
Tanpa terasa waktu berjalan semakin cepat, telah banyak kenangan yang telah Ali dan Nada lalui bersama. Meskipun banyak perbedaan yang menghalangi mereka, tetapi mereka selalu bertoleransi atas perbedaan mereka tersebut.
Mereka melakukan segala sesuatunya berdasarkan rasa cinta yang dimiliki bersama, semuanya itu menjadikan mereka saling mengerti dan memahami pribadi masing-masing yang memiliki perbedaan yang sangat mencolok.
Berkat dukungan Nada juga, hati Ali berubah menjadi sedikit lebih lembut kepada orang tuanya. Ali saat ini telah kembali ke rumah keluarganya, bersedia menerima semua hal yang diberikan papa dan mamanya.
Selama ini Ali yang kurang kasih sayang orang tuanya memilih untuk tinggal di tempat kos dekat dengan kampusnya dan selama ini pula dia tidak menerima segala fasilitas yang diberikan oleh mereka. Maka dari itu tidak salah jika pada awalnya Nada tidak mengetahui asal usul kekayaan keluarga Ali, karena memang pada awalnya Ali tidak ingin memberitahukan itu kepada orang lain.
Saat ini Nada juga sudah mengenal orang tua Ali dan menjadi dekat. Mama sendiri sudah beberapa kali mengundang Nada untuk datang ke rumah, sekedar berbagi cerita kepadanya. Itu semua tidak lain karena karakter Nada sendiri yang dewasa, menjadikan dia mampu bersosialisasi dengan orang yang baru dia kenal dengan cepat.
Sore ini keluarga Ali mengadakan acara makan malam bersama, hanya Papa-Mama dan Ali. Papa dan mama sengaja meluangkan waktu mereka yang terbatas untuk bercengkrama bersama anak mereka tersayang, tentunya ada sesuatu hal yang penting ingin mereka bicarakan kepada Ali. Hal serius yang sudah beberapa waktu mereka diskusikan setiap hari.
Makan malam pun telah siap dihidangkan di meja makan oleh para pelayan. Papa menaruh sendok dan garpunya sejenak, kemudian memandang Ali. “Bagaimana hubungan kamu dengan Nada?”
Ali tersenyum sesaat setelah nama Nada disebut disana, “Semua baik-baik aja kok pa. Beberapa hari ini dia lagi sibuk nyelesaiin beberapa artikel untuk majalahnya, jadi memang belum bisa main lagi kesini.”
“Dia memang anak yang rajin ya..”
“Iya pa, aku beruntung bisa punya pacar seperti dia. Tapi memangnya kenapa pa? Kok tumben papa tanya keadaan aku dengan Nada?”
“Ali, apa kamu yakin dengan hubungan kalian?”
__ADS_1
“Maksud papa itu apa ya? Ali gak ngerti deh..”
Mama memegang pundak anak lelaki satu-satunya itu, “Maksud papa, apa Ali yakin untuk sampai nanti bersama dengan Nada nak..”
“Bukannya mama dan papa suka sama Nada ya? Kenapa kalian tanya hal seperti ini ke Ali? Kalian meragukan hubungan kami?” tanya Ali dengan wajah tidak mengerti.
Papa mengerutkan dahinya, “Nada memang anak yang baik dan kami memang menyukai Nada. Tapi papa rasa kamu dan Nada bukan untuk ditakdirkan bersama. Perbedaan kalian itu terlalu besar.”
“Pa Ma… Semuanya pasti beda, cowok sama cewek aja dari bentuk tubuh, pikiran dan gaya hidup juga beda kan.. Jadi perbedaan itu gak masalah buat kita. Lagipula kita sudah beberapa bulan sama-sama dan perbedaan itu kita bisa lalui dengan baik. Jadi kalian gak perlu ikut pusing karena itu. Kita yang jalaninnya happy kok.” ucap Ali berusaha menjelaskan hubungan dia dan Nada kepada orang tuanya.
“Semuanya tidak semudah itu, gak semudah kalian sudah bisa menerima perbedaan dan selesai disana. Di belakang kamu dan Nada masih ada kami dan keluarga besar kita. Dnn kita sudah membicarakan ini beberapa waktu, papa dan mama tidak bisa merestui hubungan kalian.”
Ali mengerutkan keningnya, dia meletakan garpu dan sendok miliknya. Matanya menatap papanya dengan penuh curiga. “Apa maksud pembicaraan ini pa? Gimana kalian bisa bilang kalau kalian gak merestui hubungan kita?”
Ali menahan senyumannya, dia tidak pernah berpikir jika papa dan mamanya sudah berpikir terlalu jauh seperti itu. “Ma, aku sama Nada itu saling mencintai ma. Kita sudah melewati waktu-waktu kita bersama dan perbedaan itu gak menjadi soal, kita bisa saling toleransi dan menghargai perbedaan itu sendiri. Jadi mama gak perlu berpikir terlalu jauh sampai perceraian itu, terlalu jauh ma..”
“Tapi nak…..”
Papa menambahkan ucapan mama, “Oke kalau menurut kamu itu bukan masalah, tapi kamu dan dia beda agama juga kan? Dia seorang Nasrani dan kita seorang Muslim. Apa kata keluarga besar kita, jika mereka tahu semua ini? Mau ditaruh dimana harga diri keluarga kita?”
Akhirnya Ali mengerti arah pembicaraan ini, “Apa harga diri keluarga kita jauh lebih penting menurut papa dan mama daripada kebahagiaan Ali? Dan apakah cinta itu dapat diukur dengan umur? Maupun perbedaan yang lainnya?”
__ADS_1
“Sebaiknya kamu berpikir ulang dengan hubungan ini. Ini hubungan yang tidak sehat menurut papa. Di luar sana banyak wanita yang seumuran dengan kamu yang seagama dengan kita, pastinya akan tertarik dengan pesona kamu. Kamu tidak perlu memiliki kekasih seperti Nada. Kamu juga bisa jadi bahan cibiran teman-teman kamu. Nanti biar papa kenalkan kamu dengan anak teman-teman papa. Mereka masih banyak yang single.”
”Dan Rezky juga sudah cerita semuanya ke mam, kalau pada awalnya Nada adalah bahan taruhan kalian dulu kan. Seharusnya dengan kepura-puraan pada awalnya, kamu dengan mudah melepaskan dia.”
Ali bangkit dari tempat duduknya, berusaha mengendalikan emosinya yang seperti akan meluap. “Asal papa dan mama tahu, aku sangat mencintai Nada. Dan apapun yang akan terjadi aku akan sama-sama Nada sampai kapanpun. Mau papa dan mama menyetujui atau enggak, aku gak peduli.”
Mama memegang tangan Ali, berusaha menahan amarahnya. “Ali sadar nak… Hubungan kalian itu ga sehat, gak ada yang perlu diperjuangkan.”
“Pa Ma, alasan kalian menurut aku sama sekali tidak beralasan. Diluar sana pastinya ada pasangan yang unik seperti aku dan Nada. Dan aku yakin mereka mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri jadi tolong biarrin Ali bahagia sama Nada.”
Mama memandang wajah Ali dengan tatapan memelas, “Tapi dia juga bukan orang yang berada nak, dia tidak selevel dengan keluarga kita. Kamu harus berpikir ribuan kali untuk bersama dia, hidup kamu akan susah kedepannya kalau harus bersama dengan dia. Kami sebagai orang tua hanya ingin segala yang terbaik buat kamu. Seharusnya kamu bisa mengerti maksud papa dan mama. Bisa saja dia mau jadi pacar kamu karena dia mengetahui kamu dari keluarga yang berada kan.”
Ali tersenyum kecut, dia sama sekali tidak menyangka papa dan mamanya dapat menilai seseorang dari harta. “Jujur aku gak ngerti apa yang kalian pikirin. Aku juga gak nyangka kalau papa dan mama berpikir sejauh ini. Ini yang kalian omongin itu Nada lho.. Nada pacarnya Ali..”
“Papa rasa ucapan mama kamu itu ada benarnya, dia mungkin gak sepolos apa yang kita lihat.” ucap papa mendukung ucapan mama.
Ali mulai tak dapat membendung rasa kesalnya, “Dari awal Ali ketemu Nada sampai Mama dan papa ketemu dia di Rumah Sakit, dia sama sekali gak tau, gak kenal siapa keluarga Ali yang sebenarnya. Dia hanya tau Ali adalah anak kossan dan gak punya keluarga. Dia menerima Ali dengan apa adanya Ali. Dan asal papa dan mama tahu lagi, Ali bisa pulang dan tinggal kembali bersama dengan papa dan mama, ini semua berkat nasehat yang diberikan Nada ke Ali. Jadi menurut Ali, tidak sepantasnya mama dan papa menjelekan Nada seperti ini. Jika mama dan papa menjelekan Nada, sama seperti kalian menorehkan noda di atas muka Ali.”
“Tapi Nak…”
“Jika mama dan papa bersikeras untuk memisahkan Ali dari Nada, lebih baik Ali keluar dari rumah ini.”
__ADS_1
Ali mengambil tas dan kunci motor, meninggalkan mama dan papa yang masih mencoba menasehati anaknya. Ali mengendarai motornya dengan sangat kencang, seakan-akan dia tidak dapat menahan emosi yang selama ini dia tahan. “Kenapa papa dan mama setega itu berprasangka buruk kepada Nada. Apa salah Nada? Nada itu beda dari cewek-cewek yang lain, Nada sama sekali gak pernah morotin gw, dia juga gak pernah manfaatin gw. Mereka gak tau seberapa berharganya Nada buat gw.”