
Waktu-waktu ini entah mengapa terasa berjalan begitu lambat bagi Ali. Bagaimana tidak, sudah 3 bulan dia berusaha untuk mendapatkan hati Melody namun sampai saat ini dia tidak kunjung mendapatkannya.
Segala cara sudah coba dilakukan Playboy kelas kakap itu namun tidak kunjung mendapatkan respon dari si pemilik hati. Namun Ali belum ingin menyerah, dia akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati sang pujaan hatinya itu.
Pagi ini Ali dan Melody sudah membuat janji untuk makan siang bersama. Itu bukan serta merta Melody menyetujui ajakan yang Ali buat tapi si lelaki tampan ini sedikit memelas dengan banyak alasan yang tentu saja dia buat.
Diatas langit matahari masih terlihat malu, sayup-sayup memancarkan sinarnya. Ali terlihat sudah duduk dengan senyuman yang merekah terpancar dari wajahnya. Dia duduk di salah satu kursi taman kampus mereka yang begitu sejuk karena hujan baru saja turun pagi tadi membuat suasana menjadi sangat nyaman siang ini disana.
Perlahan Sang Pujaan hati terlihat datang mendekat, Ali menatapnya dengan penuh perasaan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Karena hatinya benar-benar di jungkir balikan, sama halnya saat dia bersama dengan Nada sebelumnya.
Melody duduk di hadapan Ali, “Hai kak.. Sorry.. Aku telat ya..” ucap gadis itu dengan wajah menyesalnya.
Ali tersenyum menatap wajah menggemaskan Melody, “It’s okay kok Mel.. Aku juga baru sebentar tunggu kamu.”
“Beneran kak?”
__ADS_1
“Iya Mel.. Tenang aja, gak usah pasang wajah begitu, please.. Aku gakpapa kok.”
“Makasih ya kak. Soalnya Rebecca tadi ada ajakin aku ngobrol gitu tentang tugas lukisan kita, kalau aku cut obrolannya kan jadinya gak enak.”
“Oh Rebecca temen kamu yang dari Mexico itu ya?”
“Iya bener dia itu, Miss cantik kita dari Medici itu. Soalnya Maranda gak tau kenapa tiba-tiba ngilang gitu.” jelas Melody dengan senyuman yang membuat aura kecantikannya keluar begitu saja.
Di tengah percakapan mereka, Ali mengeluarkan kentang goreng kesukaan Melody yang sudah dia beli sebelumnya di tempat favorit wanita cantik itu. “Ini kentangnya sambil dimakan ya.. Tapi maaf kentangnya sudah agak dingin.”
Ali menatap mata Melody dengan begitu intens, “Mel.. Di mata aku itu kamu gak pernah salah.”
“Kakak kok gitu lagi sih.. Asli Mel jadi gak nyaman tau kakak gitu lagi ke Mel.” ucap Melody dengan sedikit menundukan kepalanya.
Ali tiba-tiba sadar jika dia salah memperlakukan Melody, “Eh sorry.. sorry.. Aku sama sekali gak bermaksud lho. Maafin aku ya..”
__ADS_1
Melody perlahan mengangkat wajahnya, menatap pemilik manik mata indah di hadapannya itu, “Kakak masih anggep aku sebagai kak Nada ya?”
Ali terdiam menatap mata Melody dengan tatapan yang dalam, namun mulutnya tidak dapat berkata rasanya kelu sejenak. Kata-kata yang baru saja Ali dengar tidak pernah disangka akan keluar begitu saja dari bibir wanita yang kini sedang bersamanya.
Hari berlalu begitu saja setelah membuat kegaduhan siang tadi antara kedua insan yang masih labil secara usia. Malam akhirnya datang, bulan memancarkan sinarnya. Namun terlihat seorang lelaki dengan sepedanya sedang berdiri termenung di pinggir jembatan seolah sedang meratapi nasibnya.
Anderson Bridge yang cantik dengan lampunya seolah menjadi saksi bisu kehampaan yang Ali rasakan saat ini. Dia termenung disana menatap ke sembarang arah, bergulat dengan perasaannya sendiri.
Ingatan tadi siang berputar begitu saja di kepalanya, “Apakah aku benar-benar membuat Mel hanya sebagai pengganti Nada di dalam hatiku?”
Beberapa pertanyaan yang Melody tanyakan tadi siang seolah berputar-putar dan dia sedang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan itu sendiri.
Disisi lain..
Sang wanita yang telah berhasil membuat seorang Aliansyah Syakieb menjadi galau di pinggir jembatan, yang seolah yang berniat terjun bebas mengarungi jembatan Anderson itu juga sedang berkutat dengan kegalauan hatinya sendiri.
__ADS_1
Ingatan masa lalu yang begitu kental terasa, membuat jantungnya berdegup kian cepat.