
Angin berhembus menghampiri hati yang penuh luka. Nada terlihat sangat sedih, wajahnya yang putih terlihat sembab. Dia tidak mampu merasakan kenyataan pahit yang telah ditorehkan Ali. Om Achin, ayah Nada menghampiri anaknya yang masih melamun di ruang tamu rumahnya.
Om Achin membelai rambut Nada dengan lembut, “Aling, Lu orang kenapa? Papa liat dari tadi lu orang melamun di sini, muka lu orang juga merah. Sebenarnya ada apa ini? Kalau lu orang ada masalah coba cerita ke papa.”
Nada menoleh, mencoba memberikan senyuman yang dapat diberikan untuk papanya. Menenggelamkan kepalanya dalam pelukan hangat papanya. “Aling baik-baik aja kok, pa. Papa gak usah khawatir sama Aling ya, Aling cuma kecapean aja kok pa. Beberapa hari ini di kantor banyak kerjaan soalnya pa..”
Papa mengangguk, tersenyum tipis, memeluk anaknya dengan penuh kasih. “Syukurlah kalau anak papa yang cantik ini tidak punya masalah. Setiap malam papa selalu berdoa buat lu orang, Semoga Tuhan selalu menyertai jalan hidup anak papa ini. Mungkin papa gak bisa memberikan kebahagiaan buat lu orang, tapi papa percaya dan yakin. Tuhan pasti bisa memberikan segala yang lu butuhkan.”
“Iya pa, Aling ngerti kok. Aling sudah bersyukur memiliki papa di hidup Aling.”
“Owe mau terima kasih Tuhan kasih lu jadi anak owe, Owe juga bersyukur punya Aling disini. Meskipun mama lu udah gak ada, tapi mama lu pasti bahagia juga di Surga.”
Nada tersenyum memandang wajah papanya yang mulai menua, dia menggenggam jemari papanya. “Aling juga mau terima kasih ke papa juga ya pa. Papa itu contoh lelaki terbaik yang pernah Aling miliki. Dari papa, Aling menemukan kebahagiaan dan cinta yang sejati. Aling bener-bener bangga memiliki papa seperti Papa Achin. Seorang lelaki yang rela mengorbankan segala sesuatu untuk anak dan istrinya.”
__ADS_1
Papa dan Nada saling berpelukan melepaskan semua rasa yang berakar dari dalam hati mereka masing-masing. Sesaat kemudian papa melepaskan pelukannya memandang Nada dengan tatapan sendu miliknya. “Ali bagaimana? Sudah beberapa hari papa gak liat dia main ke sini. Papa ingin main catur dengan dia.”
Nada terdiam sejenak. Dia tidak mampu harus berbohong di depan papanya tetapi disisi lain dia tidak mampu mengatakan persoalan yang sebenarnya kepada ayahnya.
“Apa lu orang berdua lagi bertengkar ya?” ucap papa penuh selidik.
“Tidak seperti itu pa. Kita hanya sedang selisih paham saja. Maklumlah pa, kita masih muda dan banyak mengandalkan ego diri sendiri.”
“Iya pa.”
“Papa bukannya tidak merestui hubungan kalian tapi menurut papa lebih baik lu orang dapetin cowok yang seumur dengan lu atau yang lebih tua dari lu orang. Resiko yang harus kalian hadapi begitu banyak, papa tidak sanggup memikirkannya Aling.”
Nada tersenyum tipis, “Kalau jodoh gak kemana pa, kalau jodoh juga apapun rintangan yang di depan Tuhan pasti kasih jalan keluar yang terbaik buat kita. Papa gak perlu cemas memikirkan soal hubungan Aling dan Ali pa, semua hanya harus dijalani tidak perlu dipikirkan. Karena kalau papa mikirin hal itu, papa akan pusing sendiri.”
__ADS_1
“Kamu yakin dengan keputusan kamu untuk memiliki hubungan dengan dia?”
“Aling gak pernah seyakin ini dalam membina suatu hubungan pa. Dulu dengan Mico mungkin Aling bisa mengalah dan merelakan melepas kebahagiaan yang Aling miliki tapi kali ini Aling gak mau melakukan hal yang sama pa. Apapun yang terjadi di depan, Aling akan usahakan yang terbaik. Tetapi untuk hasil akhirnya biar Tuhan yang menentukan semuanya pa.”
Papa tersenyum memandang anaknya yang sudah mulai dewasa, “Papa bangga sama lu orang. Anak papa ini ternyata sudah dewasa, bijaksana sekali dalam berpikir. Papa bener-bener bangga.” Ucap papa memeluk Nada.
“Makasih ya pa, papa selalu ada untuk Aling. Papa sudah bagaikan malaikat buat Aling, apalagi selepas mama dan titi meninggal. Cuma papa harta yang paling berharga yang Aling miliki.”
Papa membelai rambut anak yang sangat dia sayangi, “Papa cuma mau liat lu orang bahagia. Apapun keputusan yang lu orang ambil, papa akan selalu ada di belakang lu kasih semangat terus.”
“Iya pa, Aling tau itu. Makasih banyak papa.” ucap Nada memeluk papanya kembali dengan senyuman yang menggembang di bibirnya.
“Mungkin di satu waktu aku bingung dengan apa yang akan terjadi kedepannya bersama dengan Ali, namun entah kenapa aku yakin jika Ali dapat membuat aku bahagia. Semoga segala yang aku yakini ini akan menjadi kenyataan yang dapat membuat semuanya dapat menjadi bahagia.” ucap Nada menaruh harapan dalam hatinya.
__ADS_1