
Kendaraan di Jakarta padat merayap, membuat Nada malas untuk pulang. Dia ingin berjalan-jalan di Mall yang tidak jauh dari kantornya, Central Park Mall adalah tujuan utamanya. Selain bisa memanjakan matanya melihat barang-barang yang dijual di banyak outlet terkenal di sana, dia juga dapat menikmati Taman Mall yang terasa sangat membuat hatinya terasa nyaman dan tenang.
Nada masuk ke dalam salah satu outlet toko buku di sana. Nada ingin mencari beberapa Novel untuk dibaca, untuk mengisi waktu senggangnya. Dia menyusuri lorong demi lorong sampai dia berada di lorong yang memajang banyak novel yang berjejer rapi di sana.
Tanpa sengaja Nada bertemu dengan seseorang yang sepertinya dia kenal. Orang itu tak lain tak bukan adalah Kenzo. Mereka saling menatap dalam diam. Wajah Kenzo terlihat sumringah dapat bertemu dengan Nada di toko buku tersebut.
“Malam kak.. Kakak disini sendirian? Ali dimana?”
“Aku gak lagi sama Ali. Tadi sebenarnya aku mau pulang tapi jalanannya macet banget, jadi aku mutusin buat jalan-jalan dulu sebelum pulang ke rumah.”
Kenzo terlihat sedikit salah tingkah, “Oh gitu, pantesan kok kakak gak sama Ali.”
“Kamu juga kok sendirian? Temen-teman kamu kemana?”
“Mereka ada urusan masing-masing sih. Kamu udah makan? Gimana kalau kita makan bareng? Ada hal yang pengen aku omongin ma kakak.”
“Hmm.. Boleh sih, aku juga udah laper banget. Tadi siang gak sempet makan siang di kantor.”
Mereka pergi ke salah satu restaurant Korean food favorit Kenzo. Kenzo telah memesan beberapa makanan yang paling dijagokan disana. Kenzo membuka topi yang sedari tadi berada di kepalanya. Dia terlihat kepanasan, wajahnya menjadi mulai memerah dibuatnya.
“Kenapa dibuka topinya? Panas ya?” ucap Nada menahan tawanya.
“Iya. Gak tau kenapa udara di Jakarta beberapa hari ini panas sekali.”
“Kamu kok lancar banget sih Bahasa Indonesianya? Bukannya kamu ini Oppa-Oppa Korea ya? Kamu belajar Bahasa Indonesia berapa lama?”
Kenzo tersenyum kecil mendengar pertanyaan Nada, “Kakak ini seperti polisi saja, pertanyaannya banyak sekali.”
__ADS_1
Nada pun tersenyum, “Enggak tau kenapa aku pengen tanya aja. Ngeliatnya lucu, ada orang berwajah Korea tapi fasih banget berbahasa Indonesia.”
Kenzo tersenyum tipis, menjelaskan asal usulnya dengan singkat. “Aku sebenarnya itu adalah Warga Negara Indonesia kak, cuma Ibu aku memang asli orang Korea. Dari kecil mereka menyekolahkan aku di sekolah internasional, dari sanalah aku belajar Bahasa Indonesia juga.”
“Oh gitu? Makanya kamu fasih banget gitu. Salut deh. Oiya pacar kamu dimana? Pacar kamu gak marah nih kalau kita makan bareng gini?” Goda Nada.
“Pacar? I’m single. Aku belum memiliki seorang kekasih.”
“Kamu belum punya pacar? Pasti kamu terlalu banyak memilih makanya kamu belum dapet pacar sampai sekarang.”
“Bukan seperti itu. ada sesuatu yang membuat aku belum ingin memiliki seorang kekasih.”
“Eh btw aneh banget kalau kamu panggil aku kakak. Kamu kan temennya Ali, panggil aja aku Nada juga..”
“Oh gitu ya.. Oke.. Oke.. Nada..”
“Kakak.. Eh maksud aku, kamu suka makanan ini kan? Atau perlu aku memesan yang lain? Mungkin Chinese food?”
“Aniyo Oppa.”
“Kamu bisa berbahasa korea?” Tanya Kenzo kaget.
“Bisa sedikit aja sih. Soalnya aku kan suka liat film-film Korea jadi ada beberapa kata-kata yang familiar dan langsung ke save di ingatan aku. Oiya nama korea kamu siapa?”
“Han Tae Soo.”
Nada tersenyum, “Oke, aku panggil kamu Tae Soo Oppa ya.”
__ADS_1
“Tae Soo Oppa? Kamu lebih tua dari pada aku, seharusnya aku yang memanggil kamu Nunna.”
“Not Bad lah. Kamu boleh panggil aku Nunna dan aku panggil kamu Tae Soo Oppa.”
Mereka memulai makan malam mereka setelah semua makanan sudah tersedia di meja mereka. Kenzo terlihat bersemangat makan makanan kesukaannya. Nada tersenyum kecil melihat ekspresi makan Kenzo yang terlihat polos seperti anak kecil. Kenzo tiba-tiba terdiam, dia meletakan sumpitnya sejenak.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Ali? Apa kalian masih sedang bertengkar?”
“Kamu tahu dari mana?”
Kenzo sebagai sahabat yang baik, disana berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya. “Ali bukannya ingin mempermainkan kamu, tapi memang dia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan semuanya kepada kamu. Karena dia sangat mencintai kamu. Memang awal hubungan kalian itu tidak benar tetapi saat ini kalian sama-sama saling mencintai.”
Nada meletakan sumpitnya juga, “Sebenarnya aku sudah memaafkan semuanya hanya saja… Aku hanya kecewa dengan dia, kenapa harus aku mengetahui semua ini dari orang lain. Aku tau umur sekalian pasti lagi senang-senangnya untuk “bermain hati” seperti ini tapi tidak seharusnya dia melakukan hal ini kepadaku juga.”
“Iya aku sangat mengerti apa yang kamu rasain sekarang, cuma tolong jangan terlalu lama seperti ini. Kasian dia..”
Nada menarik nafas panjangnya, “Aku tau apa yang sedang dia rasakan saat-saat ini, aku juga merasakan perasaan yang tidak menyenangkan seperti ini. Tapi mungkin aku hanya kecewa kenapa dia datang mempermainkan aku.”
“Kamu tau kan karakter Ali seperti apa, dia hanya panas karena ditantang taruhan dengan Rezky dan Bisma. Ini sama sekali bukan niatan dia untuk melukaimu. Menurut aku kamu semestinya bisa bijaksana untuk menyelesaikan masalah ini. Aku rasa dia tidak akan pernah mengulang kesalahannya dan dia semestinya belajar dari kesalahannya.”
Nada tersenyum tipis, “Aku tahu bagaimana karakter Ali yang sebenarnya. Mungkin aku hanya butuh sedikit waktu untuk berpikir.”
“Kalian itu adalah pasangan yang serasi. Saat bersama kamu, Ali semakin rajin beribadah, kuliah dan Ali keliatan lebih memikirkan masa depannya. Kamu membawa dampak positif untuk Ali. Aku dan dia telah berteman semenjak SMP, tapi baru kali ini aku melihat Ali seoptimis dan bergairah seperti ini dalam menjalani hidupnya.”
“Terima kasih ya kamu udah perhatian atas hubungan kami. Pasti akan ada jalan yang terbaik buat hubungan aku dan dia.” Ucap Nada dengan senyuman mengembang di bibirnya.
“Aku mengharapkan kalian dapat selalu bersama. Karena aku yakin Ali sangat mencintaimu. Ali sama sekali tidak ingin mempermainkan perasaanmu.”
__ADS_1
Kenzo diam-diam melirik ke arah Nada, hatinya berbisik. “Apa yang salah dengan aku? Kenapa hatiku bergetar menatap dia? Aku memang merindukan tatapan mata itu. Tatapan mata itu sama dengan tatapan mata Hyu Ri.”