
#Flashback masa lalu..
"Fael, gimana udah ngapalin buat ulangan besok?" *tanya Ryon
"Udah." *jawab Rafael singkat
"Fael, setelah selesai SMA mau kemana rencananya?" *tanya Ryon lagi
"Kuliah kali." *jawab Rafael, lalu ia pergi meninggalkan Ryon sendirian
" Segitu gak maunya lu deket sama gue Fael." *sambil menghela nafas panjang
Ryon lalu pergi kembali ke kelasnya, Rafael memang sudah sejak dulu mengenal Ryon. Namun, ini hanya pertemanan satu pihak, dimana pihak yang lainnya tak menginginkan.
"Mau kemana sayangnya Askara?" *tanya pria yang terlihat menyebalkan itu
"Minggir!" *titah Rafael
"Kita ngobrol dulu lah, kaget banget nih sama sayangnya Askara. Mau kan?" *tanya Askara
"Terus? alasan gue mau nurutin kemauan lu apa?" *tanya balik Rafael
"Ayo lah Ra, sebentar doang kok. Janji, enggak bakalan bikin kamu kesel, mau yah?" *tanya Askara
"Oke, tapi lu cuma punya waktu tiga menit." *ucap Rafael
"Cukup kok, ayok ikut sama aku." *menggenggam tangan Rafael
...
...
"Lu mau bawa gue kemana?" *tanya Rafael
"Udah diem aja dulu, pokoknya ini spesial buat kamu." *jawab Askara
.
.
"Sampai deh." *ucap Askara
"Lu.. lu yang nyiapin ini semua?" *tanya Rafael
"Ya, cuman buat sayangnya Askara seorang. Kita duduk di kursi itu." *sambil menunjuk kursi putih
Rafael pergi bersama dengan Askara atas keinginannya sendiri, ia tak tau bahwa Askara sebegitu baiknya kepadanya
"Ngapain si lu, enggak ada kerjaan banget. Nyiapin ini semua buat gue, mau ngomong apa emangnya?" *tanya Rafael
"Jus buah persik adalah jus kesukaan kamu, dan aku juga telah memesankan beef steak medium well." *ucap Askara
__ADS_1
"Kapan makanan nya dateng?" *tanya Rafael
"Tuh, udah mau di antar." *jawab Askara
...
...
"Ini pesanannya, silahkan di nikmati." *ucap pelayan restoran mewah itu
"Makasih." *ucap Rafael
"Gue makan duluan." *ucap Rafael kepada Askara
Askara hanya tersenyum melihat Rafael yang makan begitu lahap karena lapar, mungkin?
"Ra, pelan pelan makannya. Kamu laper banget ya?" *tanya Askara
"Cepetan, katanya mau ngomong." *ucap Rafael
"Lah iya, lupa abisnya ngeliatin yang indah aja si." *ungkap Askara
"Maksudnya?" *tanya Rafael
"Ya, yang di depan abisnya indah banget. Jadi enggak konsen deh, maaf." *ucap Askara
"Ngomong aja, jangan buang buang waktu." *titah Rafael
"Jadi, Ra.. sebenarnya aku enggak enak ngomong terus terang kaya gini. Tapi, rasanya aku bakalan gak nyaman kalo terus menerus menutupi perasaan ini, Ra aku suka sama kamu. Mau jadi pacar aku?" *tanya Askara lalu memperlihatkan cincin yang telah Askara persiapkan
"Iya Ra, itulah hal yang ingin aku bicarakan. Mau jadi pacarku? aku janji akan membahagiakan mu Ra, kalo pun kamu ingin langsung menikah, aku siap menjadi suamimu." *ungkap Askara
"Ya kali gue pacaran sama lu Aska, temen gue sendiri." *ucap Rafael
"Tapi aku serius Ra." *ucap Askara
"Ya.. gimana ya, gue kayaknya enggak bisa sama lu. Gue anggap lu sebagai kakak gue sendiri, dan gue udah sayang banget sama lu juga. Tapi.. bukan sebagai pasangan, hanya sebatas sayang kepada saudara." *jawab Rafael
"Gak papa Ra, kalo emang kamu gak siap atau gak mau. Yang jelas, aku akan selalu menganggap mu sebagai cinta pertama dan terakhir ku, walau mungkin aku tak akan berakhir dengan kamu." *ucap Askara
"Gue gak enak banget nih, sorry ya Aska. Tapi, emang gue gak bisa, sekali lagi maaf." *ucap Rafael
"No problem Ra, ngeliat kamu bahagia aja udah lebih dari cukup. Makasih selama ini udah menganggap ku sebagai kakak mu sendiri, Aska Astadinata akan selalu menjaga kamu Ra." *ungkap Askara sambil tersenyum simpul
Mungkin inilah yang dinamakan tersenyumlah untuk menjadi handal dalam menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya, manyakitkan pasti Askara rasakan, tapi justru sensasi ini sekarang memberikannya banyak pelajaran berharga, bahwa baik dan peduli itu belum tentu menjadi kesimpulan perasaan suka.
"Terimakasih Ra, atas pembelajaran yang hari ini aku terima. Aku akan selalu mengingat kenangan kita bersama, dalam memory yang indah." *ucap Askara
"Aska, lu.. lu enggak kenapa-napa kan?" *tanya Rafael
"Entahlah Ra, mungkin aku baik baik saja." *jawab Askara
__ADS_1
"Sekali lagi sorry ya Aska, dan makasih udah mencintai gue." *ucap Rafael
"No, kamu enggak perlu berterimakasih. Justru sebaliknya, makasih atas semua yang telah kamu kasih, tentang kebahagiaan, caranya mencintai diri sendiri, dan menjadi lebih tegar." *ucap Askara
"Ya, kalo gitu gue pergi dulu. Makasih makanannya, lain kali mungkin kita bakalan ketemu lagi." *ucap Rafael
"Ya." *jawab Askara sambil tersenyum
...
...
Sejak itulah Rafael dan Askara tidak bertemu kembali, mereka terpisah karena berbeda universitas kampus
Sedangkan untuk Ryon, hingga kini Rafael masih bersama dengannya. Meski beberapa kali Ryon berusaha, untuk mendapatkan hati Rafael sangat tidak mudah. Bahkan Ryon hampir menyerah di tengah jalan, namun setelah semua itu Ryon akhirnya menyadari bahwa cinta itu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dipaksakan.
Egois karena telah memaksakan kehendak, yang tidak mungkin untuk menjadi mungkin itu terlalu impossible terjadi
Ryon tak tau kapan ia harus menyerah dengan perasaannya ini, tetapi semakin lama perasaan ini justru semakin dalam dan dalam lagi
Tak tau cara melepaskannya
"Fael, apa kita bisa bicara sebentar di taman belakang kampus?" *tanya Ryon
"Ada hal apa yang perlu di omongin?" *tanya balik Rafael
"Apa bisa? sebentar doang, tidak akan sampai 4 menit." *ucap Ryon
"Oke." *ucap Rafael
...
...
"Jadi? apa yang perlu lu bicarakan?" *tanya Rafael
"Gini Fael, udah tau kan kalo sebenernya dari dulu gue berusaha deketin lu. Dan, jika semakin lama gue pendam rasa ini, maka akan semakin dalam juga gue menyelam ke dasarnya." *ucap Ryon
"Terus?" *tanya Rafael
"Gue suka sama lu Fael, maaf karena selama ini gue sering banget gangguin lu, bikin lu kesel dan marah. Menyelam terlalu dalam untuk menuju dasar itu terlalu menyesakkan, jadi gue memutuskan untuk mengakhirinya sekarang juga. Gimana, lu mau terima gue?" *tanya Ryon
"Kedua kalinya gue mengalami hal yang sama." *ungkap Rafael
"Maksudnya? sebelum gue udah ada yang duluan menyatakan perasaan sama lu, terus apa lu menerima permintaannya?" *tanya Ryon
"Enggak." *jawab Rafael singkat
"Apa gue juga akan mengalami hal sama dengan orang itu?" *tanya Ryon
"Yon, lebih tepatnya gue juga sayang sama lu. Melebihi apapun, saya gue ke lu sebagai sayang sahabat sejati, karena selama ini lu yang selalu menemani gue. Lu yang selalu gangguin gue, bikin gue kesel dan marah, tapi justru itulah yang membuat gue menjadi lebih sedikit terbuka dengan orang lain. Tapi, maaf kalo buat sayang kepada sosok pasangan, gue gak bisa Yon. Maaf banget kalo gue menyakiti perasaan lu, tapi inilah yang sebenarnya gue rasakan." *ungkap Rafael
__ADS_1
"Gak masalah Fael, jaga diri lu baik baik ya. Dan tetaplah bahagia, karena kebahagiaan lu juga termasuk kebahagiaan gue. Makasih buat semuanya, dan semoga kita ketemu lagi di lain hari." *jawab Ryon
#Selesai..