Menyamar Jadi Menantu Sampah

Menyamar Jadi Menantu Sampah
16


__ADS_3

Begitu tiba di lantai 3, Sania yang dituntun memasuki sebuah perpustakaan, ia dengan cepat merekam segala sesuatu yang ia lihat ke dalam otaknya yang pintar.


"Mertuamu selalu menggunakan ruangan ini untuk membaca, jadi tempat ini harus dibersihkan setiap hari supaya tidak ada debu. Kau harus memperhatikan setiap benda-benda kecil yang ada di sini dan setiap sudut-sudut ruangan, semuanya harus benar-benar bersih karena tuan dan nyonya sangat sensitif jika ada sedikit saja kotoran yang tertinggal di tempat ia berada." Ucap kepala pelayan.


"Baik, saya mengerti," jawab Sania mulai menggunakan alat bersih-bersihnya untuk membersihkan tempat tersebut, dan sambil membersihkan kemasan yang memperhatikan kepala pelayan yang membersihkan tempat lain, sehingga ketika kepala pelayan sangat sibuk, Sania menggunakan waktu tersebut untuk membuka beberapa buku yang terletak di sana karena memang ruangan itu ialah perpustakaan keluarga.


Tetapi selama beberapa menit terus membersihkan, Sania tidak mendapati sesuatu yang memberinya informasi, sehingga perempuan itu hanya bisa berpindah tempat untuk melihat-lihat.


Sampai ketika Sania membersihkan sebuah lukisan yang terpajang di dinding, tiba-tiba saja kepala pelayan menghentikannya, "biar aku yang membersihkan lukisan itu, sekarang kau bersihkan area di sana," kata kepala pelayan membuat Sania menganggukkan kepalanya lalu dia dengan cepat berpindah tempat untuk membersihkan.


Sambil membersihkan area yang diperintahkan padanya, Sania memperhatikan ruangan bahwa tempat di mana dia berdiri ialah tempat yang dijangkau CCTV sehingga dia tidak bisa terlalu mencurigakan di sana.


Oleh karena itu, Sania membersihkan seperti biasanya, namun sesekali dia masih melatap ke arah kepala pelayan yang membersihkan lukisan yang tadi hendak dibersihkan oleh Sania.


'Apakah kepala pelayan juga mengetahui sesuatu tentang rahasia keluarga Akasia? Lalu ada apa dengan lukisan tersebut?' kata Sania dalam hati yang merasa bahwa dia mungkin telah menemukan sesuatu, namun dia masih harus bekerja keras untuk mendapatkan informasi yang jauh lebih akurat.


Sania dan kepala pelayan terus membersihkan perpustakaan keluarga sampai akhirnya mereka pergi dari sana Lalu kepala pelayan berkata, "ruangan berikutnya akan ku bersihkan sendiri, sekarang Kau pergilah buatkan minuman untuk ruang kendali yang ada di lantai 4. Kau hanya perlu naik ke sana dan memasuki bangunan kecil yang terletak di bagian luar lantai 4."

__ADS_1


"Baik," jawab Sania sebelum dia pergi ke dapur di lantai 1 untuk membuat minuman.


Di dapur sudah ada catatan jadwal membuat minuman dan juga minuman apa yang harus dibuat pada hari-hari dan waktu tertentu, sehingga setelah melihat daftar itu, Sania pun dengan cepat membuat minuman yang tertera di daftar sebelum dia pergi ke lantai 4.


Begitu tiba di lantai 4, Sania langsung memperhatikan lantai 4 dengan sangat seksama Sebab Dia memang belum memiliki denah dan informasi apapun tentang rumah keluarga Akasia karena keluarga Akasia adalah keluarga yang sangat tertutup sebab memiliki banyak mutu yang mengincar mereka.


Sesuai dengan perintah kepala pelayan, maka Sania berjalan pergi menuju bangunan yang terletak di bagian luar lantai 4 yaitu sebuah bangunan kecil yang fungsinya belum diketahui oleh Sania.


Begitu tiba di bangunan tersebut, Sania pun mengetuk pintunya dan dibukakan oleh seorang pria yang terkejut melihat Sania.


"Aku Sania, istri George," ucap Sania membuat semua orang menatap Sania karena mereka belum pernah melihat Sania dan hanya mendengar cerita perempuan itu lewat kabar yang beredar dari mulut ke mulut.


Saat mereka melihat Sania, Mereka pun terkejut mendapati perempuan itu ternyata memiliki wajah yang cantik meski terlihat lugu.


Oleh sebab itu, seorang pria kemudian memuji Sania, "kau begitu cantik, tuan besar Akasia sangat pandai memilih seorang menantu," ucap sang pria dengan tatapan yang terpesona dengan kecantikan Sania.


Ucapan pria tersebut membuat Sania malu-malu sambil tertunduk menata minuman dan cemilan yang ia bawa di atas meja yang tersedia di sana.

__ADS_1


Tetapi meski dia berada dalam aktingnya keemasan Ia pun memperhatikan tempat itu dan dia sekarang tahu bahwa tempat kontrol seluruh fasilitas keamanan di rumah tersebut berada di ruangan itu.


Sikap Sania yang begitu malu-malu membuat semua orang yang ada di sana tidak curiga apapun pada perempuan itu, Bahkan mereka malah menyukai Sania yang terlihat begitu polos.


"Apakah kalian membutuhkan hal lain?" Tanya Sania membuat semua pria yang ada di sana menganggukan kepala mereka, Sebab mereka ingin Sania lama-lama berada di sana untuk mencuci mata menatap gadis cantik yang polos.


"Aku ingin minum soda."


"Sedikit bir juga bagus untuk kami."


"Tolong juga bawakan beberapa cemilan tambahan."


Satu persatu pria yang ada di sana mengatakan keinginan mereka hingga membuat Sania tersenyum polos sambil menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mendapatkannya untuk kalian," kata Sania membuat para pria di sana menganggukkan kepala mereka hingga saatnya pun pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil tersenyum mengejek dalam hati.


'Aku jelas tahu apa yang mereka inginkan, tetapi itu malah bagus untukku, aku bisa memanfaatkan kelengahan mereka!!' ucap Sania dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2