
Ali terlihat masih tertidur dengan selang oksigen di hidungnya. Waktu penanganan dokter, Ali sempat sesak nafas maka dari itu dokter memasang alat bantu pernafasan.
Nada berdiri di samping Ali dengan air mata penyesalan yang mengalir di pipinya, dia memegang tangan Ali dengan erat. “Ali bangun. Maafin aku. Ali gak mau liat kamu yang seperti ini. Ini semua karena kesalahan aku yang gak percaya akan cinta kita. Maafin aku.”
Kenzo menepuk punggung Nada, berusaha memberi kekuatan. “Dia hanya tertidur dia hanya lelah, sebentar lagi dia akan bangun.”
Terlihat wajah Ali yang gelisah, keningnya berkerut. Nada menyuruh Kenzo mencari dokter jaga untuk memeriksa keadaan Ali. Tak beberapa lama, Ali membuka matanya perlahan. Ali memperhatikan sekelilingnya berusaha mengenali apa yang telah terjadi, Ali tersenyum sesaat melihat Nada berada di sisinya.
Nada tersenyum meletakkan tangannya di pipi Ali, dia ingin memastikan bagaimana keadaan orang yang sangat dia cintai saat ini. “Sayang, kamu udah bangun? Gimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit?”
Ali tersenyum bahagia, menggenggam jemari Nada. “Aku baik-baik aja kok. Cuma agak pusing sedikit.”
Nada meneteskan air mata penyesalan, “Maafin aku ya, gara-gara aku kamu ngelakuin hal menakutkan seperti ini. Ini semua salah aku.”
Ali membelai rambut Nada, “Hey sayang. Ini bukan salah kamu kok. Kamu sama sekali gak melakukan kesalahan apapun ke aku. Aku kan yang ingin membuktikan cinta aku ke kamu tapi sayangnya aku gagal. Aku gak mampu melawan trauma aku, maafin aku ya. Aku gak bisa buktiin cinta aku ke kamu.”
Ali mengusap air mata Nada, “Kamu jangan nangis, aku juga sedih kalau ngeliat kamu nangis gini. Aku memang gak mampu membuktikan cinta aku ke kamu tapi kamu gak akan ninggalin aku kan? Gimana kalau yang lain aja cara untuk membuktikan cinta aku ke kamu?”
Nada menaruh telunjuknya di bibir Ali, “Kamu gak perlu buktiin apapun lagi ke aku. Aku sudah tau perasaan kamu sebenarnya ke aku lewat kejadian ini. Dan kamu tau gak tadi temen-temen kamu udah cerita semuanya ke aku.”
“Mereka cerita apa?”
Nada tersenyum, “Banyak hal tentang kamu yang mereka ceritakan ke aku..”
“Cerita apa aja nih? Yang baik atau yang buruk? Gak sepenuhnya cerita mereka itu benar tentang aku bisa dipercaya sayang. Kalau kamu mau tahu cerita tentang aku, lebih baik kamu tanya ke aku sendiri saja.”
Nada tersenyum, “Salah satu cerita yang mereka ceritakan adalah perjalanan cinta playboy kelas kakap yang berlabuh kepada seorang wanita seperti aku.”
Ali tersenyum malu, “Kalau yang itu sisi jeleknya aku dong. Nanti kalau aku udah sehat, aku akan bikin perhitungan sama mereka.”
Nada mencubit pipi Ali, “Kamu ini belum sembuh juga udah berpikiran buat bales orang, gimana sih cayangku ini.”
Ali meringis kesakitan, “Makasih ya sayang, kamu mau kembali ke aku. Aku janji, aku gak akan pernah buat kamu sedih lagi.”
__ADS_1
“Kamu gak perlu janjiin aku apapun lagi ke aku. Semuanya telah lebih dari cukup, kemarin kamu telah membuktikan segalanya.”
“Aku kemarin seminggu tanpa kamu, aku seperti zombie tau gak? Aku gak konsen ngelakuin apapun. Aku coba telepon berkali-kali tapi gak kamu angkat. Aku bingung harus berbuat apa lagi.” Ucap Ali dengan wajah sedih.
“Kamu kira kemarin itu waktu aku tanpa kamu, aku bisa baik-baik aja? Enggak tau. Aku juga gak konsen kerja, kerjaanku fail semua. Sampai atasan aku negur aku.”
“Berarti kita saling membutuhkan dan gak akan pernah bisa terpisahkan kan.. Makasih ya udah kasih kesempatan buat aku.”
Nada tersenyum kemudian datang memeluk Ali. Tak beberapa lama Rezky masuk ke dalam bersama kedua orang tua Ali. Nada bingung melihat orang tua Ali, karena dia sama sekali belum pernah bertemu mereka. Wajah Ali yang cerah ceria awalnya berubah menjadi mendung.
Rezky memperkenalkan Nada kepada orang tua Ali. Nada berkenalan dan bersalaman dengan mereka. Ibu Ali datang menghampiri Ali.
“Nak, kamu gimana keadaannya? Apa perlu kita pindah Rumah Sakit yang lebih bagus dari Rumah Sakit ini?”
Ali terlihat acuh tak acuh dengan keberadaan orang tuanya. “Mama, Papa ngapain ke sini? Masih sadar punya anak? Bukannya pekerjaan kalian jauh lebih penting ketimbang anaknya sendiri?”
“Kamu ngomong apa sih nak? Kami sayang kamu, makanya papa dan mama berusaha cari uang yang banyak buat kebutuhan kamu.” Ucap Ibu dengan berlinang air mata.
Ayah memeluk ibu, “Sampai kapanpun kamu itu anak kami. Kamu itu sudah besar, jangan seperti anak kecil. Bukannya kamu sudah terbiasa sendirian?”
Nada menggenggam jemari tangan Ali, Nada berusaha menyadarkannya jika ucapan Ali sudah terlampau jauh. Ali kemudian tersadar, dia menoleh ke tempat Nada duduk di samping kanannya. “Ali harap mama dan papa keluar dari kamar ini. Ali butuh waktu untuk sendiri.”
Rezky merasa bersalah kepada Ali karena telah menghubungi orang tuanya. Rezky mencoba mengajak papa dan mama Ali untuk keluar ruang rawat Ali sejenak.
Nada bangkit dari tempat duduknya, mengusap kening Ali. “Mereka orang tuamu?”
Ali menganggukan kepalanya, “Tapi mereka tidak seperti keluarga untuk aku. Mereka hanya bank berjalan yang hanya memberikan uang untuk keperluanku. Mereka bisanya hanya memberikan uang tapi mereka tidak tahu bagaimana aku sangat membutuhkan bimbingan dari mereka. Karena mereka juga aku menjadi seorang anak yang haus kasih sayang orang tua dan mencari kasih sayang kepada orang lain. Makanya aku jadi playboy seperti ini.”
“Kamu pernah gak mengutarakan semua uneg-uneg di dalam hati kamu kepada mereka?”
Ali melirik Nada, “Memang belum pernah secara frontal seperti ini tapi seharusnya mereka dapat memahami kemauan anaknya.”
Nada tersenyum kecil, “Gak semua hal dapat diketahui oleh orang tua kamu. Mereka itu manusia bukannya Tuhan yang mengerti segala hal di dalam hati kita. Aku rasa ini hanya miss komunikasi dan hubungan ini masih bisa diperbaiki. Sekarang coba kalian bicara baik-baik dan mengutarakan semua perasaan yang ada di hati masing-masing. Aku percaya semuanya masih dapat diperbaiki kok.”
__ADS_1
Ali terdiam sejenak, memikirkan semua perkataan yang baru saja diucapkan Nada.
Nada melanjutkan ucapannya kembali, “Menurutku juga ini tergantung cara pandang kamu juga sih. Semakin kamu kesal akan sesuatu masalah, kamu tidak dapat berpikir jernih untuk hal positif yang ada di dalamnya. Trus itu bukan alasan kamu jadi playboy sih menurut aku.”
“Menurut kamu seperti itu?”
“Iya menurut aku seperti itu. Dan aku rasa pacar aku ini sudah dewasa. Pacar aku yang cakep ini bisa memutuskan segala sesuatu yang terbaik untuk dirinya terlebih untuk keluarganya dengan bijaksana.”
Nada pamit untuk keluar ruangan sejenak. Nada sengaja membiarkan Ali waktu untuk berpikir. Saat Nada keluar kamar Ali, Nada mendapati orang tua Ali masih berada di depan ruang rawat Ali dan terlihat Mama Ali menangis di sana. Nada mendekati Mama Ali untuk memberikan support.
“Tante kenapa? Tante kok nangis?”
“Nak.. Tante gak sangka Ali bisa marah seperti itu kepada kami.” Ucap Mama Ali mengusap matanya.
Nada memeluk mama Ali, “Tante ini ada-ada aja, mana bisa seorang anak marah kepada orang tuanya tante? Ini semua hanya kesalah pahaman. Karena kalian sama-sama tidak mengetahui isi hati masing-masing. Coba kalau kalian saling share isi hati masing-masing, saya rasa semuanya akan terasa lebih mudah. Ali sangat sayang kepada om dan tante kok. Dia sering cerita masa lalu saat dia masih kecil.”
Mama memandang Nada dengan tatapan penuh harap, “Apa itu semua benar, Nada?”
“Iya tante. Dia sangat mencintai dan menghormati om dan tante. Bahkan Ali pernah bercerita jika kelak dia ingin seperti ayahnya. Seorang ayah yang bijaksana dan dapat menjadi teladan untuk keluarganya.”
“Apa Ali dapat memaafkan tante dan Om?”
Nada tersenyum lebar, “Pasti tante. Ali itu anak yang baik kok. Dia bukan pendendam. Dan saya rasa tante dan om lebih mengenal karakter Ali yang sebenarnya daripada saya.”
Papa Ali menepuk punggung Nada, “Terima kasih ya kamu sudah kasih saran untuk kami. Seharusnya kami sudah melakukannya dari dulu agar kesalahpahaman ini lekas selesai.”
“Sama-sama om, tante. Saya senang kok kalau Ali bahagia. Terlebih om dan tante juga bahagia. Tapi maaf ya tante, om kalau saya berbicara terlalu dalam mencampuri urusan keluarga kalian. Saya tidak bermaksud seperti itu.”
“Tante rasa Ali tidak salah memilih wanita seperti kamu di sampingnya.” Ucap mama melirik ke arah papa Ali.
Papa pun tersenyum, “Tentu Ali akan memilih wanita yang tepat, yang bijaksana seperti kamu ini. Om bangga kepada kamu.”
“Saya masih banyak kekurangan Om - tante. Masih harus banyak belajar tentang kehidupan. Saya seneng jika saya bisa membantu Om dan tante. Tante – Om masuk aja sekarang. Ali kayaknya mau ngobrol sama Om dan Tante.”
__ADS_1
Mama dan Papa Ali masuk kembali ke dalam ruangan rawat inap Ali. Nada meninggalkan mereka, memberikan waktu untuk mereka mengutarakan segala isi hati yang selama ini terpendam jauh di kedalaman hati mereka.