
Café Prince terlihat semakin ramai pengunjung, semakin hari usaha yang dirintis akhirnya sedikit memperlihatkan hasil yang cukup memuaskan.
Bisma tersenyum di salah satu sudut cafe, dia merasa bangga kepada dirinya sendiri. Saat umurnya masih belia, usaha yang dirintisnya membuahkan hasil yang di luar ekspektasinya.
Bisma duduk di meja nomor 14, tempat favorit dia dan teman-temannya jika datang bermain di sana. Di sana terlihat Kenzo masih asik membaca sebuah Novel kesukaannya karya Agnes Davonar.
“Ken, Kabar si Ali gimana? Sudah keluar dari Rumah Sakit tuh anak?”
Kenzo meletakan novel itu sejenak, “Kemarin sih Nada kasih kabar ke gw, dia bilang hari ini Ali boleh keluar dari Rumah Sakit. Kondisinya udah oke kok katanya, jadi gak perlu dirawat disana.”
Bisma tersenyum menggoda memandang wajah Kenzo yang merona saat menyebutkan nama Nada, “Lu kok bisa kabar-kabaran sama Nada sih? Jangan-jangan lu suka lagi sama doi?”
Kenzo terdiam sejenak, dia tidak ingin kesalahpahaman membuat sesuatunya menjadi buruk. “Ngaco aja lu bis, kalau ngomong itu pakai rem. Jangan bablas kayak gitu dong..”
“Emang gw salah ngomong dimana?”
__ADS_1
“Omongan lu yang tadi itu ngaco. Kalau ada orang lain denger kan jadi gak enak. Di kira ntar gw tukang nikung lagi.”
Bisma tersenyum menepuk lengan Kenzo, “Lu itu gak bisa bohong Ken, jangan coba bohongin gw kali.”
Ken terlihat salah tingkah, “Apaan sih lu. Gw gak ada perasaan apapun ke dia kok. Jangan ngaco gitulah..”
“Kalau lu gak suka dia, kenapa muka lu merah kayak gitu? Kalau lu suka sama dia itu gakpapa kali. Namanya juga rasa suka, siapa lagi yang bisa melawan perasaan itu.”
Kenzo terdiam sejenak, dia mengambil secangkir moccacino miliknya, “Gw cuma kagum sama dia. Dia wanita yang hebat, wanita yang kuat. Gw gak sengaja denger semua masa lalu yang pernah dia hadapi. Dan hebatnya dia bisa jadi wanita yang baik seperti ini. Seorang wanita dengan ketulusan akan cintanya.”
Bisma menganggukan kepalanya, menyetujui semua asumsi Kenzo mengenai Nada. “Awalnya gw merasa Nada adalah cewek yang kurang ajar, dengan kejam dia pernah mainin hati Mico, saudara sepupu gw. Tapi ternyata gw salah, hubungan mereka berakhir karena Nada gak mau Mico jadi anak durhaka yang gak ngikutin perkataan orang tuanya. Karena orang tua sepupu gw, memang gak suka Mico berhubungan dengan Nada, wanita yang menurut mereka tidak mempunyai kualifikasi apapun untuk menjadi istri dia.”
“Iya gw salah nilai selama ini. Dan sejujurnya itu yang juga gw takutin dengan hubungan Ali dan Nada.” Ucap Bisma dengan mata menerawang entah kemana.
“Maksud lu, Lu takut orang tua Ali tidak merestui hubungan mereka? dan hubungan mereka akan kandas seperti hubungan Mico dengan Nada?”
__ADS_1
“Bener banget. Apa lagi banyak perbedaan diantara mereka. Agama, Umur, Ras, Suku. Banyak tembok besar yang harus mereka hadapi, gw takut jika mereka akan menyerah di tengah jalan. Itu akan membuat mereka saling terluka dan kehilangan.”
Kenzo diam sejenak, menelaah semua ucapan yang baru saja Bisma utarakan. “Menurut gw, mereka pasti akan melewati semuanya dengan baik. Ketulusan cinta mereka telah diuji waktu itu. Ali beruntung mendapatkan Nada.”
Bisma tersenyum mendengar ucapan Kenzo, “Lu bener banget. Mimpi apa tuh anak bisa dapetin hati cewek sebaik, secantik Nada. Kapan ya, gw bisa dapetin cewek seperti itu? 1000 belum tentu dapet 1 itu cewek. Ali bener-bener harus sujud syukur.”
Kenzo terdiam mendengar ucapan Bisma, lamunannya terbang ke masa lalunya. Dia teringat cinta pertamanya yang telah lama dilupakan, saat dia masih berumur 12 tahun. Gadis yang sangat dia cintai meninggalkan dia selama-lamanya. Gadis itu bersimbah darah di hadapannya, dia menjadi korban tabrak lari.
Dia berbisik ke dalam hatinya, “Sorot mata Nada mengingatkan aku kepadamu, Putri. Jika kamu masih ada, aku pasti akan bahagia. Tapi semua itu hanya dapat terjadi di dalam mimpi aku, karena kamu telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.”
“Lu kenapa bro? Kok tiba-tiba diem kayak gini?”
Kenzo tersenyum kecil, “Enggak kok. Gw tiba-tiba keinget seseorang di masa lalu gw.”
“Pasti orang itu sangat berarti buat lu ya? Siapa dia cewek lu?”
__ADS_1
Kenzo tersenyum kecil, “Dia adalah malaikat yang gw sayang. Tapi sayangnya dia sudah pergi buat selamanya.”
Bisma mendadak terdiam mendengarkan ucapan Kenzo, dia tidak pernah mendengar Kenzo membicarakan wanita yang sangat berarti bagi dirinya. Untuk urusan perasaan memang Kenzo bukan seseorang yang terbuka akan itu, dia lebih memilih untuk menyimpan semuanya dalam hati. Jadi meskipun dia dan Kenzo sudah bersahabat beberapa lama, Bisma tidak pernah mendengar kisah asmara temannya yang satu ini.