Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Kesedihan om Achin


__ADS_3

Setelah melakukan beberapa pemeriksaan bersama dengan Dokter James, Ali membawa Nada masuk kembali ke ruangan VIP.  Tak beberapa lama kemudian Ali menghubungi om Achin untuk menceritakan keadaan Nada yang sesungguhnya dan meminta Rezky untuk menjemput om Achin ke rumah sakit.


Nada terdiam di atas pembaringan, dia teringat ucapan yang Ali katakan kepadanya. “Sayang, apapun yang terjadi papa kamu harus tau. Aku tau maksud kamu baik, kamu gak mau buat papa kamu khawatir dengan keadaanmu sekarang tapi gimana kalau papa kamu tau saat keadaan kamu semakin buruk, dia pasti akan merasa sangat bersalah. Bersalah karena terlambat mengetahui semua ini.”


“Aku sebagai pacar kamu aja sudah merasa sedih baru tahu kamu sakit akhir-akhir ini. Banyak hal yang aku pikirkan.. Andai aja aku tau dari awal, aku bisa menemani kamu saat kamu lagi kesakitan. Aku juga merasa gagal menjadi pacar yang baik buat kamu, karena aku baru tau saat ini. Aku gak mau papa kamu merasakan perasaan yang lebih sakit daripada itu sayang. Kita kasih tau papa kamu ya..”


Nada berkata dan berdoa dalam hatinya, “Gimana keadaan papa setelah papa tau semua ini ya? Ya Tuhan supaya kesehatan papa jangan drop karena denger semua ini ya.. Aku gak mau papa sakit karena kepikiran dan khawatir dengan keadaan aku..”


Beberapa waktu kemudian Ali datang masuk ke dalam ruang rawat Nada, sinar matanya sendu seperti baru saja menangis. Ali datang menghampiri Nada dengan senyuman yang ada di wajahnya.


“Hei sayang.. Gimana keadaan kamu sekarang? Apa ada yang sakit?”


Nada menggelengkan kepalanya, “Aku udah gak apa-apa kok. Sini duduk sebelah aku.”


Ali mengikuti ucapan Nada, dia duduk di sampingnya. 


“Ali, apa kamu udah nelpon papa aku? Terus papa aku gimana? Papa pasti syok banget ya??”


Ali membelai rambut Nada yang sudah mulai rontok, “Papa kamu memang awalnya syok, tapi kamu gak perlu khawatir ya.. Aku udah minta Rezky buat jemput papa kamu. Kamu tenang aja ya.. Semua pasti bisa kita lalui sama-sama. Kamu pasti cepet sembuh.”


Nada memegang tangan Ali, “Ali, aku mau minta maaf ke kamu ya.. Maaf kalau aku kemarin sempet buat kamu kecewa, tapi jujur aku sama Kenzo ga punya hubungan apa-apa. Kamu juga jangan marah sama Kenzo ya.. Dia cuma mau bantuin aku doang kok.”


“Iya aku tau ok kalian gak ada hubungan apa-apa. Ga mungkin kalian bisa main belakang bohongin aku sampe sejauh itu. Tapi aku agak kecewa aja, kenapa Kenzo yang sehat nerima semua permintaan kamu. Harusnya dia bisa dengan sadar nasehatin kamu.”


“Tapi dia kan….”


“Aku bersyukur gak ada hal buruk terjadi ke kamu kemarin, kalau ada mungkin aku gak akan pernah maafin dia. Kita gak usah bahas dia dulu ya.. Yang penting saat ini kesembuhan kamu. Aku gak mau kita pikirin hal yang lain.”

__ADS_1


Om Achin dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam ruang rawat Nada, wajahnya sangat kalut dan tampak begitu menyedihkan. Om Achin sudah berusaha tidak menunjukan kesedihannya di depan Nada, namun dia tidak kuasa membendung semua perasaan itu sesaat dia masuk menatap wajah anak perempuannya.


“Papa…..”


Om Achin memeluk tubuh Nada dengan erat, “Aling.. Anak owe… Lu kenapa sayang.. Kenapa lu bisa jadi seperti ini?”


Nada diam tak mampu menjawab pertanyaan papanya, dia hanya dapat menangis dalam diam dipelukan papa yang selalu ingin dia jaga, namun pada akhirnya dia tidak mampu merubah keadaan.


Ali menepuk punggung om Achin berusaha memberikan kekuatan, beberapa waktu kemudian Ali memberikan ruang untuk ayah dan anak itu saling berbicara berdua.


Ali, Bisma dan Rezky keluar ruangan dan menunggu di depan ruang rawat Nada. Ali hanya dapat menundukan kepalanya yang terasa sangat berat. Bisma dan Rezky berusaha memberikan kekuatan untuk sahabatnya.


“Li, lu yang kuat ya Bro.. Gue tau semua ini memang ga mudah buat dijalani tapi kita percaya Nada bisa sembuh.”


“Iya Li.. Atau gimana kalau kita bawa Nada ke luar negri aja. Siapa tau di luar negri alat-alatnya lebih canggih terus doi bisa sembuh dengan cepet li.” ucap Kenzo memberi saran.


“Oh gitu.. Eh tapi btw si Kenzo mana?”


Bisma menyikut lengan Rezky, berbisik lirih kepadanya. “Jangan bahas itu anak sekarang. Lu gak liat apa kalau Ali masih kesel sama dia. Diam aja dulu.”


“Gue kan cuma nanya Bis.. Dia kan juga temen kita, gak boleh gitu luh sama temen.”


Ali masih terdiam tidak merespon ucapan Rezky, dia menutup matanya beberapa saat berusaha menenangkan dirinya.


Kembali ke suasana di dalam ruang rawat Nada


Om Achin tak henti-hentinya meneteskan air mata kesedihannya, begitu pula dengan Nada. Nada yang selama ini berusaha kelihatan kuat dan tegar di hadapan semua akhirnya tak dapat membendung kesedihan yang ada di dalam hatinya. Dia sangat berharap jika semua ini hanyalah mimpi dan akan berakhir saat dia bangun dari tidurnya. Namun harapannya hanya tinggal angan semata karena semua ini benar-benar sedang terjadi dalam kehidupannya.

__ADS_1


“Anak owe satu-satunya.. Yang paling owe sayang kenapa bisa jadi seperti ini Ya Tuhan?? Kalau boleh biar owe aja yang sudah tua ini yang sakit ya Tuhan.. Jangan Aling ya Tuhan..”


“Papa jangan ngomong gitu.. Aling gak mau papa sakit.. Aling sayang sama papa.. Maafin Aling ya pa, buat papa sedih dan kecewa seperti ini…”


“Lu gak salah apa-apa. Mungkin papa belum bisa jadi papa yang terbaik buat lu orang. Maafin papa ya…Papa janji lu orang pasti bisa sembuh. Kalau perlu papa jual rumah, jual toko buat bawa lu berobat sampai sembuh.”


Nada tak mampu menahan kesedihannya. “Pa…….”


“Iya papa harus cepet-cepet jual rumah sama toko, biar lu papa bawa berobat biar cepet sembuh.”


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka, “Om maaf aku gak sengaja denger ucapannya om, tapi om gak perlu jual rumah sama toko. Biar Ali yang biayain semuanya. Ali ada uang tabungan yang cukup untuk bantu biaya perawatan Aling kok Om.”


“Tapi Li.. Aku sama sekali gak mau repotin kamu..”


Ali berjalan menghampiri mereka berdua, berdiri di samping Nada dengan menggenggam tangannya. “Aku sama sekali gak merasa di repotin kok sayang.. Ini sudah sepantasnya aku lakuin buat kamu.”


“Apa bener gitu nak? Kamu bener mau biayain semuanya? Pasti mahal kan..”


“Iya om, saya serius. Om gak perlu mikirin apapun sekarang. Om fokus di kesembuhan Nada aja, masalah biaya biar Ali yang atur.”


“Kamsia ya Ali-a.. Lu orang baik banget sama anak owe. Biar Tuhan yang bales semua kebaikan lu ya..” ucap om Achin memeluk Ali.


Ali menepuk punggung om Achin perlahan, “Iya om.. Sama-sama.” 


Nada menggenggam tangan Ali dengan erat, “Makasih buat semuanya ya…”


Ali membalas genggaman tangan Nada, tersenyum menganggukan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2