
Keesokan harinya Nada datang ke Rumah Sakit tempatnya di rawat kemarin tanpa ditemani oleh siapapun. Nada sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun jika hari ini dia diminta untuk datang kesana, karena Nada tidak ingin membuat seorang pun khawatir mengenai keadaannya.
Sejujurnya Nada sudah beberapa waktu merasakan sesuatu hal yang tidak beres terhadap tubuhnya namun karena sesuatu dan lain hal, Nada tidak pernah mengindahkan kondisinya. Dia tetap berusaha melakukan semua aktifitas yang harus dikerjakan dengan segenap kekuatan yang dia miliki.
Entah mengapa hati Nada merasa sedikit cemas mengenai keadaannya, dia takut sesuatu yang buruk akan datang menerpa hidupnya sekali lagi. Tangannya terasa dingin karena dia gugup dengan hasil yang akan dia terima. Setelah beberapa saat menunggu di salah satu bangku di ruang tunggu, suster datang dan mempersilahkan Nada masuk ke dalam ruangan Dokter James, dokter yang memeriksa dia kemarin.
Seperti biasa Dokter James tersenyum dan mempersilahkan Nada untuk duduk terlebih dahulu. Dokter James kemudian membuka hasil laboratorium yang telah Nada lakukan kemarin. Dokter James yang memiliki umur sekitar usia ayah Nada ini beberapa detik kemudian menggelengkan kepalanya. “Apa kamu datang sendirian? Kamu tidak datang bersama orang tua kamu?”
“Saya datang sendiri dokter. Saya sengaja tidak membawa ayah saya, saya tidak ingin membuat beliau khawatir dengan keadaan saya. “
Dokter James menatap wajah Nada dengan tatapan khawatirnya, “Tapi ini… Seharusnya kamu datang dengan membawa orang tua atau seseorang yang dekat dengan kamu.”
“Ada apa sebenarnya ini? Apa keadaanku benar-benar sangat mengkhawatirkan? Kenapa raut wajah dokter James seperti itu?” tanya Nada dalam hati. Tangannya sudah mulai bergetar, dia berusaha menahan semua ketakutan yang sedang menyerang dirinya.
Nada berusaha tersenyum menatap wajah Dokter James, “Tolong dokter memberitahukan apa yang terjadi kepada saya, saya akan menerima apapun kenyataan yang harus saya jalani.”
“Baiklah jika keputusanmu seperti itu. Ada sel kanker yang berada di otak kecil kamu dan sel tersebut telah memasuki stadium 3.”
Mata Nada terperanjat, dia tidak pernah membayangkan hal seburuk ini dapat terjadi kepada dirinya. “Lalu apa yang harus saya lakukan dok?”
“Cara satu-satunya untuk memperlambat sel kanker ini berkembang, hanya dengan melakukan kemoterapi. Sebaiknya dilakukan operasi untuk mengangkat sel kanker yang ada di otak kamu. tapi semua itu juga memiliki resiko tersendiri. Karena sel kanker itu menempel di otak kecil kamu.”
“Apa resiko yang terjadi jika dilakukan operasi pengangkatan dok?”
Dokter James sebenarnya tidak tega untuk mengatakan semuanya, namun itulah yang harus dia lakukan sebagai seorang dokter. “Resiko pertama pasti tingkat kematian yang tinggi, kedua dapat membuat anda Koma beberapa saat dan yang terakhir kemungkinan terbesarnya adalah hilangnya sebagian bahkan sepenuhnya ingatan Anda.”
Nada memegang kepalanya yang mulai terasa berat, “Berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan operasi itu dokter?”
“Untuk operasinya, dana yang dibutuhkan sekitar 80 juta. Itu belum termasuk ruang perawatan dan obat-obatan yang harus anda konsumsi. Kurang lebih dana yang harus disiapkan sekitar 120 juta.”
“120 juta dokter? Banyak banget biaya yang dibutuhkan? Saya tidak punya uang sebanyak itu dokter.”
“Iya memang biaya yang dibutuhkan banyak nak kalau melakukan operasi. Bagaimana kamu melakukan kemoterapi terlebih dahulu. Untuk biaya kemoterapi saya akan membantu kamu, saya akan mengeluarkan surat donatur dari yayasan Kanker milik saya.”
“Dokter punya Yayasan Kanker?”
“Iya, Yayasan kanker itu saya buat 12 tahun yang lalu.”
“Saya minta waktu untuk memikirkan semuanya beberapa saat ya dokter. Nanti saya datang kesini menemui dokter.”
__ADS_1
Dokter James menepuk pundak Nada, “Baiklah, saya mengerti. Ini kartu nama saya jika kamu mengalami sesuatu yang tidak enak di tubuh kamu, kamu dapat menghubungi nomor telepon rumah atau ponsel saya. Tapi saya sarankan jangan lama-lama karena kita belum mengetahui ganas atau tidaknya sel kanker yang ada di otak kamu.”
“Baik dokter.”
Dokter James kembali ke tempat duduknya, menulis sebuah resep obat. “Ini saya memberikan obat pereda nyeri untuk beberapa saat. Jika kamu tidak tahan dengan rasa sakit yang datang dikepala kamu, harap kamu mengkonsumsinya. Ini adalah obat generic jadi tidak terlalu mahal.”
Nada tersenyum kecil, “Baik dokter. Terima kasih banyak ya dok. Saya percaya, Dokter dikirimkan Tuhan untuk membantu saya. Sekali lagi terima kasih banyak.”
Dokter James tersenyum memandang wajah Nada yang sudah terasa tak berdaya. “Sama-sama. Saya juga senang bisa membantu kamu, kebetulan umur kamu sama dengan umur anak saya. Dia meninggal 14 tahun lalu, maka dari itu saya mencari donatur untuk membuka Yayasan ini.”
“Maaf dokter saya tidak bermaksud untuk membuat dokter sedih.”
“Tidak apa-apa kok. Meskipun saya sempat sedih, tapi itu mungkin adalah kehendak Tuhan. Supaya saya dapat membantu banyak orang yang memiliki penyakit seperti anak saya. Dan saya harap kamu segera melakukan kemoterapi tersebut.”
“Iya dokter, saya akan menghubungi dokter secepatnya.”
Nada kemudian berpamitan kepada Dokter James. Hatinya seperti jatuh luluh lantak, pecah menjadi berkeping-keping tanpa tersisa. Dia bertanya kepada dirinya sendiri, dengan semua yang dia alami saat ini. “Tuhan, kenapa cobaan ini terjadi kepadaku? Apa Engkau merasa aku mampu untuk menjalaninya? Apa seperti itu Tuhan? Aku masih mau bersama papa, Tuhan. Aku tidak mampu meninggalkan papa. Apa yang terjadi kepada papa jika aku juga meninggalkan dia?”
Airmata terlihat mengalir dari sudut mata Nada. Selain karena kaget dengan kenyataan pahit yang harus dia terima, dia juga tidak dapat meninggalkan papa yang sangat dia sayangi. Dia memutuskan pergi ke Capel Rumah Sakit untuk berdoa beberapa waktu disana.
Senja datang, bias cahaya matahari menjadi semu tak tampak dan perlahan sirna. Dedaunan juga berguguran terhempas hembusan angin. Nada terlihat duduk di teras rumahnya, wajahnya terlihat sedih, bibirnya terasa kelu tak mampu untuk berkata. Seolah dia merasa jatuh ke dalam lembah yang paling dalam dan tak mampu untuk melakukan apapun. Om Achin, ayah Nada sedari tadi memperhatikan putri semata wayangnya. Hatinya merasakan ada sesuatu yang terjadi kepada Nada, tapi dia pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada dia.
Nada menoleh ke arah suara yang memanggilnya, “Xie-xie pa. papa jingcuo (duduk).”
Om Achin duduk di samping Nada, Nada meletakan tangannya di pangkuan papanya. Sepertinya sudah lama Nada tidak bermanja kepada ayahnya seperti ini. Om Achin tersenyum membelai rambut anaknya.
“Terakhir lu orang manja sama papa waktu mama dan adek lu masih ada. Kita sering duduk kumpul sama-sama seperti sekarang ini, disini kita cerita-cerita. Lu kangen mama sama adik kecil ya?”
Nada menganggukan kepalanya, air mata yang tak tertahankan keluar begitu saja membasahi pipinya. Tiada kata yang dapat keluar dari mulut Nada sedikitpun. Om Achin meneruskan ucapannya, “Mama dan XiauTi pasti sudah bahagia di Surga. Kita hanya perlu mendoakan segala yang terbaik untuk mereka saja. Udah lu gak usah nangis begini, kalau lu nangis nanti mama sama xiaoti bisa sedih disana.”
“Iya pa. Aling ngerti semua itu. Setiap malam Aling selalu mendoakan mereka.”
Om Achin tersenyum mendengar ucapan Nada, “Aling kenapa? Apa ada masalah dengan Ali?”
Nada menggeleng kepalanya, “Semua baik-baik aja kok pa. Hubungan Aling dan Ali baik-baik aja, Ali selalu bai dan sayang sama Aling.”
“Kalau gitu kenapa lu orang kok keliatan sedih? Dari tadi papa liat, Aling keliatan lesu seperti ini. Kenapa nak?”
“Aling hanya kecapean, biarin Aling di sini dulu ya pa. Aling kangen saat seperti ini, waktu-waktu Aling manja sama papa.”
__ADS_1
Om Achin tersenyum tipis. Nada tertidur di pangkuan ayahnya, air matanya terlihat membasahi pipinya. Om Achin yang masih terlihat sangat kuat menggendong Nada dan meletakan Nada di kamarnya. Rasa bingung dan khawatir muncul di dalam hati Om Achin.
Beberapa saat kemudian Om Achin mengambil ponselnya dan menghubungi calon menantu kesayangannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama Ali dengan segera menerima panggilan dari calon mertua.
Ali meletakan stik drum yang sedang dia mainkan. “Hallo.. Assalamualaikum Om…”
“Hallo… Waalaikumsalam.. “ ucap Om Achin membalas salam dari Ali.
Ali tersenyum mendengarkan salam yang Om Achin berikan kepadanya. Meskipun Om Achin beragama Kristen, tapi memang mereka adalah keluarga yang sangat menghargai perbedaan. “Malem Om.. Om kok tumben telepon Ali malem-malem gini?”
“Jadi owe gak boleh telepon-telepon lu orang gitu?”
“Oh bukan seperti itu Om.. Tentu aja boleh dong.. Kan calon mertua masak gak boleh telepon. Maksud Ali, kan biasa Om telpon gak pernah semalam ini. Gitu maksud Ali om..”
“Ali.. owe pengen tanya.. Tapi lu jawab yang jujur ya..” ucap Om Achin dengan nada suara serius.
“Aduh kenapa nih kok tumben Papa sayangku ini ngajak ngomong serius kayak gini? Terakhir ngobrol serius kan waktu ditanya perasaan gue ke Nada, sekarang apa lagi ya?” tanya Ali dalam hati.
“Ali…..” ucap Om Achin menyadarkan Ali dari lamunannya.
“Eh.. Iya Om, boleh boleh.. Ali akan jawab pertanyaan Om dengan sejujur-jujurnya.. Ali janji.”
“Apa lu sama anak owe ada masalah gitu? Apa kalian lagi berantem berdua?”
Ali berpikir sejenak, “Ali rasa sama Aling gak ada masalah om, kita gak lagi bertengkar kok. Emang kenapa ya om?”
“Beneran? Lu gak lagi berusaha bohongin owe kan?”
“Enggak om, beneran. Ali jujur sejujur-jujurnya om. Kita gak lagi berantem. Malah tadi pagi Ali sempet ketemu dia sebentar, Aling dan Ali sarapan bareng sebelum berangkat ke kampus.”
“Oh baguslah berarti kalau gitu..” ucap Om Achin dengan leganya.
“Tapi kenapa ya kok om tanya seperti itu ke Ali? Emang ada masalah om?”
“Itu dari tadi owe liat Aling itu sedih, wajahnya tidak seperti biasa. Jadi owe pikir kalian apa berantem atau bagaimana. Kalau ternyata enggak, owe bisa enang. Mungkin bener Aling hanya sedang kangen sama mama dan adiknya saja. Ya sudah kalau gitu owe tutup teleponnya, owe mau istirahat. Makasih.”
“Iya om, sama-sama. Selamat istirahat om….”
Ali menutup teleponnya, lupa mengucapkan salam. Ali terlihat mengerutkan keningnya, “Nada kenapa ya? Perasaan chatku juga sepanjang hari ini kok gak dia buka ya? Apa bener dia lagi kangen sama mama dan adiknya? Jadi chat juga gak dia balas ya? Semoga dia baik-baik aja. Jagai dia ya Allah…”
__ADS_1