
Di sana tinggal Nada dan mama Ali. Sejujurnya Nada merasa resah tapi dia tidak ingin Ali mengkhawatirkan dirinya.
“Nada, tante mau menanyakan sesuatu. Tante harap kamu menjawab semua pertanyaan tante dengan jujur ya…”
Nada tersenyum memandang wajah mama, “Iya tante. nada pasti akan jawab jujur pertanyaan tante.”
“Bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya kepada Ali nak?”
“Awal saya kenal Ali, saya telah menganggapnya seperti adik saya sendiri tante. Umur adik saya yang telah meninggal sama dengan umur Ali. Setelah waktu berjalan beberapa lama perasaan itu berubah, saya merasa nyaman berada bersama Ali dan rasa cinta itu mulai tumbuh di dalam hati saya.”
“Apa kamu tidak takut jika Ali meninggalkan kamu? Kan umur dia jauh lebih muda daripada kamu dan Ali itu masih cukup labil sikap dan sifatnya sebagai cowok.”
Nada tersenyum kecil, “Saya mah ngejalanin semua ini Ikhlas tante. Kalau misalkan Ali bener ninggalin saya, saya ya cuma bisa doain semoga Ali mendapatkan wanita yang lebih baik daripada saya.”
Mama menanyakan sesuatu hal lagi kepada Nada, “Bagaimana kalau kami tidak menyetujui hubungan kamu dengan Ali? Apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan nikah lari seperti itu?”
Nada tersenyum, “Ngapain nikah lari tante, capek tante. Saya cuma bisa berdoa agar Tuhan meluluhkan hati om dan tante aja. Saya sebagai manusia hanya bisa melakukan yang terbaik sebisa saya tante tapi tetep hasil akhirnya terserah Tuhan. Mau saya akan bersama Ali atau tidak pada akhirnya. Manusia bisa berencana tetapi tetap Tuhan yang akan menentukan.”
Mama Ali diam tanpa suara, Mama Ali kemudian keluar dari dapur. Ali mengambil air minum tanpa sengaja berpapasan dengan mamanya. Ali melihat mamanya dengan tatapan penuh curiga. Ali datang menghampiri Nada yang masih sibuk mencuci buah yang akan disajikan sebagai menu pencuci mulut.
__ADS_1
“Sayang, mama kok tiba-tiba keluar sih? Emang mama ngomongin apa aja ke kamu?”
“Gak ngomongin apa-apa kok. Kamu jangan kepo gitu deh.”
“Aku bukannya pengen kepo tapi aku gak mau kalau mama aku itu menghasut kamu atau bikin kamu ninggalin aku.”
Nada meletakan keranjang buah dari tangannya, dia memegang pipi Ali. “Memangnya ada alasan buat aku ninggalin kamu? Kamu itu adalah separuh jiwa aku, kalau aku ninggalin kamu gimana caranya aku mau lanjutin hidup aku?”
Ali mencubit pipi Nada, “Pacar aku ini udah pinter banget ngegombalnya ya? Jangan-jangan kamu ini masuk ke organisasi Playgirl kelas kakap ya?”
Nada terlihat kesal, “Ali apaan sih? Sakit tau Ali.”
Wajah Nada tiba-tiba berubah menjadi serius, “Tadi mama kamu cuma bilangin ke aku hal yang wajar akan terjadi kepada kita ke depannya.”
“Memang apa yang akan terjadi? Memang mama aku itu bisa melihat masa depan apa? Kaya paranormal aja.”
“Bukan gitu juga Ali. Mama kamu itu baik tau sama aku, dia takut aku terluka kalau kamu ninggalin aku nantinya.”
Ali mengerutkan keningnya, “Trus kamu percaya kalau aku akan ninggalin kamu?”
__ADS_1
Nada memegang pipi Ali dengan kedua tangannya, “Mama kamu kan hanya kasih tau ke aku kemungkinan apa yang akan terjadi jika kita masih terus sama-sama. Dan itu wajar kok, mama kamu gak mau aku terluka. Berarti mama kamu itu mulai sayang ke aku.”
“Tapi kamu percaya gak dengan omongan mama aku? Jangan-jangan kamu mulai terpengaruh lagi?”
“Pacar aku ini kenapa sih semua kok dipikirin? Ntar keriputan mukanya baru tau rasa. Nanti kamu bisa lebih keriput daripada aku lho…”
“Ya abis kamu ngomongnya seperti itu. Apa maksudnya coba kalau bukannya mulai terpengaruh?”
Nada tersenyum, “Kan aku udah bilang kalau kamu ini adalah separuh jiwanya aku. Aku lebih percaya apa kata hatiku ketimbang memikirkan sesuatu yang gak akan pernah terjadi di depannya. So.. Don’t Afraid ya. Aku akan selalu cinta kamu.”
Ali tersenyum tipis, “Aku takut kalau kamu terpengaruh dan ninggalin aku. Aku mah apa atuh kalau tanpa kamu? Bisa jadi butiran debu aku.”
Nada tertawa terbahak dibuatnya, “Itu judul lagu kali pak. Bisa-bisanya jadi bahan gombalan kamu. Kreatif banget sih pacar aku ini.”
“Bisa dong. Apa sih yang enggak buat kamu.”
Ali kembali menemani Nada di dapur untuk mempersiapkan buah. Nada memandang Ali yang sedang membantunya memotong buah-buahan. Hatinya terasa terusik, “Sampai kapan aku mampu bertahan melawan penyakit ini? Sampai kapan mataku tetap terbuka dan selalu dapat melihat senyuman itu yang mengembang di bibirmu?”
Masakan pun telah siap, Ali membantu Nada membawa makanan yang telah dimasak ke meja makan. Beberapa saat kemudian terdengar suara barang jatuh dari dapur. Ali berlari ke arah dapur dan mendapati Nada telah jatuh pingsan. Acara makan siang pun menjadi berantakan. Ali membawa Nada ke Rumah Sakit tempat Nada dirawat kemarin. Ali menghubungi Kenzo, Rezky dan Bisma untuk menemani dia. Ali menunggu di depan ruang UGD dengan kecemasan yang tersirat dari wajahnya.
__ADS_1