Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Apa yang harus kulakukan??


__ADS_3

Pagi ini matahari  bersinar  dengan  cerahnya,  kicauan  burung  menambah  syahdunya  cerahnya  pagi  ini.  Jam  baru  menunjukan  pukul  8  pagi,  Ali  terlihat  telah  rapi.  Ali  berdiri  melihat  pigura foto  yang  berada  di  meja  dekat  televisi kamarnya.  Dia  tersenyum  sendiri  melihat  fotonya  bersama sang  kekasih  tercinta.  Tanpa terasa sudah banyak  kenangan  yang  telah  mereka  torehkan  bersama  diatas  kanvas  putih  dengan  dasar  ketulusan dan kasih didalam hubungan mereka.


Ali mengusap wajah Nada dari balik pigura, “Sayang,  hari  ini  kita  harus  berusaha  untuk  membuat  papa  dan  mama aku percaya  dengan kekuatan  dan  ketulusan  cinta yang kita punya. Aku  harap  kamu  sanggup  melewati  keadaan semua keadaan ini bersama dengan aku ya, sayang.”


Ali meletakan foto mereka, pergi mengambil  kunci  motornya  dan  berlalu  keluar  rumah dengan wajah yang bersinar. Hari ini Ali  berencana  untuk  mengajak Nada  memasak  makanan  untuk  orang  tuanya  dan  menghabiskan  waktu  seharian  bersama dia dan  keluarga  Syakieb juga tentunya.


Ali berharap dengan cara ini semoga mama dan papanya dapat mengenal Nada lebih baik lagi dan dapat memberikan restu untuk mereka berdua. Semua itu karena setelah lulus kuliah tahun depan, Ali berencana untuk melamar dan menikahi Nada.


Namun pada awalnya  Nada  merasa  kurang  setuju  dengan  saran  Ali  karena  Nada  merasa  itu  adalah  tindakan  yang  terburu-buru,  tetapi  Ali tetap berusaha  menyakinkan  Nada.  Dan  Nada pada akhirnya menyerahkan  semua  keputusannya  kepada  Ali,  Nada  percaya  Ali  akan  memberikan segala  yang  terbaik  untuk  hubungan  mereka.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ali  sudah  sampai  di  rumah  Nada.  Di  sana  Nada  telah  menunggu  di  teras  rumah. Hatinya masih bingung dan khawatir dengan keadaannya, tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum. Dia tidak ingin membuat semuanya khawatir dengan keadaan kesehatannya saat ini, setidaknya hal ini yang dapat dia lakukan untuk membuat semuanya tetap bahagia.


Nada dengan senyuman yang selalu berada di wajahnya datang menghampiri  Ali yang terlihat baru sampai di depan rumah.


Ali  membuka  topi  yang  dipakainya, dengan senyuman cerah yang menggoda miliknya.  “Permisi  kakak.  Betul  ini  rumah  kekasih  Aliansyah Syakieb?  Saya  mendapatkan  tugas  untuk  membawa  Nonna  Nada  ke  kediaman  keluarga  Syakieb pagi ini.”


Nada  tersenyum  geli  mendengar  lelucon  yang  dibuat  Ali, dia menahan tawanya. “Apaan  sih  kamu.  Masih  ada waktu  buat  bercanda  ya?  Kamu  tau  gak,   Aku  itu  nervous  banget  nih.”


Ali  membuka pagar rumah Nada, masuk kesana memegang kedua tangannya. Dia terlihat berusaha mencoba  menyakinkan  Nada,  “Semua  akan  baik-baik  aja  kok  sayang.  Percaya  deh  sama  aku, aku jamin kita akan pulang dengan kemenangan di tangan kita  Mama  dan  papa aku juga gak akan mungkin  memojokan  kamu  di  depan  aku.  Kalau  mereka berani  berbuat  seperti  itu,  aku  akan  keluar  dari  rumah  itu.”


Nada  tidak  tahu  apa  yang  harus  dia  lakukan,  dia  juga  tidak  tahu  bagaimana   kelanjutan  hubungan  ini.  Nada  berbisik  di  dalam  hatinya  sendiri,  “Apakah  aku  masih  pantas  mendapatkan  kebahagiaan ini bersama  dirinya, Tuhan?  Apakah  aku  hanya dapat  membuat  orang-orang  yang  menyayangiku  ikut  terluka  bersamaku? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?”


Ali  menggoyangkan  tangan  Nada,  berusaha  menyadarkannya  dari  lamunan.  “Sayang,  kamu  kenapa? Kamu masih gak enak badan?”


Nada tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya. “Aku  baik-baik aja kok.  Cuma  kamu tolong sedikit lebih tenang ya.. Jangan apa-apa  selalu  diputusin  pakai  emosi gitu. Aku sama sekali gak suka kamu yang seperti ini..”


Ali mengusap pipi Nada dengan lembut, “Iya sayang aku tau itu.. AKu paham.. AKu sangat-sangat paham. Tapi kalau mereka sampai akhirnya gak merestui hubungan kita, aku rasa gak ada jalan keluar selain aku pergi dari mereka.”


“Kalau kamu melakukan hal seperti itu, aku juga salah dong. Aku gak pengen kalian berantem dan saling jauh karena aku. Karena bagaimanapun mereka adalah orang tua kamu, kamu harus tetap hormat sama mereka ya.. Aku yakin semuanya  pasti  bakal  bisa  dibicarakan kok.”


“Iya aku percaya. Kita sudah berjalan sampai di titik ini dengan keadaan yang cukup baik, aku percaya kedepannya kita juga mampu menjalani semuanya dengan semakin baik. Tapi kamu ini beneran baik-baik aja kan? Muka kamu pucet soalnya..”


“Aku memang putih kali.. Pucet dari mana coba..”

__ADS_1


Ali tersenyum mendengar ucapan Nada, mencubit pipi Nada perlahan. “Iya iya yang keturunan China udah canti, putih, sipit lagi. Eh sayang, aku gak sabar lho kalau nanti kita menikah itu gimana.”


Nada memandang wajah Ali dengan tatapan sendunya, “Gimana apanya? Ya nikah mah nikah aja atuh..”


“Bukan gitu. Maksud au nanti anak kita mirip siapa? Mirip kamu atau mirip aku. Kalau cewek aku harap mirip kamu aja biar cantik seperti kamu, kalau cowok nantinya boleh tuh mirip aku aja..”


Nada berusaha tersenyum dalam diamnya, “Anak? Apakah aku dapat seberuntung itu dapat melalui beberapa waktu kedepan dengan baik? Kasian Ali, dia pasti sudah memiliki harapannya sendiri. Andai saja penyakit ini gak dapat begitu saja, aku pasti juga akan bahagia dengan harapan itu.. ”


“Sayang.. Kamu kok diem aja sih? Jangan bilang kamu belum mikir kalau kita nikah bakal gimana?” tanya Ali dengan mata yang tajam.


“Nanti kita bicarain lagi ya.. Ini aku cuma  tegang  aja  mau maen  ke  rumah  calon  mertua.”


“Calon  mertua  ya?”


“Emang  ada  yang  salah  dari  kata-kataku?”


Ali  menggoda  Nada,  “Enggak  salah  sih.  Berarti  kamu juga udah bayangin dong gimana kalau jadi calon  istri  aku  ya...  Calon  istri Aliansyah  Syakieb.  Ea…”


“Ah..  Ali… Udah ah.. Ayo kita jalan, keburu siang...


“Udah  dong,  nanti makin  siang  lho.  Kan  kita  mau  buat  makan  siang  buat  papa  dan  mama  kamu.  Ayo  jalan.”


“Siap  kakak.  Ayo  naik.”


Nada  naik  ke  atas  motor  dan  mereka  pergi  ke  rumah  Ali.  Nada  memeluk  Ali dengan erat,  serasa  dia  tidak  mampu  menyimpan  kenyataan  pahit  ini  seorang  diri.  Ketakutan  di  dalam  hatinya  bukan  karena  kematian,  tetapi  dia  sangat  takut  membuat  orang  yang  dia  sayangi  terluka  karena  kepergiannya. Tanpa sadar air matanya keluar begitu saja, tak kuasa dia tahan. “Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Apakah aku harus menghilang sementara waktu dari semuanya?”


Papa  Ali terlihat sedang  membaca  Koran  di  ruang  keluarga,  mama  datang  menghampiri  papa.


“Pa,  kemarin  Ali  bilang  ke  mama.  Katanya  hari  ini  dia  mau  ngajak  Nada  main  ke  sini. Katanya  dia  mau  membuat  kita  mengenal  Nada  lebih  dekat.”


Papa  terlihat  ogah-ogahan  menanggapi  ucapan  mama,  “Biarinlah  ma,  terserah  dia  aja  mau ngelakuin  apa.  Nanti  pada  saatnya  juga  dia  bakal  sadar  sendiri  kalau  dia  salah  memilih pasangan.  Anak  bandel  seperti  dia  itu  susah  kalau  dibilangin,  biar  kepentok  sendiri  baru  bisa  sadar sendiri.”


“Tapi  mama sebenarnya juga  kasian  sama  Nadanya  pa.  Kalau  Ali  ninggalin  dia  saat  Nada  sudah cinta  banget  sama  Ali  gimana ya pa.. Mama  kan  juga  perempuan  pa,  mama  gak  mau  liat  anak  orang  tersakiti  seperti  itu juga.”

__ADS_1


Papa  meletakan korannya  yang  dibacanya  sejenak,  “Sebentar  deh  ma.  Mama  itu sebenarnya  berpihak  kepada  siapa  sih?  Anak  mama  itu  Ali  bukan  Nada,  jadi  mama  gak usah  berpikir  bagaimana  perasaan  Nada.”


“Bukan  seperti  itu  pa.  Sekali  lagi  mama  ingetin,  mama  kan  juga  wanita  pa.  Mama  bisa melihat  seberapa  dalamnya  perasaan  Nada  kepada  Ali  dari  sorot  matanya. Nada sebenarnya orang yang baik pa, mama sebenernya suka sama karakter nada dan kelembutan hati dia.”


“Udahlah  ma,  gak  usah  dipikirin  hal  itu. Semua itu gak  penting  menurut  papa.  Sekarang  yang paling  penting,  kita  harus  bersikap  baik  ke  Nada.  Supaya  Ali  gak  marah  ke  kita,  kalau  dia marah  bisa  ninggalin  rumah  ini  lagi  tuh  anak  bandel.  Lagipula  Ali  kan  masih  kecil,  paling enggak 4 tahun  lagi  baru  marriedlah. Jadi cepat atau lambat kita pasti bisa memisahkan mereka berdua.”


“Iya  sih  ya  pa.  Semoga  semuanya  akan  sesuai  dengan  keinginan  kita  ya  pa.”


Beberapa menit kemudian Nada  dan  Ali  sampai  di  kediaman keluarga Syakieb yang besar itu.  Ali  menggandeng  jemari  Nada,  membawa  putri cantiknya  masuk  ke  dalam.  Dengan senyuman Nada  menyapa  mama  dan  papa  Ali,  yang  telah  menunggu  kedatangan  mereka  di  ruang  keluarga.  Merekapun  berlaku  baik,  seakan-akan  mereka  tidak ada  perasaan  tidak  suka  terhadap  Nada.


Ali  dan  Nada  masuk  ke  dalam  dapur,  hari  ini  mereka  ingin  membuat  menu  makan  siang nasi  goreng,  ikan  kerapu  masak  kecap  asin  dan  ayam  bakar  bumbu  rujak untuk menu makan siang mereka bersama


Mama  memperhatikan  mereka  dari  jauh.  Terlihat  pancaran  cinta  dalam  sinar  mata  kedua  anak  manusia  itu.  Di  dalam  hati  kecil  mama,  mama  tidak  tega  memisahkan  mereka berdua. Namun karena semua perbedaan yang ada, mama rasa ini jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Karena menurut mama, terkadang cinta itu tidak harus memiliki, jika cinta itu pada akhirnya dilaksanakan. Hanya akan meninggalkan luka dan rasa sakit untuk banyak orang.


Mama  berjalan  mendekati  mereka yang sedang memasak bersama.


Mama  menepuk  punggung  Ali,  “Ali,  kamu  kan  cowok.  Mending  kamu  tunggu  di  ruang keluarga.  Biar  mama  yang  bantuin  Nada  bikin  makan  siangnya.”


Ali  memandang  Nada, menatap mama kemudian dengan senyumannya. “Gak  usah  ma.  Biar  Ali  aja  yang  ngebantuin  Nada.  Mama  tunggu di  ruang  keluarga  aja,  mama  biar  temenin  papa  aja disana.  Kita  pasti  akan  masak  enak  kok ma.”


Mama  tersenyum  memandang  Nada  dan  Ali  yang  saling  berpandangan,  “Kenapa?  Kamu takut  kalau  mama  akan  berbuat  jahat  ke  Nada  ya?  Emang  kamu  liat  mama  dapat  berbuat  setega  itu  kepada  orang  yang  sangat  dicintai  anak  mama?”


Ali  tersenyum  tipis,  “Bukan  seperti  itu  mamaku  sayang.  Ali  Cuma  gak  pengen  mama capek.  Hari  ini  biar  Chef  Nada  dan  Chef  Ali  yang  melayani mama  dan  papa.”


Nada  berusaha  membantu  Ali  untuk  berbicara  kepada  mamanya,  “Iya  tante.  Kita  gak  mau  tante  capek.”


Mama  menepuk  lengan  Ali,  “Udah,  kamu  tenang  aja.  Mama  gak  akan  jahatin  Nada. Mama  cuma  pengen  ngobrol sebentar sebagai  sesama  wanita  aja.  Kamu  gak  keberatan  kan Nada?”


Nada  menganggukan  kepalanya,  berbisik  ke  telinga  Ali.  “Udah  gakpapa.  Mama  kamu  mau ngobrol  aja  sama  aku.”


“Kamu  serius  mau  aku  tinggalin  sama  mama?  Kalau  mama  aku  nyudutin  kamu  gimana?” tanya Ali lirih.


“Gakpapa  kok  sayang.  Kamu  tenang  aja  ya.”

__ADS_1


Ali  tersenyum,  “Ma,  titip  Nada  ya.  Tolong  Nada  di  bantu  untuk  menjadi  ibu  rumah tangga  yang  baik.”


__ADS_2