Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Cinta itu pasti masih ada!


__ADS_3

Ali melajukan motor balapnya dengan amarah yang sangat menguasainya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, namun tidak ada satu jawaban pun yang dia dapatkan.


“Sayang, kenapa.. Kenapa ini harus terjadi sama kita? Bukannya kemarin-kemarin hubungan kita baik-baik aja? Kenapa kamu bilang kamu mencintai Kenzo? Sebenarnya ada apa ini?”


Hati Ali benar-benar remuk redam dengan kenyataan yang harus dia hadapi. Sejujurnya dia tidak pernah mampu melepas Nada untuk selama-lamanya. Meskipun pada awalnya hubungan mereka permainan Ali karena taruhan itu dan Ali adalah seorang playboy. Tapi benar-benar saat bersama dengan Nada, Ali merasakan cinta yang tulus, yang tidak diterima dari mantan-mantannya yang terdahulu.


Di situasi yang lain, Nada meminta Kenzo mengeluarkan dia dari rumah sakit itu. Dia memutuskan untuk pergi sementara waktu, untuk menyembunyikan penyakitnya dari orang-orang terdekatnya terutama kepada papanya dan Ali.


Kenzo menatap mata Nada, “Apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk menyembunyikan semuanya dari mereka?”


Nada yang terlihat pucat hanya menganggukan kepalanya dan melemparkan senyuman kecil ala kadarnya pada Kenzo yang bersedia untuk membantu dia.


“Baiklah, aku akan membantumu sampai akhir. Aku harap kau dapat segera pulih dan dapat hidup dengan bahagia kembali.” ucap Kenzo membantu mendorong Nada dengan menggunakan kursi roda rumah sakit.


“Tolong antarkan aku ke hotel, sementara ini aku akan tinggal disana hingga urusan perijinan selesai. Aku akan pergi ke Korea bersamamu.”


Nada memegang tangan Kenzo, menghentikan langkahnya. “Kenzo, maaf dengan adanya masalahku ini membuatmu menjadi repot. Terlebih Ali menjadi salah paham dan marah ke kamu. Tapi aku ga ada cara lain untuk membuat ALi pergi menjauhiku, aku hanya ingin Ali dapat melupakan aku dan dapat hidup dengan bahagia kembali.”


Kenzo tersenyum, membelai rambut Nada, “Tenanglah.. Aku senang melakukan semuanya, jadi jangan sungkan seperti ini. Lagipula aku tau kalian saling mencintai, jadi biarkan masalah yang terjadi saat ini menjadi ujian cinta kalian. Aku yakin kamu dan Ali dapat melewati semua ujian ini dengan baik. Kita jalan sekarang ya..”


Kenzo tersenyum kecil kemudian kembali melangkahkan langkahnya. Nada terdiam kembali menerawangkan pandangannya entah kemana, seolah berjalan tanpa raga dan waktu seperti berhenti berputar membiarkan dirinya merasakan rasa sakit itu.


“Ma…. Pa…..Kalian dimana…..Ma.. Pa… Keluar.. Ali mau bicara..” Teriak Ali dengan kencang sesaat masuk ke dalam rumahnya.


Mama dan papa yang sedang berada di halaman belakang saling melemparkan pandangannya, mendengar suara anaknya seperti orang yang sedang kesetanan itu.


“Ma, itu anak kenapa? Kok gak ada sopan santunnya seperti itu?” ucap papa dengan kesalnya.


Wajah mama terlihat sedikit panik, “Mama juga gak tau pa. Ayo coba kita lihat dulu, mungkin terjadi sesuatu sama Nada.”


“Terus kalau Nada kenapa-napa, apa hubungannya sama kita? Kenapa anak kita jadi seperti ini?”


“Udah.. Udah pa.. Jangan ngomel dulu. Ayo kita lihat dulu..”


Mama dan papa akhirnya datang menghampiri Ali yang masih berteriak-teriak di ruang keluarga. 


“Kamu itu apa-apaan Aliansyah Syakieb! Kamu pikir rumah ini hutan apa! Kenapa kamu teriak-teriak seperti ini!” ucap Papa dengan nada yang tinggi.


Mama mendekati anak lelakinya, menepuk lengan Ali. “Nak, kamu ini kenapa? Kok jadi seperti ini sih? Apa ada masalah sama Nada?”

__ADS_1


Wajah Ali sudah terlihat merah, dia berusaha meredam amarahnya, “Papa suruh Ali tenang? Dengan semua yang kalian lakukan, kalian suruh Ali tenang? Ali hampir gila Ma Pa!”


“Apa maksud kamu nak? Mama sama sekali gak ngerti apa yang kamu ngomongin. Coba pelan-pelan jelasin ke kita/”


“Ma Pa.. Apa yang sebenarnya udah kalian lakukan ke Nada? Apa kalian mengancam Nada di belakang Ali?”


“Ali, papa peringatkan kamu ya. Jaga perkataanmu! Bada memang buat kamu jadi gila seperti ini! Apa sih hebatnya anak itu!”


“Udah.. Udah kalian berdua tenang sedikit.. Dan kau Ali, mama gak ngerti apa yang berusaha kamu katakan. Di sini mama akui, kami tidak setuju dengan hubungan kalian berdua, tapi mama berani jamin alau mama dan papa gak pernah mengancam Nada sekalipun. Percaya sama mama.”


Amarah Ali menurun, matanya berkaca-kaca kembali. “Jika mama dan papa gak mengancam dia, kenapa semua ini terjadi? Kenapa Nada minta putus dari aku? Apa benar Nada mencintai Kenzo?”


“Nak, kamu ini kenapa? Sebenarnya ini ada apa?”


Ali berlalu begitu saja tanpa memberikan penjelasan sedikitpun kepada mamanya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya dari dalam. Ali duduk di lantai dengan air mata yang mengalir begitu saja, menggenggam bingkai foto dirinya dan Nada disana.


Malam pun datang dan dirinya masih berada disana, air matanya seolah telah kering. Namun Ali masih termenung di lantai tanpa melakukan pergerakan sedikitpun. Mama terlihat sangat khawatir dengan keadaan Ali, mama beberapa kali berusaha untuk memanggil Ali dari balik pintu, namun tidak ada respon sedikitpun dari dalam.


Mama kemudian menghubungi Bisma untuk menanyakan apa  yang sebenarnya telah terjadi kepada Ali, tak beberapa lama Bisma pun datang untuk menceritakan semuanya kepada mama Ali dan berusaha memeriksa keadaan Ali.


“Apa? Nada mutusin Ali? Dan semua itu karena Kenzo?”


“Iya tante. Saya juga syok banget waktu denger langsung dari Nada.”


“Saya juga berpikiran yang sama tante. Apalagi Kenzo bukan tipe cowok yang seperti itu tante.”


“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa semua ini bisa terjadi? Nada masih dirawat di rumah sakit?”


“Iya tante, ada Kenzo yang jagain di sana.”


Di waktu yang bersamaan handphone Ali berdering, lamunan Ali terhenti. Ali mengambil handphone yang ada di sampingnya, hendak melempar handphone itu jauh-jauh. Namun pergerakannya terhenti disaat dia membaca tulisan nama yang ada di layar ponselnya.


“Malam Om…..”


“Eh malam Ali-a.. Lu orang lama sekali angkat telepon owe. Apa lu sibuk ya?”


“Enggak om.. Ada apa ya om?”


Om achin mengerutkan keningnya. “Lu orang kenapa kok lemes gak seperti biasa? Lu sakit apa?”

__ADS_1


“Ali baik-bai aja kok om. Cuma agak capek aja.”


“Oh iya iya.. Eh Ali-a, owe cuma mau tanya sebenarnya lu orang bawa anak owe kemana ya? Tadi Aling jam 3 cuma chat owe katanya mau pergi sama lu, terus sampai sekarang handphonenya mati. Lu gak bawa anak owe buat macem-macem kan?”


Ali mengerutkan keningnya, berusaha berdiri. “Nada bilang gimana sama om tadi?”


“Ya dia cuma bilang kalau lu orang ajakin dia jalan-jalan ke luar kota, ga bisa pulang dulu. Sebenarnya lu itu ajak anak owe kemana? Kalian gak berencana kawin lari kan? Jangan ya, itu dosa ya.. Lu harus dapet restu dulu dari orang tua lu baru boleh nikah. Ngerti..”


“Iya om, saya mengerti hal itu. Ya udah saya tutup dulu teleponnya ya om…”


“Eh lu belum bilang anak owe dimana, jangan main tutup dulu…”


“Om jangan khawatir, saya pasti akan jagain Aling dengan baik om.” ucap ALi hendak menutup panggilannya. 


“Eh sebentar…”


“Kenapa lagi om?”


“Beberapa hari ini hati owe lagi gak enak, firasat owe bilang Aling lagi ada masalah. Dan anehnya lagi, tadi pagi waktu owe masuk kamar Aling. Owe liat kamar Aling berantakan, padahal Aling bukan tipe anak yang suka berantakan. Anehnya lagi, owe nemuin ada surat rumah sakit yang udah di sobek-sobek.”


“Surat rumah sakit yang di sobek-sobek?” tanya Ali dalam hati.


Om Achin berusaha memastikan keadaan anaknya kepada Ali, “Ali-a, anak owe baik-baik aja kan?”


“Iya om. Ali ada urusan, nanti Ali telepon lagi ya om.” ucap Ali menutup telepon om Achin.


Om Achin memegang kepalanya, "Ini anak dua kenapa ya kok aneh? Apa mereka lagi berantem lagi atau apa ya? Semoga mereka gak ada masalah lagi lah ya.. Kasihan anak owe satu ini."


Setelah menutup teleponnya, dengan segera Ali lari keluar dari kamarnya dengan sedikit lemas. Bisma dan mama Ali berusaha menahan langkahnya. 


“Bro, lu kenapa? Tenang dulu..”


“Nak, kamu mau kemana?”


Ali menatap wajah Bisma dengan tatapan yang sangat serius, “Bis, ini ada sesuatu yang gak beres. Gua harus pastiin semua. Gue harus ke rumah sakit.”


“Oke. Oke.. Ayo biar gue temenin ke rumah sakit.”


“Ayo kita jalan sekarang.”

__ADS_1


“Oke.. oke.. Tante, saya temenin Ali ya..” ucap Bisma berlari mengejar Ali yang sudah berlari ke parkiran.


“Iya, kalian hati-hati ya.. Nanti kabarin tante ya Bisma.” teriak mama Ali. 


__ADS_2