
Sebelum Ryon dan Afka sedang bersenang-senang, di tempat lain seseorang sedang sibuk mengerjakan berkas penting perusahaan
"Di sini tidak berubah sama sekali." *ucap seorang pria yang datang ke ruang pribadi Kemal tanpa mengetuk pintu
Kemal lalu mengarahkan pandangannya kepada pria yang sedang berbincang itu. "Lain kali ketuklah pintunya dulu, sebelum masuk." *ucap Kemal
"Maafkan saya, karena sudah lupa kebiasaan di sini. Akibat terlalu lama berada di Swis, saya jadi melupakan beberapa sopan santun." *ucapnya lalu membalikkan badan ke arah Kemal
...
...
"Ya.. itu bukan kejutan lagi, ada apa kamu datang ke sini?" *tanya Kemal dingin
"Tugas di Swis sungguh melelahkan bukan? pekerjaan saya sudah di pindah alihkan ke Indonesia. Sejujurnya, saya lebih menyukai cuaca di sana." *jawab Dion
"Baguslah, jadi kamu bisa membantu perusahaan ku." *ucap Kemal
"Urusan yang lainnya masih harus di kerjakan, jadi masalah membantu. Mungkin alangkah lebih baiknya kerjakanlah pekerjaan mu sendiri kakak tercinta." *ucap Dion sambil tersenyum kecut
"Buktikanlah, bahwa lulusan terbaik Swis bisa melakukannya. Jadilah saingan ku, dan kalahkan kesusksesan kakak mu ini." *tantang Kemal
"Aku justru ragu, kamu akan menyerah di tengah jalan. Baiklah, apa yang menjadikan ini menarik?" *tanya Dion
"Jika kamu memenangkannya, ambil rumah yang baru ku bangun dari hasil jerih payah ku selama ini. Bagaimana? ada tawaran yang lebih menarik?" *tanya Kemal datar
"Tak buruk, jika kau mau ambil saja rumah ku yang ada di Swis sana. Bagaimana?" *tanya Dion
"Aku tidak menyukainya, tinggal di sini adalah yang terbaik. Karena bisa terus bersama ibu, tak sama seperti pandangan mu." *sindir Kemal sambil tersenyum sinis
"Ya.. jika begitu, ambil saja rumah ku yang ada di sini. Kebetulan aku sudah membelinya, namun.. aku tak menyukainya. Kita lihat siapa yang akan memenangkan salah satu darinya." *ucap Dion
"Bagus, lain kali ajarkan kepada adik mu Raka. Untuk selalu bersaing tak memandang keluarga." *titah Kemal
"Mungkin lebih baik jika kau yang mengajarkannya, kakak terbesar adalah semua keputusan dari adik adiknya, bukan begitu?" *tanya Dion
"Sudahlah terserah apa mau mu saja, aku tak peduli." *ucap Kemal
...
...
...
"Saingannya kita tunda, bagaimana soal pernikahannya?" *tanya Dion
"Siapa yang akan menikah?" *tanya balik Kemal
"Siapa lagi jika bukan kak Kemal." *jawab Dion
__ADS_1
"Jangan pikirkan aku, kau duluan saja menikah." *ucap Kemal
"Kakak adalah yang pertama, jadi kami tak berhak melangkahinya bukan?" *tanya Dion
"Entahlah, jika kau ingin menungguku. Umurmu mungkin tak akan muda lagi untuk menikah setelah aku." *jawab Kemal
"Tapi, lebih baik menunggu yang pasti bukan, di bandingkan menunggu yang ilusi.. hanya datang sesaat lalu pergi untuk selamanya." *ucap Dion
"Menunggu itu tak mudah, jika kamu sudah menemukan orang yang tepat, Menikah lebih dulu tak ada salahnya." *jawab Kemal
"Baiklah, jika tidak di antara kita berdua. Mungkin iya untuk Satria, dia duluan saja yang menikah." *ucap Dion lalu pergi dan duduk di sofa
"Dia terlalu muda untuk secepatnya menikah." *jawab Kemal
"Benar, pilihan yang tepat adalah kak Kemal." *ucap Dion
"Sudahlah, aku sedang tak ingin membahas pernikahan. Sebentar lagi aku akan mendapatkan orang yang tepat." *ungkap Kemal
"Siapa orang yang tepat itu?" *tanya Dion
"Cukup bersaing dalam sebuah bisnis saja, tidak dengan orang yang aku suka. Mengerti?" *tanya Kemal
"Aku hanya berniat baik membantumu, untuk segera melamarnya." *jawab Dion
"Ya, terserah kamu saja. Kerjaan ku tak akan selesai jika kau masih berada di sini."
"Mengusir secara halus ternyata, tanpa di usir pun aku memang sudah ingin pergi dari sini. Usaha mu sia-sia saja Kemal." *ucap Dion lalu pergi meninggalkan Kemal
...
.
.
.
"Oi Afka, bisa stop gak! gue lagi capek ini, gak tau situasi banget lu!" *ucap Ryon
"Maaf, gue cuma mau lu di sini nemenin gue." *jawab Afka
"Males, gak mau gue nemenin lu segala." *ucap Ryon
"Kafe ini milik dari Rafael kan? menghancurkannya akan sangat menyenangkan sepertinya." *ancam Afka
"Lu mau cari masalah di sini!" *ucap Ryon
"Gak, gue di sini mau cari keberadaan seseorang." *jawab Afka
"Ya udah, lu lanjutin lah cari orangnya. Gak usah cari ribut!" *ucap Ryon
__ADS_1
"Masalahnya yang gue cari sekarang udah ada di hadapan gue. Gimana dong?" *tanya Afka
"Lu nyari gue? ngapain pake di cari segala, emangnya gue anak ilang apa!?" *ucap Ryon geram
"Hahaha.. becanda, pokoknya lu harus temenin gue di sini." *jawab Afka lalu menarik kembali tangan Ryon
"Oke gue temenin, asalkan lu jangan deket-deket sama gue." *ucap Ryon
"Tapi gue menolak, mau apa?" *jawab Afka
"Gue gak akan nemenin lu, kalo itu mau lu!" *ucap Ryon berdiri dari duduknya
"Gue di sini pengen ngobrol sama lu, apa salah?" *tanya Afka menarik kembali tangan Ryon
"Ngomong apaan emang?" *tanya balik Ryon
"Gue suka sama lu Yon, mau kan jadi pacar gue?" *ungkap Afka
"Hah? apa tadi lu bilang?" *tanya Ryon tak percaya
"Gue gak suka yang namanya basa-basi, jadi gue langsung ke intinya aja. Gue suka sama lu, jadi pacar gue ya, dan jadilah orang yang selalu menyinari setiap langkah kaki gue." *ungkap Afka
"Ini.. ini terlalu berlebihan, becanda lu gak lucu sama sekali." *jawab Ryon
"Kapan gue main-main sama perasaan orang, gue serius gue suka sama lu. Semenjak ada hadir lu dalam hidup gue, semuanya berubah dari gelap menjadi terang, lu ibaratkan bulan yang selalu menyinari gelapnya malam dalam hidup gue."
"Dengan kehadiran lu di sisi gue, semulanya gue gak bisa liat apapun sekarang gue tau betapa indahnya alam semesta ini." *ucap Afka
"Jadilah penerang di setiap langkah di hidup gue ya?" *pinta Afka
"Tapi, gue.. gue gak tau apa yang harus gue lakuin. Lu bikin hidup gue tambah susah tau gak!" *ungkap Ryon
"Dari awalnya gue gak bergantung sama siapapun, sekarang gue malah menjadikan lu sebagai tempat bersandar gue. Gue mohon, jangan bikin hidup gue tambah susah." *ucap Ryon
"Lu boleh, lu boleh jadikan gue bahu bersandar lu. Gue janji gue gak akan pernah bosen buat bikin lu nyaman ada di deket gue, gue siap jadi seutas tali dan paku sebagai tempat lu bergantung." *jawab Afka
"Gue gak tau harus jawab apaan, lu mendingan kasih cinta lu itu ke orang yang lebih tepat. Gue gak berhak mengekang kebebasan hidup lu, masih banyak orang baik di luaran sana." *ucap Ryon
"Yang gue mau itu cuma sama lu seorang, gak ada yang lainnya. Gue mohon, jadilah fajar setelah gelapnya malam." *jawab Afka
"Dengan terbitnya fajar kehidupan esok akan di mulai, fajar itu sangat berarti bagi kehidupan. Pagi yang sejuk dengan embun, udara yang segar tanpa polusi. Itulah kehidupan yang sekarang gue rasakan dengan kehadiran lu. Gue mohon jadilah fajar yang akan memulai semuanya dari awal baru." *ungkap Afka
"Gue terima." *jawab Ryon
"Maksudnya lu terima gue jadi pasangan lu?" *tanya Afka
"Ya, gue terima." *jawab Ryon
"Makasih, emang cuma lu seorang yang bisa bikin gue bahagia." *ucap Afka memeluk Ryon dengan hangatnya
__ADS_1
Terbitnya fajar..