
Hari ini bertepatan dengan hari Buruh, perkantoran dan kampus diliburkan. Kesempatan seperti ini tidak akan pernah disia-siakan Ali, Ali mengajak Nada untuk Jogging bersama di Taman Jogging dekat perumahan Elite kediaman Ali.
Ali yang biasanya susah bangun pagi, rela bangun jam 5 subuh untuk menjemput kekasih hatinya. Mungkin memang benar kata orang, jika kekuatan cinta mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Itulah yang terjadi kepada Ali, semenjak dia membina hubungan dengan Nada, semua sikap negatif seolah pergi dari dirinya. Saat ini dia terlihat memikirkan masa depan dan lebih dewasa.
Mereka bergandengan tangan, mata mereka saling berpandangan. Mereka berdua menyusuri pepohonan di sekitar sana. Nada tersenyum melihat Ali tersenyum disana.
“Kamu kenapa? Kok senyum gitu sih? Ada yang salah sama aku?” tanya Ali dengan membalas senyuman Nada.
“Liat deh, banyak mata cewek-cewek ngeliatin kamu terus tuh. Itu pasti karena kamu cakep menurut mereka..”
Ali berbisik ke telinga Nada, “Aku gak peduli omongan mereka. Menurut kamu aku cakep nggak?”
Nada tersenyum memandang wajah Ali dengan wajah menggoda. “Menurut kamu gimana?”
“Kok menurut aku sih… Kamu ini ya gak mau memuji ketampanan pacar kamu ini.. Eh tapi kamu kok gak cemburu?”
“Sedikit sih. Cuma gimana lagi ya? itu udah jadi resikoku sih, resiko punya cowok ganteng.” Ucap Nada terbahak.
Ali membelai rambut Nada, “Kamu salah, Aku yang ngerasa beruntung bisa dapetin kamu. Kita itu pasangan yang yang saling melengkapi. Kamu bisa ngertiin sifat dan sikap kekanakan aku, kamu selalu bisa mengarahkan cara pandang yang dewasa untuk aku dan aku dapat mencintai kamu dengan apa adanya kamu.”
Nada memegang tangan Ali, “Aku akan selalu ada buat kamu disini dan terima kasih kamu sudah buat aku menjadi wanita yang terbahagia.”
“Kamu bener bahagia sama aku?”
“Lebih dari bahagia. Aku merasa sangat dicintai kamu dan aku dapat menjadi diri aku sendiri tanpa menggunakan topeng sedikitpun. Bukankah itu sangat membahagiakan.”
Ali tersenyum bahagia mendengar ucapan Nada. Ali kemudian mengajak Nada untuk mulai jogging pagi ini.
“Ali, aku duduk di sana dulu ya. Aku pengen menikmati udara pagi sebelum jogging. Kamu jogging dulu aja, nanti aku nyusul.”
Ali memegang pipi Nada, “Ya udah, kamu istirahat dulu aja. Tapi jangan lama-lama ya. Nanti takutnya ada cewek-cewek ngegodain aku lagi. Kalau iman aku gak kuat gimana?”
Nada melirik Ali dengan tatapan sinis, “Oh jadi gitu, imannya takut gak kuat?”
“Ya kalau mereka godain aku yang gimana-gimana aku cuma takut aja gak kuat iman, aku kan masih manusia biasa.” ucap Ali sambil menahan tawanya.
“Berarti kamu gak cinta bener dong sama aku. Oke, biar aku cari pengganti kamu aja sekarang. Sama Kenzo Oppa juga bolehlah.”
Ali mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud ucapan Nada, “Maksud kamu apa? Kamu suka Kenzo? Sejak kapan?”
“Sejak saat itu….”
Ali yang tidak mengerti segera duduk di samping Nada, “Maksud kamu apa? Mana mungkin kamu bisa suka sama sahabat aku sendiri!”
“Emang kenapa? Emang ada larangannya??’
“Ya dilarang keraslah.. Kamu itu cuma punya aku, cuma aku yang boleh jadi pacar kamu. Lagipula darimana kamu bisa suka coba sama Kenzo?” tanya Ali yang terlihat mulai kesal.
__ADS_1
Nada semakin berusaha membuat Ali cemburu, “Tatapan dia waktu kita makan bersama, mengisyaratkan dia memiliki perasaan buat aku. Lagi pula kalau aku sama dia pasti gak seribet sama kamu kok. Orang tuanya pasti gak akan mempermasalahkan hubungan kami.”
"Apa bener Nada sudah jatuh hati sama Kenzo? Kenapa semua ini bisa terjadi??" bisik Ali dalam hati.
“Kapan kamu dan dia makan bersama? Kenapa kamu gak pernah cerita ke aku”
“Ngapain coba aku cerita ke kamu?”
Ali menggenggam jemari Nada, dengan tatapan cemas. “Sayang, kamu bener-bener suka Kenzo? Memang sih dia lebih kalem, lebih pinter daripada aku. Tapi..”
Nada tidak bisa menahan tawanya, Nada tertawa terbahak dibuatnya, “1 – 0.”
Ali mengerutkan keningnya, “Maksud kamu ini apa sih??’
Nada memegang kedua pipi Ali, “Mana bisa sih sayang aku suka sama Kenzo? Makanya kamu jangan kerjain aku kayak tadi.. Aku juga bisa ngerjain kamu juga.”
Ali tiba-tiba diam termenung, tiada ekspresi yang membuatnya terlihat senang kembali seperti sediakala. Nada berusaha mengembalikan suasana seperti sedia kala. Nada tidak menduga jika candaan yang dilontarkan dapat membuat mood Ali drop seperti ini.
“Kamu kenapa? Kan aku tadi kan cuma bercanda. Mana bisa sih aku bisa gantiin posisi kamu di hatinya aku. Udah Ali gak boleh unmood gini.”
“Aku teringat sesuatu Nad.” Ucap Ali tanpa ekspresi.
Nada memandang wajah Ali, “Kamu teringat apa?”
“Wajah kamu mirip dengan Hyu Ri, mantan pacar Kenzo yang berada di Korea. Aku rasa tidak salah jika Kenzo ada perasaan ke kamu.”
“Awalnya aku sama sekali tidak percaya kenyataan ini. Tapi waktu itu aku sempat menemukan foto Hyu Ri, dan memang wajah kalian terlihat begitu mirip.”
Nada menyenderkan kepalanya di bahu Ali, “Sayang, kamu jangan seperti ini dong. Aku sama sekali gak bermaksud buat bikin kamu khawatir.”
Ali menggenggam tangan Nada, “Kamu bener-bener gak suka Kenzo kan?”
Nada tersenyum, terlihat sinar mata cinta dari mata Ali. “Tentu enggak, aku sama sekali tidak tertarik sama Kenzo. Dia adalah sahabatmu, berarti dia juga adalah sahabat aku. Lagi pula kan aku sekedar bercanda doang Aliku sayang.. Kamu kok jadi Baper gini sih? Mana Aliku yang confident dan playboy kelas kakap itu?”
Ali tersenyum kecil, terlihat tatapan ketakutan darinya. “Ali yang itu sudah mati. Aku gak akan sanggup jika harus kehilangan kamu. Semua boleh pergi ninggalin aku, tapi kamu harus ada disisi aku.”
“Iya.. Iya. Aku janji gak akan pernah pergi ninggalin kamu. Kamu jangan khawatir gini ya, aku gak mau kamu jadi seperti ini. Nada janji akan selamanya sayang dan cinta Ali.”
“Makasih sayang…”
Nada mengangkat kepalanya, memandang wajah kekasih yang sangat dia cintai. “Sekarang Ali jogging dulu aja, sebentar lagi Nada nyusul.”
“Ya udah, aku jogging duluan ya. kamu jangan lama-lama nyusulnya.”
Nada menganggukan kepalanya, Ali berlari menyusuri taman yang tertata dengan begitu indah. Nada memandang tubuh Ali hingga bayangannya hilang dari sorot matanya. Nada tersenyum bahagia, baru kali ini dia mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang lelaki yang memiliki umur jauh lebih muda darinya.
Nada berbisik di dalam hatinya, “Tuhan, terima kasih Engkau telah mengirimkan seorang malaikat untuk melindungiku, seseorang yang menyayangiku tanpa memperdulikan bagaimana keadaanku dan seseorang yang membutuhkanku disisinya.”
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Nada berdiri, membenarkan tali sepatunya yang tak sengaja terlepas. Setelah itu dia sudah bersiap untuk mengikuti Ali jogging pagi. Tapi kepalanya terasa begitu pusing, badannya tiba-tiba terasa lemas, dan kakinya terasa gemetar. Badannya tak kuasa menahan rasa sakit yang dirasakannya, tubuh Nada seketika jatuh begitu saja.
Beberapa orang yang sedang joging disana berkumpul untuk memastikan keadaan Nada. Ali merasa ada sesuatu yang janggal, Ali menghampiri kerumunan orang itu. Dia mendapati kekasihnya pingsan, Ali mengendong Nada dan meletakan Nada di bangku taman. Beberapa ibu di sana memberikan Ali minyak kayu putih supaya diciumkan di hidung Nada. Supaya Nada lekas siuman.
Beberapa menit kemudian mata Nadapun terbuka. Wajah Ali terlihat sangat mencemaskan keadaan Nada.
“Sayang, kamu gimana? Apanya yang sakit?”
Nada memegang kepalanya yang masih terasa sakit. “Kepala aku pusing banget.”
“Kita ke dokter aja sekarang ya.” Ali menggendong tubuh Nada yang lemah tak berdaya. Tiada kata yang keluar dari mulut Nada.
Ali memanggil taxi dan meminta pak supir untuk membawa mereka ke Rumah Sakit terdekat. Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Rumah Sakit tersebut. Ali membawa Nada ke ruang UGD, Nada segera di tangani oleh suster dan dokter di sana. Ali menunggu dengan cemas.
Nada telah mendapatkan pertolongan pertama, setelah beberapa waktu diperiksa intensif. Dan dia telah menjalani serangkaian test laboratorium. Nada pun telah dalam kondisi yang baik dan tingkat kesadarannya sudah mulai normal.
“Bagaimana keadaan saya dokter?”
“Apakah anda sering mengalami sakit kepala? Atau ada sesuatu yang mengganggu kalian selain rasa pusing ini?”
Nada terdiam sejenak, dia berusaha mencerna ucapan dokter. “Beberapa pekan ini memang saya sering kali mengalami sakit kepala dok. Selain itu mungkin beberapa lama ini kaki saya sering mengalami mati rasa tiba-tiba dan saya sering merasa mengantuk beberapa pekan ini. Mungkin ini karena kesibukan yang sedang saya jalani hari ini.”
“Baiklah. Kita tunggu hasil test laboratorium besok. Sebaiknya anda rawat inap disini sehari sampai hasil keluar besok.”
“Bagaimana jika saya pulang sekarang dokter? Saya tidak ingin membuat ayah saya khawatir dengan keadaan saya.” Pinta Nada.
“Baiklah jika itu permintaan anda, saya dapat mengerti. Saya akan mengeluarkan ijin untuk mengeluarkan anda.”
“Terima kasih ya dok.”
Ali masuk ke dalam ruang UGD, dia ingin memastikan keadaan Nada. “Dokter, bagaimana keadaan Nada?”
Dokter melirik ke arah Nada yang menganggukan kepalanya, “Pasien baik-baik saja. Hanya kecapean, pasien sudah dapat dibawa pulang. Tapi tolong bedrest untuk beberapa saat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.”
“Alhamdulillah. Baik dok, terima kasih ya dokter.”
“Saya akan memberikan resep, harap ditebus untuk dikonsumsi 1 minggu.” Ucap dokter meninggalkan ruangan Nada.
Ali mengusap kening Nada, “Sayang, kamu kenapa kok bisa pingsan seperti ini sih? Aku bener-bener takut kehilangan kamu tau gak sih.. Aku khawatir banget ngeliat kamu pingsan seperti itu.”
“Iya, maafin aku ya. Aku juga gak tau kenapa tapi tiba-tiba aja kepalaku pusing dan aku jatuh gitu aja. Maaf buat kamu panik.”
Ali menatap wajah Nada dengan penuh cinta yang terpancar dari sorot matanya, “Tapi aku seneng sekarang ngeliat kamu udah gapapa. Kamu bener-bener harus bedrest dirumah ya, kamu harus dengerin perkataan dokter tadi.”
“Iya sayang. Kamu tenang aja, aku akan jaga diriku dengan baik. Aku kan gak mau liat papa aku dan kamu jadi khawatir.”
Ali mengurus biaya perawatan Nada dan menebus resep yang dibuat oleh dokter. Ali mengantarkan Nada pulang ke rumahnya sepanjang perjalanan Nada tertidur dengan pulas di dalam pelukan Ali.
__ADS_1