
Sekarang malam telah tiba, di saat semuanya sedang bersantai di rumah. Seseorang justru berkeliaran di malam hari
"Gak ada waktu, gue harus secepatnya bikin hatinya hancur. Kapan lagi kesempatannya, kalo bukan sekarang ini." *ucap Rafael
...
...
"Sebelum itu, gue harus ke kafe dulu." *ucap Rafael lalu pergi mengambil kunci motor
.
.
.
Di perjalanan tak selang beberapa lama, Rafael akhirnya tiba
"Bagaimana keadaan kafe?" *tanya Rafael kepada salah seorang karyawannya itu
"Sekarang kondusif, banyak pelanggan yang datang ke sini. Kita sebenarnya harus berterima kasih kepada mas Ryon, berkatnya pengunjung semakin antusias, hingga mengabadikan momen itu." *jawab karyawan itu sambil tersenyum
"Maksudnya?" *tanya Rafael tak mengerti
"Siang tadi mereka meresmikan hubungan satu sama lain, bos Rafa emangnya gak tau?" *tanyanya
"Resmi, maksudnya resmi apaan ya?" *tanya Rafael
"Seseorang menyatakan perasaan kepada mas Ryon, lalu ia menerimanya. Suasana di sini sangat ricuh oleh teriakan para gadis yang melihat kemesraan mereka berdua." *jawabnya
"Siapa orang yang telah menyatakan perasaannya kepada Ryon?" *tanya Rafael
"Namanya kalo saya gak salah denger.. namanya itu Afka." *jawab sang karyawan kafe
"Afka!!?" *ucap Rafael kaget
"Ya, kenapa kok syok gitu bos?" *tanya karyawan itu
"G.. gak, gue pergi dulu kalo gitu. Jangan lupa hari ini kita buka kafe 24 jam non-stop, berhubung esoknya hari libur." *jawab Rafael
"Siap bos!" *ucap sang karyawan
...
...
Rafael di luar kafe langsung menelpon Ryon, dan menanyakan kebenaran informasi yang baru ia dapatkan
drttt drttt drttt
Tlphone berdering di meja atas laci kamar Ryon, lalu baru saja Ryon keluar dari kamar mandi sesudah mandi, ia mengangkatnya. "Halo, kenapa Fael. Tumben nelpon gue, ada masalah apaan lagi sekarang??"
"Gue perlu bicara sama lu sekarang juga, gue tunggu lu di taman deket rumah lu. Jangan sampai lu gak dateng ya!!" *ucap Rafael dengan nada tinggi
"Iya."
tutt tutt
tlphone itu langsung di matikan tanpa ada bicara panjang, lalu Ryon bersiap-siap untuk segera menemui Rafael
.
.
.
DI TEMPAT LAIN..
"Bos, anda sudah berlebihan. Tolong jangan minum lagi, yang ada saya repot entar harus nyetir sambil perhatiin bos." *ucap supir pribadi Dion
"Udahlah diem aja, siapa juga yang mabuk." *jawab Dion tak peduli
"Tapi bos..
"Saya ini lagi pusing, Elisa selingkuh sama orang lain, dan di depan mataku sendiri dia memamerkan hubungannya dengan lelaki bajingan itu." *potong Dion
"Lebih baik jika anda cerita kepada mas Kemal, bukan di selesaikan dengan cara begini." *ucap Beny sang sopir
"Temani saja saya, apa begitu susahnya bagi kamu!?" *ucap Dion dingin
"Baiklah, bos tunggu di sini dulu ya. Saya akan memindahkan mobil ke tempat yang mudah di jangkau, jangan kemana-mana." *ucap Beny
"Ya..."
...
...
Seseorang pria menghampiri Dion dengan langkah yang sempoyongan, sangat terlihat dia sudah terpengaruh oleh kerasnya alkohol. Pria itu lalu duduk di samping Dion, mendekatkan tubuhnya ke arah Dion
Dion yang melihat hal itu langsung mengambil kesempatan, ia merangkul pinggang pria itu. Lalu cup.. pria yang terlihat mabuk berat itu mencium bibir Dion dengan lembut, tanpa pikir panjang Dion langsung melancarkan aksinya, ia memasukkan lidah ke dalam mulut pria yang mabuk itu
Mereka bertukar air liur bersama, Dion lalu mulai di kuasai oleh alkohol yang ia minum. Dion membawa pria itu ke kamar, yang memang di sediakan di bar tersebut
Setelah itu, jangan tanyakan apa lagi yang terjadi. Tau sendiri lah ya, gimana kelanjutannya..
__ADS_1
Berasumsi saja sesuka hati, mereka sekarang sedang bersenang-senang di kamar itu
...
...
drttt drttt drttt
Dering telepon itu berbunyi di kursi tempat duduk Dion barusan, siapa yang menjatuhkannya?
...
...
Tak selang beberapa menit, supir pribadi Dion tiba kembali ke tempat semula. Namun ia terlambat, semuanya sudah hilang tak ada di hadapannya
Yang ia lihat hanyalah ponsel hitam, entah milik siapa..
Saat memegangnya lalu seseorang menelpon nya kembali, beny yang tak tau apapun hanya bisa menjawabnya. "Halo?" *tanyanya dari dalam tlphone
"Bram, lu kemana aja si?" *tanya Nico di dalam tlphone
"Maaf.. ini bukan pemilik dari handphone yang saya pegang." *jawab Beny
"Lu.. lu siapanya Bram! Bram.. Bram nya di mana sekarang?!" *tanya Nico panik
"Saya.. saya kebetulan menemukan handphone ini tergeletak di kursi bar tempat bos saya duduk. Maaf, saya tidak tau apa-apa." *jawab Beny
"Terus pemiliknya kemana ini?!" *tanya Nico
"Gak tau saya, maaf saya mau cari bos saya dulu. Saya matikan tlphonenya." *ucap Beny
"Tunggu oi!" *ucap Nico
tutt tutt
tlphone itu di matikan oleh nomor Bram, lalu Nico yang panik segera mengirim pesan kembali kepada nomor Bram. "Siapapun lu itu, bisa kasih tau gue kan letak bar nya ada di mana!?"
Pesan itu di kirim, lalu tak selang berapa lama Beny membacanya. "Lokasinya ada di jl cendrawasih, tepatnya di depan kafe U' coffe."
Pesan itu langsung di baca oleh Nico, lalu ia segera bergegas menuju tempat yang di maksud
.
.
.
"Bos bos, jadi orang bandel banget. Udah di bilangin jangan keluyuran kemana-mana, malah ilang kayak di telan bumi gini. Kemana coba harus nyarinya?" *ucap Beny bingung
"Aduh, saya baru dateng juga si. Saya gak liat, maaf." *jawab pelanggan itu
"Ya makasih." *ucap Beny lalu menanyakan ke yang lainnya
"Waiters di sana kali aja liat, mending gue tanya sekalian."
...
"Mas, liat orang yang duduk di kursi itu gak barusan banget?" *tanya Beny
"Bukannya tadi bareng sama masnya ya?" *tanya balik pelayan itu
"Ya, ya bener tadi dia emang bareng sama saya. Liat kan, kemana dia sekarang?" *tanya Beny
"Kalo gak salah setelah masnya pergi, seorang pria duduk di kursi itu. Terus mereka kayaknya kalo gak salah pergi ke kamar di sebelah sana!" *jawab pelayanan itu sambil menunjuk kamar VVIP
"Makasih, aduh makasih banget udah bantu saya." *ucap Beny sambil memegang tangan pelayan itu karena terbawa suasana
"Iya, sama-sama." *jawab pelayanan itu
.
.
.
"Bos, gak bisa apa bikin gue tenang sebentar aja. Kerjaan lu bikin orang panik aja, kalo ada apa-apa entar yang di salahi gue, yang di minta pertanggungjawaban itu gue!!" *ucap Beny kesal
Beny menghampiri kamar yang dimaksud oleh pelayan tadi, lalu ia mengetuk pintunya. "Bos! buka bos!!!" *teriak Beny
Lalu di dalam Dion baru tersadar, dan melepaskan orang yang ada di hadapannya. Untung aja baru setengah doang ke bukanya, belum semua terekspos
Dion membuka pintu itu, lalu melihat Beny sudah ada di hadapannya. "Kamu terlambat Beny, berikan dia sejumlah uang untuk kompensasi." *titah Dion
"Lah, uangnya mana bos?" *tanya Beny
"Saya tak membawa uang cash, kamu yang bayar." *jawab Dion
"Tapi bos.."
"Gak ada tapi tapian, entar saya gaji kamu lebih sebagai uang ganti." *potong Dion
"Beres bos kalo gitu!" *ucap Beny lalu memberikan uang merah 5 buah
Ya.. 500.000 ribu uang yang di berikan kepada Bram. Sebelum hendak pergi, seseorang tiba di sana dengan emosi yang meledak-ledak
__ADS_1
"Oi! dimana si Bram!!" *tanya Nico
"Maaf, mohon tenang sedikit. Sedang mencari siapa di sini?" *tanya pelayan bar itu
"Cari temen, yang punya ciri-ciri pakai baju item, tingginya sekitar 178 cm, dan wajahnya kayak gini!" *jawab Nico sambil menunjukan foto Bram
"Barusan juga ada yang nanyain bosnya, dan sekarang teman mu juga?" *tanya pelayan itu
"Gue gak mau denger basa-basi, kasih tau sekarang juga. Dimana dia?" *tanya Nico
"Mereka ada di kamar sebelah sana." *jawab sang pelayan
"Oke makasih." *ucap Nico
.
.
.
"Oi! mau kemana kalian?!" *ucap Nico yang melihat dua orang akan pergi meninggalkan Bram di dalam kamar sendirian
"Siapa ya?" *tanya Beny
"Gue orang yang barusan tlphone, sekarang gue tanya siapa yang udah berani melecehkan temen gue!!?" *ucap Nico
"Denger dulu, ini sebenarnya salah faham. Bos saya di sini sedang mabuk, dan tak sengaja melakukan hal itu, semuanya masih aman kok. Mereka ngelakuinnya belum sampai sejauh yang lu pikirkan, bos udah kasih uang kompensasi, dia tanggung jawab atas kerusakan baju milik temen lu." *jawab Beny
"Ya tapi lu gak bisa seenaknya pergi gitu aja lah!!" *ucap Nico sambil menarik kerah baju Beny
"Tenang, di sini sayalah yang melakukan. Jadi.. apa yang lu mau?" *tanya Dion dingin
"O.. jadi lu yang ngelakuinnya?!" *ucap Nico lalu memberikan satu pukulan keras di pipi kiri Dion
"Ya.. lakukanlah apa yang kau ingin lakukan, semuanya memang salah ku." *ucap Dion
"Bagus kalo lu sadar!" *jawab Nico
"Asal lu tau, uang gak akan bisa membeli segalanya. Termasuk harga diri temen gue, kalo lu berani rendahkan harga dirinya artinya lu lagi berhadapan sama gue sekarang!!" *ucap Nico
"Baiklah, bagiamana sekarang?" *tanya Dion sambil tersenyum sinis
"Lu ikut gue, dan lu harus lakukan apa yang gue inginkan!" *jawab Nico
"Urusan ku bukan cuman tentang mu seorang beby, dia tak ku apa-apakan kok, hanya berciuman beberapa kali saja. Tak salah kan? lagi pula, dialah yang memulainya duluan, ketika seseorang sedang dalam pengaruh alkohol apa bisa menahan hasratnya bila di goda dahulu?" *tanya Dion sambil membelai muka Nico lembut
"Apaan maksud lu, pake acara belai belai segala. Jauh-jauh dari gue, jijik gue liatnya!" *ucap Nico sambil menepis tangan Dion dari mukanya
"Katakan pada temanmu, bila tak bisa meminum arak jangan pernah mencobanya. Bahaya bukan berakhir di dalam mulut serigala?" *ucap Dion
"Dih, malah nyalahin temen gue. Jelas-jelas yang salah itu elu tape singkong!" *jawab Nico
"Tape singkong?" *tanya Dion
"Ya, lu pantes di panggil kayak gitu. Atau lebih tepatnya tape lembek!" *jawab Nico sambil menunjuk-nunjuk muka Dion
"Sopan kan begitu beby?" *tanya Dion menangkap tangan Nico yang sedang menunjuk dirinya
Dion lalu menarik Nico, sontak saja Nico tersungkur ke dalam pelukan Dion. Lalu Dion tersenyum puas melihat Nico yang tak bisa berbuat apa-apa
"Kenapa? nyaman kah berada di dalam dekapanku?" *tanya Dion sambil menatap wajah Nico di dalam dekapannya
"Sialan! apa lu bilang? nyaman? gak salah denger gue, bukannya nyaman yang ada gue mual deket sama orang kayak lu!" *jawab Nico
"Mual karena mengandung anak ku maksudnya?" *tanya Dion
"Hah? apaan? are you sick?" *tanya Nico geram
"I'm still sane, i'm not sick at all baby." *jawab Dion
"Shut up, i don't want to hear hypocrites talking." *ucap Nico
"Mengapa munafik?" *tanya Dion
"That's the fact, because only hypocrites dare to pay for all their actions with money, without anymore accountability." *jawab Nico
"Well of that's your view, how should i be responsible now?" *tanya Dion
"Gendong dulu si Bram, terus bawa dia ke mobil milik lu. Kalo udah sampai di rumahnya, di situlah pertanggungjawaban lu akan gue tuntut!!" *ucap Nico
"Sudah melupakannya? kamu sendiri yang meminta untuk tak mendekati teman mu ini, terus kamu menyuruhku untuk menggendongnya?" *tanya Dion
"Oke kalo lu gak mau, biar sopir pribadi lu yang naif ini yang ngelakuinnya." *ucap Nico
"Bos?" *tanya Beny
"Lakukanlah." *jawab Dion
Beny hanya bisa menuruti semua perintah dari bosnya itu, Bram di gendong oleh Beny lalu di bawa menuju luar bar
"Lalu, aku harus menggendong mu juga kan?" *tanya Dion
"Gue punya kaki, gak usah sok perhatian, kalo awalnya busuk ya busuk aja kali!" *jawab Nico lalu pergi meninggalkan Dion
Dion yang melihat tingkah laku Nico hanya bisa menggelengkan kepala heran, karena tak menyangka orang seperti Nico masih ada di dunia ini. Yang menuntut pertanggungjawaban hanya karena kesalahan sepele yang ia lakukan
__ADS_1
Selesai..