Menyebrang Menuju Jalur Kegelapan

Menyebrang Menuju Jalur Kegelapan
Berkumpul


__ADS_3

Lima hari setelah kejadian malam itu kini berlalu, banyak yang telah terjadi akhir-akhir ini. Tentang prihal masalah Rafael yang masih belum puas melihat penderitaan ayahnya, hingga perasaan Reno yang sebenarnya


"Lu jadi orang bisa kan gak ikut campur dalam masalah dia!!" *bentak Adrian


"Lah apa salahnya emang kalo gue ikut campur, gue juga berhak kali gue kan salah satu anggota Elaser Merah." *jawab Rizky


"Sebagai anggota harusnya lu lebih ngerti situasi, jangan cuma bikin susahnya aja!" *ucap Adrian


"Diem aja udah, lu juga bukan bagian dari kita. Jadi seharusnya yang lebih gak berhak ikut campur itu elu!" *ucap Rizky


"Kurang ajar banget, gue ini temen Rafa jadi gue yang paling tau dia. Gitu aja ribet!" *ucap Adrian


"Gak mau ngalah banget ya lu!" *ucap Rizky


...


"Udah cukup! gue di sini gak mau dengerin perdebatan kalian ya, bukannya mikir kenapa gue nyuruh kalian buat ngumpul di markas!" *ucap Rafael geram


.


Seketika suasana berubah menjadi hening, tak ada satu patah katapun yang terucap


Sampai Ryon bertanya kepada Rafael. "Fael, ada masalah apa lu ngumpulin kita semua di markas?"


"Gue cuma mau ngingetin, jangan pernah lengah. Terus awasi setiap ada pergerakan dari gagak hitam ataupun yang lainnya, karena kejadian itu mungkin bakalan terulang lagi, jadi gue harap kalian siap menghadapinya." *ucap Rafael


"Pengecut!" *ungkap Rizky lantang di hadapan semua orang


"Apa? kalo ngomong itu yang bener, tu mulut gak bisa ngeluarin kata-kata bagus emang!" *jawab Adrian


"Diem lu, gue gak ngomong sama lu. Gue ngomong ke semuanya, kecuali yang bukan anggota dari Elaser Merah ini, satu kata yang perlu kalian denger dari gue adalah pengecut. Bukannya abisin aja sekalian gagak hitam, malah mundur dan menjadikan seseorang sebagai benteng, malu banget gue di sini." *ucap Rizky


"Lu mendingan jangan ngomong lah, gak ada mutunya juga lu ngomong." *ucap Ryon


"Lu sebagai umpan gak merasa juga kalo lu lagi di manfaatkan oleh semua orang di sini, ngaca lah dikit bro lu udah digituin masih aja ngebela-in kayak orang bodoh aja lu!" *ungkap Rizky


"Gue tau ya, sejak awal lu itu emang gak seneng ada di sini. Terus? apa alasan lu masih mau ikut campur, kita juga gak butuh orang egois kayak lu!" *jawab Ryon


"Egois ya? ini bukan tentang egois enggaknya, tapi ini tentang harga diri, lu kayak gak punya harga diri tau gak!" *ucap Rizky


"Alah ngomong aja lu males kan hadir di sini." *ucap Ryon


"Cukup! gue bilang diem dulu ya diem, kalian ini susah banget di atur. Kalo mau kayak gitu pergi aja sekalian dari sini, ngerusak suasana aja." *ucap Rafael tegas


.


.


.


"Solusi?" *tanya Lear datar


"Jalan satu-satunya adalah memperkuat penjagaan markas, dan mempererat kerja sama kita." *jawab Ryon


"Gue setuju, dengan begitu gue yakin gak akan pernah terjadi lagi hal itu." *ucap Rafael


"Terserahlah." *ucap Rizky


...


...


"Oke, sampai sini paham kan semuanya. Kalian harus lebih mahir lagi meningkatkan skill bela diri, dan kerja sama yang kompak." *ucap Rafael tegas


"Baik." *jawab semua orang serempak


"Sekarang, kalian harus buat jadwal pembagian jaga markas. Bisa kan?" *tanya Rafael


"Bisa tenang aja, urusan itu biar gue yang handel." *ucap Ryon


"Oke, gue percaya sama lu Yon. Khusus buat lu, gue harap usahakan datang tiap hari ke sini ya?" *tanya Rafael


"Beres." *jawab Ryon singkat


.


"Sekarang bubar aja, jika ada yang free dan gak punya urusan di luar tetap stay di sini." *titah Rafael


Lalu sebagian anggota lainnya pergi, tersisa tujuh orang di sana, dengan Ryon satu orang


"Yon, gue ke luar dulu. Masih ada urusan, gue percayakan markas ini sama lu!" *ucap Rafael


"Ya, lu tenang aja." *jawab Ryon


Rafael lalu pergi meninggalkan markas, seseorang yang dari tadi ribut mengikuti Rafael. "Raf tunggu, main tinggal tinggal aja."


"Ada apa Drian?" *tanya Rafael


"Gue harus banget di sini?" *tanya Adrian


"Lu boleh pergi, ngapain juga lu di sini lama-lama." *jawab Rafael

__ADS_1


"Tapi gue pergi sama lu kan?" *tanya Adrian


"Gak, lu pergi sendiri lah. Ya kali harus banget sama gue, udah gue banyak urusan nih. Lu mending balik." *jawab Rafael


"Lah Raf!" *teriak Adrian


...


...


"Dri, ngapain masih di sini?" *tanya Ryon


"Iya, sabar kali. Gue masih mau di sini, tunggu Rafael." *ucap Adrian


"Ngapain di tungguin?" *tanya Ryon


"Terserah gue lah." *jawab Adrian


"Ya emang si bukan urusan gue, cuma Fael itu kalo udah keluar baliknya lama lagi. Kalo gak percaya terserah si." *ungkap Ryon


"Gue gak ada kerjaan juga." *jawab Adrian


"bagus dah." *ucap Ryon


.


.


.


Rizky menghampiri Ryon dan Adrian yang sedang berbincang, lalu tanpa di sadari kaki Ryon yang menghalangi jalan akhirnya membuat Rizky terjatuh tepat menimpa tubuh Adrian


Ryon melihat hal itu langsung melangkahkan kaki ke belakang bersiap untuk melarikan diri


Rizky menimpa tubuh Adrian hingga terjatuh, dan tak sengaja bibir mereka berdua bersentuhan, rasa yang hangat itu langsung di patahkan oleh kedatangan Hans, dan Lear


"Kenapa Ryon?" *tanya Lear yang tak tau situasi di sana


"Orang aneh." *ucap Hans dingin tak tertarik lalu meninggalkan Lear


"G.. gue.. gue tinggal dulu ya." *ucap Ryon gelagapan


"Jawab dulu, kenapa, ada apa emangnya?" *tanya Lear


"Udahlah, liat sendiri aja." *jawab Ryon sambil pergi meninggalkan Lear


Sementara itu, Lear lalu melirik tepat ke bawah, dan ia melihat dua orang yang sedang berciuman


Sontak saja, Adrian segera mendorong tubuh Rizky hingga tersungkur. "Ngapain si lu ini!!?" *ucap Adrian geram sambil mengusap bibirnya yang basah


"Gak jelas banget jadi orang." *ucap Adrian lalu pergi meninggalkan Rizky yang masih duduk tepat di hadapannya


...


...


"Lu kira ini akal-akalan gue aja?!" *ucap Rizky tak terima


.


.


Lear ikut pergi dari sana, karena ia tak ingin terseret masalah mereka


"Hangat." *ucap Rizky sambil memegangi bibirnya sendiri


Rizky tanpa disadari tersenyum setalah kejadian itu, ia merasa Adrian adalah orang yang sulit untuk di kenal lebih akrab. Namun, ia akan bersikap baik apabila sudah mendengar penjelasan, dan tak segan menerima alasan tersebut walau ia tau ia juga sedang kesal.


Rizky lalu pergi dari sana, dan segera mencari keberadaan Ryon


...


...


"Balik aja lah." *ucap Adrian yang sudah melupakan kejadian barusan


...


Namun seseorang menariknya, lalu menanyakan. "Ngapain di sini?" *tanya Hans dingin


"Emang lu siapa?" *tanya balik Adrian


"Sudahlah, lupakan saja." *jawab Hans lalu pergi begitu saja


"Aneh." *ucap Adrian


Hans menjatuhkan barang miliknya, yakni gelang yang berwarna hitam memiliki abjad huruf A


Adrian menginjak gelang itu, lalu ia mengambilnya. "A?" *tanya Adrian sambil memegang gelang itu


Adrian seolah familiar dengan apa yang ia pegang sekarang ini, lalu ia mengingatnya kembali.

__ADS_1


"Ini.. ini pemberian dari temen gue kan si.. siapa ya?" *tanya Adrian sambil mengingat lagi


.


.


.


"Ini, gelang pemberian Hans kalo gak salah. Terus, kenapa orang tadi bisa punya gelang ini?" *tanyanya heran


"Mungkinkah orang tadi itu adalah Hans?" *tanya Adrian pada diri sendiri


"Bagaimanapun, gue harus bicara sama dia sekarang." *ucap Adrian lalu mengejar kepergian Hans


...


...


"Hans!!" *teriak Adrian


Lalu Hans menghentikan langkah, dan menghampiri Adrian


"Hans, lu itu Hans kan?" *tanya Adrian


"Ya. Ada apa?" *jawab Hans datar


"Kenapa lu gak ngomong dari tadi, ada yang mau gue omongin sama lu." *ucap Adrian


"Silahkan ngomong." *jawab Hans


...


...


"Jangan di sini lah, gak enak. Kita ngobrol di luar aja." *ucap Adrian


"Baiklah." *jawab Hans lalu pergi menuju luar markas


Adrian mengikuti Hans, lalu setelah berada di luar Adrian langsung menanyakan. "Hans, terakhir kali kan yang gue inget adik lu lagi sakit ya. Sekarang dia gimana keadaannya, udah membaik?"


Hans hanya tersenyum mendengar ucapan Adrian tanpa memberikan jawaban


"Hans, lu masih kayak dulu aja. Ngomong lah, gue pengen tau." *ucap Adrian


"Dia udah pergi." *jawab Hans dingin


"Pergi kemana? dia lagi kuliah di luar negeri maksudnya?" *tanya Adrian


"Pergi dan tak akan pernah kembali lagi ke dunia ini." *jawab Hans


"Yang bener lah, becandaan lu gak lucu. Gue nanya serius ini, lu malah jawab dengan lelucon kayak gitu." *ucap Adrian


"Terserahlah jika memang tak ingin mempercayainya." *jawab Hans


"Gue pergi dulu." *ucap Hans


Tangan seseorang menghalangi Hans untuk pergi, Adrian menarik tangan Hans


"Lu gak seharusnya menutupi semua kesedihan lu Hans." *ucap Adrian


"Lu kenapa gak dari dulu ngomong sama gue, kenapa baru sekarang?" *tanya Adrian


"Haruskah gue kasih informasi di saat lu lagi seneng perusahaan yang lu bangun sendiri berkembang dengan sangat pesat." *jawab Hans


"Maaf, gue gak bermaksud Hans." *ucap Adrian


"Gak masalah, selamat atas keberhasilan lu." *jawab Hans


"Gue pergi dulu." *ucap Hans melepaskan tangan Adrian yang menggenggam tangannya


"Hans tunggu lah!!" *ucap Adrian


Hans lalu berbalik kembali menatap Adrian. "Apa?" *tanya Hans


"Maaf, lu.. lu harus kuat Hans." *ucap Adrian memeluk Hans dengan hangat


Adrian memeluk Hans, lalu tangan Hans menyentuh leher Adrian guna menghangatkan dekapan mereka



"Kenapa lu gak ngomong Hans? maaf, gue gak ada di samping lu ketika keadaan sedang sulit dan memojokkan lu." *ucap Adrian di dalam pelukan Hans


"Ini bukan salah siapapun, seseorang yang berharga gak seharusnya di salahkan dalam kasus ini." *jawab Hans


"Terus, sekarang tinggal di mana?" *tanya Adrian


"Di rumah." *jawab Hans


"Gue harap lu gak lupain ini " *ucap Hans sambil menunjukan gelang yang dilengkapi abjad H


"Gak, gue gak lupa. Lu barusan jatuhin gelangnya." *jawab Adrian sambil mengeluarkan gelang abjad A itu

__ADS_1


Hans tersenyum melihat Adrian yang menggenggam gelang itu dengan eratnya


Selesai..


__ADS_2