
Ali meminta Bisma menyetir dengan cepat, hatinya sedang kalut tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada Nada. Puluhan panggilan sudah coba dilakukan kepada Nada dan Kenzo, namun mereka berdua tak kunjung menerima panggilannya.
“Li, sebenernya ada apa ini? Kenapa lu maksa buat cepet-cepet ke Rumah sakit?”
“Ada hal yang harus segera gua konfirmasi, jadi buruan nyetirnya..”
“Hal seperti apa ini sebenernya?”
“Nanti gua kasih tau. Sekarang fokus nyetir dulu aja..”
Ali kemudian menghubungi Rezy, memintanya untuk menghubungi Kenzo saat ini.
“Li, lu ngapain telepon gue malam-malam gini?”
“Ky, lu denger gua baik-baik ya.. Sekarang lu coba call Kenzo. Kalau diangkat, tanya dia dimana. Gua rasa Nada ada sama dia.”
“Apa? Maksud lu Kenzo bawa Nada kabur gitu? Yang bener aja lu Li..”
“Udah lu jangan bawel. Cepet lakuin apa yang gua bilang sekarang juga. Tapi jangan bilang kalau gua yang tanya.”
“Oke deh. Gue coba dulu ya..”
“Buruan kasih kabar ke gua ya..” ucap Ali menutup teleponnya.
Bisma memandang Ali, “Kenzo beneran bawa Nada pergi, kabur gitu?”
“Om Achin tadi call gua dan omongannya aneh. Dia tanya gua bawa Nada ke luar kota mana, Nada tadi siang call papanya biilang kalau gua ajakin dia jalan-jalan. Terus setelah itu HP Nada gak aktif sampai malam ini. Gua gak tau ini kenapa, tapi gua sangat-sangat khawatir dengan keadaan dia.”
“Nada bener-bener aneh sih tadi siang, Kenzo juga.. Sejak kapan coba mereka saling cinta gitu? Gak masuk akal sehat sih ini semua.”
“Iya gua rasa juga seperti itu. Gua kenal Nada yang sesungguhnya, dia ga akan pernah mungkin ninggalin gua karena Kenzo dan dia gak akan mungkin menyerah meskipun Papa Mama belum merestui hubungan kita. Dan gua kenal bener siapa Kenzo, dia ga akan mungkin pernah mengkhianati persahabatan kita.”
“Iya bener banget, gue setuju. Ini pasti ada sesuatu yang disembunyikan.”
Tak beberapa lama Ali dan Bisma sampai di rumah sakit tempat Nada dirawat. Ali segera turun dari mobil dan berlari menyusuri lorong untuk mencari keberadaan Nada di ruang rawatnya. Namun Ali bertemu dengan seseorang yang lain, sudah tidak ada Nada disana. Ali kemudian datang ke suster untuk menanyakan keberadaan Nada.
Dengan nafas yang terengah-engah Ali datang menghampiri suster di ruang informasi, “Suster, pasien yang bernama Nada di kamar VIP dimana ya? Kok dia sudah gak ada disana ya?”
“Oh pasien Nada sudah keluar dari rumah sakit tadi siang pak. Kerabatnya membawa pasien pulang, katanya mau rawat jalan aja.”
__ADS_1
“Kerabat?”
“Iya pak.. Sebentar saya cek kan dulu..”
Dalam hati kecil Ali bertanya-tanya, siapa gerangan kerabat yang dimaksudkan itu? Sedangkan papanya saja tidak tau apa-apa, bagaimana seorang kerabat datang untuk mengeluarkan Nada dari rumah sakit.
Suster akhirnya kembali, “Kerabatnya atas nama Park Kenzo.”
“Kenzo.. Ternyata Kenzo..” ucap Ali lirih.
Bisma berlari menghampiri Ali, “Gimana.. Gimana… Nada masih ada di dalam kan? Kenzo juga ada di dalam?”
Ali menggelengkan kepalanya, “Kenzo bawa Nada kabur dan sekarang kita semua gak tau mereka ada dimana.”
“Apa maksud semua ini? Mereka gak mungkin mau nikah lari kan?”
Ali mengerutkan dahinya, sorot matanya pun terlihat berbeda, “Nikah lari apaan sih? Pacar Nada itu gua, ngapain dia mau nikah larinya sama Kenzo?”
Suster yang tadi memperhatikan ucapan mereka, dia merasa ada sesuatu hal yang seharusnya Ali tau. “Mohon maaf sebelumnya, apa benar anda adalah pacar dari pasien Nada?”
“Iya, saya benar-benar pacarnya. Ada apa ya suster?”
Dokter James membalikan tubuhnya, menatap suster Tia. “Suster Tia, ada apa ya?”
“Ini adalah pacar dari pasien Nada dok. Tadi saya dengar dari mereka, pasien sepertinya dibawa oleh orang yang bukan kerabatnya.”
“Benarkah seperti itu?” tanya Dokter James dengan raut wajah yang khawatir.
“Iya dokter, dia teman saya. Hanya aja dari tadi saya dan papanya gak bisa kontak Nada, saya telepon Kenzo pun gak diangkat. Kita hanya takut sesuatu terjadi sama mereka saja dokter.”
Dokter James menghela nafas panjangnya, “Apa yang mereka sedang lakukan? Ini sangat membahayakan.”
“Apa maksud dokter ya?”
“Kamu cepat berusaha menemukan mereka. Nada itu dalam kondisi gawat dan perlu penanganan yang intensif, tidak seharusnya dibuat permainan seperti ini.”
Ali mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Dokter James. “Sebenarnya ada apa ini dokter? Gawat apanya?”
“Dia pasti masih menutupi semuanya kepada kalian. Tapi ini menyangkut nyawa, tidak bisa dibuat main-main seperti ini. Nada sebenarnya menderita kanker otak stadium 4 awal.”
__ADS_1
Mata Ali semakin terbelalak, “Kanker otak…”
“Iya, saya tidak main-main. Dari awal saya sudah meminta untuk anggota keluarga datang, tapi dia tidak pernah membawa siapapun datang menjadi walinya. Kalian cepat segera temukan dia dan bawa ke sini.”
Dengan wajah linglung Ali dengan segera berlari keluar rumah sakit, Bisma berlari mengikuti dari belakang. Bisma dengan segera mengambil mobilnya dan menghampiri Ali.
“Li, buruan masuk. Kita langsung ke rumah Kenzo buat cari dia.” teriak Bisma dari balik kemudinya.
Sepanjang perjalanan Ali terdiam, dia tak mampu berbicara. Selain mengkhawatirkan keadaan Nada, dia juga sangat menyesal. Dia tidak mengetahui penyakit yang Nada derita hingga sudah separah ini.
“Apa yang lu lakuin Ali?? Kenapa lu ga pernah tau kalau Nada menyimpan penyakit ini sendirian? Pasti semua ini gak mudah buat dia. Pacar macam apa lu Ali. Lu pacar yang gak berguna..” teriak Ali dalam hati.
“Li, lu tenang dulu ya.. Kita pasti bisa menemukan keberadaan mereka.” ucap Bisma berusaha menguatkan Ali, namun sama sekali Ali tidak mendengarkan ucapannya.
Nada dering Hp Ali terdengar begitu kencang, namun Ali tidak meresponnya. Bisma kemudian perlahan mengambil ponsel Ali dan menjawab panggilan dari Rezky itu.
“Lama banget sih diangkatnya. Gue udah ngantuk banget ini.”
“Ky, gimana?”
Rezky melihat panggilan di ponselnya, “Lho kok elu sih? Ali dimana? Bukanya dia yang tadi minta gue kontak Kenzo ya?”
“Udah sama aja. Buruan gimana? Kenzo angkat telepon lu enggak?”
“Angkat kok. Dia bilang dia gak lagi di rumah, lagi nginep di apartnya yang di TA.”
“Dia gak tau kalau lu di suruh Ali tanya kan?”
“Enggak kok, gue maen cantik sesuai permintaan Ali. Eh tapi kalian itu sebenernya kenapa sih? Bukannya Nada itu masih di RS ya? Terus kenapa kok kalian maen detektif-detektifan tapi gak ngajak gue?”
“Panjang baget ceritanya. Intinya si Kenzo itu bawa kabur Nada dari RS dan kita mau kesana jemput dia dan bawa dia balik ke RS.”
“Balik ke RS? Ngapain?”
“Nada kena kanker otak stadium 4 Ky.”
“Apa?? Oke.. Oke.. Gue ini juga otw ke Apartnya Kenzo. Kita ketemu disana ya..”
Bisma menghembuskan nafas panjangnya, memandang Ali yang menerangan entah jauh kemana tanpa mengucapkan apapun semenjak masuk ke dalam mobil. “Ali.. Ali.. Ujian apa lagi yang kalian harus jalani.. Sepertinya gue tau tentang perubahan sikap Nada dan kenapa enzo seolah nikung dia dari elu, pasti semua ini karena penyakitnya. Dia gak mau buat lu menderita harus ikut menanggung semua rasa ini. Dia lebih baik lu benci daripada harus sedih dengan keadaan dia yang seperti ini. Gue berharap kalian dapat menjalani semua ini dengan baik. Nada dapat disembuhkan dan kalian dapat hidup bersama dengan bahagia.”
__ADS_1