
Pagi ini matahari bersinar dengan cerahnya, kicauan burung menambah syahdunya cerahnya pagi ini. Jam baru menunjukan pukul 8 pagi, Ali terlihat telah rapi. Ali berdiri melihat pigura foto yang berada di meja dekat televisi kamarnya. Dia tersenyum sendiri melihat fotonya bersama sang kekasih tercinta. Tanpa terasa sudah banyak kenangan yang telah mereka torehkan bersama diatas kanvas putih dengan dasar ketulusan dan kasih didalam hubungan mereka.
Ali mengusap wajah Nada dari balik pigura, “Sayang, hari ini kita harus berusaha untuk membuat papa dan mama aku percaya dengan kekuatan dan ketulusan cinta yang kita punya. Aku harap kamu sanggup melewati keadaan semua keadaan ini bersama dengan aku ya, sayang.”
Ali meletakan foto mereka, pergi mengambil kunci motornya dan berlalu keluar rumah dengan wajah yang bersinar. Hari ini Ali berencana untuk mengajak Nada memasak makanan untuk orang tuanya dan menghabiskan waktu seharian bersama dia dan keluarga Syakieb juga tentunya.
Ali berharap dengan cara ini semoga mama dan papanya dapat mengenal Nada lebih baik lagi dan dapat memberikan restu untuk mereka berdua. Semua itu karena setelah lulus kuliah tahun depan, Ali berencana untuk melamar dan menikahi Nada.
Namun pada awalnya Nada merasa kurang setuju dengan saran Ali karena Nada merasa itu adalah tindakan yang terburu-buru, tetapi Ali tetap berusaha menyakinkan Nada. Dan Nada pada akhirnya menyerahkan semua keputusannya kepada Ali, Nada percaya Ali akan memberikan segala yang terbaik untuk hubungan mereka.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ali sudah sampai di rumah Nada. Di sana Nada telah menunggu di teras rumah. Hatinya masih bingung dan khawatir dengan keadaannya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum. Dia tidak ingin membuat semuanya khawatir dengan keadaan kesehatannya saat ini, setidaknya hal ini yang dapat dia lakukan untuk membuat semuanya tetap bahagia.
Nada dengan senyuman yang selalu berada di wajahnya datang menghampiri Ali yang terlihat baru sampai di depan rumah.
Ali membuka topi yang dipakainya, dengan senyuman cerah yang menggoda miliknya. “Permisi kakak. Betul ini rumah kekasih Aliansyah Syakieb? Saya mendapatkan tugas untuk membawa Nonna Nada ke kediaman keluarga Syakieb pagi ini.”
Nada tersenyum geli mendengar lelucon yang dibuat Ali, dia menahan tawanya. “Apaan sih kamu. Masih ada waktu buat bercanda ya? Kamu tau gak, Aku itu nervous banget nih.”
Ali membuka pagar rumah Nada, masuk kesana memegang kedua tangannya. Dia terlihat berusaha mencoba menyakinkan Nada, “Semua akan baik-baik aja kok sayang. Percaya deh sama aku, aku jamin kita akan pulang dengan kemenangan di tangan kita Mama dan papa aku juga gak akan mungkin memojokan kamu di depan aku. Kalau mereka berani berbuat seperti itu, aku akan keluar dari rumah itu.”
Nada tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia juga tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan ini. Nada berbisik di dalam hatinya sendiri, “Apakah aku masih pantas mendapatkan kebahagiaan ini bersama dirinya, Tuhan? Apakah aku hanya dapat membuat orang-orang yang menyayangiku ikut terluka bersamaku? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?”
Ali menggoyangkan tangan Nada, berusaha menyadarkannya dari lamunan. “Sayang, kamu kenapa? Kamu masih gak enak badan?”
Nada tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik aja kok. Cuma kamu tolong sedikit lebih tenang ya.. Jangan apa-apa selalu diputusin pakai emosi gitu. Aku sama sekali gak suka kamu yang seperti ini..”
Ali mengusap pipi Nada dengan lembut, “Iya sayang aku tau itu.. AKu paham.. AKu sangat-sangat paham. Tapi kalau mereka sampai akhirnya gak merestui hubungan kita, aku rasa gak ada jalan keluar selain aku pergi dari mereka.”
“Kalau kamu melakukan hal seperti itu, aku juga salah dong. Aku gak pengen kalian berantem dan saling jauh karena aku. Karena bagaimanapun mereka adalah orang tua kamu, kamu harus tetap hormat sama mereka ya.. Aku yakin semuanya pasti bakal bisa dibicarakan kok.”
“Iya aku percaya. Kita sudah berjalan sampai di titik ini dengan keadaan yang cukup baik, aku percaya kedepannya kita juga mampu menjalani semuanya dengan semakin baik. Tapi kamu ini beneran baik-baik aja kan? Muka kamu pucet soalnya..”
“Aku memang putih kali.. Pucet dari mana coba..”
__ADS_1
Ali tersenyum mendengar ucapan Nada, mencubit pipi Nada perlahan. “Iya iya yang keturunan China udah canti, putih, sipit lagi. Eh sayang, aku gak sabar lho kalau nanti kita menikah itu gimana.”
Nada memandang wajah Ali dengan tatapan sendunya, “Gimana apanya? Ya nikah mah nikah aja atuh..”
“Bukan gitu. Maksud au nanti anak kita mirip siapa? Mirip kamu atau mirip aku. Kalau cewek aku harap mirip kamu aja biar cantik seperti kamu, kalau cowok nantinya boleh tuh mirip aku aja..”
Nada berusaha tersenyum dalam diamnya, “Anak? Apakah aku dapat seberuntung itu dapat melalui beberapa waktu kedepan dengan baik? Kasian Ali, dia pasti sudah memiliki harapannya sendiri. Andai saja penyakit ini gak dapat begitu saja, aku pasti juga akan bahagia dengan harapan itu.. ”
“Sayang.. Kamu kok diem aja sih? Jangan bilang kamu belum mikir kalau kita nikah bakal gimana?” tanya Ali dengan mata yang tajam.
“Nanti kita bicarain lagi ya.. Ini aku cuma tegang aja mau maen ke rumah calon mertua.”
“Calon mertua ya?”
“Emang ada yang salah dari kata-kataku?”
Ali menggoda Nada, “Enggak salah sih. Berarti kamu juga udah bayangin dong gimana kalau jadi calon istri aku ya... Calon istri Aliansyah Syakieb. Ea…”
“Ah.. Ali… Udah ah.. Ayo kita jalan, keburu siang...
“Udah dong, nanti makin siang lho. Kan kita mau buat makan siang buat papa dan mama kamu. Ayo jalan.”
“Siap kakak. Ayo naik.”
Nada naik ke atas motor dan mereka pergi ke rumah Ali. Nada memeluk Ali dengan erat, serasa dia tidak mampu menyimpan kenyataan pahit ini seorang diri. Ketakutan di dalam hatinya bukan karena kematian, tetapi dia sangat takut membuat orang yang dia sayangi terluka karena kepergiannya. Tanpa sadar air matanya keluar begitu saja, tak kuasa dia tahan. “Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Apakah aku harus menghilang sementara waktu dari semuanya?”
Papa Ali terlihat sedang membaca Koran di ruang keluarga, mama datang menghampiri papa.
“Pa, kemarin Ali bilang ke mama. Katanya hari ini dia mau ngajak Nada main ke sini. Katanya dia mau membuat kita mengenal Nada lebih dekat.”
Papa terlihat ogah-ogahan menanggapi ucapan mama, “Biarinlah ma, terserah dia aja mau ngelakuin apa. Nanti pada saatnya juga dia bakal sadar sendiri kalau dia salah memilih pasangan. Anak bandel seperti dia itu susah kalau dibilangin, biar kepentok sendiri baru bisa sadar sendiri.”
“Tapi mama sebenarnya juga kasian sama Nadanya pa. Kalau Ali ninggalin dia saat Nada sudah cinta banget sama Ali gimana ya pa.. Mama kan juga perempuan pa, mama gak mau liat anak orang tersakiti seperti itu juga.”
__ADS_1
Papa meletakan korannya yang dibacanya sejenak, “Sebentar deh ma. Mama itu sebenarnya berpihak kepada siapa sih? Anak mama itu Ali bukan Nada, jadi mama gak usah berpikir bagaimana perasaan Nada.”
“Bukan seperti itu pa. Sekali lagi mama ingetin, mama kan juga wanita pa. Mama bisa melihat seberapa dalamnya perasaan Nada kepada Ali dari sorot matanya. Nada sebenarnya orang yang baik pa, mama sebenernya suka sama karakter nada dan kelembutan hati dia.”
“Udahlah ma, gak usah dipikirin hal itu. Semua itu gak penting menurut papa. Sekarang yang paling penting, kita harus bersikap baik ke Nada. Supaya Ali gak marah ke kita, kalau dia marah bisa ninggalin rumah ini lagi tuh anak bandel. Lagipula Ali kan masih kecil, paling enggak 4 tahun lagi baru marriedlah. Jadi cepat atau lambat kita pasti bisa memisahkan mereka berdua.”
“Iya sih ya pa. Semoga semuanya akan sesuai dengan keinginan kita ya pa.”
Beberapa menit kemudian Nada dan Ali sampai di kediaman keluarga Syakieb yang besar itu. Ali menggandeng jemari Nada, membawa putri cantiknya masuk ke dalam. Dengan senyuman Nada menyapa mama dan papa Ali, yang telah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga. Merekapun berlaku baik, seakan-akan mereka tidak ada perasaan tidak suka terhadap Nada.
Ali dan Nada masuk ke dalam dapur, hari ini mereka ingin membuat menu makan siang nasi goreng, ikan kerapu masak kecap asin dan ayam bakar bumbu rujak untuk menu makan siang mereka bersama
Mama memperhatikan mereka dari jauh. Terlihat pancaran cinta dalam sinar mata kedua anak manusia itu. Di dalam hati kecil mama, mama tidak tega memisahkan mereka berdua. Namun karena semua perbedaan yang ada, mama rasa ini jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Karena menurut mama, terkadang cinta itu tidak harus memiliki, jika cinta itu pada akhirnya dilaksanakan. Hanya akan meninggalkan luka dan rasa sakit untuk banyak orang.
Mama berjalan mendekati mereka yang sedang memasak bersama.
Mama menepuk punggung Ali, “Ali, kamu kan cowok. Mending kamu tunggu di ruang keluarga. Biar mama yang bantuin Nada bikin makan siangnya.”
Ali memandang Nada, menatap mama kemudian dengan senyumannya. “Gak usah ma. Biar Ali aja yang ngebantuin Nada. Mama tunggu di ruang keluarga aja, mama biar temenin papa aja disana. Kita pasti akan masak enak kok ma.”
Mama tersenyum memandang Nada dan Ali yang saling berpandangan, “Kenapa? Kamu takut kalau mama akan berbuat jahat ke Nada ya? Emang kamu liat mama dapat berbuat setega itu kepada orang yang sangat dicintai anak mama?”
Ali tersenyum tipis, “Bukan seperti itu mamaku sayang. Ali Cuma gak pengen mama capek. Hari ini biar Chef Nada dan Chef Ali yang melayani mama dan papa.”
Nada berusaha membantu Ali untuk berbicara kepada mamanya, “Iya tante. Kita gak mau tante capek.”
Mama menepuk lengan Ali, “Udah, kamu tenang aja. Mama gak akan jahatin Nada. Mama cuma pengen ngobrol sebentar sebagai sesama wanita aja. Kamu gak keberatan kan Nada?”
Nada menganggukan kepalanya, berbisik ke telinga Ali. “Udah gakpapa. Mama kamu mau ngobrol aja sama aku.”
“Kamu serius mau aku tinggalin sama mama? Kalau mama aku nyudutin kamu gimana?” tanya Ali lirih.
“Gakpapa kok sayang. Kamu tenang aja ya.”
__ADS_1
Ali tersenyum, “Ma, titip Nada ya. Tolong Nada di bantu untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.”