Mikhayla

Mikhayla
Part_10


__ADS_3

Seminggu disibukan dengan persiapan pernikahan Mika dan Azka. Akhirnya hari ini, hari dimana Mika dan Azka akan disatukan dalam pernikahan. Mika sangat deg-degan. Dia akan memulai hidup baru, yang mungkin lebih rumit dari sekarang.


Di kamar hotel. Mika disulap menjadi gadis yang cantik. Kebaya putih menambah kesan elegan dan menawan untuk Mika. Pintu dibuka, Fariz muncul dengan stelan jas yang membuat kadar ketampanannya bertambah. Mika menepuk kedua pipinya agar sadar, Fariz adalah adik iparnya.


"Cantik. Seperti yang gue bayangin. Bahkan ini lebih cantik," ucap Fariz sambil memeluk Mika. Mika meronta mencoba melepaskan.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Biarkan gue lepasin rasa ini buat yang terkahir kalinya." Fariz semakin mengetatkan pelukannya. Mika hanya bisa diam.


"Apa gue bisa? Melewati ini, Mik. Gue sayang sama lu. Tapi, lu milik abang gue. Gue ... gue gak sanggup," ucap Fariz dengan bahu yang bergetar. Mika tau Fariz sedang menangis, air mata Mika ikut menetes.


"Maafin gue Mikhayla. Karena gue bodoh, gue bodoh gak pernah ngomong yang sejujurnya sama lu. Andai gue gak nglakuin hal bodoh dengan pacaran sama Sarah cuma buat bikin lu cemburu, mungkin kejadiannya gak seperti ini. Apa gue terlalu nyakitin lu Mik, hingga Tuhan membalas gue dengan cara jadiin lu kakak ipar gue. Gue gak sanggup," ujar Fariz. Mika melerai pelukan Fariz dan menghapus air matanya.


"Jangan salahin diri lu, ini takdir. Kita bisa berencana Tuhan yang nentuin. Belajarlah merelakan, seperti gue yang belajar menerima."


"Entahlah, yang jelas apapun itu. Bakal gue lakuin asal lu bahagia," ucap Fariz.


MUA yang merias Mika balik lagi dan dia kesel karena make up Mika berantakan gara-gara dia nangis.


Ijab qobul dilaksanakan. Mika dan Azka sah menjadi suami istri.


"Mik, abang harap kita bisa memulai hidup yang baru, abang tau belum ada cinta di antara kita. Tapi, bukan berarti gak ada kesempatan 'kan?!" ucap Azka setelah pernikahan. Mereka berdua sekarang istirahat di kamar. Besok baru akan diadakan resepsi.


"Mika akan berusaha, Bang," balas Mika. Azka tersenyum. Tak lama mbok Inah mengetuk pintu kamar menyuruh Azka dan Mika makan malam.


"Kamu deg-degan?" tanya Azka saat menuruni tangga menuju tempat makan.


"Mika, takut sama mami. Kayanya dia belum bisa nerima Mika," jawab Mika jujur. Azka tertawa.


"Mami bukan hantu. Gak usah di takuti, lagian di sini yang paling menakutkan itu oma. Dan kamu yang paling di sayang oma. Jadi. don't worry, oke!" ucap Azka. Mika mengangguk.


Sampai di ruang makan Mika melihat semua orang sudah berkumpul termasuk Fariz. Mata mereka gak sengaja saling beradu, Mika langsung menunduk. Azka yang melihat hal itu langsung menggandeng tangan Mika. Dan mengajaknya duduk di sampingnya.


"Selamat datang Mika, oma harap kamu bakal betah di sini. Gak usah sungkan, di sini rumah kamu juga, Sayang," ucap Oma Diana.


"Terima kasih Oma," ujar Mika.


"Pasti betah lah di sini, tempatnya enak fasilitasnya oke. Beda banget 'kan sama rumah kamu," ketus Mami Niar.


"Niar mending kamu gunain mulut kamu buat makan daripada menyakiti hati orang, itu lebih bermanfaat!" tegas oma Diana. Mami Niar merengut. Di sini emang gak ada yang bisa melawan oma Diana. Termasuk mami Niar dan papi Leo.


"Udah, Mi. Jangan seperti itu Mika baru di sini. Jangan sampai dia menganggap omongan Mami serius. Mika, Mami hanya bercanda." Papi Leo mencoba menenangkan Mika. Mika hanya tersenyum ragu.


"Ya udah, Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Azka. Mika melongo, Azka manggil sayang?

__ADS_1


"Kok bengong biar Abang ambilin," imbuh Azka.


"Gak, kebalik 'kan Mika yang harusnya ambilin Abang." kata Mika.


"Gak apa-apa adek 'kan masih baru di sini, besok gantian, deh," ujar Azka sambil tersenyum.


Fariz yang dari tadi memperhatikan Azka dan Mika hanya geram. Dia meremas kedua tangannya di balik meja. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan meja makan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Oma.


"Fariz udah kenyang Oma," jawab Fariz sambil berlalu.


"Ini semua gara-gara kamu. Kenapa kamu masuk di kehidupan kedua putraku dan menghancurkan hati salah satunya. Kamu pikir kamu siapa? Hanya rakyat jelata tetapi kelakuan sok iya!" ketus Mami Niar.


Mika yang hendak menyuap mendadak berhenti. Kerongkongannya tercekat. Mendengar mami Niar bicara seperti itu, membuat Mika makin sadar diri.


"Mami, jangan seperti itu. Mika istri Azka sekarang. Jangan sakit dia. Pokoknya mulai sekarang aku sama Mika makan di kamar aja. Mami mulutnya bikin panas kuping sama hati orang," ketus Azka sambil menarik Mika menuju kamar.


"Bagus ya kamu. Azka kamu udah berani melawan mami hanya karena dia," teriak Mami Niar.


"Mi, Azka benar. Gak baik kita bergaduh di depan rejeki tak patut," ujar Papi sambil menirukan ucapan Opah Upin Ipin.


"Niar, jaga sopan santun kamu, ya. Mika lagi hamil dan itu anak Azka. Kalo sampai Mika stress dan terjadi sesuatu sama bayinya. Azka gak bakalan maafin Kamu," ucap Oma Diana.


"Istri kamu kapan dewasanya," keluh Oma Diana.


Di kamar Mika terus saja diam. Azka mendekati Mika yang duduk di sofa.


"Masih kepikiran omongan Mami?" tanya Azka.


"Mami benar, Bang," balas Mika. Azka makin mendekatkan dirinya ke Mika.


"Kenapa ngomong gitu. Kita 'kan udah janji buat saling berusaha. Menaklukan hati Mami juga termasuk usaha. Abang bilangin ya, Mami itu orang baik hanya mulutnya emang sedikit kelepasaan," ucap Azka sambil tersenyum. Mika yang tadinya menunduk mengangkat kepalanya, wajah Azka ternyata sangat dekat. Mika menelan ludah.


"Jauh ... jauh, Bang. Inget perjanjian gak boleh kontak fisik," ucap Mika sambil mendorong muka Azka dengan telunjuknya.


"Em ... ini bukan mau abang. Anak kita yang bilang abang suruh hibur mamanya yang lagi sedih." Azka ngeles.


"Ih, boong banget. Kapan dia ngomong gitu?" Mika gak percaya.


"Tadi. Kamu aja yang gak denger, dia bilangnya sambil bisik-bisik." Azka makin ngawur.


"Udah ah, Mika mau istirahat." Mika pergi ninggalin Azka ke Ranjang. Namun Azka ngekor.

__ADS_1


"Ngapain, sih, ikutin Mika?" ketus Mika.


"Abang juga pengen istirahat."


"Istirahat di Sofa aja, Mika gak mau bobok bareng!"


"Emang Abang mau. Ini keinginan anak kita." Mulai deh, Azka nyari alesan pake nama anak.


"Gak mungkin banget, modus 'kan!" ketus Mika.


"Ya udah kalo gak percaya." Azka beringsut ke lantai sambil menghentikan kakinya.


"Astaghfirulloh. Iya ... iya sini bobok bareng," ucap Mika sebel.


"Tapi peluk."


"Hey, gak usah ngelunjak perjanjian. Inget itu!" ketus Mika.


"Ini wilayah Mika. Ini wilayah Abang. Jangan sampai lewatin batas ini. Atau Mika boom Abang," ancam Mika menaruh guling di tengah kasur.


"Terus Abang peluk apa?"


"Nih ...." Mika melempar bantal satu lagi ke arah Azka.


"Tapi abang pengen bobo sama anak kita," rengek Azka.


"Abang ...!" teriak Mika frustrasi.


Fariz yang akan masuk ke kamar. Kaget mendengar teriakan Mika. Kamar Azka dan Fariz emang sebelahan. Namun ketika mendekati pintu dia malah mendengar suara Azka tertawa.


"Iya ... iya abang bercanda gak usah marah gitu, dong," ucap Azka sambil tertawa dan merebahkan dirinya di kasur.


"Terus aja kaya gitu." Mika memukuli Azka pake bantal. Azka minta ampun sambil tertawa.


"Sedang apa, Riz?" tanya Oma yang melihat Fariz berdiri di depan kamar Azka.


"Emmm ... anu Oma. Tadi, Fariz denger suara Mika teriak. Tapi, sekarang suara Bang Azka lagi ketawa."


"Namanya pengantin baru, emang kaya gitu udah biarin aja," ucap Oma sambil berlalu.


Fariz menatap daun pintu itu. Ingin rasanya mendobrak dan membawa Mika kabur dari dalam sana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2