
Nada tersenyum memandang wajah kekasihnya, “Hai sayang, tumben malem-malem kamu dateng kesini? Ada perlu apa?”
“Emang kalau aku dateng kesini harus ada alesannya ya?”
Nada memandang Ali dengan penuh tanya, “Ya bukan gitu juga sih. Tapi kan gak biasanya kamu seperti ini, dateng ke rumah aku malem-malem. Kamu lagi marahan sama papa dan mama kamu? Ribut kenapa lagi emangnya?”
“Enggak kok. Semuanya baik-baik aja.”
Nada tersenyum seperti tau jika Ali seang berbohong kepadanya, “Aliansyah Syakieb, kamu ini gak bakat buat bohongin aku. Aku tau kalau kamu pasti lagi ada masalah kan sama mereka.”
Ali mendekatkan wajahnya menghampiri wajah Nada, “Iya deh aku gak bisa bohong lagi ke kamu. Itu semua karena kamu.”
Raut wajah Nada berubah menjadi serius, “Karena aku?? Kok bisa karena aku? Emang aku buat salah apa sama papa dan mama kamu?”
“Kamu gak buat salah apapun kok ke mereka. Mereka yang salah. Mereka nge-judge kamu seenak mereka sendiri.”
“Mereka gak setuju sama hubungan kita ya?”
Ali kaget mendengarnya, “Kamu tau darimana?”
Nada tersenyum kecil, “Udah ketebak dari raut wajah kamu. Wajarlah mereka gak setuju dengan hubungan kita, kita kan pasangan unik. Beda daripada yang lain. Menurut kamu gimana?”
“Apa maksud kamu menurutku gimana?”
“Ya aku pengen denger dari versinya kamu, gimana ini? Mau diterusin atau cukup sampai disini.”
Ali memegang tangan Nada, “Hei sayang, kamu kok bisa ngomong kayak gini dengan santai sih?”
“Ali ini bukan pertama kalinya aku di titik seperti ini. Sebelumnya sama Mico juga kayak gini kan. Setelah aku tau sebenarnya kamu adalah anak orang kaya, di saat itu aku sudah berusaha menyiapkan mentalku lagi untuk kondisi seperti ini.”
“Sayang, kamu seharusnya tau apa jawaban aku. Aku gak akan pernah mau ninggalin kamu, aku pengen kamu jadi yang terakhir buat aku.”
“Apa kamu sudah pikir panjang?”
Ali menggaruk kepala yang tidak gatal, “Kalian ini kenapa sih? Kenapa semuanya tanya apa aku sudah pikir panjang. Apa kamu juga berpikir kalau aku gak memikirkan semuanya?”
“Bukan seperti itu. Tapi coba kita pikirin bareng-bareng, perbedaan yang mencolok umur. Aku ini sudah 27 tahun Li, kamu masih 20 tahun. Masa depan kamu itu masih jauh, kamu bisa bertemu dengan banyak cewek yang jauh lebih baik dari aku yang seumuran sama kamu.”
“Umur itu cuma angka sayang.. Aku gak pernah mempersoalkan itu. Yang aku tau cuma kamu yang bisa buat aku nyaman, buat aku menjadi manusia yang berguna dan lebih baik lagi. Menurut kamu dengan semuanya itu atas dasar apa aku bisa memilih yang lain?”
Ali tersenyum tipis, “Kita ini pasangan yang unik dan pasangan yang tidak bisa terpisahkan. Pokoknya kita dapat mengerti dan memahami satu dengan yang lainnya, itu sudah lebih dari cukup buat aku. Jadi santai aja ya.”
__ADS_1
Nada tersenyum kemudian memandang wajah Ali, “Ya udah kalau kamu memang berpikir seperti itu, aku akan tetap disini buat kamu.”
“Makasih ya sayangnya aku. Tapi sayang kamu kok santai gitu sih dengar cerita ini?”
“Karena aku percaya kalau kamu gak akan pernah tinggalin aku. Aku percaya akan cinta kita, cinta yang mampu membuat kita menjadi bahagia. Emang aku bisa meminta sesuatu yang lebih?”
Ali meletakan kedua tangannya di pipi cubby Nada, “Cie.. Kamu belajar gombal dari mana? Kok jago gitu sih?”
“Aku gak gombal kok, aku bicara yang sejujur-jujurnya dari dalam hati aku.”
Ali semakin menggoda pacarnya, “Sebentar deh, kayaknya ini bukan pacar aku deh. Ini malaikat dari langit yang diberikan Tuhan buat aku. Malaikat cantik, katakanlah dimana pacar aku?”
Nada tersenyum tersipu malu, “Apaan sih kamu Ali… Seneng ya bisa nge-bully aku lagi..”
“Kamu ini habis pulang gereja, pikirannya jadi dewasa gini sih? Jadi makin sayang tau gak aku sama kamu.” ucap Ali mencubit pipi kanan Nada dengan perlahan.
Nada mengambil tangan Ali yang masih ada di pipinya, menggenggam tangan itu dengan erat. “Makanya semua itu jangan di tanggapi pakai emosi aja. Kamu harus belajar buat lebih kendaliin emosi di dalam hati kamu. Kalau kamu lagi kesel atau emosi atau galau, pergi sholat aja. Nanti pasti setelah sholat kamu jadi lebih tenang.”
Ali menggelengkan kepalanya, “Gila.. Pacar aku ini udah cantik, baik, dewasa, perhatian, selalu ngingetin aku buat sholat lagi. Sungguh beruntungnya diriku ya Allah memiliki seorang kekasih seperti dia.”
“Ah… Ali jangan puji aku terus dong. Nanti kepalaku makin besar lho, helmnya nanti gak cukup..”
“Kamu tahu gak kenapa aku bisa berbicara sesantai ini?”
“Kenapa? Apa karena Mico?
Nada tersenyum kecil, “Iya... Waktu itu aku pernah berada di posisi ini, saat aku masih berhubungan dengan Mico kakak sepupu Bisma. Dan aku telah merelakan untuk melepaskan kebahagiaanku demi kebahagiaan Mico, menurut kehendak orangtuanya. Kali ini aku akan memperjuangkan cintaku dan menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Jika aku adalah tulang rusukmu, aku akan kembali kepadamu.”
Ali memeluk Nada, “Aku yakin kamu adalah tulang rusuk yang selama ini aku cari. Aku akan berusaha selalu membuatmu selalu bahagia, aku juga akan berjuang untuk cinta kita.”
Beberapa jam Ali mengobrol di rumah Nada. Dia menceritakan segala hal yang terjadi hari ini kepada Nada. Mulai dari pertengkarannya dengan mama dan papanya sampai obrolan seru yang terjadi antara dirinya dan papa Nada. Nada tersenyum mendengarkan semuanya itu, tidak ada dendam, sakit hati maupun rasa kecewa yang tersirat dari wajah Nada.
Tak terasa jam telah menunjukan pukul 10 malam. Malampun telah larut, bintang dan bulan telah bersinar menyinari indahnya malam
“Sayang, mendingan kamu pulang deh. Udah jam 10 nih, bukannya aku ngusir atau gimana. Tapi kasian orang tua kamu, pasti mereka khawatir kamu dimana.”
Ali melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya, “Cepet banget sih waktu ini berlalu. Perasaan aku baru aja ketemu kamu.”
“Apaan sih Ali, mulai deh kumat gombalnya.”
“Aku sama sekali gak pernah gombal kok sama kamu. Aku selalu ngomong yang sesungguhnya ke kamu. Aku kan udah pensiun dari perkumpulan klub playboy kelas kakap, jadi udah dilarang ngegombal. Kalau ketahuan ngegombal, aku bisa-bisa kena somasi lagi.”
__ADS_1
Nada tersenyum geli, “Masa sih udah pensiun? Serius? Demi apa?”
“Demi cinta kita.” ucap Ali dengan senyum yang tak tertahankan.
Nada tertawa terbahak-bahak, “Geli banget sih jawabannya.”
Ali menatap Nada lekat-lekat, “Kalau kamu gak percaya tatap mata aku. Di sana hanya ada satu orang.. Yaitu kamu.”
“Ya iyalah, sekarang kan kamu lagi liat aku. Kalau kamu lagi sama yang lainnya, berarti ada cewek lain dong di mata kamu.”
“Cemburu nih ceritanya?”
“Enggaklah, aku kan bukan tukang cemburu kaya kamu. Kamu tuh yang harus kurang-kurangin cemburu kamu, waktu itu kan kamu cemburu sama temen kantor aku.”
“Siapa? Michael? Dia masih deketin kamu?”
“Tuh kan…. Aku sama Michael gak ada apa-apa sayangku…”
“Oke aku percaya sama kamu. Kalau aku sih, sampai selamanya hanya ada kamu di dalam mata, hati dan otakku.” Goda Ali kembali.
“Udah Ah.. Nanti malam aku bakal gak bisa bobok nih kalau di gomballin kamu mulu.”
Ali membelai rambut Nada, “Biar biar nanti malam kamu mimpiin aku aja, kamu gak boleh mimpiin yang lainnya.”
Nada tersenyum mendengar ucapan Ali. “Sekarang kamu pulang, udah malam. Besok kan bisa ketemuan lagi. Dan pesen aku, kamu jangan benci atau kesel sama mereka. Kita sebagai anak harus buktiin kalau kita ini bener-bener saling mencintai, bukan karena harta atau apapun itu. Aku percaya suatu saat mereka akan mengerti dan memahami besarnya cinta kita berdua.”
“Itu yang menjadi harapan dan doaku. Aku berharap Tuhan akan memberikan kekuatan untuk kita, supaya kita dapat melewati setiap ujian dengan kesabaran dan keikhlasan.”
Nada mengantarkan Ali sampai ke pintu gerbang, “Aku pulang ya. Makasih untuk malam ini. Kamu udah buat aku jadi lebih tenang.”
“Iya sama-sama sayangku. Aku seneng kalau bisa membantu kamu walaupun sedikit.”
Ali mengerutkan keningnya, “Siapa bilang kamu hanya membantu aku hanya sedikit? Ini bukan sedikit lho sayang, ini sesuatu pengorbanan yang besar yang kamu berikan buat aku. Kamu selalu ingetin aku, nasehatin aku kalau aku salah. Aku gak tau deh kalau aku tanpa kamu gimana. Bisa jadi butiran kapas aku.”
Nada menarik hidung Ali, “Udah ya ngegombalnya sayang, nanti aku bener-bener gak bisa tidur lho. Sekarang Ali pacar kesayangan aku pulang ya, orang tua kamu pasti udah nunggu di rumah.”
Ali naik ke atas sepeda motornya, “Ya udah aku pulang dulu ya. Aku harap kamu gak akan pernah berubah ya sayang.”
“Iya, aku harap kamu juga gak berubah ya. Selalu sayang dan cinta aku. Dan ingat janji putih kita.”
Ali mengendarai motornya. Nada melihat Ali dari belakang hingga bayangannya hilang tertutup gelapnya malam. Nada masuk ke dalam rumah dengan senyuman mengembang di bibirnya. Om Achin melihat Nada dan Ali dari balik jendela, keningnya terlihat berkerut. Entah apa yang sedang dipikirkan pria 50 tahun itu.
__ADS_1