
Sudah beberapa hari Ali tidak dapat menghubungi Nada, dia benar-benar khawatir dengan keadaan wanita yang dia cintai kini. Beberapa kesempatan Ali telah berusaha menghubunginya, namun telepon Ali selalu tidak kunjung diterima Nada. Nada merasa masih sakit hati dengan kenyataan yang terasa pahit untuknya. Kejadian ini juga membuat Nada tidak fokus dengan pekerjaannya, pekerjaannya menjadi sedikit berantakan meskipun dia berusaha untuk menyingkirkan perasaannya.
Marsha, atasan dan juga sahabat Nada mencoba menegur Nada. Agar Nada memperbaiki kinerjanya untuk Tabloid mereka.
Marsha datang menghampiri Nada yang terlihat sedang melamun beberapa saat, “Nad, bukannya kemarin lu ada janjian wawancara artis Aliando Syarief ya? Manajemennya telepon ke kita buat protes, lu kok gak jadi dateng buat wawancara dia untuk tabloid kita? Padahal Aliando udah nyempetin waktunya buat kita.”
Nada menepuk keningnya, dia baru ingat jika dia memiliki janji dengan artis yang sedang naik daun itu. “Oiya Sorry, aku bener-bener lupa. Maaf banget ya.. Terus gimana dong sha?”
“Ya gw udah ucapin permohonan maaf mewakili kantor majalah kita. Gw juga udah minta Rini buat gantiin lu wawancara dia. Lu kenapa sih Nad, lagi ada masalah?”
Nada menggelengkan kepalanya, “Enggak kok. Semua baik-baik aja.”
Marsha menarik kursi, duduk di sebelah sahabatnya itu. “Lu ini kebiasaan ya, dari kemarin-kemarin lu bilang gakpapa, semua baik-baik aja. Tapi kenyataannya gak seperti itu Nada. Asal lu tau kerjaan lu seminggu ini kacau balau tau, gw selalu back up kerjaan lu. Kalau lu butuh temen buat share masalah lu, lu bisa cerita ke gw. Lu bukan malaikat yang bisa menyelesaikan masalah lu sendiri Nad, lu butuh manusia lain untuk kasih jalan keluar buat lu.”
“Iya Sha, maafin aku ya Sha.”
“Its Oke. Jangan salah mulu aja. Kalau ada masalah mending cepetan di selesain deh, jangan berlarut-larut itu dapat membuat kerjaan lu semakin berantakan.”
Nada memeluk Marsha, “Iya Marsha, makasih ya untuk pertolongannya selama ini.”
“Ya udah, gw balik kerja dulu. Jangan lupa artikel lu untuk bulan ini, jangan lupa di emaillin ke email kantor.”
“Iya, Marsha tenang aja. Kali ini Nada usahain gak bakal salah lagi.” ucap Nada dengan senyuman penyesalan terlihat dari wajahnya.
Marsha meninggalkan Nada kemudian dia menarik nafas panjangnya, terlihat kerutan di keningnya. Dia tidak percaya hanya karena Ali, pekerjaannya menjadi berantakan seminggu ini. Nada melihat bingkai foto dia dan Ali yang terpajang di meja kerjanya.
Nada diam sejenak, mengambil ponselnya dan memanggil Ali. “Halo.”
__ADS_1
“Hey, sayang. Akhirnya kamu hubungi aku. Kemarin-kemarin aku hubungi kamu terus, aku bener-bener minta maaf ya.”
“Aku mau ketemu. Di Café Bisma jam 7.” ucap Nada dengan singkat.
“Oke. Kamu mau aku jemput atau gimana?”
Nada menutup teleponnya tanpa menjawab pertanyaan Ali. Ali menghembuskan nafas panjangnya. “Dia pasti masih kesel sama gw. Gw memang pantes dia benci, gw udah keterlaluan sama dia. Kalau nanti dia mau tampar gw seratus kali, gw terima. Asalkan dia ga marah lagi sama gw.”
Jam telah menunjukan pukul 7.10 tetapi Nada tak kunjung datang. Ali memandang wallpaper handphonenya, terpasang foto ceria ala mereka disana. Ali terdiam memandang foto itu beberapa saat, dia sangat merindukan saat-saat mereka bersama.
5 menit kemudian terlihat Nada datang menghampiri Ali.
Seperti biasanya Ali menarik bangku untuk Nada duduk, “Kamu pasti capek ya? Kamu mau pesen apa?”
Nada memandang Ali dengan sinisnya, “Oh sekarang gini. Gak langsung di pesennin makanan seperti biasanya? Jadi aku harus nunggu lagi buat makan?”
Ali memandang Nada, dia bingung dengan sikap Nada. Dia berpikir ini respon positif atau respon negatif. “Sebentar maksud aku bukan seperti itu. Aku kira kamu masih marah sama aku. Kalau aku pesen makanan kesukaan kamu, nanti kamu makin marah ke aku.
Ali menundukan badannya, memandang Nada dengan tatapan bersalahnya. “Iya aku salah, maafin aku lagi ya. Kamu mau di pesennin makanan kesukaan kamu?”
“Kamu dari kemarin bisanya cuma minta maaf terus, aku udah capek dengernya. Gak usah deh, aku bisa pesen sendiri.” Ucap Nada ketus. Nada mengangkat tangannya, memanggil waiters.
Ali meraih tangan Nada, “Bentar. Biar aku yang pesennin.”
Ali memesan makanan favorit Nada, Nasi goreng dengan telur setengah matang dan es jeruk manis.
Makanan pun datang. Ali tersenyum kecil memperhatikan Nada yang sedang makan. Nada akhirnya menyadari Ali sedang memperhatikannya sedari tadi. Hatinya pun telah sedikit mencair, es yang selama ini membeku telah disinari matahari.
__ADS_1
“Kamu gak makan? Gak laper?” tanya Nada dengan suara yang mulai melunak.
Sebenarnya di hati kecil Nada, dia masih mencintai Ali. Dia telah memaafkan Ali tetapi Nada ingin mengetahui berapa besarnya cinta Ali kepada dirinya.
Ali tersenyum senang, Nada terlihat perhatian kepada dirinya, “Aku tadi sudah makan di kampus. Lagipula ngeliat kamu makan sudah buat aku kenyang kok.”
Nada menghentikan makannya, “Maksud kamu apa? Kamu mau bilang kalau aku ini rakus, jadi kamu kenyang liat aku makan?”
Ali sontak terdiam mendengar ucapan Nada, dia merasa telah salah berbicara. “Bukan gitu sayang. Au sama sekali gak bermaksud untuk ngomong seperti itu. Hanya aja aku merasa senang kalau kamu senang.”
“Maksud kamu itu apa sih? Kamu itu ahir-akhir ini sukanya buat aku kesel, salah paham terus sama kamu. Aku capek gini terus.” ucap Nada dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan rasa kesalnya yang tiba-tiba merasuk kembali ke dalam hatinya.
Ali tersenyum kecil, memegang tangan kanan Nada, “Aku tahu kamu masih marah sama aku. Kalau aku jadi kamu, aku pun akan marah. Tapi aku cuma bisa minta maaf. Aku tahu permintaan maaf aku gak akan pernah ngobatin luka di hati kamu yang telah aku buat. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku bener-bener sudah jatuh cinta sama kamu. Apapun akan aku lakuin agar kamu mau maafin aku dan menerima aku kembali.”
“Sekarang taruhannya apa lagi? Aku gak akan ketipu sama kamu lagi.”
Ali menggenggam kedua tangan Nada, “Kali ini aku serius Nada. Gak ada taruhan apapun yang aku buat. Aku bener-bener ingin sama kamu. Melewati hari sama kamu itu terasa indah bahkan aku gak merasakan susahnya hidup ini, saat aku sama kamu. Nada sayang, tolong kembali ke aku ya.”
“Aku gak tau apakah aku harus percaya sama kamu atau enggak. Jujur aku juga gak bisa hidup tanpa kamu tapi aku gak mau ketipu lagi.”
Ali tersenyum senang, “Gini deh, kamu mau aku buktiin apa, supaya kamu percaya kalau aku bener-bener sayang kamu, aku gak mainin kamu.”
“Oke kalau itu mau kamu. Kita ke kampus kamu sekarang dan aku mau liat kamu panjat tebing. Sampai di paling atas dan kamu harus teriak kalau kamu sayang aku.”
Ali diam sejenak, mengerutkan keningnya.
“Kalau kamu gak bisa dan gak mampu kan.. Ya udah gak apa-apa, aku rasa hubungan kita memang harus berakhir disini. Aku yakin kamu gak bisa menyingkirkan trauma kamu demi aku.”
__ADS_1
Ali menggandeng tangan Nada, “Aku bisa, demi kamu aku akan lakuin semuanya. Ayo sekarang kita ke sana.”
Nada memandang wajah Ali dalam diam, terlihat tidak ada keraguan disana. Meskipun Ali memang trauma dengan ketinggian namun semuanya sirna jika itu menjadi syarat agar Nada dapat memaafkan dirinya dan menerima dirinya kembali. Ali akan mengusahakan apapun juga agar dia dapat membalikan semua keadaan ini.