Menyebrang Menuju Jalur Kegelapan

Menyebrang Menuju Jalur Kegelapan
Problem


__ADS_3

Sampai pada rumah Bram, lalu Beny membawa Bram ke dalam kamarnya. Diletakkan tubuh Bram yang sedang pulas tertidur, namun tak selang beberapa lama Bram tersadar dan serasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. "Gue.. gue pengen muntah!" *ucap Bram sambil memeluk Beny karena sudah tak kuat


"Sini, sebelah sini tunggu dulu jangan keluarkan di sini!" *jawab Beny membawa Bram ke dalam kamar mandi


Beny menunggu di luar kamar mandi, di dalam kamar Bram. Takutnya terjadi sesuatu lagi


Sementara Beny sedang mengurus orang mabuk, Nico sekarang sudah bisa bernafas lega yang melihat Bram sudah pulang walau dalam keadaan mabuk


"Lalu, apa yang harus ku lakukan di sini??" *tanya Dion dingin


"Lu harusnya ngomong sama Bram baik-baik, tapi berhubung dia lagi gak bisa. Ya udahlah, gue juga gak bisa maksain, pulang sana urusannya udah kelar semua." *jawab Nico


"Semudah itukah pertanggungjawaban yang kau minta?" *tanya Dion tak percaya


"Kalo gak, lu berani kalo supir pribadi lu tetap di sini. Buat jadi bukti dan penjelasan dari supir lu itu, lu balik sendiri." *jawab Nico


"Bagaimana kalau tidak aku menginap di sini juga?" *ucap Dion sambil mendekatkan ke arah Nico


"Gak perlu, gue di sini gak enak, masa iya rumah orang lain gue jadiin tempat penginapan." *jawab Nico


"Jika seperti itu, biarkan aku menginap di rumahmu." *ucap Dion


"Jangan gila jadi orang, lagian apa alasan lu mau pake acara nginep segala." *ucap Nico


"Rumah ku jauh dari daerah sini, itu sebabnya aku tak bisa mengendarai mobil karena masih ada pengaruh alkohol." *jawab Dion


"Tapi lu kan bawa uang, lu bisa cari hotel di daerah sini. Banyak alasan lu jadi orang." *ucap Nico


"Menurutmu aku tak bisa membayar temanmu karena hal apa, aku meminjamkannya kepada Beny penyebabnya adalah aku tak membawa uang cash." *ucap Dion


"Bukannya bayar pake karu juga gak masalah ya?" *tanya Nico


"Ya memang tidak, namun itu sungguh merepotkan. Malam ini hampir habis, dan jika aku menginap di hotel sekarang maka yang ada hanyalah rugi, bukannya menginap satu malam malah yang ada hanya setengah malamnya." *jawab Dion


"Terus aja berdalih, ya udahlah gue izinin lu nginep di rumah gue. Dengan syarat jangan sentuh apapun barang yang ada di rumah gue, dan jangan ganggu gue kalo gue lagi tidur." *ucap Nico


"Sure, aku akan menepati semua syaratnya." *jawab Dion


"Bagus, gue mau balik sekarang juga si. Udah ngantuk, lu mau di sini dulu?" *tanya Nico


"Sekalian saja pakai mobil ku, motormu bisa di titipkan dulu di sini." *jawab Dion


"Lah kenapa harus kayak gitu konsepnya?" *tanya Nico


"Biar gak ribet pake nanya segala, sudahlah turuti saja apa perkataan ku." *jawab Dion dingin


"Siapa situ atur-atur gue segala?" *tanya Nico


"Apa semua urusan selalu kamu bikin panjang kayak gini?" *tanya Dion

__ADS_1


"Terus lu nyalahin gue gitu!?" *jawab Nico geram


"Hahaha.. tenanglah aku hanya becanda, ikut tidak denganku?" *tanya Dion sambil mencubit pipi Nico karena terlihat begitu menggemaskan ketika sedang marah


"Apaan si, gak jelas. Sakit tau gak!" *jawab Nico sambil mengelus pipi yang barusan di cubit oleh Dion


"Ya, kita berangkat sekarang aja." *ucap Dion


"Tunggu dulu lah, lu emang gak mau bilang sama supir lu itu. Lu tunggu di mobil, gue nyusul." *jawab Nico


"Maka aku akan di sini." *ucap Dion


tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar terdengar, lalu Beny segera membukanya.


"Ya, urusan saya sudah selesai kan di sini?" *tanya Beny kepada Nico


"Belum, urusan lu belum kelar. Lu harus nginep di sini dan gak boleh ninggalin temen gue sendirian. Dan satu lagi nama gue itu Nico, kalo yang lagi tidur itu lu tanya sendiri aja entar namanya siapa." *jawab Nico


"Tapi kan bos saya mau pulang, masa iya saya harus nginep di sini." *ucap Beny


"Bos lu juga mau nginep di rumah gue, dia yang minta sendiri. Kalo lu gak mau no problem ya, siap-siap aja buat di pecat." *jawab Nico


Dion yang mendengar ucapan Nico hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. "Ya, begitulah caranya menjadi nyonya Dion Saputro Adi Nugroho."


"Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusan bos Dion." *ucap Beny pasrah


"Itu baru bener." *jawab Nico


"Dah lu baik-baik di sini, awasi temen gue." *ucap Nico sambil menepuk pundak Beny


"Saya di sini hanya menuruti perintah bos saya, jadi dialah yang berhak memerintah saya." *jawab Beny


"Gue temennya dia, terus lu gak mau gitu dengerin perintah gue." *ucap Nico


"Terserah sajalah." *jawab Beny


"Awas ya lu, mentang-mentang gue bukan bos lu terus lu gak mau gitu nurutin apa yang gue mau." *ucap Nico sebal


Lalu tak lama kemudian Dion menghampiri, dengan mimik muka malas lalu ia berkata. "Ngapain si pake ngeributin hal sepele kayak gitu, buang-buang waktu aja. Mau sampai kapan kalian berdebat?"


"Abis gue kesel sama supir pribadi lu itu, lu juga sama ngeselin nya kayak dia!" *ucap Nico


"Udahlah Beny turuti aja kemauan Nico, apa susahnya si?" *tanya Dion


"Bos, kan bos sendiri yang bilang sama saya yang bisa memerintah saya itu hanya bos, tidak untuk orang lain." *ucap Beny


"Ya memang itu benar, tapi dia bukan orang lain lagi bagi saya. Dia adalah calon masa depan saya, jadi kamu di wajibkan nurut sama dia, dia juga bakalan jadi bos kamu entar." *jawab Dion seenaknya

__ADS_1


"Hah? apa, barusan lu ngomong apaan. Dih ogah kali jadi calon masa depan lu, ngapain juga." *ucap Nico


"Kamu mau kan dia nurut sama kamu?" *tanya Dion sambil berbisik


"Ya mau si." *jawab Nico


"Ya udah nurut aja, biar gak panjang lebar." *ucap Dion


"Serah lu, yang jelas gue gak mau jadi calon masa depan lu, apaan kayak gitu kita aja baru kenal. Geli gue dengernya ishhh.." *jawab Nico lalu pergi meninggalkan Dion


"Turuti apa kemauan dia, mengerti sampai sini?" *tanya Dion


"Ya.." *jawab Beny


Skip..


Sesampainya di rumah Nico..


"Kemana orang tua kamu?" *tanya Dion yang melihat rumah Nico sepi


"Bapak gue udah meninggal, dan ibu nikah lagi. Tapi dia gak pernah pulang ke sini semenjak nikah sama orang lain, itulah." *jawab Nico


"Sorry, saya gak tau." *ucap Dion


"Oi! ngapain juga gue cerita kehidupan gue, udahlah lupain aja gak penting ini. Lu tidur di sofa tamu, gue mau ke kamar dulu." *ucap Nico


"Saya gak bisa tidur tanpa pendingin ruangan, dan sofa adalah tempat paling tidak nyaman bagi saya." *jawab Dion


"Terus, mau lu apaan?" *tanya Nico


"Tidur di kamar yang memiliki pendingin ruangan." *jawab Dion


"Gue punya kamar itu cuma satu yang punya pendingin ruangan, jadi.. lu jangan ribet lah jadi orang!" *ucap Nico


"Kamar siapa yang punya pendingin ruangan?" *tanya Dion


"Kamar gue, kamar siapa lagi coba." *jawab Nico


"Jika begitu, biarkan saya tidur di kamar kamu." *ucap Dion


"Gak gak boleh, kamar gue itu privasi gue. Orang asing kayak lu gak boleh masuk ke ruangan pribadi, udah paling bener lu itu stay di sini." *ucap Nico


"Privasi itu memang penting, tapi kalo ada tamu yang ingin menginap dan memerlukan pendingin ruangan bukankah kenyamanannya juga menjadi tanggungjawab pemilik rumah?" *tanya Dion dingin


"Dari tadi gue dengerin lu itu pinter banget ya cari-cari alasan, terserahlah kesel gue debat sama lu mulu." *jawab Nico


Nico *tersenyum


Selesai..

__ADS_1


__ADS_2