
Pikiran Ali sangat tidak menentu saat ini, dia memutuskan untuk pergi ke rumah Nada. Ali menunggu beberapa saat disana, namun kekasihnya tidak muncul-muncul.
Di depan pintu pagar rumah Nada, Ali bertemu dengan Om Achin papa Nada yang habis pulang dari apotek dekat rumahnya. Keluarga
Nada terlahir dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah, tempat tinggal Nada sendiri terletak di perkampungan dengan gang kecil yang setiap hari harus dilewati. Om Achin sendiri memiliki warung kecil di pasar, dengan usahanya itu beliau dapat membuat Nada seperti saat ini. Dengan hasil kerja kerasnya pula, dia dapat membayar sekolah Nada dan memberikan kasih sayang yang tiada tara untuk Nada.
Ali memarkirkan sepeda motornya dan datang untuk mencium tangan papa dari kekasihnya itu. Selama membina hubungan dengan Nada, Ali sudah beberapa kali sengaja dibawa Nada main ke rumahnya untuk mengenalkan Ali kepada papanya. Nada ingin papanya dan Ali dapat dekat satu dengan yang lainnya dan hasilnya Om Achin juga cukup senang dengan kepribadian Ali.
Ali tersenyum menyapa papa Nada, “Malam om. Apa kabar? Maaf Ali sudah beberapa waktu gak main ke sini.”
“Iya-iya, gak soal itu.”
“Om sehat kan?”
“Owe sehat. Ali-a.. Lu orang ngapain malem-malem dateng ke rumah owe?”
Ali tersenyum kecil, “Saya ada perlu dengan Nada om. Apa saya boleh bertemu dengan Nada?”
“Lu orang kalau ada perlu, jangan malem-malem datang ke sini. Owe gak enak sama tetangga, nanti mereka kira anak owe perempuan gak bener. Pacarnya apel malem seperti ini.” ucap Om Achin menasehati Ali.
“Iya Om. Maafin Ali ya Om. Om dari apotek, om lagi sakit? Ali bawa periksa ke rumah sakit ya..”
__ADS_1
“Gak perlulah… Owe cuma masuk angin, beberapa hari ini kan Jakarta ini banyak kedatangan angin. Jadi ada angin yang masuk di badan owe. Badan owe jadi sakit semua.”
Ali tersenyum mendengarnya, “Apa gak sebaiknya kita ke dokter aja om? Biar bisa cepet sembuh.”
“Gak perlu-a. Dokter itu mahal, harus keluarin duit. Nanti ini di gosok-gosok sebentar sama anak owe pasti sembuh. Anak owe itu dokter segala dokter buat owe, dia itu nafas dan kehidupan buat owe.”
“Iya Om, Nada memang harta yang tidak ternilai harganya.”
“Oiya, Nada masih ada urusan di gereja, dia kan jadi salah satu pengurus disana. Sebentar lagi sudah waktunya dia pulang, lu orang tunggu aja. Tapi owe mau bicara sama lu empat mata. Sini duduk dulu.”
Ali duduk di samping papa Nada, di teras rumah. Ali bingung dengan sikap papa Nada, tidak biasanya Om Achin mengajak Ali ngobrol dengan wajah serius seperti ini.
“Ada apa ya om? Kok kayaknya penting banget gitu?”
Ali menggaruk rambutnya yang tidak gatal, “Ai? Ai itu apa ya om?”
Papa Nada menepuk keningnya sendiri, “Haiya.. Lu orang gak tau apa arti Ai? Kalau gitu mana bisa lu orang jadi menantu Owe? Ai.. Love.. Cinta-a..”
Ali tersipu malu mendengar penjelasan papa Nada, “Oh cinta. Iya om saya Ai Nada. Saya bener-bener cinta sama anak om. Bukan mau main-main om. Mana berani saya mempermainkan anak Om.”
Om Achin membenarkan posisi kacamatanya yang turun, “Gini Ali-a, Lu orang cowok, owe juga cowok kan ya. Kita bicara sebagai gentleman aja ya. Anak owe itu umurnya sudah 27 tahun, sedangkan lu orang kan masih 20 tahun. Itu bagaimana ceritanya? Lu orang nanti masih sehat kuat, nanti anak owe sudah menopause. Itu akan bikin susah lu orang. Agama kita juga beda kan. Terus Lu kata Nada juga ternyata anak orang kaya. Trus owe keturunan chinese, lu keturunan Arab. Ini semua bagaimana? Susah.. Susah..”
__ADS_1
Ali membenarkan posisi duduknya, “Saya yakin saya bisa menjalani semua ini dan bahagia dengan Nada kok om. Om gak perlu khawatir dengan semua itu. Saya bisa janji satu hal ke om, kalau saya gak akan pernah melukai bahkan meninggalkan Nada.”
Om Achin menghela nafas panjangnya, “Lu boleh bilang itu semua ke owe sekarang, tapi bagaimana dengan orang tua lu? Owe rasa mereka akan berat menerima Nada di keluarga kalian. Owe juga gak mau jika sesuatu hal dipaksakan nanti akan membuat Nada merasa gak nyaman.”
Ali menghembuskan nafas panjangnya, “Memang orang tua saya saat ini belum menyetujui hubungan kami. Tapi saya yakin cepat atau lambat, mereka akan menerima semua ini om. Nada adalah wanita terbaik yang pernah saya temui. Om saat ini hanya perlu percaya sama saya saja.”
“Owe sih mau percaya sama lu orang tapi owe kasian sama anak owe. Dia akan menderita kalau seperti itu. Owe harap kalian mengakhiri semuanya saja sebelum anak owe terluka semakin dalam. Owe suka sama lu orang, lu orang baik sama owe sama anak owe tapi kalau orang tua lu gak setuju mau apa lagi? Kalian berarti gak berjodoh.”
“Tapi om…”
“Lu orang jangan ai terus dari tadi, lu harus berpikiran yang panjang. Jangan karena cinta, semuanya jadi gak dipikir jauh ke depan. Restu orang tua itu perlu Ali-a, lu jangan pernah berpikir akan menikah tanpa restu orang tua.”
“Iya om Ali sangat mengerti apa yang ganggu pikiran om. Tapi tolong percaya sama Ali ya, Ali akan berusaha buat mama dan papa bisa menerima Nada dengan baik, menerima hubungan kita ini. Ali juga janji ke om, Ali gak akan buat Nada sedih. Ali cuma pengen buat Nada bahagia sama Ali om.” ucap Ali dengan ketulusan terpancar dari matanya.
Om Achin terdiam tak mampu berbicara, dia menatap wajah calon menantunya dalam diam. Sebenarnya Om Achin sangat menghargai perjuangan yang ingin ditunjukan Ali kepadanya, namun pada kenyataannya apa yang akan mereka alami di depan tidak mampu dia bayangkan. Om Achin hanya tidak ingin melihat putri kesayangannya ini akan terluka.
Beberapa saat kemudian terlihat Nada datang membuka pintu rumah. Pembicaraan antara Ali dan papa Nada pun berakhir dengan adanya Nada disana. Om Achin tersenyum kepada Nada kemudian masuk ke dalam rumah, memberikan waktu untuk Ali dan Nada ngobrol di teras rumah.
“Aling, Ali jangan malem-malem bertamunya ya. Gak enak sama tetangga. Buatin Ali minum juga papa keasikan ngobrol jadi lupa.”
Nada memeluk papanya, “Iya papa, tenang aja. Aling ngerti kok maksud papa.”
__ADS_1
Om Achin masuk ke dalam rumah. Nada memperhatikan wajah Ali dengan senyuman terpancar dari wajah cantiknya.