang begitu hati-hati, Sania tidak membuat suara sedikitpun lalu dia mengeluarkan sebuah serbuk dari dalam sakunya lalu membuka oven tempat sang pelayan memanggang kue.
Bahkan, ia mengambil sebuah kain kasa yang kemudian ia sisipkan di belakang sebuah kipas angin.
Setelah selesai, Sania meninggalkan tempat itu sambil membawa kantong besar berisi makanan.
Dengan mengendap-ngendap dan berhati-hati, Sania kembali ke bangunan khusus lalu meletakkan semua makanan tersebut di dalam lemari kamarnya.
"Dasar pelayan-pelayan sialan, kita lihat berapa lama kalian akan gatal-gatal dari bubuk yang kuberikan pada kalian!" Ucap Sania kini duduk manis di kursi kayu sambil menikmati cemilan miliknya.
Sementara saat itu, di bangunan tempat para pelayan tinggal, para pelayan merasa sangat senang ketika seorang pelayan keluar dari dapur sembari membawa kue yang telah dipotong-potong.
__ADS_1
"Wah,,, terlihat sangat enak!" Ucap salah seorang pelayan dengan pelayan lain juga tak sabar untuk mencicipi kue buatan sang pelayan.
"Ayo makan," kata pelayan yang membuat kue sehingga semuanya dengan semangat memakan kue-kue tersebut.
"Aku masih menyisakan beberapa di sana untuk para pelayan yang bertugas malam ini," kata sang pelayan yang membuat kue.
"Kau tenang saja, nanti biar aku yang memberi tahu mereka," ucap salah seorang pelayan sambil menikmati kue yang ada di tangannya.
"Kalau setiap hari ada kue seperti ini, maka kita semua menjadi senang para pelayan yang saat ini bekerja juga pasti senang ketika mereka selesai bekerja dan langsung menikmati kue seenak ini," ucap pelayan yang lain.
"Benar sekali, hanya mungkin hanya kita para pelayan yang bisa seperti ini, karena kita adalah pelayan keluarga Asia, pelayan-pelayan di tempat yang lain pasti tidak memiliki fasilitas seperti ini yang diberikan pada mereka."
"Benar."
"Iya benar, kita sangat beruntung."
"Gaji kita juga besar."
para pelayan bersenang-senang menikmati kue sambil menceritakan kesenangan mereka bekerja di tempat itu.
Tapi mereka tak pernah menduga bahwa kue yang sedang mereka nikmati ialah kue yang akan membawa malapetaka untuk mereka selama beberapa waktu ke depan.
__ADS_1