Mikhayla

Mikhayla
Part_7


__ADS_3

#Mikhayla


Part_7


Mika membawa Azka ke belakang rumah. Di sana ada sebuah taman kecil dengan gemercik suara air.


"Kamu pernah suka sama Fariz?" tanya Azka.


"Pernah, Fariz perhatian dan baik. Mika pikir dia juga suka sama Mika, taunya dia malah jadian sama Sarah. Sejak saat itu Mika lupain dia," jawab Mika sambil mengobati luka Azka.


"Secepat itu?"


"Mungkin karena bertepuk sebelah tangan, dan belum terlalu dalam makanya gampang buat dilupain," balas Mika.


"Beda lah kalo perasaan Abang ke Sheryl pasti susah buat di ilangin. Mika juga gak berharap banyak buat pernikahan ini, Bang, setatus ayah dari Abang sudah cukup buat Mika," tambah Mika.


"Jangan ngomong gitu, Dek, Abang jadi ngerasa bersalah. Kita fokus sama anak kita dulu, ya. Masalah nanti apa yang terjadi kita serahin aja sama yang di atas," ujar Azka.


Mika dan Azka diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Fariz memperhatikan mereka diam-diam. Ada rasa sakit dan gak bisa terima kalo wanita yang dia suka menikah dengan abangnya. Kemudian dia pergi dari rumah Mika.


"Dek makan ketoprak enak kali ya," ucap Azka tiba-tiba.


"Dih, laper mah makan aja yang ada. Gak usah aneh2, deh," ketus Mika.


"Ayo dong, Dek, beliin Abang ketoprak. Abang pengen banget," mohon Azka.


"Bang, dari kemraen kenapa Abang yang ngidam. Mana nyuruh Mika lagi, 'kan Mika yang hamil," omel Mika. Sambil masuk ke dalam rumah. Azka mengikuti dari belakang.


Di ruang makan, keluarga sedang makan bersama.


"Opor ini enak banget, Mami belajar masak sama Bu Tia, gih," ujar Papi Leo.


"Ngapain Mami masak pembantu ge banyak, lagian Mami sibuk. Ini juga rasanya biasa aja gak ada enak-enaknya," ketus Mami Niar.


"Jaga bicara kamu ya! Bu Tia maaf ya kalo mantu saya kurang sopan. Dia emang datang dari pedalaman jadi sopan santun dan tata krama dia gak punya. Dan satu lagi apapun yang dia bilang budek aja gak usah didengerin, gak ada manfaat," ujar Oma Diana.


Ibu Tia yang tadinya marah malah tersenyum mendengar ucapan Oma, dia sedikit paham kalo Niar emang seperti itu.


Mika dan Azka berjalan melewati ruang makan, bau Opor menguar. Azka tiba-tiba mual.


"Huwek ... huwek." Terdengar suara Azka muntah. Semua yang lagi makan menengok.


"Abang masuk angin," tanya Mika cemas.


"Abang benci bau ini, huwek ...." jawab Azka sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Hah! Azka yang hamil itu Mika. Kenapa kamu yang mual," pekik Mami Niar.


"Wah seratus persen ini cucu Papi," ujar Papi Leo girang. Semua tertawa.


Azka duduk di teras sambil memijit pelipisnya, rasa mual itu masih terasa membuat kepalanya pusing. Mika datang dengan teh hangat.


"Minum, Bang biar enakan,"


"Makasih, ya, Dek." Azka meneguk teh manis hangat, sedikit lega dan nyaman di perutnya.


"Apa masih mual, Bang?" tanya Mika.


"Nggak sih, akhir-akhir ini Abang emang kaya gini, Dek, mungkin anak kita marah di perut karena Papanya sempet gak mau ngakuin, makanya Abang jadi gini," ujar Azka. Mika masih berdiri di samping Azka yang duduk. Pengen ketawa denger Azka bilang gitu, tetapi ditahan.


"Maafin Papa, ya, Sayang," ucap Azka sambil menyentuh perut Mika. Kali ini Mika gak nolak, ada perasaan terharu melihat Azka seperti itu.


"BEB ...!" triak sebuah suara.


"Sheryl," lirih Azka segera melepas tangannya dari perut Mika.


"Apa yang kamu lakuin, jadi karena dia kamu ninggalin aku, gara-gara perempuan murahan ini!" omel Sheryl sambil menunjuk wajah Mika.


"Shey, ini bukan salah Mika. Aku bisa jelasin tetapi gak di sini. Ayo ikut," ajak Azka sambil menarik tangan Sheryl namun ditepis.


"Heh ******, apapun yang kamu lakukan gak bakal bikin Azka pisah sama aku," ucap Sheryl sambil menapar Mika.


"Sakit, Beb, cewe kaya dia pantes ngedapatin itu," treak Sheryl.


Oma dan yang dan lainya keluar. Melihat Mika menangis Celi segera merangkul Mika dan membawanya ke kamar.


"Kamu ngapain bikin onar di sini!" triak Oma.


"Oma, Sheryl gak terima. Kenapa tiba-tiba Azka mau nikah sama cewe itu."


"Apa masalahnya tiap Azka ngajak kamu nikah kamu gak mau, giliran Azka nikahin orang lain kamu sewot," ujar Oma tenang.


"Sheryl cuma belum siap."


"Tujuh tahun kalian pacaran, dan kamu selalu bilang belum siap," ucap Oma mengejek.


"Azka bawa dia pergi, kasih pengertian bagaimana harusnya dia bersikap," tambah Oma.


Azka segera menarik tangan Sheryl pergi membawanya jauh dari rumah Mika.


"Bu Tia, maafkan atas yang terjadi. Saya akan menjaga Mika apapun yang terjadi, saya tau di sini ada pengkhianat yang ingin menggagalkan rencana pernikahan ini, tapi saya jamin itu gak akan terjadi," ucap Oma sambil melirik Mami Niar. Oma tau Sheryl datang ke sini pasti ulah dia.

__ADS_1


"Iya Bu, saya percaya Ibu akan menjaga anak saya. Saya harap masalah ini selesai sebelum pernikahan ini terjadi," ujar Bu Tia.


Sementara di dalam kamar Mika menangis.


"Udah dong Mik, lu jangan kaya gini inget bayi lu. Lu kudu strong," hibur Celi.


"Gue ngerasa rendah banget Mik, yang dia bilang bener gue ja*a*ng," ucap Mika sambil terisak.


"Lu gak kaya gitu, lu beda. Kehamilan lu gak sengaja, gimana juga ini bukan salah lu. Gue harap lu jangan terlalu dengerin omongan orang, gue yakin bakal muncul Sheryl lainnya yang bakal ngomong kaya gini bahkan lebih, jadi lu kudu kuat," ucap Celi menenangkan.


"Lu bener Cel, gak seharusnya gue kaya gini. Mereka gak tau yang sebenernya terjadi. Gue gak boleh lemah," ucap Mika dengan menghapus air matanya.


"Bener lu kudu kuat, ada anak lu. Cukup menyesal karena kesalahan lu yang kemaren, jangan sampai lu nyesel lagi kalo ada apa-apa sama bayi lu. Lu harus kuat."


"Maksih Cel, lu selalu dukung gue!"


"Tentu kita 'kan best friend," ujar Celi mantap, mereka pun tersenyum.


Bu Tia dan Raka yang melihat dari pintu, mereka lega karena Mika masih bisa tersenyum. Sementara keluarga Azka udah pamit pulang.


"Lu gila, ya Shey, lu ngapain bikin onar di rumah Mika?" bentak Azka setelah menghentikan mobil Sheryl di pinggir jalan.


"What, kamu semarah itu hanya karena cewe tadi?" treak Sheryl gak terima.


"Iya emang kenapa?"


"Beb, dia itu udah ngrebut kamu dari aku, wajar dong aku marah dan nampar dia," ujar Sheryl.


"Dia gak pernah ngrebut gue dari lu, gue yang pergi dari lu, sekarang gue tanya sama lu, lu mau gak nikah sama gue?"


Azka menatap Sheryl tajam sambil mencengkeram ke dua pundak Sheryl.


"Gue tetep gak bisa, ayolah Azka kita kaya dulu lagi. Toh selama ini kita enjoy ngejalani ini semua."


"Gue tegesin sama lu. Kita akhiri semua sekarang! Jangan muncul lagi. Apalagi mengganggu Mika dan anak gue," ancam Azka sambil melepas tangnnya.


"Lu lebih milih si ja**ng itu. Gue juga bisa ngasih semua ke lu. Sekarang juga bisa, ayo kita ke hotel atau ke apartemen gue," ajak Sheryl.


"Lu perempuan macam apa Shey, gue ajak nikah gak mau tapi lu malah ngajakin gue buat nglakuin dosa. Asal lu tau, apa yang gue lakuin sama Mika aja udah bikin gue nyesel. Kenapa lu malah nawarin diri lu. Sumpah gue kecewa sama lu, dan jangan pernah hina Mika lagi!" tegas Azka sambil pergi.


"Jangan tinggalin gue, Beb!" Sheryl mengejar Azka dan memeluknya dari belakang.


"Gue gak bisa Shey, gue udah putusin buat nikah sama Mika, gue harap lu bahagia sama yang lain, lupain gue Shey, gue minta maaf ini pilihan gue," ucap Azka sambil melepas pelukan Sheryl dia bergegas menuju taksi yang terparkir.


"AZKAAAA ... GUE GAK TERIMA LU GINIIN," triak Sheryl. Dia menatap punggung Azka yang kian menjauh.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2