
Ali mencoba menghubungi handphone Nada, tetapi berkali-kali telepon Ali tak kunjung diterima oleh pemiliknya. Nada duduk di taman belakang kampus dan menangis dalam diam di sana.
Taman belakang kampus adalah tempat favorit mereka bertemu saat Nada main ke kampus Ali. Di sana tidak banyak mahasiswa yang lewat karena keadaannya kurang terawat. Dapat menjadi tempat tersembunyi untuk mereka bertemu sesaat.
Ali terlihat sedikit cemas, tidak biasanya Nada bersikap aneh seperti ini. Ali berlari kesana kemari mencari keberadaan Nada.
“Sayang, kamu dimana sih kenapa telepon aku gak kamu angkat? Tapi dia gak mungkin pulang sendirian juga kan. Dia pasti masih ada di kampus. Kamu dimana sayang? Kamu jangan buat aku khawatir dong.”
Ali memijat keningnya, “Ah.. Taman belakang kampus. Siapa tau dia lagi dengerin headphone di sana. Biasanya dia nunggu gw juga di sana kan. Kenapa gak kepikiran dari tadi.”
Ali berlari ke taman belakang kampus. Dari jauh Ali melihat Nada duduk menunduk di sana. Ali berlari mendekati Nada.
__ADS_1
Ali duduk disamping Nada, terlihat keringat membasahi keningnya. “Sayang, aku dari tadi cari kamu kemana-mana lho, kamu ternyata di sini. Telepon aku kok gak kamu angkat sih? Kamu kenapa?”
Nada tetap menundukan kepalanya. Ali membelai rambut Nada, “Sayang, kamu kenapa? Kamu nangis? Kenapa? Kalau kamu lagi ada masalah cerita aja ke aku.”
Nada mencoba mengangkat kepalanya yang terasa berat, “Aku sudah tau semuanya.”
Wajah Ali terlihat tegang, “Kamu tau apa??”
“Tadi.. Tadi aku sempet dengerin pembicaraan kamu dan temen-temen kamu. Aku gak sangka kamu tega jadiin aku bahan taruhan.” ucap Nada dengan deraian air mata yang tak mampu dia tahan.
Nada mengusap air matanya, “Ini bukan salah kamu kok. Ini salah aku, aku yang terlalu mudah di bohongi. Aku yang terlalu bodoh untuk menerima cinta dari seseorang yang belum lama aku kenal.”
__ADS_1
Ali menggenggam jemari Nada, “Ini bukan salah kamu, ini salah aku. Tolong kasih waktu aku untuk jelasin semuanya dan tolong kasih aku kesempatan kedua. Aku butuh kamu, tolong jangan tinggalin aku.”
“Apalagi yang perlu dijelasin Ali? Aku bakal makin sakit hati kalau aku denger cerita dari kamu.”
Ali memandang wajah Nada dengan penuh harap, dengan penyesalan yang mendalam. “Tolong dengerin aku. Aku bener-bener sayang kamu, aku bener-bener butuh kamu.”
Air mata Nada tumpah membasahi pipinya, “Dari kemarin kamu bilang sayang aku, gak bisa hidup tanpa aku. Tapi kenapa kamu tega berbuat seperti itu sama aku dan kenapa kamu gak cerita ke aku dari awal? Kenapa aku harus denger dari mulut orang lain?”
Ali berdiri menatap wajah Nada erat-erat, berusaha menceritakan cerita yang sebenarnya. “Memang waktu pertama kali aku ketemu kamu itu karena taruhan yang dibuat Rezky dan Bisma. Tapi saat kita sama-sama, perasaan cinta itu muncul dan aku sekarang merasa sangat membutuhkan kamu.”
“Maaf Ali, aku udah gak bisa percaya omongan kamu lagi. Aku sudah cukup sakit hati menghadapi kenyataan kalau aku adalah bahan taruhan orang yang aku sayang. Aku gak bisa percaya apapun yang keluar dari mulut kamu, aku minta kasih waktu aku untuk berpikir..”
__ADS_1
Nada melepaskan tangan Ali dan berlari meninggalkannya. Ali terlihat kesal dengan dirinya sendiri.
Wajah Ali terlihat sangat kacau, dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini. “Sekarang Nada udah tau semuanya. Dia pasti benci banget sama gw. Kenapa gw gak ngomong jujur ke dia sesuai saran Kenzo waktu itu. Nada, gw udah sayang banget sama lu. Gw gak akan bisa ngelupain lu.”