Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Aku harus pergi meninggalkanmu


__ADS_3

Tanpa terasa sudah  beberapa  waktu  lamanya  dokter  memeriksa keadaan Nada  di  dalam  ruang  UGD, namun dokter belum kunjung keluar untuk memberikan kabar kepada mereka semua.  Teman-teman  Ali disana berusaha  menenangkan  lelaki  yang  memiliki  alis  tebal itu.


Kenzo datang membawakan  segelas  coklat  hangat  untuk  Ali,  “Ini  minum  dulu.  Waktu  lu  masuk ke  UGD  karena  trauma  waktu  itu,  gw  juga  kasih  coklat  hangat  ini  ke  Nada.  Dia  memang terlihat  bukan  seperti  wanita  biasa.  Dia  wanita  yang  pantas  lu  perjuangin.  Mendingan  lu pergi  doain  Nada  di  mushola  rumah  sakit  sana.”


Ali  menatap  Kenzo  dengan tatapan khawatirnya,  “Lu  bener.  Lebih  baik  gw  sholat, buat doain  dia. Dia  pernah  bilang  kalau  gw  lagi  resah,  sholat  pasti  dapat  membuat  hati  gw  jadi  tenang.”


Kenzo menepuk lengan Ali, “Lu  tenang  aja  bro.  Kalau  ada  info  terbaru,  gw  pasti  akan  hubungi  lu.”


“Bisma  sama  Rezky  dimana?  Perasaan  mereka  tadi  di  sini  deh.”


“Mereka  baru  aja  ke  ruangan  administrasi,  ada  yang  harus  diurus.”


“Gw  titip  Nada  ya  Ken.  Gw  gak  lama  kok.”


Kenzo tersenyum, “Udah  lu  tenang  aja.  Doa  yang  khusuk,  doain  buat  kesembuhan  Nada.”


Ali  meninggalkan  Kenzo.  Jam  berlalu  dengan  cepatnya.  Saat  ini  jam  menunjukan  pukul  7 malam,  dokter  baru  saja  keluar  dari  ruang  UGD. Dokter menghampiri Kenzo yang terduduk sendirian di depan sana.


Dokter memperhatikan wajah Kenzo, “Anda pasti wali dari pasien Nada ya?”


“Bisa dibilang seperti itu Dokter. Bagaimana dengan keadaan Nada? Dia baik-baik saja kan?”


“Apa dia belum memberitahukan semua ini kepada anda?” tanya dokter James lirih.


“Maaf dokter, bagaimana ya maksud dokter?”


Dokter James menghembuskan nafasnya, “Sepertinya dia masih memberitahukan keadaannya kepada siapapun. Tapi kali ini anda harus segera tau, karena jika terlambat akan membahayakan keadaan pasien.”


“Sebenarnya dia kenapa Dokter? Tolong kasih tau ke saya keadaan dia yang sebenarnya. Saya gak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada dia.” ucap Kenzo dengan tatapan memohon. 


“Nada  menderita  Kanker  otak  stadium  4.  Waktu  itu  pasien  sudah  saya  sarankan  untuk  melakukan  kemoterapi  tetapi  saat  itu  pasien  meminta  waktu  kepada  saya  untuk  berpikir.”   


Dokter  menjelaskan  keadaan  Nada,  “Kanker  adalah  penyakit  berbahaya  dan  penyakit  ini cepat  berkembangnya.  Semua  tergantung  kondisi  pasien,  kita  hanya  dapat  memperlambat laju  perkembangan  sel  kanker  dengan  kemoterapi.  Kita  akan  menunggu  keadaan  pasien selanjutnya,  baru  dapat  diputuskan  mengambil  tindakan  apa  selanjutnya.  Pasien  akan sementara  kami  pindahkan  ke  ruang  perawatan,  agar  dapat  dirawat  secara intensif. ”


“Baik  dokter.  Terima  kasih  atas  informasinya.  Kami  akan  mendiskusikannya  bersama  pihak  keluarga  terlebih  dahulu.” Ucap  Kenzo.


“Baiklah,  kalau  begitu  saya  harus  memeriksa  keadaan  pasien  yang  lain  terlebih  dahulu. Jika  ada  yang  ingin  ditanyakan  silahkan  ke  ruangan  saya,  nama  saya  Dr.  James Tanujaya.”


Ali tanpa kata datang memeluk tubuh Nada, menangis dalam diam dalam pelukannya. Sesaat kemudian Nada melepaskan pelukannya, “Ali, aku udah baik-baik aja. Aku mau pulang, tolong urus kepulanganku ya..”

__ADS_1


“Tapi….”


Beberapa saat kemudian Bisma dan Kenzo masuk ke dalam ruang rawat Nada. “Eh Nada.. Lu udah sadar??”


“Iya baru aja. Bisma, tolong temenin Ali urus kepulanganku ya…”


“Lu mau pulang? Gak salah?”


Ali berlalu tanpa mampu berkata apapun, Bisma pergi mengejar Ali yang berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Kenzo datang mendekat, melihat keadaan Nada dari dekat. “Nad..Gimana keadaanmu?”


“Aku baik-baik aja kok. Ali mana?”


“Dia lagi pergi sholat sebentar.. Tapi tadi dokter sempet ngomong sama aku mengenai keadaan kamu. Tapi kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari semua orang?”


“Kamu sepertinya sudah tau yang sebenarnya dari dokter ya??” ucap Nada dengan mata berkaca-kaca.


Kenzo menganggukan kepalanya, “Iya tadi dokter James kasih tau aku keadaan kamu yang sebenarnya.”


Nada memegang tangan Kenzo dengan erat, “Kenzo, apa kamu bisa bantu aku? Bantu aku menghilang dari sisi Ali..”


Nada melayangkan pandangannya entah kemana, “Aku mau pergi dengan tenang. Aku gak mau bikin papa ataupun Ali menderita karena aku. Lagi pula dengan keadaanku yang seperti ini, orang tua Ali pasti akan sangat membenci aku.”


“Tapi gimana dengan Ali? Aku rasa ini bukan keputusan yang terbaik buat hubungan kalian. Ali itu sangat mencintai kamu, dia pasti dapat menerima keadaan kamu saat ini.” ucap Kenzo berusaha menasehati Nada. 


“Aku tau itu dan aku juga sangat mencintai Ali tapi mungkin benar kita tidak ditakdirkan buat bersama. Perpisahan mungkin jalan terbaik untuk kita berdua. Aku berharap kamu bisa bantu aku..” pinta Nada dengan penuh harap.


“Kamu udah yakin dengan pilihanmu?”


Nada menatap Kenzo dengan tatapan sendu miliknya, “Iya aku sudah yakin. Bawa aku pergi jauh dari sini, aku akan membuat seolah-olah aku jatuh cinta ke kamu dan meninggalkan dia. Setidaknya kebencian akan membuat dia lebih mudah untuk melupakan aku. Kamu bersedia bantu aku kan?”


“Iya aku akan berusaha bantu kamu. Tapi aku berharap jika kamu mampu melalui semuanya, kalian dapat kembali bersama dan bahagia.”


Terlihat senyuman tipis dari bibir Nada, dia memeluk Kenzo dengan hati yang hancur. Kenzo berusaha untuk menenangkan Nada dengan menepuk punggungnya. 


“Aku tau kamu sangat mencintai Ali, kamu hanya tidak ingin membuat Ali semakin terluka. Aku harap kalian dapat melalui semua ini dengan baik dan Tuhan memberikan kesembuhan kepadamu. Aku akan berusaha membantumu, setidaknya ini yang dapat aku lakukan sebagai ganti hutangku kepada Hye Ri.” bisik Kenzo dalam hati.


Beberapa saat kemudian Ali dan Bisma masuk ke dalam ruang rawat Nada, mereka mematung sesaat dengan tatapan bingungnya. Seolah mereka berdua sama-sama  tidak mengerti apa yang telah terjadi saat ini.

__ADS_1


“Sayang….” 


Suara Ali memecahkan kesunyian ruang rawat Nada, membuat Kenzo dan Nada memalingkan pandangan mereka ke asal suara tersebut. Dengan segera Kenzo melepaskan pelukannya dari tubuh Nada, sedangkan Nada segera membasuh air matanya.


“Kalian kok pelukan?” tanya Bisma penasaran.


Ali terdiam sejenak disana, kemudian berjalan menghampiri Nada. “Kamu sudah sadar? Gimana? Apa kamu baik-baik aja?”


Nada tidak sanggup menatap mata Ali, “Ali.. Maaf.. Aku pengen kita putus..”


“Apa? Kamu ngomong apa?”


Nada mengumpulkan segenap kekuatan yang dia miliki untuk menatap wajah Ali, “Aku pengen kita putus, Sebenarnya orang yang aku cinta itu Kenzo. Maaf aku membohongimu selama ini.”


Ali mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Nada. “Kamu itu ngomong apa? Ini sama sekali gak lucu sayang.. Kamu ini sebenarnya kenapa?”


Nada meraih tangan Kenzo, “Aku rasa semuanya sudah jelas Ali. Orang yang aku cinta itu cuma Kenzo dan jika aku bersama dengan dia semuanya akan menjadi lebih mudah. Jadi tolong biarkan kami bahagia.”


Ali tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya, “Udah ah.. Gak lucu sama sekali akting kalian itu.. Gimana kamu bisa cinta sama Kenzo? Selama ini kita itu yang bersama, itu sama sekali gak masuk akal. Kenzo juga gak mungkin nikung pacar sahabatnya sendiri.”


“Li, sorry.. Gue memang sudah lama punya perasaan sama Nada. Lu tau sendiri dia sedikit banyak mirip dengan Hye Ri. Dan bener gue udah nikung pacar sahabat gue sendiri. Gue bener-bener minta maaf.” ucap Kenzo dengan tatapan serius miliknya.


“Lu jangan gila deh.. Kalian ini lagi main apa sih? Sama sekali gak lucu tau.” ucap ALi yang sudah mulai kesal.


“Gue serius Li. Gue mau bawa Nada ke Korea untuk menjalani kehidupan bahagia kita berdua. Gue harap lu tinggalin Nada dan jangan ganggu dia lagi. Gue cuma mau kasih kebahagiaan buat dia.”


Ali tidak dapat menahan rasa kecewa yang sedang merasuk ke dalam hatinya. Dia mengepalkan tangannya seketika meninju wajah Kenzo dengan kuatnya. “Dasar B*j*ng*an!!”


Bisma berusaha membantu menarik tubuh Ali, “Li.. Udah Li.. Udah.. Sadar Li.. Sadar…”


Ali menarik kemeja yang Kenzo pakai, “Lu jangan gila ya.. Nada itu cewek gue, satu-satunya cewek yang gue sayang! Gue gak akan biarin lu rebut dia dari tangan gue. Langkahi mayat gue dulu!”


Nada juga berusaha untuk menghentikan emosi Ali, dia menarik tangan Kenzo kembali. “Ali sudah.. Kenzo ga bersalah disini, aku yang salah. Aku bersalah karena aku sangat mencintai Kenzo. Aku harap kamu dapat bahagia bersama dengan wanita yang lain.”


Ali mendekati Nada memandang mata Nada dengan mata berkaca-kaca, “Sayang, sebenarnya ini ada apa? Kamu gak mungkin bisa jatuh cinta sama Kenzo, ini gak masuk akal sayang...Yang kamu cintai itu aku, bukan dia!”


“Sudahlah Ali, kita memang mungkin gak bisa lepas dari takdir. ita ga pernah ditakdirkan buat bersama. Buktinya sampai saat ini dan sampai kapanpun, papa-mama kamu gak merestui hubungan kita. Kita sekarang menyerah aja ya.. Biarrin aku pergi sama Kenzo, mungkin ini yang terbaik buat semuanya.”


“Engak.. Aku gak akan pernah bersedia lepasin kamu. Aku sekarang akan pulang buat selesaiin semua ini sama papa-mamaku. Pasti mereka meracuni kamu kan, au akan buat perhitungan sama mereka. Dan lu Kenzo, inget sampai kapanpun Nada adalah milik gue. Gue gak akan pernah bersedia melepaskan dia.” ucap Ali kemudian meninggalkan ruang rawat Nada dengan hati yang remuk dan hancur.

__ADS_1


Bisma berlari mengejar Ali sedangkan tangisan Nada tumpah begitu saja, hatinya juga merasa hancur dengan semua hal yang harus keluar dari bibirnya. Kenzo menepuk punggung Nada berusaha memberikan kekuatan yang baru.


__ADS_2