Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Angin ribut datang menerjang


__ADS_3

Keesokan  harinya  Nada  datang  ke  Rumah  Sakit  tempatnya di rawat kemarin tanpa  ditemani  oleh  siapapun.  Nada  sengaja  tidak memberitahukan  kepada  siapapun jika hari ini dia diminta untuk datang kesana, karena  Nada  tidak ingin membuat  seorang pun  khawatir  mengenai  keadaannya.


Sejujurnya Nada sudah beberapa waktu merasakan sesuatu hal yang tidak beres terhadap tubuhnya namun karena sesuatu dan lain hal, Nada tidak pernah mengindahkan kondisinya. Dia tetap berusaha melakukan semua aktifitas yang harus dikerjakan dengan segenap kekuatan yang dia miliki.


Entah  mengapa  hati  Nada  merasa sedikit cemas mengenai keadaannya,  dia takut sesuatu yang buruk akan datang menerpa hidupnya sekali lagi. Tangannya  terasa  dingin  karena  dia  gugup  dengan  hasil  yang  akan  dia  terima.  Setelah beberapa  saat  menunggu di salah satu bangku di ruang tunggu,  suster datang dan mempersilahkan  Nada  masuk  ke  dalam  ruangan  Dokter  James, dokter yang memeriksa dia kemarin.


Seperti biasa Dokter James tersenyum dan mempersilahkan Nada untuk duduk terlebih dahulu. Dokter James kemudian membuka  hasil  laboratorium  yang  telah  Nada lakukan kemarin.  Dokter James yang  memiliki  umur  sekitar usia ayah  Nada  ini beberapa detik kemudian menggelengkan  kepalanya.  “Apa  kamu datang sendirian? Kamu tidak  datang  bersama  orang  tua  kamu?”


“Saya  datang  sendiri  dokter.  Saya  sengaja  tidak  membawa  ayah  saya,  saya  tidak  ingin  membuat  beliau  khawatir  dengan  keadaan  saya. “


Dokter James menatap wajah Nada dengan tatapan khawatirnya, “Tapi ini… Seharusnya kamu datang dengan membawa orang tua atau seseorang yang dekat dengan kamu.”


“Ada apa sebenarnya ini? Apa keadaanku benar-benar sangat mengkhawatirkan? Kenapa raut wajah dokter James seperti itu?” tanya Nada dalam hati. Tangannya sudah mulai bergetar, dia berusaha menahan semua ketakutan yang sedang menyerang dirinya.


Nada berusaha tersenyum menatap wajah Dokter James, “Tolong  dokter  memberitahukan  apa  yang  terjadi  kepada  saya,  saya  akan  menerima  apapun  kenyataan  yang  harus  saya  jalani.”  


“Baiklah jika keputusanmu seperti itu. Ada  sel  kanker  yang  berada  di  otak  kecil  kamu  dan  sel  tersebut  telah  memasuki  stadium  3.”


Mata  Nada  terperanjat,  dia  tidak  pernah  membayangkan  hal  seburuk  ini dapat  terjadi  kepada  dirinya.  “Lalu  apa  yang  harus  saya  lakukan  dok?”


“Cara  satu-satunya  untuk  memperlambat  sel  kanker  ini  berkembang,  hanya  dengan  melakukan  kemoterapi.  Sebaiknya  dilakukan  operasi  untuk  mengangkat  sel  kanker  yang  ada  di  otak  kamu.  tapi  semua  itu  juga  memiliki  resiko  tersendiri.  Karena  sel  kanker  itu  menempel  di  otak  kecil  kamu.”


“Apa  resiko  yang  terjadi  jika  dilakukan  operasi  pengangkatan  dok?”


Dokter James sebenarnya tidak tega untuk mengatakan semuanya, namun itulah yang harus dia lakukan sebagai seorang dokter. “Resiko  pertama  pasti  tingkat  kematian  yang  tinggi,  kedua  dapat  membuat  anda  Koma  beberapa  saat  dan  yang  terakhir  kemungkinan  terbesarnya  adalah  hilangnya  sebagian  bahkan  sepenuhnya  ingatan  Anda.”


Nada  memegang  kepalanya  yang  mulai  terasa  berat,  “Berapa  biaya  yang  diperlukan  untuk  melakukan  operasi  itu  dokter?”


“Untuk  operasinya,  dana  yang  dibutuhkan  sekitar  80  juta.  Itu  belum  termasuk  ruang  perawatan  dan  obat-obatan  yang  harus  anda  konsumsi.  Kurang  lebih  dana  yang  harus  disiapkan  sekitar  120  juta.”


“120  juta  dokter?  Banyak  banget  biaya  yang  dibutuhkan?  Saya  tidak  punya  uang  sebanyak  itu  dokter.”


“Iya  memang  biaya  yang  dibutuhkan  banyak  nak  kalau  melakukan  operasi.  Bagaimana  kamu  melakukan  kemoterapi  terlebih  dahulu.  Untuk  biaya  kemoterapi  saya  akan  membantu  kamu,  saya  akan  mengeluarkan  surat  donatur  dari  yayasan  Kanker  milik  saya.”


“Dokter  punya  Yayasan  Kanker?”


“Iya,  Yayasan  kanker  itu  saya  buat  12  tahun  yang  lalu.”


“Saya  minta  waktu  untuk  memikirkan  semuanya  beberapa  saat  ya  dokter.  Nanti  saya  datang  kesini  menemui  dokter.”

__ADS_1


Dokter  James  menepuk  pundak  Nada,  “Baiklah,  saya  mengerti.  Ini  kartu  nama  saya  jika  kamu  mengalami  sesuatu  yang  tidak  enak  di  tubuh  kamu,  kamu  dapat  menghubungi  nomor  telepon  rumah  atau  ponsel  saya.  Tapi  saya  sarankan  jangan  lama-lama  karena  kita  belum  mengetahui  ganas  atau  tidaknya  sel  kanker  yang  ada  di  otak  kamu.”


“Baik  dokter.”


Dokter  James  kembali  ke  tempat  duduknya,  menulis  sebuah  resep  obat.  “Ini  saya  memberikan  obat  pereda  nyeri  untuk  beberapa  saat.  Jika  kamu  tidak  tahan dengan  rasa  sakit  yang  datang  dikepala  kamu,  harap  kamu  mengkonsumsinya.  Ini  adalah  obat  generic  jadi  tidak  terlalu  mahal.”


Nada  tersenyum  kecil,  “Baik  dokter.  Terima  kasih  banyak  ya  dok.  Saya  percaya,  Dokter  dikirimkan  Tuhan  untuk  membantu  saya.  Sekali  lagi  terima  kasih  banyak.”


Dokter James tersenyum memandang wajah Nada yang sudah terasa tak berdaya. “Sama-sama.  Saya  juga  senang  bisa  membantu  kamu,  kebetulan  umur  kamu  sama  dengan  umur  anak  saya.  Dia  meninggal  14  tahun  lalu,  maka  dari  itu  saya  mencari  donatur  untuk  membuka  Yayasan  ini.”


“Maaf  dokter  saya  tidak  bermaksud  untuk  membuat  dokter  sedih.”


“Tidak  apa-apa  kok.  Meskipun  saya  sempat  sedih,  tapi  itu  mungkin  adalah  kehendak  Tuhan.  Supaya  saya  dapat  membantu  banyak  orang  yang  memiliki  penyakit  seperti  anak  saya.  Dan  saya  harap  kamu  segera  melakukan  kemoterapi  tersebut.”


“Iya  dokter,  saya  akan  menghubungi  dokter  secepatnya.”


Nada kemudian berpamitan  kepada  Dokter  James.  Hatinya  seperti  jatuh  luluh  lantak,  pecah  menjadi  berkeping-keping tanpa tersisa.  Dia  bertanya  kepada  dirinya  sendiri, dengan semua yang dia alami saat ini. “Tuhan,  kenapa  cobaan  ini  terjadi  kepadaku?  Apa  Engkau  merasa  aku  mampu  untuk  menjalaninya?  Apa  seperti  itu  Tuhan?  Aku  masih  mau  bersama  papa,  Tuhan.  Aku  tidak  mampu  meninggalkan  papa.  Apa  yang  terjadi  kepada  papa  jika  aku  juga  meninggalkan  dia?”


Airmata  terlihat  mengalir  dari  sudut  mata  Nada.  Selain  karena  kaget  dengan  kenyataan  pahit  yang  harus  dia  terima,  dia  juga  tidak  dapat  meninggalkan  papa  yang  sangat  dia  sayangi.  Dia  memutuskan  pergi  ke  Capel  Rumah  Sakit  untuk  berdoa beberapa waktu disana.


Senja  datang,  bias  cahaya  matahari  menjadi  semu tak tampak dan perlahan sirna.  Dedaunan juga berguguran  terhempas hembusan angin.  Nada terlihat duduk  di  teras  rumahnya,  wajahnya  terlihat  sedih,  bibirnya  terasa  kelu tak mampu untuk berkata. Seolah dia merasa jatuh ke dalam lembah yang paling dalam dan tak mampu untuk melakukan apapun. Om  Achin,  ayah  Nada sedari tadi memperhatikan  putri  semata  wayangnya. Hatinya  merasakan  ada  sesuatu  yang  terjadi  kepada  Nada,  tapi  dia pun  tidak  mengetahui  apa  yang sebenarnya sedang terjadi kepada dia.


Nada  menoleh  ke  arah  suara  yang  memanggilnya,  “Xie-xie pa.  papa  jingcuo  (duduk).”


Om  Achin  duduk  di  samping  Nada,  Nada  meletakan  tangannya  di  pangkuan  papanya.  Sepertinya  sudah  lama  Nada  tidak  bermanja  kepada  ayahnya  seperti  ini.  Om Achin tersenyum membelai  rambut  anaknya.


“Terakhir  lu  orang  manja  sama  papa  waktu  mama  dan  adek  lu  masih  ada.  Kita  sering  duduk  kumpul  sama-sama  seperti  sekarang  ini, disini kita cerita-cerita.  Lu  kangen  mama  sama  adik  kecil ya?”


Nada  menganggukan  kepalanya,  air mata yang tak tertahankan keluar begitu saja membasahi  pipinya. Tiada  kata  yang  dapat  keluar  dari  mulut  Nada sedikitpun.  Om  Achin  meneruskan  ucapannya,  “Mama  dan  XiauTi  pasti  sudah  bahagia  di  Surga.  Kita  hanya  perlu  mendoakan  segala  yang  terbaik  untuk  mereka  saja. Udah lu gak usah nangis begini, kalau lu nangis nanti mama sama xiaoti bisa sedih disana.”


“Iya  pa.  Aling ngerti semua itu. Setiap malam Aling selalu  mendoakan mereka.”


Om Achin tersenyum mendengar ucapan Nada, “Aling  kenapa?  Apa  ada  masalah  dengan  Ali?”


Nada menggeleng kepalanya, “Semua  baik-baik  aja kok pa. Hubungan Aling dan Ali baik-baik aja, Ali selalu bai dan sayang sama Aling.”


“Kalau gitu kenapa lu orang kok keliatan sedih? Dari tadi papa liat, Aling keliatan lesu seperti ini. Kenapa nak?”


“Aling  hanya  kecapean,  biarin  Aling  di  sini  dulu  ya  pa.  Aling  kangen  saat  seperti  ini, waktu-waktu Aling manja sama papa.”        

__ADS_1


Om  Achin  tersenyum  tipis.  Nada  tertidur  di pangkuan  ayahnya,  air matanya  terlihat  membasahi  pipinya.  Om  Achin yang masih terlihat sangat kuat menggendong  Nada  dan  meletakan  Nada  di  kamarnya.  Rasa  bingung  dan  khawatir  muncul  di  dalam  hati  Om  Achin.


Beberapa saat kemudian Om Achin mengambil ponselnya dan menghubungi calon menantu kesayangannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama Ali dengan segera menerima panggilan dari calon mertua.


Ali meletakan stik drum yang sedang dia mainkan. “Hallo.. Assalamualaikum Om…”


“Hallo… Waalaikumsalam.. “ ucap Om Achin membalas salam dari Ali.


Ali tersenyum mendengarkan salam yang Om Achin berikan kepadanya. Meskipun Om Achin beragama Kristen, tapi memang mereka adalah keluarga yang sangat menghargai perbedaan. “Malem Om.. Om kok tumben telepon Ali malem-malem gini?”


“Jadi owe gak boleh telepon-telepon lu orang gitu?”


“Oh bukan seperti itu Om.. Tentu aja boleh dong.. Kan calon mertua masak gak boleh telepon. Maksud Ali, kan biasa Om telpon gak pernah semalam ini. Gitu maksud Ali om..”


“Ali.. owe pengen tanya.. Tapi lu jawab yang jujur ya..” ucap Om Achin dengan nada suara serius.


“Aduh kenapa nih kok tumben Papa sayangku ini ngajak ngomong serius kayak gini? Terakhir ngobrol serius kan waktu ditanya perasaan gue ke Nada, sekarang apa lagi ya?” tanya Ali dalam hati.


“Ali…..” ucap Om Achin menyadarkan Ali dari lamunannya.


“Eh.. Iya Om, boleh boleh.. Ali akan jawab pertanyaan Om dengan sejujur-jujurnya.. Ali janji.”


“Apa lu sama anak owe ada masalah gitu? Apa kalian lagi berantem berdua?”


Ali berpikir sejenak, “Ali rasa sama Aling gak ada masalah om, kita gak lagi bertengkar kok. Emang kenapa ya om?”


“Beneran? Lu gak lagi berusaha bohongin owe kan?”


“Enggak om, beneran. Ali jujur sejujur-jujurnya om. Kita gak lagi berantem. Malah tadi pagi Ali sempet ketemu dia sebentar, Aling dan Ali sarapan bareng sebelum berangkat ke kampus.”


“Oh baguslah berarti kalau gitu..” ucap Om Achin dengan leganya.


“Tapi kenapa ya kok om tanya seperti itu ke Ali? Emang ada masalah om?”


“Itu dari tadi owe liat Aling itu sedih, wajahnya tidak seperti biasa. Jadi owe pikir kalian apa berantem atau bagaimana. Kalau ternyata enggak, owe bisa enang. Mungkin bener Aling hanya sedang kangen sama mama dan adiknya saja. Ya sudah kalau gitu owe tutup teleponnya, owe mau istirahat. Makasih.”


“Iya om, sama-sama. Selamat istirahat om….”


Ali menutup teleponnya, lupa mengucapkan salam. Ali terlihat mengerutkan keningnya, “Nada kenapa ya? Perasaan chatku juga sepanjang hari ini kok gak dia buka ya? Apa bener dia lagi kangen sama mama dan adiknya? Jadi chat juga gak dia balas ya? Semoga dia baik-baik aja. Jagai dia ya Allah…”

__ADS_1


__ADS_2