Menyatukan Perbedaan Kita

Menyatukan Perbedaan Kita
Tembok besar mulai menghalangi


__ADS_3

Tanpa terasa waktu  berjalan  semakin  cepat, telah  banyak  kenangan  yang  telah  Ali  dan  Nada  lalui bersama.  Meskipun  banyak  perbedaan  yang  menghalangi  mereka,  tetapi  mereka  selalu bertoleransi  atas  perbedaan  mereka  tersebut.


Mereka melakukan segala sesuatunya berdasarkan rasa cinta yang dimiliki bersama, semuanya itu menjadikan mereka saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing yang memiliki perbedaan yang sangat mencolok.


Berkat  dukungan  Nada juga, hati Ali berubah menjadi sedikit lebih lembut kepada orang tuanya. Ali  saat  ini  telah  kembali  ke  rumah  keluarganya, bersedia menerima semua hal yang diberikan papa dan mamanya.


Selama  ini  Ali  yang  kurang  kasih  sayang  orang  tuanya  memilih  untuk  tinggal  di  tempat  kos dekat dengan kampusnya dan selama ini pula dia tidak menerima segala fasilitas yang diberikan oleh mereka. Maka dari itu tidak salah jika pada awalnya Nada tidak mengetahui asal usul kekayaan keluarga Ali, karena memang pada awalnya Ali tidak ingin memberitahukan itu kepada orang lain.


Saat ini Nada  juga  sudah  mengenal  orang  tua  Ali  dan  menjadi dekat. Mama sendiri sudah beberapa kali mengundang Nada untuk datang ke rumah, sekedar berbagi cerita kepadanya. Itu semua tidak lain karena  karakter  Nada  sendiri  yang  dewasa,  menjadikan  dia  mampu  bersosialisasi  dengan  orang yang baru dia kenal dengan  cepat.


Sore  ini  keluarga Ali mengadakan  acara  makan  malam  bersama, hanya Papa-Mama dan Ali. Papa  dan  mama sengaja meluangkan waktu  mereka  yang  terbatas  untuk  bercengkrama  bersama  anak  mereka  tersayang, tentunya  ada  sesuatu  hal  yang  penting  ingin  mereka  bicarakan  kepada  Ali. Hal serius yang sudah beberapa waktu mereka diskusikan setiap hari.


Makan  malam pun  telah  siap  dihidangkan  di meja  makan oleh para pelayan. Papa  menaruh sendok dan garpunya sejenak, kemudian memandang  Ali. “Bagaimana  hubungan  kamu  dengan  Nada?”


Ali tersenyum sesaat setelah nama Nada disebut disana, “Semua  baik-baik  aja  kok  pa.  Beberapa  hari  ini  dia  lagi  sibuk  nyelesaiin beberapa artikel  untuk  majalahnya,  jadi memang belum  bisa  main  lagi  kesini.”


“Dia memang anak yang rajin ya..”


“Iya pa, aku beruntung bisa punya pacar seperti dia. Tapi memangnya  kenapa  pa?  Kok  tumben  papa tanya  keadaan  aku  dengan  Nada?”


“Ali, apa kamu yakin dengan hubungan kalian?”

__ADS_1


“Maksud papa itu apa ya? Ali gak ngerti deh..”


Mama memegang pundak anak lelaki satu-satunya itu, “Maksud papa, apa Ali yakin untuk sampai nanti bersama dengan Nada nak..”


“Bukannya mama dan papa suka sama Nada ya? Kenapa kalian tanya hal seperti ini ke Ali? Kalian meragukan hubungan kami?” tanya Ali dengan wajah tidak mengerti.


Papa  mengerutkan  dahinya,  “Nada memang anak yang baik dan kami memang menyukai Nada. Tapi papa  rasa  kamu  dan  Nada  bukan untuk ditakdirkan  bersama. Perbedaan  kalian  itu  terlalu  besar.”


“Pa Ma… Semuanya pasti beda, cowok sama cewek aja dari bentuk tubuh, pikiran dan gaya hidup juga beda kan.. Jadi perbedaan itu gak masalah buat kita. Lagipula kita sudah beberapa bulan sama-sama dan perbedaan itu kita bisa lalui dengan baik. Jadi kalian gak perlu ikut pusing karena itu. Kita yang jalaninnya happy kok.” ucap Ali berusaha menjelaskan hubungan dia dan Nada kepada orang tuanya.


“Semuanya tidak semudah itu, gak semudah kalian sudah bisa menerima perbedaan dan selesai disana. Di belakang kamu dan Nada masih ada kami dan keluarga besar kita. Dnn kita sudah membicarakan ini beberapa waktu, papa  dan  mama  tidak  bisa  merestui  hubungan  kalian.”


Ali  mengerutkan  keningnya,  dia meletakan garpu  dan  sendok  miliknya.  Matanya  menatap papanya  dengan  penuh  curiga.  “Apa  maksud  pembicaraan  ini  pa? Gimana kalian bisa bilang kalau kalian gak merestui hubungan kita?”


Ali menahan senyumannya, dia tidak pernah berpikir jika papa dan mamanya sudah berpikir terlalu jauh seperti itu. “Ma, aku sama Nada itu saling mencintai ma. Kita sudah melewati waktu-waktu kita bersama dan perbedaan itu gak menjadi soal, kita bisa saling toleransi dan menghargai perbedaan itu sendiri. Jadi mama gak perlu berpikir terlalu jauh sampai perceraian itu, terlalu jauh ma..”


“Tapi nak…..”


Papa  menambahkan  ucapan mama,  “Oke kalau menurut kamu itu bukan masalah, tapi kamu  dan  dia  beda  agama  juga  kan?  Dia  seorang Nasrani  dan  kita  seorang  Muslim.  Apa  kata  keluarga  besar  kita,  jika  mereka  tahu  semua ini?  Mau  ditaruh  dimana  harga  diri  keluarga  kita?”


Akhirnya Ali mengerti arah pembicaraan ini, “Apa  harga  diri  keluarga  kita  jauh  lebih  penting  menurut  papa  dan  mama  daripada kebahagiaan  Ali?  Dan  apakah  cinta  itu  dapat  diukur  dengan  umur?  Maupun  perbedaan  yang lainnya?”

__ADS_1


“Sebaiknya  kamu  berpikir  ulang  dengan  hubungan  ini.  Ini  hubungan  yang  tidak  sehat menurut papa. Di luar sana  banyak wanita  yang seumuran dengan kamu  yang  seagama  dengan  kita, pastinya akan tertarik dengan pesona kamu. Kamu tidak  perlu  memiliki  kekasih  seperti  Nada. Kamu  juga  bisa  jadi  bahan  cibiran  teman-teman  kamu.  Nanti  biar  papa  kenalkan  kamu  dengan  anak  teman-teman  papa.  Mereka  masih  banyak  yang  single.”


”Dan  Rezky  juga sudah cerita semuanya ke mam, kalau pada awalnya Nada  adalah  bahan  taruhan  kalian  dulu  kan. Seharusnya dengan kepura-puraan pada awalnya, kamu  dengan  mudah  melepaskan dia.”


Ali  bangkit  dari  tempat  duduknya,  berusaha  mengendalikan  emosinya  yang  seperti  akan  meluap.  “Asal  papa  dan  mama  tahu,  aku  sangat  mencintai  Nada.  Dan  apapun  yang  akan   terjadi  aku  akan  sama-sama  Nada  sampai  kapanpun.  Mau  papa  dan  mama  menyetujui atau  enggak,  aku  gak  peduli.”


Mama memegang tangan Ali, berusaha menahan amarahnya. “Ali sadar nak… Hubungan kalian itu ga sehat, gak ada yang perlu diperjuangkan.”


“Pa Ma, alasan  kalian  menurut aku sama  sekali  tidak  beralasan. Diluar sana pastinya ada pasangan yang unik seperti aku dan Nada. Dan aku yakin mereka mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri jadi tolong biarrin Ali bahagia sama Nada.”


Mama memandang wajah Ali dengan tatapan memelas, “Tapi  dia  juga  bukan  orang  yang  berada  nak,  dia  tidak  selevel  dengan  keluarga  kita. Kamu  harus  berpikir  ribuan  kali  untuk  bersama  dia,  hidup  kamu  akan  susah  kedepannya kalau harus bersama dengan dia.  Kami  sebagai  orang  tua  hanya  ingin  segala  yang  terbaik  buat  kamu.  Seharusnya  kamu  bisa  mengerti  maksud  papa  dan  mama.  Bisa  saja  dia  mau  jadi  pacar kamu  karena  dia  mengetahui  kamu  dari  keluarga  yang  berada kan.”


Ali  tersenyum  kecut,  dia  sama  sekali  tidak  menyangka  papa  dan  mamanya  dapat  menilai  seseorang  dari  harta. “Jujur aku gak ngerti apa yang kalian pikirin. Aku juga gak nyangka kalau papa dan mama berpikir sejauh ini. Ini yang kalian omongin itu Nada lho.. Nada pacarnya Ali..”


“Papa rasa ucapan mama kamu itu ada benarnya, dia mungkin gak sepolos apa yang kita lihat.” ucap papa mendukung ucapan mama.


Ali mulai tak dapat membendung rasa kesalnya, “Dari  awal  Ali  ketemu  Nada  sampai  Mama  dan  papa  ketemu  dia  di Rumah  Sakit,  dia  sama  sekali  gak tau, gak kenal  siapa  keluarga  Ali  yang  sebenarnya.  Dia hanya  tau  Ali  adalah  anak  kossan  dan  gak punya  keluarga. Dia menerima Ali dengan apa adanya Ali. Dan  asal  papa  dan  mama tahu  lagi,  Ali  bisa  pulang  dan  tinggal  kembali  bersama dengan papa  dan  mama,  ini  semua  berkat nasehat  yang  diberikan  Nada  ke  Ali.  Jadi  menurut  Ali,  tidak  sepantasnya  mama  dan  papa menjelekan  Nada  seperti  ini.  Jika  mama  dan  papa  menjelekan  Nada,  sama  seperti  kalian menorehkan  noda  di  atas  muka  Ali.”


“Tapi  Nak…”


“Jika  mama  dan  papa  bersikeras  untuk  memisahkan  Ali  dari  Nada,  lebih  baik  Ali  keluar dari  rumah  ini.”

__ADS_1


Ali  mengambil  tas  dan  kunci  motor,  meninggalkan  mama  dan  papa  yang  masih  mencoba menasehati  anaknya.  Ali  mengendarai  motornya  dengan  sangat  kencang,  seakan-akan  dia tidak  dapat menahan  emosi  yang  selama  ini  dia  tahan. “Kenapa  papa  dan  mama  setega  itu  berprasangka  buruk  kepada  Nada.  Apa  salah  Nada?  Nada  itu  beda  dari  cewek-cewek  yang  lain,  Nada  sama  sekali  gak  pernah  morotin  gw,  dia  juga  gak  pernah  manfaatin  gw.   Mereka  gak  tau  seberapa  berharganya  Nada  buat  gw.”


__ADS_2