
"Rafael, kamu itu belajar sopan santun tidak hah!?" *bentak perempuan di hadapan Rafael
"Apa lagi si?" *tanya Rafael
"Kamu liat dong, lantai ini masih kotor. Belum kamu bersihkan apa, kalo orang tua lagi ngomong itu dengerin!!" *tanya ibu tiri Rafael
"Ya emang belum, terserah deh. Gue capek ya terus terusan di suruh inilah itulah, lakuin sendiri aja. Lu punya tangan kan!?" *bentak balik Rafael lalu pergi meninggalkan ibu tirinya
...
...
Rafael Rian Saputro. Ya.. tidak salah dengar, dia memang seorang perempuan. Namun, namanya seperti laki laki, penyebabnya ada sedikit kesalahan dalam kelahiran di waktu dulu..
Bukan cuma nama yang seperti cowok, Rafael juga sering bertingkah laku layaknya seorang pria. Ia tak tau, semuanya refleks ia lakukan, entahlah mungkin karena sudah terbiasa dengan gaya hidup menentang dan berontak.
Ibu sudah meninggal, ayah menikah lagi bersama perempuan lain. Yang memiliki satu anak laki-laki menyebalkan.
Lupakanlah.. itu tidak penting, cerita kehidupan di masa lalu sudah tak bermakna sekarang. Dimana, sekarang berbeda daripada sebelumnya
Berkat ayah gue yang sekarang lebih dingin, entah itu sikap ataupun perilaku gue. Fakta mengatakan bahwa, gue yang sekarang bukan lagi gue yang dulu, yang selalu di pojokan oleh keadaan.
...
...
"Kalian sudah menyelidiki, apa yang gue perintahkan!?" *tanya Rafael dengan nada dingin
"Sudah, semua informasi sekarang terkumpul dalam flashdisk ini." *memberikan flashdisk kepada Rafael
"Bagus, sisanya biar gue yang urus. Makasih buat sebelumnya, bubar!" *titah Rafael
Lalu semua pria yang bermuka dingin tadi meninggalkan Rafael sendirian, ya.. itu memanglah markas persembunyian yang gelap dan sunyi. Di sinilah hidup gue sekarang, rumah gue emang enggak jauh dari lokasi markas. Gue mendirikan Elaser Merah ini dengan kerja keras gue sendiri selama ini, berkat mereka semua gue tumbuh menjadi orang yang keras, dingin, dan menjadi naif.
Sesuai dengan namanya, Elaser Merah bermakna sebuah cahaya merah yang mampu membakar seluruh komponen apapun. Itu artinya tidak mengenal musuh, semuanya sama di mata kita, habisi dan kendalikan.
Menyebrang ke jalan kegelapan memanglah tujuan gue dari dulu, sebelum sampai di titik ini gue berusaha bangkit dari keterpurukan. Ya.. menyebalkan memang mengingatnya kembali, selama gue menetap dengan ayah di sanalah hidup gue mulai terkekang. Di suruh, seolah seperti seorang pembantu, dan begonya dulu gue nurut aja di suruh suruh.
Gue akhirnya memutuskan buat pergi dari rumah itu, dan.. menemukan tempat yang lebih nyaman di banding dengan gudang usang yang pengap itu.
.
.
.
"Sebentar lagi, gue bakalan tau. Atas motif apa lu ninggalin ibu, tunggu dan rasakan apa yang akan terjadi selanjutnya." *tersenyum sinis
Rafael membuka laptopnya, lalu memasangkan flashdisk itu. Ternyata informasi yang didapatkan sangat teramat berguna, sekarang gue tau lokasi tempat yang ayah tuju dengan cepat.
__ADS_1
Sekarang lah waktunya, gue tau semua yang ayah sembunyikan dari gue, bertindak tegas tidak seperti dulu mudah di tipu dan dibodohi
...
...
#Di tempat yang berbeda..
drttt drttt
Handphone berdering, lalu seseorang segera mengangkatnya. "Halo."
"Sampai kapan mau mengesampingkan urusan kita, jangan lupa ini menyangkut perusahaan mu juga ayah." *ucap seorang pria dari dalam tlphone
"Bersabarlah sedikit, aku sedang menuju tempat mu berada." *jawab sosok pria yang menjadi kebanggaan Rafael saat kecil
"Baiklah, akan ku tunggu." *ucap pria itu lagi
tut.. tut..
tlphone itu dimatikan, selanjutnya sampai mana tindakan Rafael tadi?
#Kembali..
"Oke, sekarang gue siap." *ucap Rafael lalu menuju luar markas
Sesuai namanya, seluruh penampilannya pun sungguh menyerupai pria sesungguhnya. Rambut di potong pendek, memakai jaket hitam, jeans robek hitam, helm dan motor hitam dengan sedikit kilatan merah di body motornya.
...
...
...
Beberapa menit berlalu, sekarang Rafael sudah berada di lokasi yang ia tuju. Sebuah lestourant mewah, yang terlihat begitu sepi di dalamnya.
Rafael lalu masuk ke dalam restoran mewah tersebut, lalu seorang pelayan memintanya untuk datang di lain hari.
"Mas, silahkan datang di Lian hari ya. Restoran ini sudah di booking oleh Pak Kemal Saputro Nugroho."
"Saya ingin makan di sini, kebetulan, saya akan membayar dua kali lipat lebih mahal dari pada Kemal."
"Baik, jika itu memang keinginan mas. Silahkan, saya tunjukan menuju ke dalam."
Rafael lalu mengikuti pelayan itu, restoran itu sungguh sepi hanya ada satu sosok pria yang gagah, rapi, dan tampan dengan jas navy blue yang selaras dengan jam tangannya.
"Bisa saya duduk di sini?" *ucap Rafael kepada pelayan itu
"Bisa bisa mas, silahkan. Jika ingin memesan tolong panggil saja." *ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan Rafael
__ADS_1
...
...
Rafael duduk tepat di pinggir belakang pria itu, lalu tak lama menunggu seorang yang telah di tunggu tunggu tiba di sana.
.
.
.
"Lain kali segerakan lah urusan ini ayah." *ucap pria berjas navy blue itu
"Maaf, lain kali saja akan datang lebih dulu daripada kamu." *jawab Saputro Cahaya Kusuma
"Baiklah, bisa kita langsung membahas kontrak kerjasama ini?" *tanya Kemal
"Bisa bisa, jadi bagaimana rencananya?" *tanya Saputro
"Di sini kita akan bersama menanamkan modal, untuk sama sama membangun perusahaan yang lebih besar. Dengan adanya kontak ini, semua persyaratan tandanya di setujui, modal yang kita tanam akan sama besarnya. Bagaimana, setuju??" *tanya Kemal
"Oke, rencana mu tidak buruk." *jawab Saputro
"Baiklah, dengan ini anda menyetujui semuanya?" *tanya Kemal
"Ya." *jawab Saputro
"Silahkan tanda tangani kontrak kerja sama ini." *sambil menyodorkan pulpen dan berkas
"Baiklah." *menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Nugroho
...
...
...
"Ayah?" *tanya Rafael yang mendengar pembicaraan itu
"Ternyata ini yang kau rahasiakan, menarik juga. Istri tiri mu di rumah menunggu, dan dia juga sudah memiliki anak pria. Dan, ternyata kau memiliki simpanan selain ibu ya?" *tanya Rafael geram
"Bahkan, gue kira di sini ibulah yang di jadikan istri kedua." *sambil mengamati muka Kemal yang terlihat lebih tua darinya
"Ibu, betapa tragisnya takdir yang diberikan. Akan ku catat semua ini, hingga akhir hayat, tunggu dan saksikan apa yang akan terjadi selanjutnya." *sambil tersenyum kecut
Rencana apa yang akan di sematkan oleh Rafael??
Entahlah yang pasti ini akan melihatnya dirinya dengan pria berjas navy blue itu. Dan, dengan semua perbuatannya ia pasti akan mendapatkan kepuasan tersendiri.
__ADS_1
"Ini adalah karma dari apa yang telah kau lakukan di masa lampau, mau tak mau, Sudi tak Sudi terimalah semuanya dengan lapang dada. Ini akan lebih menyesakkan di bandingkan kepulan asap yang mengepul dalam ruangan terkunci." *ungkap Rafael dengan nada bicara dingin
#Selesai..