Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Aku akan selalu bersamamu


__ADS_3

Bisma melajukan mobilnya dengan mempercepat laju kendaraannya. Hingga mereka berdua sampai di parkiran basement apartemen. Bisma menepuk tangan Ali, berusaha membangunkan Ali dari lamunannya.


“Li, lu baik-baik aja kan?”


“Hmm.. Iya, gua baik-baik aja. Ini kita dimana?”


“Apartemen Kenzo yang di TA. Tadi Rezky telepon, dia bisa nelpon Kenzo. Katanya dia lagi nginep disini.”


“Ayo kita langsung kesana.” ucap Ali langsung keluar dari mobilnya.


Ali berlari kecil masuk ke dalam lobby apartemen, Bisma mengikuti dia dari belakang. Namun pintu masuk ke arah lift tidak dapat mereka buka, seorang security memandang mereka dari jauh.


Bisma melirik ke arah Ali, “Li, kartu aksesnya…”


Ali mengerutkan keningnya, “Gua lupa...Bentar, gua pikir bentar.. “


Ali menghampiri security untuk membantu mereka agar dapat sampai ke depan kamar apartemen Kenzo. Bapak security yang ada disana ternyata bersedia membantu membuka akses Ali.


“Lu ngomong apaan sama ini security Li?” bisik Bisma kepada Ali.


“Gua cuma ngomog apa adanya. Tapi gua ninggalin KTP SIM gua di bawah buat jaminan.”


“Silahkan sudah sampai di lantai 7. Kalau mas-masnya sudah selesai, bisa ambil KTP dan SIMnya di bawah ya..”


“Iya pak. Makasih sekali sudah dibantu ya.. “


“Iya mas.. Semoga pacarnya cepet sembuh ya..”


“Amin pak..”

__ADS_1


Ali dan Bisma berhenti di depan kamar 710, Kamar Kenzo. Ali meminta Bisma untuk mengetuk pintunya, dia bersembunyi di salah satu sudut ruangan.


Saat Bisma mengetuk pintunya, beberapa saat kemudian enzo membukakan pintu kamarnya. “Eh lu. Ngapain lu kok dateng ke sini?”


“Nada ada disini kan?”


“Iya, dia ada disini. Dia mau ikut gue besok lusa balik ke Korea, dia mau ketemu orang tua gue.”


Ali keluar dari tempat persembunyiannya, menerobos masuk ke kamar apartemen melewati Kenzo yang berusaha menahannya.


Bisma membantu menahan tubuh Kenzo, “Lu mau apa kesini Li? Gue rasa semuanya sudah jelas, Nada udah gak ada perasaan sama elu. Sebaiknya lu pergi dari sini.”


Ali tidak mengindahkan kata-kata Kenzo sedikitpun, dia segera masuk ke kamar mencoba mencari keberadaan Nada dan benar Nada sedang tidur di salah satu dari dua kamar yang ada disana. Terlihat dari kejauhan Nada terlihat sedang mengerutkan keningnya, memegang kepalanya seolah seperti sedang menahan rasa sakit yang sedang menderanya.


Ali dengan segera datang menghampiri Nada, membelai kepalanya. “Hei.. Sayang…”


“Sayang… Buka mata kamu sayang.. Aku ada disini buat kamu..” ucap Ali mencium kening Nada dengan air mata yang begitu saja jatuh dari matanya.


Nada perlahan berusaha membuka matanya, menahan rasa sakit yang sedang bersarang di sana. “Ali… Ini beneran kamu?”


“Iya ini aku sayang.. Aku dateng buat kamu.. Kita kembali ke Rumah sakit ya.. Aku sudah tau semuanya, Dokter James sudah cerita semuanya ke aku. Aku berharap kita bisa melalui semua bersama ya.. Please jangan tinggalin aku..”


Nada pun tak mampu menahan air mata yang selama ini dia tahan, jatuh mengalir begitu saja. “Tapi aku..”


Ali menutup mulut Nada dengan jari telunjuknya, “Percaya sama aku, semuanya akan baik-baik aja. Kamu akan segera sembuh dan kita akan bahagia bersama.”


Bisma dan Kenzo memandang mereka berdua dari luar kamar tanpa mampu berucap, mereka menunggu jawaban apa yang akan Nada berikan kepada Ali.


“Apa aku bisa sembuh Li? Lebih baik kamu tinggalin aku aja..”

__ADS_1


Ali memeluk tubuh lemah Nada, “Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Aku akan disini selalu cintai dan lindungi kamu. Meskipun kamu berusaha usir aku, aku gak akan pergi. Kalau kamu pergi ninggalin aku, aku akan cari kamu sampai ujung bumi. Jadi tolong jangan kemana-mana. Biarin aku temenin kamu buat melewati semuanya ya..”


Ali melepaskan pelukannya, membantu membasuh wajah Nada yang telah dipenuhi airmata. “Kita ke rumah sakit sekarang ya.. Dokter James bilang kamu harus dirawat intensif.”


Nada menganggukan kepalanya, “Tapi aku gak kuat jalan..”


Ali tersenyum kecil, “Tenang.. Kamu masih punya aku. Aku akan gendong kamu kemanapun kamu mau pergi.”


Ali melepaskan jaketnya, memakaikannya ke Nada. Kemudian menggendong tubuh Nada dengan senyuman menggembang di bibirnya. “Jangan pernah berpikir buat tinggalin aku, ngerti?”


Nada menganggukan kepalanya, menyembunyikan kepalanya dalam dekapan Ali. Mereka berjalan melalui Kenzo yang hanya dapat memandang kepergian Nada. Kenzo memandang mereka dalam diam, sebenarnya ada sedikit rasa sedih di hatinya saat Nada memutuskan kembali kepada Ali, karena dia merasa jika mungkin benar Nada dan Ali tidak berjodoh. 


Bisma mengikuti mereka dan mengambil semua jaminan yang diletakkan di meja resepsionis, kemudian berlari menyiapkan mobil untuk mereka kembali ke rumah sakit. 


Ali menemani Nada di bangku belakang, dia meletakkan tubuh lemah Nada dalam pangkuannya. Nada memandangi wajah Ali tanpa mengucapkan apapun.


Ali membelai wajah Nada dengan lembut, “Beristirahatlah.. Sebentar lagi kita akan segera sampai ke rumah sakit.”


“Tidurlah kesayanganku. Aku sangat mencintaimu..” bisik Ali di telinga Nada.


Nada menggenggam tangan Ali, memejamkan matanya kemudian. “Aku berjanji akan berjuang melewati semuanya..”


Beberapa saat kemudian Nada sudah tertidur dengan tenangnya, seolah semua beban dan rasa sakit itu sirna dan hilang begitu saja dari tubuhnya. Bisma memandang wajah Ali dari spion depan.


“Lu tenang aja Li.. Gue yakin Nada dapat segera sembuh kok. Nada itu cewek yang kuat, dia pasti dapat menerima semua pengobatan dengan baik.”


“Iya.. Gua harap juga gitu.. Gua harap dia segera sembuh dan diangkat semua penyakitnya.”


Ali kemudian memandang wajah Nada dengan tatapan yang dalam. Untuk pertama kali dalam kehidupannya, dia memanjatkan permohonan kepada sang kuasa, “Ya Allah.. Tolong angkat semua penyakitnya.. Jangan bidadariku ini merasakan rasa sakit yang tidak mampu dia tanggung. Aku sangat mencintai dia, aku tidak sanggup melihat dia kesakitan seperti ini. Tolong berikanlah kesembuhan untuk dia Ya Allah.“

__ADS_1


__ADS_2