
Ali membonceng Nada ke kampus dengan menggunakan motor sport miliknya. Pintu kampus belum di tutup karena ada mahasiswa yang masih kuliah malam di sana.
Mereka baru saja memarkirkan motornya, Ali membantu Nada untuk melepaskan helm yang dia pakai. Nada menatap wajah Ali dengan pandangan khawatirnya. “Li, kamu yakin mau panjat itu? Kamu kan punya trauma.”
Ali hanya tersenyum dan menggandeng tangan Nada menuju lapangan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di lapangan, lokasinya berada di sebelah barat kampus.
Nada terlihat sedikit khawatir dengan keadaan Ali, dia menanyakan pertanyaan yang sudah tanpa sadar beberapa kali dia tanyakan kepada Ali. “Kamu serius mau panjat tebing demi aku?”
Tersirat raut wajah Ali yang sedikit memancarkan keraguan, namun dia harus membuktikan jika dia tidak main-main dengan perasaannya kepada Nada. Terlihat teman-teman Ali yang habis basket berjalan menghampiri mereka.
Kenzo datang menepuk lengan Ali, “Lu ngapain bro? Tumben malem-malem masih di sini? Anak-anak sudah kelar maen basketnya sih.”
“Hey, lu Ken. Ini gw lagi mau buktiin cinta gw ke Nada.”
“Buktiin cinta apaan sih? Ada-ada aja lu Li.” Tanya Rezky penasaran.
Ali melirik Nada, “Dia udah tau semua. Dia gak sengaja waktu itu denger pembicaraan kita soal taruhan. Dan gw mau buktiin kalau gw bener-bener cinta sama dia.”
Bisma berbisik kepada Rezky, “Waduh, gw jadi gak enak nih sama mereka berdua. Pasti gara-gara kita mereka berantem deh.”
“Iya. Gw juga gak enak nih, Bis. Pasti karena si Nada marah, si Ali mau buktiin cintanya itu.”
Kenzo menganggukan kepalanya, “Lu mau buktiin cinta gimana? Butuh bantuan gw?”
Ali menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. “Gak usah bro. Doain gw aja, supaya gw mampu membuktikannya dan supaya cewek di samping gw ini mau maafin gw.”
__ADS_1
Di sana terlihat beberapa anak yang sedang main panjat tebing. Ali meminta petugas untuk memasangkan tali pengikat dan minta diajarkan cara memanjat seperti apa.
“Lu mau panjat tebit beginian Li? Emang lu mampu?” tanya Rezky dengan polosnya.
Bisma berusaha menghentikan pergerakan sahabatnya itu, “Li, lu seriusan mau panjat tebing? Bukannya lu itu takut ketinggian? Bukannya lu juga punya trauma, bro? Udahlah jangan macem-macem kayak gini.”
Ali memandang wajah Nada dengan senyuman kecil yang ada disana. Sejujurnya dia sangat takut, namun dia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk membuktikan cintanya. “Demi Nada gw akan melakukan apapun, supaya dia mau maafin gw dan percaya dengan ketulusan cinta gw.”
Kenzo menepuk lengan Ali, “Gw yakin lu bisa taklukkin ketakutan lu man. Lu pasti bisa.”
Beberapa saat berlalu peralatan pun telah siap dipasangkan. Ali telah siap untuk membuktikan cintanya kepada Nada. Nada terlihat cemas melepas kepergian Ali untuk panjat tebing.
Nada memegang tangan Ali, “Kamu beneran mau panjat tebing? Kalau kamu gak bisa mending jangan deh. Aku gak mau kamu kenapa-napa diatas sana.”
Ali membuka topi Snapback hitam miliknya, memakaikan ke kepala Nada. Ali kemudian mengusap pipi Nada yang terasa dingin karena dinginnya malam ini dan tersenyum kecil menatap matanya. “Kamu tenang aja ya. Aku gak bakal kenapa-napa kok. Percaya sama aku, ini semua aku lakuin demi kamu, demi cinta kita.”
Setelah itu Ali benar-benar bersiap untuk naik ke atas. Baru berapa langkah mendaki, kaki Ali mulai bergetar dan nafas Ali mulai sesak. Kejadian beberapa tahun lalu sesaat muncul di ingatannya.
Saat dia SMA kelas 1 pernah mengalami kecelakaan saat acara jejak petualang sekolah di hutan lindung, daerah puncak. Tubuhnya jatuh dari tebing menuju bibir jurang, keadaannya saat itu sangat memprihatinkan. Ali sempat koma beberapa hari dan mengalami patah tulang di kaki sebelah kanannya. Sejak saat itu Ali tidak berani menghadapi ketinggian.
Nada berteriak dari bawah, “Ali, kamu turun aja. Aku percaya akan cinta kita. Kamu gak usah maksain diri kamu sendiri.”
Ali tidak mendengarkan perkataan Nada. Dia tetap mencoba melangkahkan kakinya, tetapi kakinya serasa seperti membeku. Nafasnya pun semakin terasa sesak, akhirnya dia jatuh pingsan.
Semuanya berlari mendekat, melihat apa yang terjadi kepada Ali. Rezky, Kenzo dan Bisma membantu menggendong Ali. Mereka bersama menggunakan mobil Rezky pergi untuk membawa Ali ke Rumah Sakit terdekat. Ali masuk ke ruangan UGD, Dokter jaga memberikan pertolongan pertama, Nada tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
Teman-teman Ali berusaha menenangkan Nada. Mereka akhirnya menyadari bagaimana berharganya Nada untuk Ali dan betapa besarnya cinta mereka.
__ADS_1
“Lu tenang aja ya. Gw yakin Ali pasti bakal cepet siuman kok.” Ucap Bisma menenangkan hati Nada.
Rezky berusaha juga menghibur Nada, dengan pemikiran polosnya. “Iya, Ali itu orangnya kuat kok. Dia selalu menang kalau berantem. Jadi dia pasti bakal sadar.”
Bisma menyikut lengan Rizky , “Apaan sih lu.. Apa hubungannya pingsan sama berantem Ky? Lu kok gak jelas banget sih?”
“Ya elah.. Gw kan coba untuk hibur dia Bis.”
Kenzo datang membawakan coklat hangat untuk Nada, “Ini minum dulu. Biar lu agak tenangan. Gw yakin dia pasti akan segera sadar. Dia orang yang kuat. Dan dia akan kembali demi lu, demi cinta kalian.”
Kenzo duduk di samping Nada, sesekali matanya melirik gadis cantik yang masih menangis di sampingnya, “Sorot mata itu, kenapa ada seseorang yang memiliki sorot mata seperti dirinya? kenapa detak jantungku berdetak semakin cepat saat berada disampingnya? Dan kenapa hatiku ikut sedih melihat dia menangis seperti ini?”
Mereka terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Ali. Tak beberapa lama dokter jaga keluar dari ruangan UGD. “Keluarga pasien Ali..”
Bisma bangkit tempat duduknya, menghampiri dokter, “Kami teman-temannya dokter. Kami yang membawa pasien kesini.”
“Bagaimana keadaan pasien dokter? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Nada cemas.
“Keadaan pasien baik-baik saja. Hanya saja tekanan darahnya tidak normal. Pasien hanya berada pada titik terendah psikisnya, mungkin itu dikarenakan pasien pernah mengalami trauma sebelumnya.”
Kenzo mengangkat kacamatanya, “Apa itu dapat berdampak buruk terhadap kejiwaannya dokter?”
“Tidak gawat seperti itu. Kejiwaannya hanya sedikit syok karena dia mungkin mencoba melawan trauma yang pernah dialaminya. Jangan khawatir, beberapa jam dia akan sadar. Sementara pasien saya pindahkan ke ruang rawat, sebaiknya pasien tinggal di sini sampai besok. Agar kami dapat memastikan keadaannya.
“Baik dokter. Kami akan mengurus kepindahan pasien.” Ucap Kenzo mengucapkan terima kasih kepada dokter jaga.
“Saya kira itu dulu yang dapat saya sampaikan. Besok dokter akan memeriksa keadaan pasien. Saya tinggal dulu.”
__ADS_1
Dokter meninggalkan ruang UGD. Nada dan Kenzo masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan Ali sedangkan Rezky dan Bisma mengurus kepindahan Ali ke ruang rawat inap.